Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Kenapa Kita Merasakan Kesedihan?
^^^Senin, 20 Agustus^^^
Pagi itu Azril tiba lebih awal dari biasanya. Kelas masih sepi—hanya ada dua tiga siswa yang duduk di bangku masing-masing, sebagian dengan kepala tertunduk mengantuk, sebagian lagi sibuk dengan ponsel. Azril duduk di bangku pojok dekat jendela, tempat yang sama yang ia tempati sejak hari pertama pindah. Tapi ada yang berbeda sekarang. Dulu ia duduk di sini untuk bersembunyi. Sekarang ia duduk di sini karena... ini tempatnya.
Ia mengeluarkan sebuah novel dari tasnya. Sampulnya didominasi warna biru tua dengan ilustrasi empat remaja yang duduk di atas rerumputan, menatap langit pagi. Judulnya tertera dengan huruf emas: Catur Mithra.
Azril membuka halaman pertama. Novel itu bercerita tentang empat sahabat—dua laki-laki, dua perempuan—yang berasal dari latar belakang berbeda, disatukan oleh keadaan. Ada yang dari keluarga kaya tapi kesepian. Ada yang dari keluarga sederhana tapi penuh tuntutan. Ada yang menyembunyikan penyakit. Ada yang mencoba melupakan masa lalu.
Ia baru membaca beberapa halaman ketika suara langkah kaki yang dikenalnya mendekat.
"ZRIL!"
Azril tersentak. Sebelum ia bisa menoleh, sepasang lengan sudah merangkul lehernya dari samping, membuat tubuhnya tertarik ke kiri dan kepalanya nyaris membentur bahu Bima.
"Bim! Gue lagi baca—" Azril mendorong pelan lengan Bima, lalu berhenti. Matanya tertuju pada tangan kanan Bima yang terbungkus perban putih. Tidak rapi. Seperti dipasang terburu-buru.
"Bim, tangan lo kenapa?"
Bima menarik tangannya, menyembunyikannya di balik punggung dengan gerakan cepat—terlalu cepat. "Ah, ini? Kemaren gue gak sengaja mecahin piring. Terus pecahan kacanya kena tangan." Ia tertawa kecil. "Gue emang ceroboh ya."
Azril menatapnya. Ada sesuatu dalam cara Bima tertawa—terlalu riang, terlalu cepat, seperti ingin segera mengganti topik.
"Lo... mecahin piring?"
"Iya! Gue kan lagi ngebantu mama di dapur, terus tangan gue licin, piringnya jatuh. PRAAAK! Udah gitu aja." Bima duduk di bangku sebelah Azril, merentangkan kakinya dengan santai. "Eh, lo baca novel apaan tuh? Kok sampulnya menarik?"
Azril masih menatap tangan Bima yang diperban. Pecahan piring. Mungkin benar. Mungkin juga tidak. Tapi ia tidak bisa memaksa. Ia tahu bagaimana rasanya menyembunyikan sesuatu.
Ia memilih diam.
"Ini novel tentang persahabatan," jawabnya akhirnya, menunjukkan sampul novel Catur Mithra. "Ceritanya tentang empat remaja yang beda-beda latar belakangnya, tapi jadi sahabat."
"Wah, mirip kita dong!" Bima mengambil novel itu, membolak-balik halamannya dengan tangan kiri—tangan kanannya tetap di bawah meja. "Keren ya. Empat sahabat. Kayak kita. Gue, lo, Faris, Elang."
Azril tersenyum kecil. "Iya. Kayak kita."
Dari pintu kelas, Faris masuk dengan notebook di tangan. Ia melihat Bima dan Azril, lalu mendekat. Matanya langsung tertuju pada perban di tangan Bima. Ia berhenti, menulis sesuatu di notebook-nya, lalu menunjukkannya:
[Tangan kamu kenapa?]
"Kemaren mecahin piring," Bima menjawab cepat, sama riangnya seperti tadi. "Gapapa, cuma luka kecil."
Faris menatap Bima beberapa saat. Lalu menatap Azril. Azril hanya mengangkat bahu kecil—gue juga gak tau.
