NovelToon NovelToon
ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.

Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.

Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Aku bukan anak pembawa sial

"Dasar anak pembawa sial! Aku benar-benar membencimu!"

Kalimat tajam itu seolah terus bergema, menghujam relung hati Safa. Gadis itu hanya bisa tertunduk, menyembunyikan sepasang mata bulat dengan corak abu-abu indahnya yang kini mulai berkaca-kaca.

Safa Haura Nazifa, gadis manis semester akhir jurusan Sastra bahasa itu tampak murung dengan wajah ditekuk dalam. Kali ini ia harus menanggung amarah sang kakak Riana atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.

"Memangnya apa lagi kali ini? Kamu selalu saja buat Mbakmu kesal, kamu sengaja, iya?" sentak sang mama dengan nada tinggi.

Riana mendekat ke arah Safa dan meraih ponselnya. "Liat deh, Ma. Dia berani godain Dimas, pacar aku."

Mata Ambar mama mereka terbuka lebar. Pesan yang Dimas kirim ke Safa menunjukkan jelas jika dia tertarik dengan putrinya Safa. Sementara sang papa hanya diam sambil menyesap tehnya.

Ruang keluarga yang seharusnya penuh kehangatan kini justru seperti tempat pengadilan. Safa hanya bisa menangis di balik hijabnya. Berapa kali pun ia mencoba menjelaskan mereka tak akan pernah percaya.

Riana menyambar ponsel Safa dan memperlihatkan ke ibunya.

"Coba kamu jelaskan, bagaimana kamu merayu Dimas? Gak mungkin dia kirim kamu pesan seperti ini kalau gak kamu yang kegatelan menggoda dia," tuduh sang mama.

"Benar kan, Ma. Dia ini selalu merebut apa yang aku punya. Dulu saat SMA juga, dan bahkan sampai sekarang," rengek Riana.

Riana menunjuk ke arah Safa. "Aku gak terima semua ini. Aku sudah pacaran dengan Dimas selama tiga tahun, tapi di belakang, mereka saling menjalin hubungan."

"Eng ... gak , Ma. Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Mas Dimas. Aku juga ... gak tau kenapa dia mengirim pesan seperti itu," bantah Safa sambil memohon.

Safa benar-benar tak berdaya. Ia bahkan tidak tahu alasan Dimas mengirimi pesan yang menyatakan perasaannya. Bahkan, Safa tak membalas atau pun menggubris Dimas.

Tak seorang pun yang akan percaya padanya apa lagi sang mama. Ia bukan anak tiri ataupun anak angkat, ia anak kandung sama seperti sang kakak, namun, sang mama memperlakukannya jelas berbeda.

Plak!

Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan.

Safa memegangi pipinya yang merah akibat tamparan sang kakak. Air mata mulai mengalir di pipi mulus dan membasahi hijab putihnya.

"Itu akibat kegatelan sama cowok kakaknya sendiri. Mau jadi apa kau, hah! Mau belajar jadi pelakor!" pekik sang kakak.

Remuk. Hatinya kini benar-benar hancur. Keluarga yang seharusnya selalu ada untuknya, menjadi penyemangat dan pelindung kini justru menjadi tempat yang menyakitkan.

Safa hanya terdiam. Air mata tak luruh lagi. Rasanya sudah cukup ia menangisi semua ini. Ia hanya menatap tajam tanpa suara.

"Kenapa kau melotot? Gak terima, hah!" timpal Riana lagi.

Tak membalas, Safa hanya menunduk dalam sambil mengusap air matanya. Sejak saat itu, semua cacian, hinaan yang diterimanya sudah cukup. Ia bertekat akan mengakhiri semuanya.

Riana mendorong bahunya kuat hingga Ia tersungkur. "Pergi sana! Aku beneran muak melihatmu. Dasar pembawa sial."

Dengan tertatih Safa bangkit. Tanpa menoleh ia berjalan menuju kamar belakang. Kamar pembantu yang jadi tempat tidurnya selama ini.

Begitu Safa masuk ke dapur, Bi Ijah langsung menghampirinya.

Dengan cemas ia mendekap kedua bahu Safa. "Non, Non Safa baik-baik saja, kan?"

