Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Yang Sedikit
...Tuhan tidak menciptakan kemenangan begitu saja....
...Ia pasti memberikan ujian sesuai dengan batas kemampuan....
Bus merayap perlahan, memasuki kawasan Alas Roban. Jalur legendaris di pesisir utara Jawa Tengah itu terkenal sebagai rimbunnya hutan jati yang menyimpan sejuta kisah tak kasat mata.
Di dalam bus malam yang melaju membelah kegelapan, Jalal bersandar pada kaca jendela yang bergetar. Suara dengung roda di atas aspal dan deru napas penumpang lain menjadi latar dari tidurnya yang tidak sepenuhnya lelap.
Di dalam dimensi batinnya, ia berdzikir, angannya berkelana kepada potongan-potongan mozaik yang terjadi di kehidupannya.
DUB!
Sebuah ledakan keras dari bagian bawah bus seketika menghancurkan keheningan malam. Bus bergoyang hebat. Ban kanan bagian belakang pecah total, membuat kendaraan besar itu limbung ke arah kiri, menyeret pelek besi di atas aspal dengan suara decitan yang memekakkan telinga serta percikan api yang menyala-nyala.
"Astagfirullah! Pegangan!" teriak sopir bus, tangannya berjuang keras mengendalikan setir yang mendadak menjadi sangat berat.
Sebelum bus benar-benar bisa menepi di bahu jalan yang gelap, dari arah belakang terdengar suara hantaman yang luar biasa keras.
BRAKK!
Sebuah mobil mewah yang melaju dengan kecepatan tinggi tidak sempat mengerem dan menghantam bagian pantat bus. Benturan beruntun tidak terhindarkan ketika dua mobil lain di belakangnya ikut menabrak satu sama lain. Guncangan akibat tabrakan itu begitu kuat hingga membuat badan bus terangkat beberapa derajat, hampir saja terguling ke dalam parit Alas Roban jika sang sopir tidak berhasil menginjak rem sedalam-dalamnya.
Suara tangisan anak kecil dan jeritan histeris penumpang langsung memenuhi kabin bus yang pengap. Jalal dengan cekatan mencengkeram tongkat kayunya, tubuhnya tetap kokoh di atas kursi, tidak bergeser sedikit pun berkat refleks yang telah terlatih di puncak Semeru.
"Semua harap tenang! Jangan panik, turun perlahan!" seru kondektur sambil membuka pintu darurat.
Di luar, kabut tipis Alas Roban mulai bercampur dengan asap yang mengepul dari kap mesin mobil-mobil yang ringsek. Lampu hazard kuning berkedip-kedip, menerangi siluet beberapa orang bertubuh tegap yang turun dari mobil mewah di belakang bus. Wajah-wajah mereka beringas, seolah kecelakaan ini sama sekali tidak mengguncang mental mereka.
"Heh! Keluar lu, Sopir bajingan!" teriak salah satu pria berjaket kulit hitam sambil menggedor bodi bus dengan kasar.
Sopir bus turun dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat pasi melihat deretan mobil mewah yang kini bagian depannya hancur. "Maaf, Pak... maaf, ban kami pecah mendadak. Saya tidak sengaja."
"Nggak sengaja matamu! Lu lihat ini? Ini mobil miliaran! Lu harus ganti rugi sekarang juga!" bentak pria itu, mencengkeram kerah baju sang sopir hingga kakinya nyaris terangkat dari tanah.
"S-saya akan hubungi bos saya, Pak. Perusahaan pasti akan mengurus asuransinya..."
"Nggak ada asuransi-asuransian! Lu ganti seratus juta tunai malam ini, atau lu mati di hutan ini!" ancam pria lain yang turun dari mobil kedua, wajahnya dingin tanpa empati.
Dari dalam bus, Jalal melangkah turun dengan tenang. Tongkatnya mengetuk tangga bus satu per satu. Indra pendengarannya yang tajam langsung menangkap kejanggalan. Detak jantung orang-orang yang marah itu terlalu teratur untuk ukuran korban kecelakaan. Tidak ada kepanikan, tidak ada trauma. Yang ada hanyalah niat membunuh yang disembunyikan di balik kedok amarah.
"Ini bukan kecelakaan biasa. Mereka sengaja menabrakkan diri untuk menghentikan bus ini," batin Jalal.
Saat salah satu pria itu mengangkat tinjunya, siap menghantam wajah sang sopir yang sudah pasrah, sebuah tongkat kayu meluncur cepat dari kegelapan, menepis pergelangan tangan pria itu dengan akurasi yang mengerikan.
TAK!
Pria itu mengaduh, menarik tangannya yang seketika mati rasa. Ia menoleh dengan geram, menemukan seorang pemuda tinggi tegap berkacamata hitam sedang berdiri di antara mereka.
"Mas, kalau ada masalah, diselesaikan dengan kepala dingin. Sopir ini sudah berniat baik untuk bertanggung jawab," ucap Jalal pelan namun berwibawa.
"Heh, orang buta! Jangan ikut campur urusan orang normal kalau masih sayang nyawa!" bentak pria berjaket kulit. Ia memberi kode kepada dua temannya.
Tanpa banyak bicara, ketiga pria itu langsung merangsek maju. Gerakan mereka taktis dan cepat, mengonfirmasi dugaan Jalal bahwa mereka adalah petarung jalanan yang terlatih—komplotan Legiun Mata Malaikat milik Satya. Sebuah pukulan lurus mengarah tepat ke pelipis Jalal, disusul oleh tendangan rendah yang mengincar lututnya.
