Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
(Ruang Diskusi
"Kapan kita akan pergi melamar?" Kayla melemparkan tatapannya kepada Jenny dan Joy secara bergantian.
"Besok!" Jawab mereka serempak.
Jenny dan Joy saling melirik satu sama lain, lalu Jenny mengambil sebuah map yang jumlahnya ada 3. Ia memberikan map itu sesuai nama yang tertera diatasnya.
"Map ini berisi surat lamaran pekerjaan, dan beberapa dokumen yang sudah dipalsukan." Ucapnya seraya mengeluarkan dokumen-dokumen yang berada dalam map.
"Kenapa cuma tiga?" Tanya Alfian sembari melirik Joy sekilas.
"Tulang belakangnya mengalami keretakan, jadi dia tidak akan ikut bersama kita. Dia akan tetap disini dan mengawasi kita dari jarak jauh." Ucap Jenny menjawab pertanyaan Alfian.
Bugh!
"Kamu lupa? Baru kemarin loh! Masa sudah lupa sama kondisinya Joy?" Ucap Kayla yang terlihat sedikit emosi.
"Udah kasih ciuman aja Jen! Pasti langsung sembuh tuh!" Ledek Alfian, sembari tertawa kecil.
Joy hanya diam mematung, ia tidak tahu harus seperti apa. Di satu sisi ia sangat senang, di sisi lain ia juga takut kalau Jenny sampai ngelakuin apa yang dikatakan Joy.
"Alfian! Jangan bercanda!" Teriak Kayla dengan emosi yang semakin tinggi.
Disaat seperti ini mereka membutuhkan arahan dari Alfian, karena ia memiliki banyak rencana yang bagus dan matang. Namun, pria itu masih saja bercanda.
"Oke aku serius."
"Aku akan melamar sebagai tukang pemotong daging, dan kalian berdua akan melamar sebagai pengurus anak-anak. Waktu menjadi pengurus anak-anak sangat fleksibel, apalagi si pemotong daging akan bekerja di malam hari. Sehingga kita bisa bergerak dengan sangat mudah di malam hari." Ucap Alfian.
Alfian terdiam sebentar, ia memikirkan cara kedua apabila mereka tidak diterima melamar pekerjaan itu.
"Kalaupun mereka tidak menerima lamaran di dua pekerjaan itu, atau malah menempatkan kita di pekerjaan yang butuh banyak waktu... Kita akan memanfaatkan Joy untuk mematikan CCTV dan mengacaukan panti. Lampu-lampu di panti bukan lampu biasa. Lampunya menggunakan teknologi canggih, sehingga bisa dengan mudah dikendalikan oleh hacker yang sudah berpengalaman. Nanti akan aku berikan kodenya." Lanjutnya.
"Kode? Kau...Apakah masih ada kejutan lagi?" Tanya Kayla dan Jenny spontan secara bersamaan.
"Mungkin?" Ucap Alfian ragu-ragu.
Perkataan Alfian setelah semakin membuat mereka bertiga syok. Ternyata Alfian masih memiliki banyak rahasia yang tidak mereka ketahui.
"Aku juga sudah menempatkan beberapa orang ku di panti tersebut. Sehingga kita bisa bergerak dengan mudah dan aman." Lanjutnya.
"Kalian ingat pengurus panti yang memberikan surat? Dia adalah salah satu orang ku." Jawab Alfian dengan raut wajah santai. Seolah-olah apa yang dia katakan adalah hal yang biasa, padahal itu adalah hal yang luar biasa.
"Apakah mungkin kau adalah CEO yang menyamar? Atau malah ketua Mafia? Tapi menurutku kau seperti ketua Mafia. Setiap tindakan dan strategi yang kau buat mencerminkan seorang pemimpin yang besar." Ucap Jenny dengan wajah serius.
Walaupun terlihat seperti orang yang tidak serius dan suka membuat hal konyol, Jenny diam-diam memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan oleh Alfian.
"Persiapkan semua barang-barang, dan baca kembali dokumen yang diberikan Jenny! Kita harus menyesuaikan sikap sesuai dengan yang tertera di dalam dokumen itu."
.........
Di halaman gedung bertingkat ini sangat ramai. Banyak dari kalangan mahasiswa maupun yang sudah berpengalaman ingin mencoba melamar pekerjaan di tempat ini. Walaupun tempat ini sering kali terkena rumor yang tidak baik, tapi gaji para pekerja disini sangat besar, sehingga banyak pelamar yang berdatangan.
Panti asuhan ini adalah panti asuhan terbesar dan terelit di kota samurai. Fasilitas di dalamnya sangat lengkap. Selain itu, anak-anak yang tinggal di panti ini rata-rata anak-anak yang pintar dan ahli di berbagai bidang.
"Aduh!"
Seseorang telah menyenggol Kayla dengan sangat keras hingga membuat tubuh Kayla terdorong beberapa langkah ke belakang.