Faris tidak bertanya lagi. Tapi ia duduk di bangku depan mereka, dan sepanjang pelajaran pertama, matanya sesekali melirik ke tangan Bima yang diperban.
Elang datang lima menit sebelum bel masuk. Ia tidak berkata apa-apa saat melihat perban di tangan Bima. Hanya menatapnya sekilas, lalu duduk di bangkunya. Tapi Azril melihat bagaimana alisnya berkerut.
Tidak ada yang bertanya lagi. Tapi semuanya melihat.
...~•~•~•~...
Bel istirahat berbunyi. Azril merapikan bukunya, lalu berjalan ke depan kelas di mana Aini sudah menunggu di depan pintu dengan map OSIS di tangan.
"Udah siap?" Aini bertanya.
Azril mengangguk. "Ke ruang guru dulu, kan?"
"Iya. Bu Dina udah nunggu."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju ruang guru. Aini membawa map berisi formulir pendaftaran dan fotokopi identitas Azril. Langkahnya ringan, tapi ada sesuatu di wajahnya yang tidak bisa Azril abaikan—kantong mata yang sedikit gelap, seperti kurang tidur.
"Lo... gapapa, Ai?"
Aini menoleh, sedikit terkejut. "Gapapa. Cuma semalem susah tidur."
"Kenapa?"
Aini ragu sejenak. "Banyak pikiran."
Azril ingin bertanya lebih lanjut, tapi mereka sudah sampai di depan ruang guru. Aini mengetuk pintu, dan Bu Dina menyambut mereka dengan senyum hangat.
Pendaftaran berjalan lancar. Bu Dina memeriksa formulir, menandatangani beberapa berkas, lalu memberikan salinan untuk Azril.
"Kamu siap, Azril?" Bu Dina bertanya sambil menatapnya dari balik kacamata bundarnya.
Azril menarik napas. "Siap, Bu."
"Bagus. Latihan terus. Ibu percaya kamu bisa."
Mereka keluar dari ruang guru. Koridor mulai ramai oleh siswa yang berhamburan ke kantin atau ke taman. Azril dan Aini berjalan berdampingan, membicarakan hal-hal kecil—jadwal lomba, teknis pelaksanaan, siapa yang akan jadi pendamping dari sekolah.
"Lo mau gue temenin ke kantin?" Aini menawarkan.
"Boleh."
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika suara itu terdengar dari belakang.
"WUIHH ADA PASANGAN BARU NIH!"
Azril membeku. Suara itu. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
"Pajak jadiannya kapan dikasih ke kita?"
Marcel berdiri di belakang mereka, dikelilingi tiga anak buahnya. Senyum sinisnya terpasang sempurna, matanya berkilat menikmati kekikukan yang ia ciptakan. Anak buahnya terkekeh-kekeh di belakangnya.
Aini menoleh, wajahnya mengeras. "Marcel, kita cuma urus pendaftaran lomba. Gak ada urusannya sama lo."
"Oh, gitu?" Marcel melangkah mendekat. Senyumnya tidak memudar, tapi tatapannya berubah—lebih tajam, lebih dingin. Ia berhenti tepat di depan Aini. "Kalo gitu, lo bisa kan nyampein sesuatu ke kakak lo?"
Aini tidak menjawab. Tangannya mencengkeram map OSIS lebih erat.
"Kasih tau kakak lo," Marcel berkata pelan, hampir berbisik, tapi cukup keras untuk didengar Azril. "Besok adalah hari terakhir dia minta maaf. Kalau besok belum minta maaf juga..." Ia berhenti, senyumnya melebar. "Kelar hidup kalian."
Azril merasakan darahnya berdesir. Giginya bergemeletuk—bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang lain. Takut. Tapi juga sesuatu yang lebih dalam. Amarah. Amarah yang tidak bisa ia salurkan karena ia tahu... ia lemah. Apa yang bisa dilakukan orang lemah seperti dirinya?
Marcel mundur selangkah. Ia melirik Azril sekilas, lalu mulai berjalan melewatinya. Dan saat bahu mereka sejajar—
BRAK!