Jalal tidak bergeming. Indera pendengarannya menjabarkan arah angin dan lintasan serangan musuh sebelum pukulan itu sampai. Ia menggeser kaki kirinya beberapa senti ke belakang, membuat pukulan pertama hanya menerpa angin kosong. Dengan gerakan memutar yang halus, ia mengayunkan tongkatnya dari bawah, menghantam tulang kering pria yang menendangnya.
"Agh!" Pria itu langsung tumbang, memegangi kakinya yang terasa seperti remuk oleh hantaman beton.
"Kurang ajar! Habisi dia!"
Keributan besar pecah di jalur hitam Alas Roban, perjalanan Jalal terpaksa tertunda. Waktu terus maju tanpa menoleh tanpa memperdulikan Jalal.
Sementara itu, ratusan kilometer di arah timur, deru mesin beberapa mobil memecah kesunyian Desa Kragan, Tuban. Sepuluh orang pria berbadan kekar turun dari kendaraan, dipimpin oleh seorang pria dengan bekas luka melintang di pipinya. Reno. Tatapannya dingin menyapu perumahan nelayan yang mulai sepi karena waktu ashar baru saja lewat.
"Cari sesepuh desa ini. Kita butuh informasi cepat," perintah Reno pendek.
Mereka melangkah menuju sebuah rumah joglo tua yang berada di dekat balai desa. Di teras rumah itu, duduk seorang lelaki tua berpakaian adat Jawa, sedang menikmati teh hangatnya. Mbah Rosadi, salah satu tokoh masyarakat yang paling dihormati di Kragan.
Reno tidak menggunakan basa-basi. Ia melangkah naik ke teras, membuat Mbah Rosadi mendongak dengan kening berkerut.
"Ada keperluan apa, Anak-anak Muda? Datang dengan rombongan besar seperti mau hajatan," tanya Mbah Kartolo tenang, walau matanya waspada melihat postur tubuh tamu-tamunya.
Reno menumpukan kedua tangannya di pagar teras. "Kami tidak punya banyak waktu, Mbah. Kami mencari seorang anak berusia sepuluh tahun yang lahir tepat saat banjir bandang besar melanda desa ini sepuluh tahun lalu. Di mana rumahnya?"
Mbah Rosadi tertegun. Ingatannya langsung melayang pada peristiwa kelam tahun 2019, saat air bah mengamuk bertepatan dengan lahirnya Kirana, anak Darsih yang memiliki tanda merah misterius di punggungnya. Namun, melihat gelagat Reno yang kasar, firasat tuanya mengatakan ada bahaya besar yang sedang mengancam.
"Untuk apa kalian mencari anak itu? Di desa ini banyak anak yang lahir tahun itu. Banjir waktu itu melanda seluruh kecamatan," jawab Mbah Rosadi, mencoba berbohong.
Reno mendengus sinis. Ia tahu orang tua di hadapannya sedang mencoba melindungi sesuatu. Tanpa berkata-kata lagi, Reno merogoh saku jaketnya, mengeluarkan seikat uang pecahan seratus ribu rupiah, lalu melemparnya ke atas meja hingga mengenai cangkir teh Mbah Rosadi. Satu juta rupiah tunai.
"Saya tidak butuh ceramah atau teka-teki, Mbah. Ini uang satu juta. Cukup untuk beli teh dan kangkung setahun. Sekarang, katakan di mana rumah anak itu," ucap Reno dengan nada meremehkan.
Mbah Rosadi menatap lembaran uang merah di atas meja. Tangannya yang keriput sedikit bergetar. Sifat serakah yang selama ini ia sembunyikan di balik jubah ketokohannya runtuh seketika oleh kilau materi. Ia mengambil uang itu, menghitungnya cepat, lalu memasukkannya ke dalam saku baju.
Harga diri lu cuma sejuta, bisik Reno dalam hati, bibirnya melengkung membentuk seringai jijik.
"Jalan lurus ke arah pantai, setelah pohon beringin besar, ada rumah panggung kecil yang dinding bambunya sudah lapuk. Itu rumah Darsih, ibunya anak itu. Namanya Kirana," ujar Mbah Rosadi lancar tanpa beban moral lagi.
"Bagus. Ayo bergerak," perintah Reno pada pasukannya.
Mereka berbalik dan melangkah menyusuri jalan setapak tanah berbatu menuju arah pantai. Beberapa menit berjalan, dari arah berlawanan, tampak seorang anak perempuan kecil berjalan kaki sendirian. Ia mengenakan seragam sekolah dasar yang sudah agak kusam, menggendong tas ransel rajutan yang tampak berat, dan tangannya memegang sebatang ranting jati kering yang ia gunakan untuk memukul-mukul semak-semak di pinggir jalan sambil bersenandung kecil.
Itu Kirana.
Reno dan sepuluh anak buahnya berjalan melewatinya begitu saja. Mereka menatap anak itu sekilas, namun karena Kirana tampak seperti anak pedesaan biasa yang riang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kekuatan apa pun, Reno tidak menaruh curiga sedikit pun bahwa anak yang dicarinya baru saja berpapasan dengannya.
Kirana menghentikan senandungnya saat rombongan pria berjaket hitam itu lewat. Bulu kuduknya mendadak berdiri. Bau anyir besi tua dan hawa busuk nafsu yang dibawa oleh Reno dan pasukannya membuat dadanya terasa sesak.
Ia membalikkan badannya, menatap punggung rombongan pria itu yang berjalan semakin dekat menuju arah rumahnya. Senyum di wajah cantiknya perlahan memudar, digantikan oleh kecemasan yang mendalam.
"Ibu..." bisik Kirana, lalu mulai berlari kecil, memotong jalan lewat kebun jati untuk mendahului mereka.