Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Dari Gedung
Lucas mendekap tubuh mungil itu sebelum sampai benar-benar jatuh, namun naas mereka sudah sampai di ujung gedung hingga mereka meluncur begitu saja. Sedangkan Shopia memejamkan matanya tidak berharap apapun saat ini hanya berharap dia akan mati seketika agar tidak merasa terlalu sakit nantinya.
Brukkk!
Suara keras itu menyadarkan Shopia bahwa dia sudah jatuh bebas ke bawah gedung, 'Apakah aku sudah mati?' gumamnya dalam hati.
Shopia mengintip sedikit ternyata dia di selamat oleh jaring dan kasur raksasa berwarna oranye yang di pasang Bima sebelum terjadi nya insiden sebab melihat dari lantai atas Shopia sedang di dorong mendekat kearah pinggir gedung.
Melihat hal itu dengan tindakkan cepat Bima meminta timnya untuk bergerak cepat membuat balon raksasanya yang sering di gunakan oleh damkar untuk evakuasi orang yang dari ketinggian.
Shopia mengerjapkan matanya melihat Lucas berada di hadapannya dengan memeluk erat dirinya, hingga kesadaran Shopia perlahan menghilang. Dia hanya ingat Lucas menepuk-nepuk pipinya meminta dia bangun dengan cepat. Namun, matanya terlalu lelah untuk tepat bertahan.
"Tuan?" panggil Bima melihat ekspresi Lucas yang tegang.
Namun, pria itu tidak ingin menjawab pertanyaan Bima, dia masih begitu syok dengan keadaan itu, hingga Lucas mengeluarkan suaranya, "Kita haru segera membawanya ke dokter," titah Lucas, mengendong putrinya dengan setengah memeluknya.
Baru saja Lucas keluar dari balon raksasa itu, Mia sudah keluar dari gedung itu bersama Lily dan beberapa bawahan Lucas yang memastikan kedua orang itu aman.
Mia mencegat Lucas, "Tuan tunggu! Terima kasih sudah menolong Nona kami," ujar Mia sembari mendorong tubuh Lily untuk sekedar memelas pada Lucas.
"Papa, terimakasih sudah menolong Lily," ungkap Lily dengan sedikit mengulung gaunnya karena malu.
Lucas hanya memandang nya sinis dan tidak suka dengan sikap Lily lagipula, 'Siapa yang mengizinkan Lily memanggilnya Papa,'.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan basa-basi ini," geramnya rendah kemudian mengeratkan gendongannya pada Shopia.
"Eh... Tunggu Tuan," pinta Mia.
Namun, Lucas tidak menggubrisnya dan tetap melangkahkan kakinya meninggal tempat itu dengan tergesa-gesa. Mia menggerutu ketika mobil milik Lucas melaju pergi meninggalkan tempat itu.
Dia lalu mendekat kearah Lily dan mencengkram bahu gadis itu dengan erat, "Nona harus ingat bahwa Nona adalah putri Tuan Lucas, Nona tidak boleh membiarkan tempat itu di ambil orang lain," bisik Mia dengan penuh penekanan.
Lily hanya menganggukkan kepala sebagai balasan seolah mengatakan akan melakukan semua perintah yang di inginkan oleh Mia.
*
Sedangkan ditempat lain, Lucas sudah sampai ke kediamannya, mengendong Shopia kedalam pelukannya hingga sampai ke kamar yang biasanya gadis itu pakai selama tinggal bersamanya.
Lisa dan Rosa yang sudah menunggu mereka panik di buatnya. Terlihat Lisa ingin turut serta membantu Shopia. Namun, Lucas seolah menepis bantuan itu dengan terus berjalan ke arah kasur dan meletakkan tubuh Shopia yang terkulai ke atas kasur itu.
"Rosa cepat periksa dia," tunjuk Lucas dengan kasar.
"Tunggu sebentar, memang saya mau melakukan itu kesini malam-malam, Anda pikir saya mau apa," gerutu Rosa melihat Lucas tidak sabaran.
Dokter Rosa kemudian mendekati Shopia kemudian memeriksa dengan stetoskopnya, dan memeriksa keadaan tubuh Shopia. Entah tanpa sengaja wanita itu mengelengkan kepalanya, membuat semua orang di dalam ruangan mengelengkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Lucas mengerutkan keningnya.
"Nona Shopia hanya syok saja tidak ada benturan yang serius hanya ada luka lecet, et... Tapi tetap harus cek laboratorium lengkap untuk memastikan kesehatan Nona," jawab Rosa sedikit tersenyum.
"Apa-apaan kau Rosa!" tegur Lucas karena jantung hampir copot tadi, dia kemudian mendorong Rosa menjauh karena Lucas ingin melihat Shopia lebih dekat.
"Ini aku resep kan saja obat dan salepnya, kalau Nona masih seperti ini mungkin aku harus memberikan cairan tambahan pada Nona Shopia mengingat Nona baru sembuh dari sakitnya," ujar Rosa menatap kearah Lisa sebab percuma saja berbicara pada Lucas yang mungkin sedang merenungi kesalahannya.
Sepeninggalnya dokter Rosa, Lisa dan Bima. Lucas berjongkok di bawah kasur menatap wajah putrinya yang terlelap dengan damai. Dia kini merutuki dirinya tak dapat menyelamatkan putrinya, yang lebih dia sesali bahwa orang yang selama ini dia anggap licik rela mengorbankan dirinya untuk orang yang tidak terlalu penting dan baru di kenalnya beberapa saat yang lalu.
"Kenapa kau bodoh sekali? Jangan mati di hadapan ku, itu sangat menyebalkan," gerutu Lucas sembari mengenggam tangan Shopia dengan erat. Dia pun membenamkan wajahnya di tangan mungil itu hingga terlelap di samping Shopia.
*
Selepas dua hari berselang akhirnya Shopia terbangun, dia mengerjapkan matanya dan menyadari kematiannya belum terjadi padahal dia terjatuh dari tempat yang tinggi. Shopia melihat di sekeliling yang merupakan kamar yang sama, yaitu kediaman Lucas.
"Hah..."
Shopia menghela nafasnya kasar sebab bukan ini yang dia inginkan, yang dia inginkan menuju alam baka sebab dia tidak ingin terus berputar dalam cerita yang sudah di ketahui akhirnya.
"Nona sudah bangun?" suara itu mengangetkan Shopia.
Lisa menghampirinya dengan semangkuk bubur ayam hangat di tangan seolah sudah mengetahui bahwa Shopia sudah sadar dari pingsannya. "Kak Lisa," ucap Shopia mencoba untuk bersandar pada ranjangnya.
"Nona sini biar saya bantu," tawar Lisa menumpuk bantal di belakang Shopia agar gadis kecil itu lebih nyaman.
Shopia melihat sekitarnya yang cukup hening, Lisa yang menyadari keresahan Shopia kemudian mengajukan pertanyaan, "Nona, Anda pasti mencari Tuan kan? Tuan sedang..."
'Tidak, siapa juga yang perduli dengan pria brengsek itu,' gerutunya dalam hati.
"Shopia hanya penasaran kak Lisa, apakah Nona itu selamat? Soalnya sewaktu Shopia akan jatuh dari gedung itu, Shopia tidak melihat jelas Nona itu," sahut Shopia menatap wajah Lisa dengan mata yang berbinar-binar.
Lisa menarik nafas jengah sebab dirinya saja belum sehat dan masih sempat memikirkan anak lain yang di tahan bersamanya, "Nona itu tidak apa-apa, Nona, Nona tidak perlu mengkhawatirkannya besok dia akan di bawah kerumah ini, makan lah dulu Nona agar Nona ada tenaga,"
Shopia mengelengkan kepala karena merasa perutnya belum lapar, namun terus maksa Shopia dengan tiba-tiba seorang pria dengan langkah mantapnya mendekati Shopia dan Lisa. Sontak saja gadis itu ketakutan di buat Lucas.
Shopia panik melihat Lucas, "Jangan dekati Shopia, jangan bunuh Shopia," ujar Shopia menutupi wajahnya dan menghalau kedatangan Lucas.
'Kenapa lagi dengan anak ini,' pikir Lucas dalam hati sembari mengerutkan keningnya.
Lucas ingin mendekatkan tangan pada tubuh putrinya itu namun gadis itu malah menolak dan makin ketakutan. Lisa mencekal tangan Lucas dan mengatakan, "Tahan Tuan, mungkin Nona Shopia masih cemas. Anda tunggu sebentar lagi. Mungkin Nona masih sok,"