Ia hanya melirik sekilas, lalu membuang muka tanpa mengucapkan kata maaf, seolah-olah tidak melakukan kesalahan.
Kayla hanya bisa menarik nafas dalam-dalam agar bisa menghilangkan emosi dalam dirinya. Dia harus bersikap manis dan lembut agar sesuai dengan apa yang tercantum di dokumen.
"Sabar... Ingat! Kamu itu cewek manis dan lembut."
Melihat Alfian yang ingin menyusul perempuan tadi, dengan sigap ia menahan tangan Alfian.
Kayla menggelengkan kepala dan berkata, "Jangan gegabah, biarkan saja dulu! Lagian ini juga nggak terlalu sakit kok."
Tak berselang lama...
"Bagi pelamar yang masih berada diluar, mohon segera masuk ke dalam aula. Jangan lupa membawa data diri. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih." Ucap seseorang menggunakan pengeras suara.
Suara keributan itu kini tergantikan oleh suara sepatu yang bergesekan dengan lantai. Sebagian orang berjalan dengan sangat cepat, dan sebagian lagi berjalan santai.
"Katanya hari ini ada investor yang terkenal itu loh! Selain kaya investor itu juga sangat tampan! Walaupun umurnya sudah terbilang tua...Kalau ada kesempatan aku pasti mau." Ucap salah satu wanita yang berada di depan mereka.
Alfian mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kukunya menancap dengan sempurna di punggung tangan. Wajahnya seketika menegang, dan berubah menjadi merah padam.
Tangan lembut Kayla segera merangkul tangannya. Wanita itu menatapnya dengan tatapan tanya.
"Aku hanya sedang sakit perut." Jawab Alfian dengan wajah yang sudah mulai santai.
Ting ...Tong...
Setelah suara itu berakhir, orang-orang segera berlari dengan cepat. Kayla, Jenny, Alfian, yang berada di belakang itu pun langsung ikut berlari.
.......................
"Hanya ada sebagian yang lolos di seleksi awal ini. Untuk kalian yang lolos akan saya panggil satu persatu. Setelah dipanggil Kalian dimohon keluar dan mengikuti arahan dari Kak Naya." Ucap MC dengan suara lantang.
"Kinara, Jacklyn, Alvino, Vanya, Amber, dan Raga. Untuk yang namanya disebut tadi silahkan maju dan mengikuti Kak Naya!" Ucap sang MC memerintah mereka.
Kayla Jenny dan Alfian terpilih dari banyaknya orang-orang di aula tadi. Mereka mengira akan kesulitan di seleksi awal. Walaupun sebagian sudah mereka suap, tapi sebagian lagi belum. Latar belakang yang cukup berpengaruh membuat sebagian pelamar tidak mau menerima suapan, akibatnya persaingannya akan semakin ketat.
Namun mereka berhasil terpilih, sehingga kekhawatiran itu sedikit mereda.
"Bu! Apakah ini tidak masalah? Mereka akan lebih leluasa jika beneran bisa bekerja disini." Ucap Raya dengan nada khawatir.
"Biarkan mereka bermain di kandang musuh! Kita akan lihat! Seberapa pintar mereka." Ucap Ratna dengan senyuman tipis.
Walaupun penyamaran Kayla, Jenny, dan Alfian sudah diketahui. Ratna tidak mendiskualifikasi mereka, justru dia memilih mereka dari banyaknya pelamar.
"Jika mereka pikir dengan berpura-pura bekerja dan patuh kepadaku tidak akan membuat diriku curiga, mereka salah besar!" Ucap Ratna dengan nada yang tajam seraya menatap ke depan dengan tajam.
Raya langsung tersentak, namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya. Walaupun saat ini dirinya sangat takut, namun dia masih berusaha untuk terlihat biasa saja. Semakin menunjukan kepanikan semakin memperlihatkan kalau ia bersalah.
......................
"Cepat dong! Lama banget sih! Disini nggak butuh pengasuh yang lemah kaya kamu!" Ucap Vanya kepada Kayla.
Vanya tidak mengambil jalan lain, padahal jalan ini sangat luas dan lebar. Tapi dia malah memilih tetap berjalan di belakangnya Kayla.
Sebelum Kayla bereaksi, suara Jenny sudah terdengar dengan lantang.
"Sana masih luas! Ambil jalan lain saja! Udah kayak ekor aja! Kenapa tetap berdiri dibelakangnya? Anaknya ya? Nggak punya mata? Sampai harus mengekor dibelakang seperti itu?" Ucap Jenny berdecak sebal.
Ucapan Jenny itu pun berhasil membuat Vanya bergidik ngeri. Akhirnya wanita itu pun mengambil jalan lain.
"Jangan sok! Kalian baru anak baru disini!" Ucap Naya yang mendengar perkataan Jenny.