NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : HARI PERTAMA DI KANTOR

Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Udara dingin dari AC kantor menusuk kulit Kirana, tapi keringat dingin yang mengalir di dahinya terasa lebih menusuk daripada itu.

Hari ini adalah pertama kalinya Kirana memasuki kantor ayahnya bukan sebagai tamu atau anak seorang CEO, melainkan sebagai seorang karyawan. Lantai granit yang mengkilat memantulkan langkahnya yang sedikit ragu, sementara karyawan-karyawan yang berlalu-lalang menundukkan kepala setiap kali melihatnya.

“Nona Kirana. Selamat pagi, Nona Kirana.”

Sapa hormat itu membuat Kirana hanya bisa tersenyum kaku dan membalas dengan anggukan singkat. Dadanya berdebar tidak karuan. Rasanya asing, berada di tempat yang seharusnya ia anggap sebagai rumah kedua.

Di sampingnya, Arga berjalan dengan postur tegap. Kemeja putih yang rapi, dasi hitam yang tersimpul sempurna, dan rambut yang tersisir rapi membuat penampilannya jauh berbeda dari sosok supir yang biasa Kirana lihat. Hari ini, ia adalah Asisten Manajer Operasional PT. Harsono Group.

Bisik-bisik kecil mulai terdengar dari sudut ruangan.

“Itu Mas Arga, ya? Ganteng banget hari ini.”

“Denger-denger dia yang jadi mentor Nona Kirana, lho.”

“Enak banget Nona Kirana, diajarin langsung sama Mas Arga.”

Kirana mendengar bisikan itu dan seketika mengernyit. Perasaan tidak nyaman langsung menyelinap di hatinya. "Cih..Mentor? Aku tidak butuh diajarin oleh seorang supir."

Arga yang menyadari tatapan Kirana langsung berhenti dan menoleh. “Tenang, Nona. Saya hanya menjalankan perintah Pak Harsono. Jika Nona tidak nyaman, saya bisa mundur.”

Suara Arga terdengar datar, tegas, namun ada jarak yang jelas di dalamnya. Nada itu membuat Kirana tidak suka. Seolah-olah Arga sudah pasrah dan sengaja menjaga jarak dengannya.

“Siapa yang bilang aku tidak nyaman?” jawab Kirana cepat dengan nada ketus. “Tunjukkan saja ruang kerja saya.”

Arga hanya mengangguk kecil sebelum berbalik dan berjalan lebih dulu. Punggungnya tegap, dingin, seperti tembok yang sulit ditembus.

Kirana mengikuti dari belakang sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Arga. Tanpa ia sadari, hatinya mulai terasa tidak nyaman melihat punggung itu.

Pintu kaca ruang kerja terbuka dengan suara pelan. Ruangan itu luas, dengan meja kerja besar, laptop, dan tumpukan dokumen yang tertata rapi.

“Ini ruang kerja saya. Mulai hari ini, Nona akan duduk di sini bersama saya,” ujar Arga dengan nada datar.

Kirana langsung membelalak. “Bersama kamu..??”

“Ya. Pak Harsono bilang Nona harus belajar dari dasar. Dan dasarnya ada di ruangan ini.”

Ledakan kecil seolah terjadi di kepala Kirana. Ia membayangkan mendapat ruangan pribadi dengan pemandangan kota, bukan berbagi satu ruangan dengan Arga.

Satu ruangan. Satu meja. Satu tahun.

Kirana duduk di kursi dengan gerakan kasar, jelas menunjukkan ketidaksetujuannya. Arga kemudian meletakkan sebuah map tebal di hadapan Kirana.

“Ini laporan keuangan cabang Bekasi bulan lalu. Nona baca dulu. Nanti saya akan bertanya.”

Kirana menatap map itu seperti menatap musuh. Ia lulusan Fashion Design, bukan Akuntansi. “Arga… kamu serius mau aku baca ini?” tanyanya lirih.

Arga akhirnya menatap mata Kirana untuk pertama kalinya pagi itu. Tatapannya tenang, namun dalam. “Serius, Nona. Karena kalau Nona ingin memimpin perusahaan ini suatu hari nanti, Nona harus tahu dari mana uangnya datang dan pergi.”