Air mata yang susah payah ditahannya seketika tumpah dipelukan bi Ijah. Tubunya limbung dalam dekapan orang yang selalu ada untuknya.

"Ya Allah, Non. Kenapa mereka tega banget sama Non Safa? Padahal Non Safa juga anaknya Nyonya Ambar," ujar sang pelayan.

Dipapahnya Safa menuju kamar yang hanya berukuran 4x5 meter itu. Di atas kasur lipat yang sudah usang Safa merebahkan tubuhnya.

Bi Ijah mengusap punggungnya dengan penuh rasa iba. "Mereka selalu saja menyalahkan Non Safa. Setiap ada masalah selalu bilang kalau Non Safa penyebabnya."

Safa bangkit, ia duduk bersila menghadap bi Ijah. "Udah gak papa kok, Bi. Safa gak papa. Mungkin ini salah Safa, Safa malah gak blokir nomor Mas Dimas."

Bi Ijah menggenggam tangan Safa erat. "Non! Non Safa gak boleh ikut menyalahkan diri sendiri. Ya, mereka aja yang selalu iri dengn kecantikan dan kecerdasan, Non Safa."

"Non Safa kan cantik. Ya wajar aja mereka pada suka sama, E–non." Bi Ijah menatap paras majikannya dengan kagum.

Safa memang paket komplit. Jangankan laki-laki, wanita saja akan kagum dengan kecantikan dan keanggunannya. Hanya saja ia tidak beruntung.

Hidup dalam keluarga yang begitu membencinya. Kejadian masa lalu, ia yang tak sengaja menyebabkan kakak serta ayahnya meninggal.

Bukan cuma mereka yang kehilangan. Safa pun sama. Namun, tak ada yang mengerti bagaimana ia bisa terus melewati hari yang sulit ini.

"Justru aku sangat membenci wajahku yang seperti ini Bik. Mereka kira aku menggunakan wajahku untuk merayu pacar mereka," ungkapnya sambil mengusap kasar wajahnya.

Bi Ijah segera menahannya. "Gak boleh ngomong gitu, Non. Apa Non Safa meragukan Sang Maha Pencipta. Ingat, Non. Setiap cobaan pasti akan ada solusinya, kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Berusaha tetap husnuzon pada–Nya."

Safa mengangguk. "Iya Bik. Makasih, ya Bik."

"Ya sudah, Bibik lanjut beres-beres lagi, ya. Non istirahat aja," ucap Bi Ijah sambil menutup pintu.

Merasa begitu lelah, Safa mencoba kembali merebahkan tubuhnya. Perlahan ia memejamkan mata.

Beberapa saat berlalu. Bi Ijah kembali masuk ke dalam kamar. Saat melihat Safa masih terlelap ia mencoba membangunkannya.

Perlahan Bi Ijah menepuk-nepuk pundaknya. "Non, Non Safa. Bangun, Non. Sudah waktunya solat Asar."

Safa mengerjap. Dengan perlahan ia bangkit. Pandangannya masih sedikit kabur.

"Sudah mulai sore ya, Bik. Aku belum solat Asar, Bik."

Safa berdiri. Segera ia menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah beberapa saat ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang kembali fress.

"Ya udah. Non solat dulu. Saya bantu beresin kamarnya. Setelah ini saya mau pulang dulu. Ada urusan penting di rumah. Besok saya kembali lagi ya, Non."

Tangan Safa berhenti saat sedang membetulkan mukenahnya. "Bibik tidak pulang malam ini?"

Bik Ijah menggeleng. "Enggak Non."

"Bisa gak aku ikut bibik aja? Aku gak mau di sini sendiri," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Membayangkan dirinya sendiri malam ini membuat Safa ketakutan. Selama ini Bik Ijah lah yang selalu menemaninya. Saat ia dapat marah dari ibu atau kakaknya hanya Bik Ijah lah yang mampu meredakan sakit hatinya.

Namun, ketika mendengar Bik Ijah tak akan pulang malam ini, sungguh membuatnya kebingungan.

"Jangan pergi Bik, ku mohon. Besok pagi saja, ya?" bujuknya.

Tapi lagi-lagi Bik Ijah menolak. "Tidak bisa Non. Kali ini saya harus pulang. Hanya malam ini saja, ya."