Marcel sengaja membenturkan bahunya keras ke bahu Azril. Tubuh Azril terhempas ke dinding koridor. Punggungnya membentur tembok dengan suara keras. Rasa sakit menjalar dari tulang belikat ke seluruh tubuhnya. Napasnya tercekat.
Marcel terus berjalan, diikuti anak buahnya. Tawanya terdengar samar, semakin jauh, sampai akhirnya menghilang di tikungan koridor.
Aini cepat mendekati Azril. "Zril! Lo gapapa?"
Azril ingin menjawab gapapa. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Ia menatap punggung Marcel yang sudah menghilang. Tangannya mengepal di samping tubuh. Lemah. Gue lemah. Gue gak bisa apa-apa.
"Zril?" Aini memegang lengannya pelan.
Azril menggeleng. "Gue... gue gapapa." Suaranya bergetar.
Ia mendorong tubuhnya dari dinding. Punggungnya sakit. Tapi yang lebih sakit adalah perasaan tidak berdaya yang mencengkeram dadanya.
...~•~•~•~...
Mereka melanjutkan perjalanan ke kantin dalam diam. Aini sesekali melirik Azril, tapi tidak bertanya lagi. Ia tahu Azril butuh waktu.
Di kantin, Bima, Faris, dan Elang sudah duduk di bangku pojok yang sama. Bima melambai dengan tangan kirinya—tangan kanannya masih tersembunyi di bawah meja. Faris membuka bekalnya. Elang menatap Aini dan Azril yang mendekat dengan wajah datar, tapi matanya menyelidik.
"Tumben barengan," Bima berkomentar, mencoba menggoda. Tapi senyumnya memudar saat melihat wajah Azril yang pucat dan Aini yang tegang. "Eh, kenapa? Kalian berdua kenapa?"
Aini duduk di samping Faris. Azril duduk di samping Bima, tapi ia tidak menyentuh makanan. Matanya menatap kosong ke meja.
"Kita ketemu Marcel di koridor," Aini menjelaskan pelan. "Dia... ngancam lagi."
Elang menegang. Tangannya yang tadinya bersandar di meja sekarang mengepal. "Ancaman apa?"
Aini ragu. Ia menatap kakaknya, lalu berkata pelan, "Dia bilang... besok adalah hari terakhir Kakak minta maaf. Kalau besok belum minta maaf juga... kelar hidup kita."
Suasana di bangku itu tiba-tiba menjadi berat. Bima menghentikan kunyahannya. Faris meletakkan sendoknya. Elang... Elang tidak bergerak. Tapi matanya—matanya berkata lebih banyak dari kata-kata.
"Azril dibenturkan ke tembok," Aini menambahkan, suaranya lebih pelan lagi. "Sengaja."
Bima menoleh cepat ke Azril. "Zril, lo gapapa?!"
Azril tidak menjawab. Ia masih menatap meja. Tangannya yang tadinya mengepal sekarang terbuka, tergeletak lemas di atas meja.
"Gue..." Suaranya keluar serak. "Gue gak bisa apa-apa. Gue cuma diem. Gue liat dia ngancam Aini. Gue liat dia bentur gue ke tembok. Dan gue... gue cuma diem."
"Zril—"
"Gue lemah." Azril akhirnya mendongak. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan air matanya sekuat tenaga. "Gue selalu jadi orang yang cuma bisa diem. Dari dulu. Pas di sekolah lama, pas di sini. Gue gak pernah bisa ngelawan. Gue cuma bisa... diem."
Faris membuka notebook-nya. Tangannya bergerak cepat, menulis sesuatu, lalu mendorongnya ke tengah meja:
[Kamu gak lemah, Zril. Diam bukan berarti lemah.]
Azril membaca tulisan itu. Lalu menggeleng. "Tapi gue beneran lemah, Ris. Gue bahkan... gue bahkan..."
Ia berhenti. Kata-kata itu ada di ujung lidahnya. Gue bahkan punya asma. Gue bahkan gak bisa napas dengan bener tanpa alat. Gue bahkan bisa mati kapan aja kalo kambuh.
Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Tidak sekarang. Tidak di sini.
Bima meletakkan tangannya yang diperban di atas meja—untuk pertama kalinya sejak tadi. "Zril, lo kira gue gak pernah ngerasa lemah?" Suaranya tidak lagi riang. "Lo kira gue selalu sekuat yang lo liat?"
Azril menatap Bima. Begitu juga Faris. Begitu juga Elang.
"Gue..." Bima menatap tangannya sendiri—tangan yang diperban, tangan yang kemarin berdarah di lantai rumahnya. "Gue juga sering ngerasa gak berdaya. Di rumah gue sendiri. Tapi gue... gue belajar satu hal."
"Apa?" Azril bertanya pelan.
"Kita gak harus kuat sendirian." Bima menatap Azril, lalu Faris, lalu Elang. "Kita punya satu sama lain. Gue mungkin gak bisa ngelawan Marcel sendirian. Lo juga gak bisa. Tapi kita berempat? Kita bisa."
Elang yang dari tadi diam akhirnya bersuara. Suaranya rendah, tapi tegas. "Besok gue yang hadepin Marcel."
"Kak—" Aini memotong.
"Ini urusan gue, Ai." Elang menatap adiknya. "Gue yang keluar dari geng itu. Gue yang harus nyelesein ini semua."
"Tapi Kakak gak harus sendirian," Aini membalas. "Kakak denger sendiri kata Bima. Kita punya satu sama lain."
Elang terdiam. Matanya bergerak dari Aini, ke Bima, ke Faris, ke Azril.
Faris menulis lagi di notebook-nya:
[Kita temenin Elang besok. Bareng-bareng.]
Bima membaca, lalu mengangguk. "Setuju. Kita temenin. Marcel mau apa, kita hadepin bareng."
Azril menatap teman-temannya. Kita hadepin bareng. Kata-kata itu terngiang di kepalanya. Selama ini, ia selalu menghadapi semuanya sendirian. Asmanya. Ketakutannya. Rasa tidak berharganya. Tapi sekarang... sekarang ada orang-orang yang bilang kita.
Ia tidak tahu apakah besok mereka akan baik-baik saja. Ia tidak tahu apakah Marcel akan berhenti setelah besok. Tapi untuk pertama kalinya hari ini, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
"Oke," katanya pelan. "Kita hadepin bareng."
...~•~•~•~...
Bel masuk berbunyi. Mereka berlima—Azril, Bima, Faris, Elang, dan Aini—berjalan kembali ke kelas. Langkah mereka tidak lebih ringan. Beban di pundak mereka tidak menghilang. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Mereka tidak sendirian.
Di depan pintu kelas XII IPS 2, Aini berpisah dengan mereka. Sebelum pergi, ia memegang lengan Elang.
"Kak, besok... hati-hati."
Elang mengangguk. "Lo juga."
Aini berjalan pergi. Elang menatap punggung adiknya sampai menghilang di tikungan.
Di dalam kelas, Azril duduk di bangkunya. Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang tadi mengepal, tapi tidak bisa memukul. Tangan yang selalu ia anggap lemah.
Tapi Bima bilang kita gak harus kuat sendirian.
Ia mengeluarkan novel Catur Mithra dari tasnya. Sampulnya menatapnya balik—empat remaja di atas rerumputan, menatap langit senja.
Empat sahabat.
Kayak kita, kata Bima tadi pagi.
Azril membuka halaman terakhir yang ia baca. Tapi pikirannya tidak pada novel itu. Pikirannya pada besok. Pada Marcel. Pada Elang yang akan berhadapan dengan masa lalunya. Pada Bima yang menyembunyikan sesuatu di balik perbannya. Pada Faris yang selalu tahu apa yang harus ditulis. Pada Aini yang matanya sembab karena kurang tidur.
Dan pada dirinya sendiri. Yang masih belum tahu harus menulis apa untuk I want to... miliknya.
Di luar jendela, langit siang itu cerah. Tapi di dalam hati mereka, awan gelap mulai bergulung.
Besok adalah hari Selasa.
TBC