NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Ijab Kabul

"Abang yang mau nikah seisi rumah jadi panik!' suara Kania memecahkan sunyi. Aku hanya mondar mandir tak karuan. Bagaimana tidak paniknya aku, nanti malam adalah acara sakral itu. Dimana aku akan mengucapkan ijab kabul. Satu lafasan membuat Laras sah jadi hak milikku. Arghh! Aku mengigit bibir. Laras Anindia Putri. Wanita cantik itu akan segera jadi pendamping hidupku.

"Bang, jawab jujur ya?" Kania menghentikan langkahku. Ia menarik tubuhku meminta aku duduk di bibir ranjang. Ia berdiri memainkan telunjuk di dagunya. Seperti seseorang yang sedang berpikir keras akan sesuatu.

"Ada apa?" Balasku mengejar.

"Sudah ada belum benih-benih cinta pada Kak Laras?" tanyanya penuh selidik. Sebuah buku yang sedang aku pegang sontak aku lempar ke arahnya.

"Aw, sakit abang. Pemarah amat sih," Ocehnya. Mengelus sikunya yang terkena lemparan buku.

Aku menghempaskan tubuh ke kasur. Menatap langit-langit kamar. Entahlah aku harus bahagia atau tersiksa dengan semua ini. Tapi aku benar-benar tak menginginkan posisi sekarang.

Beberapa kali ponselku berdering tapi tak aku acuhkan. Selain Ningsih tak ada yang akan sibuk menghubungiku. Karena mereka tahu aku sedang cuti.

"Kak Ningsih, Bang." Ucap Kania setelah mengintip layar ponselku di atas meja.

Aku hanya diam. Tak menyahut sama sekali.

"Ada baiknya diangkat bang. Jelaskan baik-baik sama dia. Kalian memang nggak bisa untuk bersama lagi. Bahkan sampai kapanpun, mama tak akan setuju."

Tiba-tiba saja aku merasa Kania berubah dewasa.

Ia membawa ponsel itu ke dekatku. Meminta aku mengangkatnya. Lalu ia keluar meninggalkan aku sendirian.

"Halo, Raka!" Sapa Ningsih cukup tenang.

"Setelah ini, mohon tidak menghubungi aku lagi, Ningsih." Balasku.

Ada perasaan bersalah yang selalu muncul. Aku merasa orang paling jahat sekarang. Lama Ningsih terdiam, lalu terdengar isakan kecil.

"Maaf Raka, jika aku terlalu terobsesi mengejarmu. Kamulah laki-laki paling tulus yang pernah aku temukan."

Aku tidak bisa berbohong. Ucapan Ningsih membuatku berkaca-kaca. Ini kalimat paling tulus yang ku dengar darinya.

"Maafkan aku, Raka. Beberapa hari sudah membuat masalah di kantormu. Aku pikir kamu akan berubah pikiran dengan semua yang kulakukan. Tapi.." Ucapannya terputus. Ningsih menangis. Lama dan kami sama-sama hening.

"Aku kalah, Raka. Dia menang. Aku tidak tahu siapa wanita beruntung itu. Dia pilihan orang tuamu, dia pemenangnya." Suara Ningsih terbata-bata. Membuat dadaku semakin sakit. Air mata ini tak pernah mengalir, karena aku merasa aku laki-laki. Aku pikir aku tak akan seperti ini, aku sudah melepaskan Ningsih.

Tidak, ini belum sepenuhnya. Aku hanya berusaha melawan pikiranku. Tidak dengan hatiku. Aku benar-benar tak menyahut ucapan Ningsih. Membiarkan ia meluapkan emosinya.

"Terimakasih, Raka. Sudah menemani aku tiga tahun ini."

Sambungan telepon dari Ningsih terputus.

Aku menaruh ponsel, menelan napas panjang. Semua rasa bersalah, kehilangan, dan kebingungan dipadatkan jadi satu tekad: malam ini, aku harus hadir sepenuhnya untuk Laras.

***

Selesai sholat magrib, mama tampak mondar mandir mempersiapkan keperluanku. Karena ini momen pertama pernikahan anaknya. Ia benar-benar teliti, persiapannya cukup matang. Tapi aku tetap dengan duniaku sendiri.

Berkali-kali aku lafalkan dalam hati nama Laras. Entah seperti apa nantinya. Aku sudah berusaha memberikan yang terbaik.

"Sudah siap, Raka?" Ucap mama mengagetkanku.

Sekali lagi aku pandangi bayanganku di dalam kaca. Sebelum memantapkan kaki melangkah menuju rumah Laras. Sebab rombongan keluarga telah menunggu aku di lantai bawah.

Di halaman rumah lima buah mobil siap berangkat menuju ke kediaman Laras. Aku menyesuaikan jas, menahan napas, mencoba menenangkan detak jantung yang tak karuan. Sejenak aku menatap Laras dalam bayangan pikiranku, mencoba membayangkan wajahnya nanti saat aku mengucap lafaz.

"Bismillahirrahmanirrahim, ayo berangkat," Ucap mama yang sangat antusias.

Kania duduk di sebelahku. Aku tahu hanya dia yang benar-benar bisa menenangkan keteganganku. Aku meliriknya tapi ia masih sibuk dengan ponselnya.

"Pacarmu?" Godaku. Ini hanya slaah satu trik untuk menguasai kegugupanku.