Tak punya pilihan lain, akhirnya ia mengangguk.

Setelah mendapat persetujuan, Bik Ijah segera berkemas, bersiap untuk pulang.

Kamar kembali sepi. Safa merapikan kembali mukenanya.

Usai menunaikan kewajiban, ia bersimpuh dengan tangan menengadah. Bulir demi bulir air mata luruh begitu saja. Di hadapan Sang Pencipta, ia tumpahkan segala keluh kesah tanpa lupa menyisipkan syukur.

Dalam balutan doa, gadis itu seolah sedang bercerita, karena hanya kepada Tuhan-Nya lah ia merasa benar-benar pulang untuk mengadu.

Safa kembali menumpahkan sesak yang menghuni dadanya ke dalam barisan kalimat. Di depan layar, ia membiarkan jemarinya menari, meski matanya masih sembab dan perih.

​Sinar rembulan menyelinap masuk melalui celah jendela yang terbuka sedikit, membelai lembut wajah Safa yang pucat dengan rona kemerahan di sekitar mata. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya yang kaku setelah berhasil menuntaskan bab terakhir untuk malam ini.

​Di tengah keheningan yang mencekam, sebuah denting notifikasi memecah suasana. Sebuah pesan masuk dari aplikasi menulisnya.

​[Tulisanmu begitu menyentuh. Semuanya terasa sangat nyata. Aku berharap kamu terus kuat, Author. Tetaplah semangat menjalani hidupmu.]

​Nama itu lagi. Kelana.

​Akun setia yang selama beberapa tahun terakhir telah menjadi penyemangat bagi Safa agar tidak tenggelam.

Kelana seolah memiliki kemampuan magis, ia selalu hadir di titik terendah Safa, memberikan kata-kata yang begitu presisi seakan ia mampu membaca setiap masalah yang sedang Safa hadapi.

​Safa baru saja hendak tersenyum tipis, merasakan sedikit kehangatan menjalar di hatinya, saat tiba-tiba pintunya terbuka perlahan.

Kreek!

​Suara pintu yang terbuka pelan menghancurkan kesunyian. Jantung Safa mencelos. Refleks, tubuhnya gemetar hebat. Ia meringkuk, memeluk dirinya sendiri dengan erat.

1
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa sih yg sering wa mas Arlan
Siti Anisa
bagus novelx suka
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
hahhahaha.. aku ngakak ngebayangin ekpresi nya si Arlan🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ganjalannya pasti tentang perasaan masing-masing🥺🥺
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
nggak ada.. nggak punya/Tongue//Tongue/
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ya ampun, siapa itu😬😬😬😬
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
aq g absen hari di mana mana krn khusus buat baca novel🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: hok O di maratonin ma aunty🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
safar cerita aja ttg hendra ke suami kamu ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
uhuk uhuk
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
idih gtau aja klo safa it istri bos kamu, klo sampe tau bs mati mendadadak riana😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
edgar sama farah aja thori, klo author g jodohin edgar sama farah, kalo gitu edgar sama aq aja gimana setujuh kan?
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: ihh aunty mah.. 🤣🤣
Berondong itu aunty, mau kah aunty🤭🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
heronya safa dateng🫶😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
blm tau aja suami safa orang keyong
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
sampe trauma begitu
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
arlan klo kamu tau safa sprti apa di rumah nya pasti kamu kasian
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
adit ini bener bener mulutnya seperti omprengan
𝓐𝔂⃝❥ ⃟🥑⃟ Sᴇɴᷢᴀͥᴀͥ☠️⃝⠀
mampir thor 🤔
Shankara Senja
safa itu bodoh bngt ya..apa apa diem..lebih baik dihajar abis sm mama lo dari pd dihajar abis diranjang sm bpk tiri lo.masa depan lo hancur ..kabur ,kek,takut bngt ga nemu makan..apa pengen ngancurin masa depan lu di perkosa bapak tiri lo..lo hancur jg keluarga lo ga perduli
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: Iya mungkin kabur lbih enak. Tapi ada sebagian orang gak akan berani kak. Mereka selalu memikirkan bakti dan takut akan hal-hal yang belum pasti. 🤧
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
ingat safa selalu tutup pintu dan kunci klo perlu gembok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!