Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Lorong di Sisi Kegelapan
Ruangan batu besar yang menjadi tempat persembunyian mereka kini dipenuhi oleh keheningan yang menusuk. Api unggun kecil telah meredup menjadi bara, meninggalkan suhu yang dingin dan bayangan yang panjang. Di dinding, dua ukiran kontras satu tentang senyum masa lalu, satu tentang kekejaman diam-diam mengawasi mereka.
Kini, ruangan itu hanya menyisakan suara napas yang berembus pelan dan gesekan halus langkah kaki di atas debu. Aura berdiri di pintu masuk, memandang lorong gelap yang akan mereka susuri. Lorong itu tampak seperti mulut goa, hitam pekat, menelan cahaya obor yang tersisa.
Kieran berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengamati situasi lorong. Lorong itu berkelok, tidak memberikan pandangan jauh, membuatnya terasa seperti labirin tanpa ujung.
Aura menatap jauh ke sisi kegelapan lorong, fokusnya tertuju pada udara dingin yang merayap keluar. Ia merasakan beban tanggung jawab di pundaknya membawa rekan-rekannya melewati neraka ini.
Saat itu, Kieran mengalihkan pandangannya dari lorong ke arah Aura. Ia melihat siluet Aura yang rapuh namun kuat dalam remang-remang. Perasaan aneh menyeruak di dada Kieran. Ada rasa keakraban yang tidak asing, seperti melihat sesuatu yang hilang dan kini ditemukan kembali. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat, resonansi emosi yang tiba-tiba dan tak terjelaskan.
Aura, yang memiliki indra keenam yang tajam, merasakan tatapan itu. Itu bukan tatapan sekadar melihat, melainkan tatapan yang menelanjangi jiwanya. Ia segera melirik ke sebelah kanannya, menangkap ekspresi rumit di mata Kieran.
“Ada apa kamu melihatku?” tanya Aura dengan wajah polos, sedikit mengernyit. “Apa ada sesuatu di wajahku?”
Kieran tersentak, tatapannya beralih dari mata Aura. Ia tidak menjawab, seolah kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Ia memindai ruangan, mencari alasan lain untuk mengalihkan perhatian dari debaran aneh di hatinya.
Jack, yang sedang mengemas peralatannya, sempat menangkap tatapan Kieran yang penuh gejolak sebelum tatapan itu menghilang. Jack yang cerdas segera mengerti. Ini bukan waktunya untuk berlama-lama dalam keheningan yang canggung.
“Waktunya bergerak,” ujar Jack tegas, nadanya menyiratkan urgensi. “Kita harus melanjutkan perjalanan menyusuri lorong tingkat empat. Langit-langit labirin ini tidak akan menanti kita.”
Falix mengangguk setuju. Prajurit yang terluka telah dibalut perban seadanya, dan kini mereka siap melanjutkan.
Mereka mulai berjalan, memasuki lorong tingkat empat yang gelap. Koridor itu terasa tanpa henti, dengan dinding batu yang dingin dan berlumut. Suasana sunyi dipecahkan hanya oleh langkah kaki dan napas mereka yang berhati-hati.
Lorong itu menguji mental mereka. Mereka melewati tempat-tempat di mana sisa-sisa tragedi sebelumnya terlihat bekas darah, senjata yang patah peluru kehabisan isinya. Tentara yang tewas sebelumnya adalah bayangan yang menghantui setiap langkah.
Mereka terus bergerak maju, dan segera, lorong itu berubah menjadi mimpi buruk yang baru. Ini bukan hanya jebakan panah fisik. Lorong ini dipenuhi jebakan yang lebih licik:
• Lubang Tersembunyi: Tanah di depan mereka tiba-tiba ambles, membentuk lubang-lubang dalam yang tertutup ilusi debu tipis.
• Panah Kejut: Panah-panah kecil yang tiba-tiba melesat dari dinding tanpa pemicu suara, hanya meninggalkan desis yang tajam.
• Ilusi Optik: Lorong di depan mereka tiba-tiba tampak berputar, membuat pandangan kabur dan langkah menjadi tidak stabil.
Aura menggunakan kemampuannya secara terus menerus, menjadi mata bagi timnya. Ia memvisualisasikan medan di depan, memandu setiap langkah mereka. Kieran dan Jack bergiliran di posisi depan dan belakang, melindungi rombongan.
Mereka berhasil melewati lorong jebakan itu, tanpa ada yang tewas. Namun, mereka tidak lari tanpa kerugian. Beberapa prajurit mengalami cedera baru pergelangan kaki terkilir, luka sayat kecil akibat panah tersembunyi, dan yang paling parah, kelelahan mental yang mendalam.
