NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUING-PUING PENYESALAN.

Kemarahan Fardan Raffasyah sudah melampaui batas kewarasan. Matanya yang memerah menatap Sherly dengan kebencian yang begitu pekat. Wanita yang dulu ia anggap sebagai teman masa kecil yang manis, kini tak lebih dari parasit yang menghancurkan hidupnya.

"Dewa, bawa wanita ini keluar. Berikan dia pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya," perintah Fardan, suaranya rendah namun bergetar karena emosi yang tertahan.

Sherly langsung luruh ke lantai. Ia merangkak, mencoba meraih kaki Fardan dengan tangan gemetar. "Fardan, aku mohon! Aku melakukan ini karena ibumu yang memintanya! Aku hanya ingin menyenangkannya agar aku bisa bersamamu!"

Fardan tidak sudi disentuh. Ia mengibaskan kakinya dengan kasar hingga Sherly tersungkur. "Jangan sebut nama ibuku dengan mulut kotor itu. Dewa, hancurkan bisnis keluarganya sampai ke akar. Pastikan mereka tidak punya tempat lagi untuk berpijak di dunia bisnis."

"Fardan, kita teman masa kecil! Kau tega melakukan ini padaku?" teriak Sherly histeris saat anak buah Dewa mulai menyeretnya paksa. "Ini keinginan ibumu sendiri! Dia yang merancang semuanya!"

Suara teriakan Sherly berangsur menghilang seiring tertutupnya pintu besar mansion. Namun, suasana di dalam ruangan justru semakin mencekam. Fardan kini beralih menatap Maya, kakak kandungnya yang masih bersimpuh di lantai bersama suaminya, Dody.

"Fardan, tolong jangan usir kami," isak Maya sambil memegang tangan Fardan. "Kita ini saudara kandung. Jangan karena orang luar hidup kita jadi hancur begini."

Rahang Fardan mengeras. "Orang luar? Kau menyebut Alisha, istriku yang sah dan ibu dari anakku, sebagai orang luar?"

Fardan tertawa sinis, matanya melirik Dody yang sejak tadi hanya menunduk ketakutan. "Kalau Alisha kau sebut orang luar, berarti suamimu juga orang luar yang harus didepak dari sini. Dewa, hajar pria ini di depan istrinya."

Tanpa menunggu perintah kedua, anak buah Dewa langsung merangsek maju. Pukulan dan tendangan mendarat telak di tubuh Dody. Suara rintihan kesakitan memenuhi ruangan, membuat Maya berteriak histeris.

"Hentikan! Fardan, kau sudah gila! Dia kakak iparmu!" teriak Maya sambil menghambur memeluk tubuh Dody yang sudah babak belur untuk melindunginya.

Fardan mengangkat tangannya, memberi kode agar anak buahnya berhenti. Ia berjalan mendekat, berjongkok di depan Maya yang sedang menangis tersedu-sedu.

"Bagaimana rasanya, Maya? Bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai disiksa di depan matamu sendiri?" tanya Fardan dengan nada dingin yang menusuk tulang.

"Sakit... ini sangat sakit, Fardan," jawab Maya di sela tangisnya.

"Seperti itu jugalah perasaanku saat melihat rekaman CCTV kalian menyiksa Alisha! Kalian memperlakukannya seperti budak di rumahku sendiri!" bentak Fardan.

Maya menggeleng kuat. "Maafkan aku, Fardan. Beri aku kesempatan untuk minta maaf pada Alisha. Aku berjanji akan berubah!"

"Terlambat. Sekarang angkat kaki dari sini, atau anak buahku akan membawa kalian ke tempat terpencil yang sama dengan Sherly tadi," ancam Fardan.

Maya tahu adiknya tidak sedang menggertak. Ia segera memapah suaminya yang lemas untuk pergi. Namun, langkah mereka terhenti saat Ratna tiba-tiba memegangi dadanya dengan wajah meringis kesakitan.

"Aduh... jantungku... Fardan, kau ingin membunuh ibumu sendiri?" erang Ratna sebelum perlahan jatuh pingsan di atas sofa.

Fardan hanya menatap ibunya dengan pandangan datar. Tidak ada lagi rasa panik yang dulu selalu ia rasakan setiap kali ibunya kumat. "Hentikan sandiwaramu, Ratna. Aku tahu kau tidak memiliki riwayat sakit jantung."

