Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Rasa Bersalah
Naomi menatap wajah Junie dengan mata yang masih basah, tapi kini ada secercah harapan yang perlahan tumbuh di dalamnya.
Junie tidak langsung menjawab. Ia menatap Davin beberapa detik, lalu kembali menatap Naomi dengan penuh keyakinan.
“Tentu saja bisa,” jawabnya tegas.
Naomi sedikit tertegun.
“Dunia medis sekarang sudah jauh berkembang,” lanjut Junie dengan suara tenang namun penuh kepastian. “Kasus seperti yang dialami Davin bukan hal baru. Kami sudah menangani banyak pasien dengan kondisi serupa, dan hasilnya sangat baik.”
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, nada suaranya berubah lebih hangat.
“Dengan penanganan yang tepat, operasi bertahap, dan perawatan yang konsisten, Davin punya peluang besar untuk tumbuh seperti anak-anak lainnya.”
Napas Naomi terasa tertahan.
“Bahkan,” lanjut Junie, “dengan teknologi sekarang, bekas luka operasinya bisa sangat minimal. Dalam beberapa tahun, orang mungkin tidak akan menyadari dia pernah mengalami kondisi ini.”
Air mata Naomi jatuh lagi. Tapi kali ini karena merasa lega. “Benarkah...?” cicitnya, seolah masih sulit percaya.
Junie mengangguk. “Saya tidak akan memberi harapan palsu,” katanya jujur. “Ini memang butuh proses. Tidak instan. Tapi sangat mungkin.”
Naomi langsung menunduk, menutup wajahnya dengan satu tangan. Tangisnya pecah lagi.
“Terima kasih... terima kasih banyak, Dok...” ucapnya berulang kali.
Junie tersenyum tipis. “Anda tidak perlu berterima kasih berkali-kali. Ini memang pekerjaan saya.”
Namun dari caranya berbicara, jelas ini bukan sekadar pekerjaan.
Naomi mengangkat wajahnya lagi. “Saya... benar-benar ingin melakukan yang terbaik untuk anak saya.”
“Dan itu sudah Anda lakukan,” jawab Junie cepat. “Anda bertahan. Anda mencari bantuan. Itu langkah besar.”
Naomi menggigit bibirnya, menahan tangis lagi.
Junie kemudian mengambil beberapa lembar kertas dari meja.
“Sekarang saya jelaskan sedikit ya,” katanya, kembali ke mode profesional. “Untuk kasus Davin, biasanya kita lakukan operasi pertama saat usia sekitar tiga bulan.”
Naomi langsung fokus.
“Itu untuk memperbaiki celah bibirnya terlebih dahulu,” lanjut Junie. “Setelah itu, akan ada tahap berikutnya untuk langit-langit mulut, biasanya saat usianya sedikit lebih besar.”
Naomi mengangguk pelan, mencoba menyerap setiap informasi.
“Selama menunggu waktu operasi, penting untuk menjaga nutrisinya tetap baik,” tambah Junie. “Cara feeding yang sudah Anda lakukan itu sudah tepat.”
Naomi memperhatikan dengan serius.
“Kita juga akan pantau perkembangan berat badan dan kesehatannya secara berkala,” lanjut Junie. “Karena kondisi tubuh yang baik akan sangat membantu proses operasi nanti.”
“Baik, Dok...” jawab Naomi pelan.
Junie kemudian menggeser satu formulir ke arah Naomi.
“Kebetulan, beberapa bulan lagi kami akan mengadakan program operasi gratis,” katanya. “Saya sarankan Anda mendaftarkan Davin ke sini.”
Naomi langsung menatap formulir itu. Tangannya sedikit gemetar saat mengambilnya.
“Ini... benar-benar gratis?” tanyanya pelan.
Junie tersenyum. “Ya. Program ini memang untuk membantu anak-anak seperti Davin.”
Naomi langsung menunduk lagi. Air matanya jatuh ke atas kertas. “Terima kasih...” ucapnya lagi.
Junie hanya mengangguk kecil. “Isi saja dulu. Kalau ada yang tidak jelas, Anda bisa tanya.”
Naomi mulai menulis. Nama: Davin. Tanggal lahir. Data diri. Setiap huruf yang dia tulis terasa seperti langkah menuju masa depan yang lebih baik.
Beberapa menit kemudian, dia menyerahkan kembali formulir itu.
Junie menerimanya, lalu berkata, “Kami akan proses secepatnya. Nanti tim kami akan menghubungi Anda untuk jadwal selanjutnya.”
Naomi mengangguk. Wajahnya masih basah, tapi kini ada senyum kecil di sana.
“Dokter...” panggilnya pelan.
Junie menatapnya.