"Mana ada, Kania jomblo bang. Mana ada yang berani dekati, takut sama bang Tadi semua." Balasnya cengengesan.

Aku tersenyum simpul. Meliriknya dari sudut mataku.

"Sebentar," Ucap Kania melirikku dengan curiga.

Ia mulai meraba dadaku. Mendekatkan kupingnya. Lalu tertawa jahil.

"Ma, bang Raka sedang tidak baik-baik saja," Ucapnya kemudian. Membuat mama dan papa ikutan tertawa. Aku menepuk bahunya.

"Jantungnya berdenyut melebihi ambang batas. Trus Kania dengar-dengar suara mistisnya bilang, dia sedang ketakutan. Ini momen pertama kalinya mengucapkan ijab kabul."

Dia terkekeh-kekeh, apalagi saat melihat mukaku yang sangat tegang mendekati rumah Laras.

"Nggak lucu, Kania." Semprotku.

"Sudah sampai, Raka. Berdoa semoga dilancarkan. Baca bismillah dulu," Ucap mama kemudian. Kata-katanya bukan menenangkan, malah bikin aku seperti menghadapi sidang skripsi.

Kania ada benarnya. Kini jantungku berdegup kencang, bukan karena gugup biasa—tapi karena sebentar lagi aku akan mengucap lafaz yang akan mengubah hidupku selamanya.

Rumah Laras sudah sangat padat. Ketika aku dan rombongan menginjak kaki memasuki ruang tempat ijab, semua mata menoleh ke arahku. Aku mencari-cari. Namun aku tidak menemukan Laras. Di tengah yang aku lihat hanya papa Laras dan penghulu.

Raka menurunkan tubuhnya ke karpet lembut berwarna krem-keemasan, yang menutupi hampir seluruh lantai ruang tamu Laras. Dinding-dinding rumahnya telah dipasang tabir pelaminan dengan corak yang cukup elegan.

Di sekeliling karpet, tamu-tamu duduk bersila, beberapa menundukkan kepala sambil berbisik doa, beberapa menatap dengan senyum hangat. Aroma melati dan mawar yang lembut menyelimuti ruangan. Dadanya mulai bergemuruh, tanganku berkeringat dingin. Ketika pertama kalinya aku menjabat tangan lelaki di hadapanku. Papanya Laras.

"Sudah siap Raka?" Tanya penghulu, membuat aku gugup. Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi dada ini tetap berdebar

"Siap, Pak." Ucapku tegas memberanikan diri.

"Bisa kita mulai ya," Ucap penghulu sekali lagi. Aku mengangguk. Kutatap wajah mama dan papa yang tegang di sampingku. Mema mengeluarkan punggungku memberikan kekuatan. Kania dan Radi tersenyum tipis memberikan dorongan semangat.

Ku jabat tangan papa Laras dengan penuh kekuatan.

"Raka Anugrah Pratama, saya nikahkan dengan Putri saya Laras Anindia Putri, dengan mahar seperangkat alat sholat, dibayar tunai.."

Demi apapun sekarang aku benar-benar merasa dalam dunia mimpi.

Bibirku tiba-tiba kelu. Aku mematung cukup lama. Sehingga suara riuh dan bisik-bisik pelan membuat aku tersadar.

"Raka!" Tegur mama.

"Fokus Raka." Ucap papa Laras mengelus punggung tangannya. Aku membenarkan letak pecuku yang sebenarnya tidak ada masalah.

"Ulang lagi ya, Raka harus fokus." Ucap penghulu menegurku.

"Raka Anugrah Pratama, saya nikahkan dengan Putri saya Laras Anindia Putri, dengan mahar seperangkat alat sholat, dibayar tunai.."

"Saya terima nikahnya Laras Anindia Putri, dengan mahar tersebut dibayar tunai.."

Akhirnya aku berhasil melewati momen menegangkan itu. Dalam sekejap Laras berpindah tangan jawab ke tanganku. Tapi aku belum melihatnya sama sekali.

"Sah!" Ucap beberapa suara membuat aku benar-benar tegang.

Ketika gorden di pojok ruangan tersibak, mataku seketika terpaku. Laras muncul, langkahnya ringan, seolah menahan dunia. Wajahnya yang tertutup hijab tetap memancarkan keanggunan—sorot matanya hangat, senyum tipisnya membuat dadaku berdesir. Kebaya full payet yang ia kenakan berkilau di bawah cahaya lampu kristal, memantulkan bayangan lembut yang menambah rasa kagumku.

Jantungku mendadak berlari, seolah ingin meloncat keluar. Napasku tercekat, udara di ruang itu terasa menipis. Tanganku dingin, meski aku duduk di karpet lembut yang hangat. Dunia di sekitarku seperti mereda, semua bayangan tamu menjadi kabur—hanya ada Laras, yang kini, dalam sekejap mata, resmi menjadi bagian dari hidupku.

Laras mendekat, duduk di sebelahku. Tangannya terulur, menyalamku dengan hati-hati, penuh ragu tapi sopan. Aku menatapnya, berusaha menahan gemuruh di dada. Beberapa kali kami salah tingkah, ketika Laras menunduk hendak mencium punggung tanganku. Detik itu dadaku membuncah, rasa haru dan lega bercampur aduk. Dengan keberanian yang tersisa, aku meraih tangannya perlahan, menempelkan ciuman lembut di keningnya—momen pertama yang terasa sakral dan hangat, mengukuhkan kami sebagai pasangan halal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!