Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Suasana di Universitas Stanford pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti deretan bangunan bata merah yang ikonik, menciptakan atmosfer yang suram dan menekan.
Bagi Lexington Valerio, kembali ke kampus bukan sekadar rutinitas, melainkan pelarian sementara dari kegilaan emosional yang ia alami bersama Briella dalam satu bulan terakhir.
Namun, ia tidak menyangka bahwa di balik gerbang akademi yang kaku ini, sebuah variabel baru telah disiapkan untuk mengacaukan persamaannya.
Lexington melangkah tegap menyusuri koridor fakultas teknik mesin. Jas abu-abu gelapnya berkibar tipis, sementara tas kulitnya dijinjing dengan santai namun kokoh. Ia berhenti di depan ruang kerjanya, melihat seorang wanita berdiri di depan meja yang biasanya ditempati oleh asisten kepercayaannya.
Langkah kaki Lexington terhenti. Matanya menyipit di balik kacamata.
"Di mana Jack? Apa asistenku hari ini masih dia?" tanya Lexington dingin, bahkan sebelum ia meletakkan tasnya di atas meja.
Pria itu tidak suka perubahan mendadak. Lebih tepatnya, ia benci interupsi pada sistem yang sudah berjalan sempurna. Terutama jika interupsi itu berbentuk seorang wanita yang berdiri di wilayah pribadinya.
Wanita itu berbalik. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan rok pensil yang menunjukkan lekuk tubuh yang proporsional. Rambutnya pirang abu-abu, tertata sangat rapi, dan wajahnya memiliki kecantikan klasik yang elegan.
"Maaf, Prof. Saya menggantikan Jack untuk tiga minggu ke depan. Jack sedang mengambil cuti darurat karena urusan keluarga," ucap gadis itu dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Nama saya Catalonia Vera West. Ayah saya, Dekan West, sudah memberikan memo resmi ke meja Anda pagi ini."
Lexington hanya melirik sekilas ke arah memo yang dimaksud tanpa menyentuhnya. Ia kemudian masuk ke ruangannya, membiarkan Late mengikuti di belakang.
Bagi orang lain, Late Vera adalah dambaan; putri dari orang paling berpengaruh di universitas ini, lulusan terbaik, dan memiliki aura yang mahal. Namun bagi Lexington, keberadaannya adalah gangguan fungsional.
Bukan karena ia takut Briella akan cemburu—meski itu adalah variabel yang masuk akal—namun Lexington secara naluriah memang tidak suka berdekatan dengan wanita dalam ranah profesional. Baginya, wanita sering kali membawa lapisan emosional yang tidak diperlukan dalam diskusi teknis yang kaku.
"Aku tidak butuh perlakuan khusus karena kau anak Dekan," ucap Lexington sambil membuka laptopnya, matanya tetap tertuju pada layar. "Jack tahu persis bagaimana aku bekerja. Aku tidak suka berbicara dua kali."
Late Vera tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh percaya diri. "Saya tidak mengharapkan perlakuan khusus, Profesor. Saya di sini karena saya adalah lulusan terbaik di angkatan saya. Saya paham mekanika sama baiknya dengan asisten Anda yang lama."
Hari pertama Late Vera menjadi asisten adalah sebuah pertunjukan "bakat" yang melelahkan bagi Lexington. Sepanjang kuliah berlangsung, Late tidak hanya diam di belakang. Ia seakan ingin menonjolkan kecerdasannya di depan Lexington.
Saat ada mahasiswa yang bertanya tentang kerumitan koefisien, Late langsung menjawab dengan penjelasan yang panjang dan teknis, seolah ingin menunjukkan bahwa ia memiliki level kecerdasan yang sepadan dengan sang Profesor.
Lexington hanya diam, mengamati dari balik podium dengan wajah datar. Ia bisa melihat apa yang sedang dilakukan gadis ini. Late sedang mencoba mencari validasi.