“Terima kasih... bukan cuma karena mau membantu anak saya,” katanya. “Tapi karena... sudah mendengarkan saya.”
Junie terdiam sejenak. Lalu tersenyum ringan. “Kadang,” katanya pelan, “yang orang butuhkan bukan hanya solusi. Tapi juga didengar.”
Kalimat itu kembali menyentuh Naomi. Ia mengangguk pelan.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, Naomi keluar dari ruangan dengan langkah yang sedikit lebih ringan.
...***...
Di sisi lain kota, suasana berbeda terasa di rumah sakit tempat Zayn bekerja. Seperti biasa, dia mengenakan jas putihnya, berjalan di koridor dengan wajah profesional. Namun di balik itu, pikirannya tidak benar-benar tenang.
Sejak berita perselingkuhan Naomi menyebar, suasana di sekitarnya berubah. Beberapa rekan kerja menepuk pundaknya, memberi simpati.
“Sabar ya, Zayn...”
“Kuat ya...”
“Kamu pasti berat banget menghadapi itu...”
Semua percaya bahwa Naomi berselingkuh. Setiap kali mendengar itu, hati Zayn terasa seperti ditusuk. Dia tidak membantah. Ia juga tidak membenarkan. Zayn hanya diam.
Hari itu, dia masuk ke ruang praktiknya seperti biasa. Namun belum lama duduk, pintu diketuk.
“Masuk,” katanya singkat.
Pintu terbuka. Seorang wanita masuk. Zayn yang awalnya menunduk membaca berkas langsung mengangkat kepala. Seketika, dia membeku.
“Anggun?”
Wanita itu tersenyum tipis. “Hai, Zayn.”
Waktu seolah mundur sesaat. Anggun, mantannya dulu. Wanita itu masih sama seperti yang dia ingat. Cantik, percaya diri, dengan aura elegan yang sulit diabaikan.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Zayn, sedikit kaget.
“Aku pasienmu hari ini,” jawab Anggun santai sambil duduk. “Kebetulan banget ya.”
Zayn mengangguk pelan, mencoba kembali profesional. “Keluhannya apa?”
“Cuma kontrol biasa,” jawab Anggun ringan. “Tapi jujur... aku juga penasaran.”
Zayn mengernyit. “Penasaran?”
Anggun menatapnya lebih dalam. “Tentang kamu.”
Zayn terdiam.
“Aku dengar... tentang perceraian kamu,” lanjut Anggun pelan.
Zayn menghela napas kecil. “Berita cepat sekali menyebar ya.”
“Ya, apalagi kalau dramatis,” balas Anggun.
Hening sejenak.
Anggun lalu berkata, “Aku prihatin, Zayn.”
Zayn menatapnya.
“Punya istri seperti itu... pasti berat,” lanjutnya. “Diselingkuhi, lalu hamil dengan pria lain...”
Kalimat itu seperti pisau.
Zayn menunduk sebentar. Lalu tersenyum kecut. “Iya...” katanya pelan.
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Karena dia tahu, itu tidak benar. Dia tahu siapa Naomi. Ia tahu bagaimana wanita itu mencintainya. Dirinya tahu semua itu hanyalah kebohongan yang diciptakan, tapi justru itu yang membuatnya semakin sesak.
“Aku yakin dia akan dapat karmanya,” lanjut Anggun tanpa ragu. “Wanita seperti itu tidak akan bahagia.”
Zayn terdiam. Kata-kata itu tidak memberinya kepuasan. Justru membuatnya semakin gelisah. Dia tentu merasa bersalah bukan karena kehilangan Naomi. Tapi karena telah membiarkan kebohongan itu hidup.
Kini, semua orang mempercayainya. Sementara Naomi harus menanggung semuanya sendirian.
Zayn mengepalkan tangannya di bawah meja. Namun di wajahnya, dia tetap tersenyum tipis.
“Semoga saja,” katanya berat. Namun meskipun begitu, dia masih tega mengucapkannya.
Padahal jauh di dalam hati, ada sesuatu yang mulai retak. Namun kali ini bukan karena Naomi. Tapi karena dirinya sendiri.
"Mau dinner nanti malam? Mungkin hatimu bisa lebih baik," tawar Anggun.
"Boleh." Zayn menjawab singkat.
"Oke, nanti aku hubungi ya." Anggun mengerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum. Setelah itu dia beranjak dari ruangan Zayn.
Ketika sendirian, Zayn langsung mencengkeram kepalanya.
"Aaaargh! Enggak, Zayn! Kau nggak boleh begini! Kau nggak boleh merasa bersalah! Kau harus menganggap Naomi benar-benar berselingkuh. Ya begitu..." Zayn mencoba memanipulasi pikirannya sendiri agar bisa menenangkan hati dari rasa bersalah.