Kalimat itu menghantam ego Kirana tanpa ampun. Ia terdiam, tidak mampu membalas.

Pukul 12.00 siang, Kirana duduk sendirian di ruang makan kantor sambil mengaduk sup yang bahkan belum ia sentuh. Di meja sebelah, Arga makan nasi padang dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa pagi tadi.

Kirana menghela napas. Ia lapar, tapi gengsinya lebih besar dari rasa lapar itu.

Tiba-tiba, suara Arga muncul di hadapannya. “Ngapain duduk sendirian, Nona? Makanlah. Nanti pingsan di depan laptop saya.”

Kirana mendongak. Arga sudah berdiri di depannya sambil membawa satu piring nasi. “Nih, saya belikan. Rendang favorit saya.”

Piring itu diletakkan tepat di depan Kirana. Ia terdiam. Tidak ada permintaan, tapi Arga tetap membelikannya.

“Kenapa?” tanya Kirana pelan.

Arga hanya mengangkat bahu. “Karena Nona adalah istri saya. Dan suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya kelaparan di hari pertama kerja.”

Dua kata itu suami dan istri membuat jantung Kirana seolah berhenti berdetak sejenak. Dua kata yang selama ini terasa asing, kini terasa sedikit lebih nyata.

Arga kemudian berbalik dan kembali ke mejanya, meninggalkan Kirana dengan piring rendang yang masih mengepul hangat.

Kirana menatap punggung Arga untuk kedua kalinya hari itu. Kali ini, tidak ada rasa kesal di sana. Hanya ada kehangatan yang mengalir pelan ke dalam dadanya.

Setelah makan siang, Kirana kembali ke ruang kerja dengan perasaan yang masih bercampur aduk.

Piring rendang itu sudah kosong. Tapi kata-kata Arga tadi masih terngiang di kepalanya.

“Suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya kelaparan.”

Kirana menggeleng cepat. “Ah, itu cuma ucapan biasa. Nggak perlu baper, Kirana.” batinnya.

Ia duduk di depan meja dan menatap map tebal berwarna biru tua yang tadi diberikan Arga. Judulnya: LAPORAN KEUANGAN CABANG BEKASI – APRIL 2026

Kirana membuka halaman pertama. Angka. Grafik. Tabel. Kolom debit. Kolom kredit.

DUARR

Kepalanya langsung pening.

“Apa ini semua?” gumam Kirana pelan. Ia lulusan Fashion Design . Yang ia pahami cuma menggambar sketsa baju, merancang busana dan menjahit baju.

Ia mencoba membaca paragraf pertama:

“Pendapatan operasional mengalami penurunan 12% dibandingkan bulan sebelumnya akibat gangguan operasional di jalur Bekasi-Cikarang.”

Kirana mengernyit. Gangguan operasional? Itu kan gara-gara tabrakan kemarin.

Tapi ia tidak mengerti bagaimana tabrakan itu bisa berpengaruh sampai ke angka pendapatan.

Lima belas menit berlalu. Kirana masih memandangi halaman yang sama. Matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena frustasi.

“Aku ini bodoh banget apa ya?” pikirnya. “Masa laporan segini aja nggak ngerti.”

Tiba-tiba, suara lembut terdengar dari sebelahnya.

“Nona kesulitan?”

Kirana mendongak. Arga sudah berdiri di samping mejanya tanpa suara. Di tangannya ada dua gelas kopi.

Kirana langsung menegakkan badan dan berpura-pura tenang. “Nggak. Aku cuma… lagi meresapi.”

Arga mengangkat satu alis. Ia meletakkan satu gelas kopi di depan Kirana.

“Kopi hitam. Tanpa gula. Pakai sedikit susu. Biar Nona lebih fokus.”

Kirana menatap kopi itu, lalu menatap Arga. “Kamu tahu dari mana aku suka kopi ?”

Arga mengangguk kecil. “Saya perhatikan Nona selalu minta di buatin kopi sama Bi Rina setiap di rumah.”

DEG.

Lagi-lagi jantung Kirana berdetak aneh.

