Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab sepuluh
Alya turun dari sepeda motor Bayu, ketika tiba di sebuah gedung tiga lantai yang terlihat sedikit suram.
Di depan pintu masuk, dua orang penjaga bertubuh besar, dengan raut wajah yang datar, menatap ke arahnya dengan sorot mata yang tajam, penuh selidik.
"Gadis ini datang bersamaku." ucap Bayu santai.
Kedua pria itu menganggukkan kepalanya, seolah sudah mengenalnya.
Wajar jika mereka bisa mengenali Bayu, karena pria itu sudah lama bekerja di sana.
"Ayo , masuk." ajaknya. Lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Suara musik yang kencang, membuat Alya menutup rapat telinganya.
Sorotan cahaya lampu yang disko yang berkedip dan berputar-putar, sedikit mengusik penglihatannya.
Entah kenapa perasaannya seketika menjadi gelisah. Rasanya ia sudah mengambil langkah yang salah.
Bayu membawanya ke sebuah lorong sepi. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang lebih terang.
Ia memperkenalkannya pada seorang wanita paruh baya yang memakai dress berwarna merah menyala. Sangat kontras dengan kulit putihnya yang terlihat masih sangat kencang, seolah terawat dengan baik.
"Kau sudah datang." wanita itu langsung berdiri, berjalan menghampiri Bayu dan juga Alya.
Ia tampak memperhatikan Alya dengan sangat teliti, dari ujung rambut hingga ke kuku kakinya, seolah sedang memindai penampilan Alya yang terlihat sederhana.
"Iya, Nyonya. Gadis ini bernama Alya. Ia yang akan menggantikan Sonia untuk malam ini." jelas Bayu pada wanita itu.
Sepertinya ia adalah bos di sini. Karena sikap Bayu terlihat formal padanya.
"Oh, pengganti Sonia. Aku kira kau membawa 'barang' baru. Sayang sekali kalau gadis secantik ini hanya dijadikan seorang pelayan." sahutnya masih terus menatap Alya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Bayu terkekeh kecil. "Bukan, Nyonya. Dia bukan gadis seperti itu. Dia membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibunya. Makanya, aku membawanya ke sini untuk membantunya." jelasnya.
"Oh, ternyata begitu... Baiklah." wanita itu kembali duduk di kursinya.
"Bawa dia untuk mengganti pakaian. Ia bisa langsung bekerja." lanjutnya memberi perintah pada Bayu.
"Baik, Nyonya. Kami permisi dulu." ucapnya, lalu segera pergi dari sana.
Sepeninggalan mereka, wanita itu tampak tersenyum penuh arti.
*
*
Bayu membawa Alya ke sebuah ruangan. Sepertinya ruangan itu diperuntukkan untuk karyawan. Karena ada banyak loker di sana. Bayu lalu membuka sebuah loker, dan mengeluarkan sebuah seragam dari dalamnya.
"Kau bisa pakai ini." ucap Bayu menyerahkan pakaian itu pada Alya. "Ini seragam milik Sonia. Kau bisa memakainya untuk malam ini."
"Terima kasih, Bayu."
"Aku akan menunggu di luar." ucap pria itu, sebelum pergi keluar.
Ternyata dia tidak seburuk yang ku pikirkan.
Alya dengan cepat mengganti pakaiannya. Ternyata pakaian itu sangat pas di tubuhnya, seolah memang khusus dibuat untuknya. Sayangnya, bagian roknya terlalu pendek, walau hanya beberapa inci di atas lututnya.
Alya menarik napas sejenak, sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Di luar, Bayu sedang berdiri sambil memainkan ponselnya.
"Oh, kau sudah siap? Syukurlah pakaian itu pas untukmu."
"Iya." sahut Alya, sembari menarik-narik ujung roknya.
"Ayo." ajak Bayu.
Lalu mereka menemui seorang pria. Dia adalah kepala pelayan yang bertugas untuk mengatur semua pelayan di klub malam ini.
Untungnya, malam ini, ia bertugas bersama Bayu. Setidaknya ia tidak terlalu canggung saat menghadapi para tamu nanti.
Bayu juga memperingatkan dirinya untuk berhati-hati. Biasanya banyak tamu yang suka nakal jika sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Mereka terkadang bertingkah aneh.