Aura melihat prajurit yang terluka parah di bahu kini kesulitan berjalan, wajahnya menahan rasa sakit. Rasa bersalah dan iba membebani hati Aura.
“Apa perlu kita kembali ke atas?” tanya Aura, suaranya dipenuhi keraguan dan kepedulian. Ia melihat ke tentara yang terluka, berharap mereka bisa beristirahat di tempat yang lebih aman.
Jack, yang paham betul dengan kondisi moral tim, menjawab dengan wajah keras dan tegas. Di matanya terpancar tekad yang tidak bisa digoyahkan. “Tetap lanjutkan.”
Prajurit-prajurit di bawah kepemimpinan Jack, meski lelah dan terluka, mengangguk setuju dengan keputusan itu. Loyalitas dan keberanian mereka sungguh menyentuh. Mereka tahu, kembali ke lantai atas sama saja dengan mengakui kegagalan ekspedisi, atau justru menghadapi ancaman yang lebih dulu mereka lalui.
Aura menghela napas, melihat sikap setia kawan yang menyedihkan dan heroik itu. Ia tahu, Jack dan prajuritnya adalah manusia-manusia yang teguh memegang sumpah. Ia hanya bisa mengangguk, menyimpan keputusasaan kecil di hatinya.
Mereka berjalan beberapa menit lagi hingga akhirnya menemukan sebuah ruangan yang luas dan besar. Ruangan itu benar-benar kosong, tidak ada perabot, tidak ada ukiran, hanya lantai batu abu-abu dan langit-langit tinggi.
Falix mengamati ruangan itu dengan mata mengamati sekitarnya dengan hati-hati dan waspada. “Di ruangan ini, aku merasakan energi jebakan yang sangat besar,” katanya, suaranya serius. Ia menunjuk ke ujung ruangan. “Dan di sana, ada ruangan menuju lantai kelima.”
Ruangan besar itu terasa terlalu mudah. Keheningan yang berlebihan adalah jebakan yang paling jelas di labirin ini.
Mereka tidak langsung masuk. Pengalaman pahit di lorong panah membuat mereka lebih berhati-hati.
“Kita harus memeriksa setiap sudut,” perintah Falix. “Lorong ini terlalu hening. Mungkin ada pemicu di tengah.”
Mereka memutuskan untuk memeriksa dengan melemparkan benda-benda kecil. Jack mengeluarkan sekantung kelereng besi yang biasa ia bawa, sementara Falix mengambil batu-batu kecil dari reruntuhan.
“Kelereng dulu,” kata Jack. “Benda kecil, risiko minim.”
Jack melemparkan kelereng pertama ke sudut ruangan. Kelereng itu menggelinding pelan di atas lantai batu.
Krik!
Jebakan pertama terpicu. Dari celah lantai di sudut, tiba-tiba menyembur Kabut Racun berwarna hijau kekuningan. Kabut itu tidak menyebar luas, hanya terkumpul di sudut itu.
“Kabut racun. Cerdas,” gumam Aura, wajahnya tegang.
Jack melemparkan kelereng kedua, mengarahkannya ke tengah ruangan.
Swuuut!
Kali ini, jebakan yang berbeda. Serentetan panah kecil seukuran jarum melesat dari langit-langit, menghantam lantai di sekitar kelereng. Panah itu membawa kecepatan tinggi, cukup untuk membuat luka sayat dalam jika mengenai kulit.
Ketegangan terasa mencekik. Setiap lemparan kelereng memicu ancaman yang berbeda.
Jack melemparkan batu kecil yang diberikan Falix ke sisi ruangan yang berlawanan.
Brak!
Kali ini, sebuah mekanisme batu terpicu. Batu-batu kecil, sebesar koin, dilemparkan dengan kecepatan sangat tinggi dari dinding, menghasilkan suara klik-klik yang mematikan.
Aura mengamati kecepatan lemparan batu itu. Kecepatan tinggi, luka kecil tapi banyak untuk melemahkan musuh perlahan.
“Setiap langkah adalah kematian di ruangan ini,” bisik Kieran, melihat kelereng yang terpental. Ia mengencangkan genggamannya pada busur. “Kita harus melompat, atau terbang.”
Aura melihat pintu di ujung ruangan. Tekadnya mengeras. Mereka telah melewati hujan panah, ilusi, dan kini jebakan tersembunyi. Tidak ada kata mundur.
“Kita bagi tim,” kata Aura, suaranya tenang, siap mengambil kendali. “Kita butuh kecepatan. Kita harus melompat sejauh mungkin, menghindari zona tengah.”