NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Rheon Sakit

Malam itu datang tanpa peringatan, seperti sesuatu yang pelan masuk tanpa suara lalu tiba-tiba mengambil alih seluruh keadaan. Awalnya hanya batuk kecil yang terdengar biasa, tidak cukup untuk membuat Elvara benar-benar khawatir karena beberapa hari sebelumnya Rheon memang sempat demam. Anak itu yang biasanya banyak bicara mulai lebih diam, sesekali memegangi kepala dan mengeluh pusing, namun masih berusaha tersenyum saat ditanya. Elvara mengira itu hanya sisa kelelahan, jadi ia memberinya obat, menyuruhnya tidur lebih awal, dan mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan membaik setelah istirahat.

Namun keyakinan itu runtuh di tengah malam saat ia terbangun karena suara yang tidak biasa. Napas Rheon terdengar cepat dan tidak teratur, seperti seseorang yang berusaha mengejar udara tetapi tidak pernah benar-benar mendapatkannya. Elvara langsung duduk dengan jantung berdegup kencang, matanya mencari ke arah tempat tidur kecil di sampingnya, dan begitu melihat kondisi anak itu, tubuhnya langsung menegang. Ia bangkit tanpa berpikir panjang, mendekat, lalu menyentuh dahi Rheon yang terasa jauh lebih panas dari sebelumnya, panas yang tidak wajar dan membuat tangannya sendiri ikut gemetar.

"Rheon?"

Anak itu membuka mata dengan susah payah, pandangannya kabur dan tidak fokus, lalu mengeluarkan suara pelan yang hampir tidak terdengar.

"Sakit..."

Suara itu membuat dada Elvara terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia segera mengambil termometer dengan gerakan terburu-buru, mencoba tetap tenang meskipun jari-jarinya tidak sepenuhnya stabil. Angka yang muncul membuat napasnya tercekat, terlalu tinggi untuk dianggap biasa, terlalu berbahaya untuk ditunda. Tanpa memberi dirinya waktu untuk ragu, ia langsung mengangkat Rheon, membungkus tubuh kecil itu dengan jaket, lalu meraih tas dengan satu tangan.

Ia tidak memikirkan apa pun selain satu hal.

Rumah sakit.

Sekarang.

---

Jalanan malam masih basah oleh sisa hujan sore, udara dingin bercampur dengan aroma aspal yang lembap dan lampu jalan yang memantul di genangan air. Elvara berdiri di pinggir jalan sambil memeluk Rheon erat, berusaha menghentikan kendaraan yang lewat satu per satu, tetapi tidak ada yang benar-benar berhenti. Beberapa mobil melambat sebentar lalu melaju lagi, seolah situasi di hadapannya tidak cukup mendesak untuk diperhatikan.

Ia melangkah sedikit ke depan, hampir ke tengah jalan, suara napasnya sendiri mulai tidak teratur karena panik yang terus meningkat.

"Please..."

Akhirnya sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. Ia tidak sempat melihat siapa pengemudinya atau jenis mobilnya, karena satu-satunya yang ada di pikirannya adalah membawa Rheon ke tempat yang bisa menolongnya. Ia membuka pintu belakang dan masuk dengan cepat, memeluk anak itu lebih erat seolah bisa menahan kondisinya agar tidak semakin buruk.

"Rumah sakit terdekat, tolong."

Pengemudi hanya mengangguk singkat dan langsung menjalankan mobil tanpa banyak tanya. Elvara duduk dengan tubuh condong ke depan, satu tangannya mengusap punggung Rheon, sementara yang lain memegang tangannya yang kecil dan terasa panas.

"Mommy di sini... Mommy di sini..."

Kalimat itu keluar berulang, lebih sebagai cara menenangkan dirinya sendiri daripada anak itu. Rheon menggenggam bajunya dengan lemah, napasnya masih berat, dan setiap detik terasa terlalu lama. Air mata mulai jatuh tanpa ia sadari, tetapi ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu.

"Jangan tidur," bisiknya pelan, suaranya hampir pecah.