Tak jarang, mereka juga jadi lebih sensitif dan mudah marah. Namun, Bayi juga mengatakan jika akan selalu ada penjaga yang akan siap siaga untuk mengamankan. Jadi, Alya tidak perlu terlalu khawatir.
Mereka lalu masuk ke sebuah ruangan, sambil membawa nampan berisi minuman. Malam itu, ada tamu VIP yang datang.
Mereka memang biasa datang ke sana untuk bersenang-senang dengan para wanita.
Di klub ini, juga disediakan wanita malam yang memang diperuntukkan untuk melayani para tamu.
Bayu juga meminta Alya untuk tidak kaget, nantinya.
Alya menjadi sedikit khawatir, sepertinya benar apa yang ia pikirkan sebelumnya tentang tempat ini.
Tempat ini memang bukan tempat yang pantas untuk didatangi oleh wanita polos sepertinya.
Benar saja, ketika masuk ke ruangan itu, Alya langsung disuguhi oleh pemandangan yang benar-benar membuat bulu kuduknya merinding.
Ada beberapa wanita berpakaian terbuka, nyaris telanjang, sedang duduk sambil bergelayut manja pada pria di sampingnya. Bahkan ada yang terang-terangan duduk di atas pangkuannya tanpa risih sedikitpun.
Alya sempat kaget, namun dengan cepat ia kembali bersikap tenang, seolah ia tidak melihat apapun.
Ia menuangkan minuman ke dalam gelas yang telah kosong. Juga meletakkan beberapa botol minuman di atas meja.
Para pria itu sepertinya sudah mabuk dan berbicara tidak jelas.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia dan Bayu segera keluar dari ruangan tersebut.
Malam itu, pekerjaannya berakhir tanpa ada masalah.
Madam Choo, nama bosnya, memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan padanya, untuk membayar gajinya malam itu.
"Lima ratus ribu? Apa ini tidak terlalu banyak, Nyonya?" tanya Alya ragu.
"No, darling. Jangan panggil Nyonya, panggil saja Madam Choo." ucap wanita itu, meralat ucapan Alya. "Ya, darling. Itu bayaran atas kerja kerasmu hari ini. kerjamu sangat bagus dan cekatan. Madam suka dengan anak muda yang suka bekerja keras seperti mu." ia mencubit pipi Alya, saking gemasnya.
Alya tampak mengusap-usap pipinya yang sedikit sakit. "Terima kasih, Madam Choo."
"Oh, apa besok kau masih mau bekerja di sini lagi? Madam bisa atur, khusus buatmu." ia mengedipkan sebelah matanya pada Alya.
Alya terdiam sejenak, seolah sedang berpikir. Matanya lalu beralih dari Madam Choo, ke arah lembaran uang yang sedang dipegangnya. Jumlahnya memang terbilang besar untuk ukuran gaji harian.
Namun, apa tidak akan ada masalah nantinya.
"Tapi, bagaimana dengan Sonia. Saya ke sini untuk menggantikan tugasnya. Jika saya bekerja, apa Sonia akan dipecat?" tanyanya, dengan polos.
Madam Choo tertawa kecil. Astaga gadis dihadapannya itu benar-benar polos.
"Tenang saja. Sonia tidak akan dipecat. kami memang sedang kekurangan orang saat ini. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang pelayan yang terpaksa dipecat karena ketahuan mencuri dompet pelanggan. Jadi, aku membutuhkan seorang pelayan tambahan untuk menggantikannya." jelas Madam Choo.
Ia lalu melihat ke arah Bayu sekilas, lalu kembali bicara. "Kata Bayu, kau adalah anak yang jujur dan pekerja keras. Jadi, aku sangat membutuhkan pelayan sepertimu untuk bekerja di sini."
Ia menatap Alya, penuh harap.
Namun, Madam Choo juga tidak memaksanya. Keputusan tetap berada di tangan Alya.
Ia bukan tipe orang yang suka memaksakan keinginannya pada seseorang. Semua orang yang datang dan bekerja untuknya, murni dari keputusan mereka sendiri.
"Baiklah, Madam. Saya mau kerja di sini." ucap Alya yakin, tanpa keraguan sedikitpun.
🌺🌺🌺
mengalihkan duniakuu~