Dewa dengan sigap memberikan selembar kertas putih kepada Fardan. Fardan mengambilnya dan melemparkannya tepat ke wajah Ratna yang sedang memejamkan mata.

"Itu hasil pemeriksaan riwayat kesehatanmu dari rumah sakit pusat. Kau sehat walafiat," ucap Fardan tajam.

Ratna seketika membuka matanya. Ia melihat kertas itu dan menyadari bahwa sandiwaranya sudah terbongkar total. "Fardan... meskipun begitu, aku tetap ibumu. Aku yang melahirkan dan membesarkanmu!"

Fardan mengambil buku cek dari saku jasnya, menuliskan nominal angka yang sangat besar di sana, lalu merobeknya dengan kasar. Ia meletakkan cek itu di atas meja.

"Ini bayaran untuk semua air susu yang kau berikan padaku. Ambil ini, dan setelah hari ini, kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kau bukan ibuku, dan aku bukan anakmu," tegas Fardan.

Ratna ternganga, air mata penyesalan yang terlambat mulai mengalir. Namun Fardan sudah tidak peduli. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyeret mereka semua keluar dari kediamannya.

Setelah mansion itu sunyi, Fardan terduduk di sofa panjang. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hatinya hancur berkeping-keping. Selama ini ia memuja ibunya, namun ternyata ia memuja seorang monster yang telah mengusir kebahagiaannya sendiri. Setelah beberapa saat mengumpulkan kekuatan, ia berdiri dan menatap Dewa.

"Siapkan mobil. Aku harus bertemu Alisha dan Ghifari sekarang juga," perintah Fardan.

Mobil Rolls-Royce hitam itu melaju kencang menembus jalanan malam menuju apartemen Alisha. Fardan sudah menyiapkan kata-kata permohonan maaf yang paling tulus di kepalanya. Ia ingin bersujud di depan istri dan anaknya.

Sesampainya di sana, Fardan menekan bel apartemen berkali-kali dengan tidak sabar. Pintu akhirnya terbuka, namun yang muncul bukanlah wajah cantik Alisha, melainkan Sarah yang sedang melipat tangan di dada.

"Dimana istri dan anakku, Sarah?" tanya Fardan tanpa basa-basi.

Sarah mengerutkan dahi, menatap Fardan dengan pandangan merendahkan. "Istrimu? Kapan kau menikahi temanku, Pak Fardan yang terhormat? Bukankah keluargamu yang terhormat itu telah memaksanya untuk tanda tangan surat cerai, enam tahun lalu?"

Fardan menarik napas panjang, mencoba meredam egonya. "Maksudku Alisha. Mantan istri yang sebentar lagi akan menjadi istriku lagi. Aku harus bicara dengannya."

Sarah tertawa sinis, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Sepertinya Bapak yang terhormat sudah terlambat. Sangat terlambat."

"Apa maksudmu?" jantung Fardan mulai berdegup tidak karuan.

"Mereka sudah pergi. Alisha dan Ghifari sudah meninggalkan Jakarta satu jam yang lalu," ucap Sarah dengan puas melihat wajah Fardan yang seketika pucat pasi.

Fardan mencengkeram kusen pintu. "Pergi ke mana? Beritahu aku, Sarah! Aku akan menjemput mereka!"

"Ke tempat di mana kau tidak akan pernah bisa menemukan mereka lagi," sahut Sarah dingin. "Ghifari sudah menghapus semua jejak penerbangan dan manifes penumpang mereka secara digital. Kau mungkin raja di bisnis ini, tapi di dunia Ghifari, kau hanyalah butiran debu."

Fardan terhuyung ke belakang. "Tidak... Ghifari tidak mungkin setega itu padaku."

"Dia anakmu, Fardan. Dia memiliki sifat keras kepalamu, tapi dia memiliki hati Alisha yang sudah kau hancurkan," tambah Sarah sebelum menutup pintu apartemen dengan keras tepat di depan wajah Fardan.

Fardan berdiri mematung di lorong apartemen yang sunyi. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh. Ia baru saja membersihkan duri di dalam keluarganya, namun mawar yang ingin ia petik kini sudah hilang terbawa angin.

"Dewa! Lacak semua rute keluar Jakarta! Bandara, pelabuhan, stasiun! Aku tidak peduli berapa biayanya, temukan mereka!" teriak Fardan kalap.