---

Begitu sampai di rumah sakit, ia langsung turun dan berlari masuk tanpa memperhatikan sekitar. Pintu otomatis terbuka dan suara langkah kakinya terdengar cepat di lantai yang licin.

"Dokter! Tolong!"

Seorang perawat segera menghampiri dengan ekspresi serius, langsung membaca situasi dari cara Elvara memeluk anak itu.

"Ada apa, Bu?"

"Anak saya demam tinggi... napasnya..."

Kalimatnya terputus karena panik yang tidak bisa ia tahan sepenuhnya. Perawat itu langsung memanggil tim medis lain, dan dalam hitungan detik Rheon sudah dipindahkan ke ranjang dorong lalu dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Elvara mengikuti di belakang, tetapi langkahnya terhenti saat pintu ditutup di depannya.

"Bu, tunggu di luar dulu."

Pintu itu tertutup, menyisakan suara langkah kaki dan instruksi yang samar dari dalam ruangan. Elvara berdiri beberapa detik tanpa bergerak, seolah tubuhnya belum menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa ikut masuk. Ia mencoba duduk, lalu berdiri lagi, tidak ada posisi yang terasa benar, tidak ada yang bisa meredakan kecemasan yang terus naik.

Tangannya masih gemetar saat ia mencoba menghubungi seseorang di ponselnya, dokter kenalan yang mungkin bisa membantu, tetapi panggilan itu tidak tersambung. Ia menarik napas dalam berulang kali, mencoba menenangkan diri, tetapi pikirannya terus dipenuhi kemungkinan yang tidak ingin ia bayangkan.

Tidak.

Ia menggeleng kuat, berusaha menepis semua itu.

Rheon kuat.

Anaknya selalu kuat.

Namun waktu berjalan lambat, setiap detik terasa panjang, dan kesunyian di lorong itu membuat semuanya terasa lebih berat.

---

Suara langkah kaki terdengar mendekat dari ujung lorong, cepat dan tegas, memecah keheningan yang menekan. Elvara menoleh tanpa sadar, dan tubuhnya langsung membeku saat melihat siapa yang datang.

Zayden.

Ia berdiri di sana dengan jas kerja yang masih rapi meskipun napasnya sedikit berat, tanda bahwa ia datang terburu-buru. Tatapannya langsung mencari, tidak butuh waktu lama untuk menemukan Elvara.

"Di mana dia."

Pertanyaan itu keluar langsung, tanpa pembuka, tanpa jeda.

Elvara butuh beberapa detik sebelum bisa menjawab, karena ia tidak menyangka akan melihatnya di sini.

"Ruang pemeriksaan," katanya pelan.

Zayden langsung berjalan mendekat, langkahnya cepat tetapi tetap terkontrol.

"Kapan masuk."

"Baru..."

"Apa yang terjadi."

"Demam tinggi... napasnya..."

Suaranya mulai goyah, dan kali ini ia tidak bisa sepenuhnya menahannya. Zayden berhenti tepat di depannya, menatapnya sejenak, lalu ekspresinya sedikit berubah, tidak lagi setegang saat pertama datang.

"Biar saya urus."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi nada suaranya membuat Elvara merasa sedikit lebih tenang.

"Aku bisa—"

"Kamu sudah di sini sendirian."

Nada itu tetap rendah, tetapi tidak memberi ruang untuk ditolak. Ia langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang dengan cepat.

"Direktur IGD. Sekarang."

Beberapa menit kemudian, suasana di sekitar mereka berubah. Perawat bergerak lebih cepat, dokter datang lebih sigap, dan koordinasi terasa lebih terarah dibandingkan sebelumnya. Elvara berdiri di samping, masih mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi begitu cepat, sementara Zayden tetap berada tidak jauh darinya.

Tidak terlalu dekat.

Namun cukup untuk membuatnya merasa tidak sendiri.

---

Pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka, dan seorang dokter keluar dengan ekspresi serius tetapi tidak panik. Elvara langsung berdiri dan mendekat.

"Ibu pasien?"

"Saya."

"Anak Anda mengalami infeksi cukup serius. Kami akan rawat sementara untuk observasi lebih lanjut."

Kalimat itu membuat jantungnya terasa berhenti sejenak, meskipun ia berusaha tetap tenang.

"Serius...?"

"Kami sudah beri penanganan awal. Untuk sekarang, kami fokus menurunkan panas dan menstabilkan pernapasan."

Elvara mengangguk pelan, mencoba memahami setiap kata meskipun pikirannya masih kacau.

"Apakah saya bisa masuk."

"Boleh, tapi satu orang saja."

Ia melangkah maju, tetapi sebelum masuk, tangannya ditahan pelan. Ia menoleh dan melihat Zayden yang menatapnya dengan ekspresi yang lebih tenang dari sebelumnya.

"Dia akan baik-baik saja."

Suara itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuatnya sedikit lebih kuat. Elvara mengangguk kecil, lalu masuk ke dalam ruangan.

---

Rheon terbaring di ranjang kecil dengan tubuh yang masih lemah, wajahnya pucat, dan selang infus terpasang di tangan kecilnya. Melihat itu membuat dada Elvara terasa sesak, tetapi ia tetap mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan anak itu dengan hati-hati, seolah sentuhan itu bisa menjaga semuanya tetap stabil.

"Mommy di sini..."

Air matanya jatuh lagi, kali ini tanpa ia tahan, karena tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura kuat saat tidak ada orang lain di dalam ruangan itu.

Di luar, Zayden berdiri diam dengan tangan di saku, menatap lantai seolah mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Ia tidak benar-benar mengerti kenapa ia datang secepat ini, karena tidak ada alasan yang jelas selain dorongan yang muncul begitu saja. Saat mendengar kabar itu dari Arsen, tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum ia sempat berpikir, dan sekarang ia berdiri di sini tanpa bisa menyangkal bahwa situasi ini berarti sesuatu baginya.

Ia mengangkat kepala dan menatap pintu ruang perawatan, menyadari bahwa di balik pintu itu ada dua orang yang kini tidak bisa ia anggap asing lagi. Perasaan itu membuat segalanya terasa lebih rumit, tetapi juga lebih jelas dalam satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Ia tidak bisa menjauh.

---

Beberapa menit kemudian, Elvara keluar dari ruangan dengan mata yang masih merah, tetapi ekspresinya sedikit lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia berhenti di depan Zayden, menarik napas pelan sebelum berbicara.

"Dia stabil."

Zayden mengangguk singkat.

"Itu bagus."

Mereka berdiri berhadapan tanpa bicara beberapa saat, seolah masing-masing masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Elvara akhirnya membuka suara dengan nada yang lebih pelan.

"Terima kasih."

Zayden menatapnya, tidak langsung menjawab.

"Kamu tidak perlu bilang itu."

"Tetap saja."

Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan jujur, sesuatu yang jarang ia lakukan.

"Aku tidak tahu harus bagaimana kalau sendirian tadi."

Kalimat itu keluar tanpa banyak pertimbangan, dan mungkin karena itu terdengar lebih tulus. Zayden tetap diam sejenak, lalu menatapnya lebih dalam, seolah mencoba memahami lebih dari sekadar kata-kata.

Di saat itu, Elvara kembali merasakan hal yang sama seperti sebelumnya, tatapan yang tidak lagi bisa ia kategorikan dengan mudah. Bukan sekadar curiga, bukan sekadar ingin tahu, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih sulit dihindari.

Perasaan itu membuatnya takut.

Namun di saat yang sama, ada rasa aman yang tidak bisa ia tolak sepenuhnya.

Malam itu, di lorong rumah sakit yang dingin dan sunyi, mereka berdiri di titik yang tidak lagi bisa dianggap kebetulan. Jarak yang selama ini mereka jaga perlahan mulai memudar, digantikan oleh sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan tetapi semakin sulit untuk diabaikan.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
terlalu n makin mbuleeddd, n heran nya masih aq baca🤣🤣🤣🤣
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!