Setelah kelas usai, suasana di ruang kerja Lexington menjadi berat. Late sedang menyusun dokumen riset yang akan dipresentasikan besok di depan dewan investor universitas.
"Profesor, saya sudah merombak sedikit bagian struktur biaya di proposal Anda. Saya rasa dengan menggunakan material komposit terbaru dari Jerman, kita bisa memangkas biaya hingga lima belas persen tanpa mengurangi integritas struktur," ucap Late sambil menyodorkan tabletnya ke arah Lexington. Ia berdiri cukup dekat, aroma parfumnya yang manis dan tajam mulai mengisi ruang udara Lexington.
Lexington menghentikan jemarinya di atas keyboard. Ia menoleh perlahan, menatap Late dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Siapa yang memberimu izin untuk merombak struktur biaya itu?" tanya Lexington, suaranya sangat rendah dan berbahaya.
Late sedikit terkejut, namun ia tetap mempertahankan posisinya. "Saya hanya memberikan saran berdasarkan data terbaru—"
"Data terbaru?" Lexington berdiri, membuat Late terpaksa mundur satu langkah karena dominasi fisik pria itu. "Late Vera, dengar baik-baik. Aku mempekerjakan asisten untuk membantuku mengelola jadwal dan data, bukan untuk menjadi rekan desainerku. Jika aku ingin material komposit dari Jerman, aku akan memasukkannya sejak awal."
Lexington mengambil tablet itu dan meletakkannya kembali ke meja dengan dentuman kecil. "Siapkan semua berkas untuk rapat besok. Aku tidak ingin ada kekurangan sekecil apa pun. Pastikan besok kau jangan membuat kesalahan, terutama kesalahan yang didasari oleh sikap sok pintarmu itu."
Late terdiam. Wajah cantiknya sedikit memucat karena teguran keras itu. Namun, di matanya, tidak ada rasa takut. Justru ada kilatan ketertarikan yang semakin dalam.
Bagi wanita seperti Late yang selalu dipuji, ketidaktertarikan Lexington adalah tantangan yang belum pernah ia hadapi.
"Saya mengerti, Profesor," jawab Late pelan.
"Keluar. Aku ingin sendiri," perintah Lexington tanpa melihat lagi.
Begitu Late keluar dari ruangan, Lexington bersandar di kursi kerjanya. Ia memijat pelipisnya. Pikirannya tiba-tiba melayang pada Briella.
Istrinya yang ceroboh itu mungkin sedang berada di klinik, menumpahkan kopi atau menjatuhkan stetoskopnya. Anehnya, bayangan kecerobohan Briella jauh lebih menenangkan bagi Lexington daripada kecerdasan Late Vera yang penuh perhitungan.
Lexington meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Briella.
“Aku benci hari ini. Aku butuh kau di rumah jam enam sore tepat. Jangan terlambat, atau aku akan menjemputmu dengan cara yang memalukan.”
Ia tahu, memiliki asisten seperti Late Vera selama tiga minggu akan menjadi ujian kesabaran yang luar biasa.
Bukan hanya bagi kariernya, tapi juga bagi ketenangan rumah tangganya yang baru saja mulai stabil. Sisi red flag Lexington mulai muncul; ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan cara Late menatapnya, dan ia tidak akan membiarkan variabel kecil itu merusak mesin kehidupan yang sudah susah payah ia bangun kembali bersama Briella.
"Besok," gumam Lexington sambil menatap dokumen di mejanya. "Jika dia membuat satu kesalahan saja, aku tidak peduli dia anak siapa. Dia keluar."
Malam itu, di bawah lampu kota yang mulai menyala, Lexington pulang dengan perasaan waswas. Ia tidak tahu bahwa Late Vera di ruangannya sendiri sedang menatap foto profil Lexington, merencanakan bagaimana caranya agar sang Profesor tidak hanya meliriknya, tapi juga membutuhkannya.
Sebuah rencana yang akan membawa Briella Zamora kembali ke dalam medan perang yang lebih berat daripada sekadar kata "ceroboh".
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya