Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tetap Kupilih, Meski Tidak Memilihku
Aku bukan tidak pernah punya pilihan.
Justru sebaliknya…
aku pernah beberapa kali hampir pergi.
Ada orang-orang yang datang dengan cara yang lebih jelas.
Tidak membuatku menunggu.
Tidak membuatku bertanya-tanya.
Bahkan ada yang datang dengan keseriusan yang selama ini tidak pernah aku dapatkan.
“Kalau kamu capek, kamu nggak harus bertahan di situ,”
salah satu dari mereka pernah berkata seperti itu.
Aku mengerti maksudnya.
Aku tahu… dia benar.
Tapi setiap kali aku mencoba melangkah ke arah yang berbeda,
ada sesuatu yang selalu menahanku.
Bukan karena mereka kurang baik.
Justru karena mereka terlalu baik…
dan aku sadar,
aku tidak bisa memberi mereka perasaan yang sama.
Aku selalu mengambil jarak.
Selalu mundur,
sebelum semuanya menjadi lebih jauh.
Dan entah kenapa,
setiap kali aku pergi dari orang lain…
aku justru kembali ke tempat yang sama.
Ke dia.
Pada seseorang yang tidak pernah benar-benar memintaku untuk tinggal,
tapi juga tidak pernah benar-benar membiarkanku pergi.
Hubunganku dengan Raka sendiri…
bahkan sulit untuk disebut hubungan.
Kami pernah sangat dekat.
Sedekat itu sampai aku merasa…
dia adalah bagian dari hari-hariku yang tidak bisa dipisahkan.
Tapi di waktu yang sama,
kami juga pernah benar-benar jauh.
Tanpa kejelasan.
Tanpa penutup.
Seolah semuanya hanya berhenti di tengah jalan…
tanpa pernah benar-benar selesai.
Sampai pada satu titik,
bahkan ketika semuanya sudah terasa seperti berakhir…
aku tetap kembali.
Bukan karena aku tidak tahu kenyataannya,
tapi karena aku belum siap menerima…
bahwa semua ini benar-benar selesai.
Hari itu, tanpa banyak berpikir, aku mendatanginya.
Aku tidak merencanakannya.
Tidak juga mempersiapkan apa yang akan aku katakan.
Aku hanya… datang.
Membawa semua perasaan yang selama ini aku tahan sendiri.
Dia terlihat terkejut melihatku.
“Kamu ngapain ke sini?” tanyanya.
Nada suaranya tidak kasar.
Tapi juga tidak hangat seperti dulu.
Aku menarik napas pelan.
Semua kata yang seharusnya mudah diucapkan…
tiba-tiba terasa berat.
“Aku cuma mau tanya,” kataku akhirnya.
Dia diam.
Menatapku, menunggu.
“Kita… bisa balik lagi nggak?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa hiasan.
Tanpa penjelasan panjang.
Tapi cukup untuk menunjukkan…
seberapa besar aku masih berharap.
Waktu terasa berhenti beberapa detik.
Tidak ada jawaban langsung
Hanya tatapan yang sulit aku artikan.
Lalu perlahan…
dia menggeleng.
“Nggak bisa.”
Dua kata.
Sesederhana itu.
Tanpa alasan.
Tanpa penjelasan.
Tapi cukup untuk meruntuhkan semua yang selama ini aku pertahankan.
Aku tidak langsung menangis.
Tidak juga marah.
Aku hanya berdiri di sana…
mencoba menerima sesuatu yang sebenarnya sudah lama aku rasakan.
Bahwa aku mungkin satu-satunya yang masih tinggal di tempat ini.
Sementara dia…
sudah pergi jauh tanpa aku sadari.
“Yaudah,” jawabku pelan.
Sesederhana itu juga.
Seolah aku baik-baik saja.
Padahal di dalam,
ada sesuatu yang benar-benar runtuh saat itu.
Aku berbalik.
Melangkah pergi tanpa melihatnya lagi.
Tapi setiap langkah terasa berat.
Seolah aku meninggalkan sesuatu yang tidak bisa aku bawa…
tapi juga tidak bisa aku lepaskan sepenuhnya.
Aku pulang dengan hati yang tidak lagi sama
.
Kosong.
Tapi juga penuh dengan rasa sakit yang tidak bisa aku jelaskan.
Dan untuk pertama kalinya,
aku benar-benar mengerti
kehilangan tidak selalu terjadi ketika seseorang pergi.
Kadang,
kamu sudah kehilangannya…
jauh sebelum kamu benar-benar menyadarinya.
Tapi yang paling menyakitkan dari semuanya adalah
meskipun aku sudah ditolak dengan jelas hari itu,
ada bagian dari diriku yang masih berharap…
bahwa suatu hari,
dia akan kembali.
Dan mungkin…
di situlah aku benar-benar kehilangan diriku sendiri.