Dewa yang berdiri di belakangnya hanya bisa menunduk. "Tuan, saya sudah mencoba melakukannya sejak kita di mobil tadi. Tapi sistem pelacakan kita selalu mental. Ghifari memasang dinding api yang tidak bisa ditembus. Dia benar-benar telah melenyapkan keberadaan mereka dari radar manapun."

Fardan menyandarkan kepalanya ke dinding dingin koridor. Ia menangis tanpa suara. Penyesalan itu datang seperti ombak yang menenggelamkannya ke dasar samudera paling dalam.

"Kemana kau pergi, Alisha? Maafkan aku, Nak... Ayah sangat bodoh," bisiknya lirih.

Di saat yang sama, di dalam sebuah jet pribadi yang terbang tinggi di atas awan, Ghifari sedang duduk tenang sambil memangku tabletnya. Ia melihat titik merah kecil di layarnya yang melambangkan posisi Fardan yang masih berada di depan pintu apartemen.

"Bunda, dia sedang menangis di depan pintu apartemen Tante Sarah," ucap Ghifari tanpa ekspresi.

Alisha yang duduk di sampingnya hanya menatap ke luar jendela pesawat, menembus kegelapan malam. "Biarkan saja, Ghifari. Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan kata maaf dalam satu malam."

"Apakah kita akan kembali, Bunda?" tanya bocah kecil itu.

Alisha mengelus rambut putra geniusnya dengan penuh kasih. "Suatu saat nanti, saat hatimu dan hati Bunda sudah benar-benar pulih. Tapi untuk sekarang, biarkan dia merasakan apa yang kita rasakan selama enam tahun ini."

Pesawat terus melaju menjauh, membawa rahasia besar tentang ke mana sang pewaris dan ibunya pergi. Fardan Raffasyah kini harus memulai perjalanan panjang bukan untuk membangun bisnis, melainkan untuk membangun kembali kepercayaan yang telah ia hancurkan sendiri.

1
Amy
coba ganti panggilannya kaka othor, masa suami istri tdak ada romantis2nya
Lali Omah: iy betul ganti donk thorrr sedikit romantis gt biar seneng bacanya
total 1 replies
Lia siti marlia
wel wel wel di tunggu pa alex🤣
Linda Muslimah: Seru lanjut kak 🤭
total 1 replies
Tata Hayuningtyas
jgn kelamaan up nya thor 🤭
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan ga bertele2
Amy
Cobalah terbuka alisha, karna seapik apapun kau menyembunyikan masalah, ada anakmu yg super, bisa membaca setiap masalah🤭
Lia siti marlia
untung ada gifari apapun yang di sembunyikan ibunya pasti akan ketahuan olehnya 😄👍
Lia siti marlia
sayng banget yah ayah hrnry sama alisha dan gifari saking sayang nya semua sudah di persiapkan secara matang👍
Lia siti marlia
lucu kamu fardan .....aduh gifari sampai kamar mamjmu di sadapnya nanti kalau mamahmu sama ayahmu lagi bikin adek buat kamu kamu jangan ngintpnya 🤭
Lia siti marlia
semangat fatdan💪
Uba Muhammad Al-varo
karma dibayar lunas dan langsung di terima Maya dan ibunya
Uba Muhammad Al-varo
Fardan........ inilah perjuangan sesungguhnya baru dimulai

perjuangan
Uba Muhammad Al-varo
Fardan ditinggal pergi oleh Alisa dan Ghifari 😭😭😭
Uba Muhammad Al-varo
good 👍👍👌 Fardan kamu tegas jangan kamu mau dikibulin melulu oleh ibu dan kakak mu
Uba Muhammad Al-varo
baru deh melek matanya Fardan setelah selama ini merem karena diselimuti kelicikan ibu dan Sherly
Uba Muhammad Al-varo
good job Ghifari........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
kemenangan sementara ditangan Ghifari tapi perang ini belum usai /Hey//Hey/
Uba Muhammad Al-varo
pertarungan akan dimulai antara bocah dan CEO dingin 🤔🤔🤔
ceuceu
Anak Maya berapa kok ga ada?
tapi di sebutkan anak anak maya
Uba Muhammad Al-varo
Ghifari.........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
fardan kata CEO tapi kena ogeb 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!