Arga ternyata memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Hal yang bahkan Kirana sendiri tidak sadari.

Arga menarik kursi dan duduk di samping Kirana. Bukan di kursi kerjanya, tapi di kursi tamu yang lebih dekat.

"Gak papa kalau Nona masih bingung karena ini pertama kalinya mempelajari bisnis keluarga Nona... Jadi pelan pelan saja. "

"Bisnis yang Tuan jalankan tuh di bidang Logistik dan Transportasi... jadi wajar kalau Nona tidak langsung paham".Arga mulai menjelaskan Sedikit tentang bisnis papanya.

1.Logistik darat: "truk, kontainer, distribusi barang antar kota".

2.Gudang & rantai pasok: "mereka punya beberapa gudang besar di pinggiran Jakarta"

“Kalau boleh saya sarankan, Nona jangan baca laporan ini dari awal sampai akhir.”

“Lalu?” tanya Kirana, suaranya sedikit melembut.

“Baca kesimpulan dulu. Halaman terakhir. Di situ ada ringkasan poin-poin penting.” ujar Arga sambil membalik map itu ke halaman terakhir.

Kirana mengikuti. Dan benar. Ada empat poin besar.

Penurunan pendapatan akibat gangguan distribusi di jalur utama Bekasi–Karawang pada 25 April 2026.

Estimasi kerugian: 2,4 miliar rupiah karena kebakaran sebagian area penyimpanan gudang cabang Bekasi.

Rencana mitigasi: pengalihan rute distribusi ke gudang sementara di Karawang untuk meminimalisir keterlambatan pengiriman.

Kebijakan kompensasi klien berupa potongan biaya pengiriman 15% untuk pesanan yang terdampak keterlambatan lebih dari 48 jam.

“Lihat, Nona. Empat poin ini yang penting. Sisanya hanya data pendukung.” jelas Arga.

Kirana mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, laporan itu tidak terlihat menyeramkan lagi.

“Tapi… kenapa kamu jelasin pelan-pelan begini?” tanya Kirana tiba-tiba. “Bukankah tugasmu hanya menyerahkan laporan ini?”

Arga terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke depan, bukan ke Kirana.

“Karena Pak Harsono bilang, Nona bukan hanya anaknya. Nona adalah penerus perusahaan ini.” jawab Arga pelan. “Dan kalau penerusnya gagal paham, maka perusahaan ini juga bisa gagal.”

Jawaban itu membuat Kirana terdiam.

Berat.

Tapi juga… membuat dadanya hangat.

Arga berdiri dan kembali ke mejanya. Tapi sebelum melangkah jauh, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh.

“Kalau Nona masih bingung, tanya saja. Saya tidak akan menggigit.”

Kirana hampir tertawa mendengar itu.

"Arga… ternyata bisa juga bercanda."

Ia menyesap kopi susu yg sudah mulai dingin. Tapi lama-lama terasa hangat dan membuat pikirannya lebih jernih.

Kirana kembali menatap laporan itu. Kali ini, ia tidak merasa sendiri.

JAM 17.00 - WAKTU PULANG

Karyawan mulai bergegas pulang. Ruang kerja yang tadi ramai kini mulai sepi.

Kirana menutup map laporan dan merapikannya. Ia melirik Arga yang masih mengetik di laptopnya dengan fokus.

“Arga… kamu nggak pulang?” tanya Kirana.

Arga tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu baris terakhir sebelum menutup laptopnya.

“Saya nunggu Nona. Pak Harsono bilang saya harus mengantar Nona pulang.”

Kirana menghela napas. "Selalu saja Pak Harsono."

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” kata Kirana.

Arga berdiri dan mengambil jasnya. “Maaf Nona. Ini perintah. Dan saya tidak bisa melanggar perintah atasan.”

Kirana menatap Arga dengan kesal. Tapi di balik kesal itu, ada rasa aman yang tiba-tiba muncul.

Kirana berjalan keluar ruangan dengan langkah yang lebih ringan dari pagi tadi.

Di belakangnya, Arga mengikuti dengan jarak satu langkah. Seperti biasa. Seperti pengawal. Tapi juga… seperti suami.

[BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!