NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 10

Empat hari berlalu, ibu sudah boleh pulang. Soal bayaran ibu punya kartu kesehatan sehingga tidak ada pembayaran apapun. Aku sudah memesan ojek online untuk mengantar kami pulang.

"Sudah sampai mana ojeknya, man?"

Aku membuka layar ponselku. "Sebentar lagi bu. Lima menitan lagi." Ucapku.

Pim..pim..

Mobil putih berhenti tepat di depan aku dan ibuku. Ternyata ojek online yang aku pesan sudah sampai. Sengaja memakai mobil, agar ibu lebih nyaman setelah pemulihan ini.

"Ayo bu, masuk" aku menyuruh ibuku dahulu untuk masuk ke dalam lalu disusul aku.

Saat pintu baru saja ditutup, seseorang mengetuk pintu mobil. Tentu aku kaget.

Tuk..tuk..

"Mba kenal sama pria itu atau tidak?" Sopir ojek online bertanya padaku. Akupun mengamati orang yang berada di luar dengan seksama.

"Itu Toni, manda!" Ibu yang lebih dulu mengenali pria itu. Setelah aku memastikan itu benar kakakku aku membuka pintu mobil setelah bilang pada sopir bahwa aku mengenali sosok di luar.

"Ya Tuhan, Toni. Ibu benar-benar kangen sama kamu. Ibu juga khawatir."

"Ibu ga usah turun. Disini saja." Aku mencegah ibu untuk turun dari mobil.

"Kak masuk?"

Sejenak kakakku terdiam. Lalu mengangguk dan masuk ke dalam mobil.

Kam Toni duduk di depan dengan sopir, aku dan ibu di belakang. Tak banyak obrolan, hanya ibu yang terus mengelus pundak kak Toni dan menangis. Serindu itu mungkin ibu. Aku membiarkannya saja ibu melampiaskan emosinya.

Pak sopir juga terdiam. Dia seperti menghormati penumpangnya dengan tidak banyak bertanya.

Empat puluh menitan, kami sampai di rumah. Aku membayar ojeknya dan ibu dituntun oleh kak Toni masuk ke dalam rumah.

"Kamu tidur dimana selama ini nak." Aku mendengar ibu mengulang-ulang pertanyaan itu. Di mobil pun sama tapi kak Toni tidak menjawab hanya diam saja.

Aku meletakkan tas berisi pakaianku dan ibu selama di rumah sakit. Lalu ikut duduk di samping ibu, sedangkan kak Toni ada di seberang kami.

"Jawab Toni!" Ibu mulai frustasi karena pertanyaannya tidak kunjung di jawab juga oleh kakak.

Aku memperhatikan kakakku. Wajahnya lusuh, seperti kurang tidur dan kelelahan. Apa karena pekerjaannya dia jadi begini? Pakaiannya pun tak jauh beda dengan wajahnya, seperti pakaian yang sudah berhari-hari dipakai dan tidak dicuci.

"Toni?" Ibu memelankan suaranya. Mungkin takut kejadian dulu pas kakak pergi dari rumah terulang lagi.

"Aku..." Suaranya gemetar. Seperti menahan emosi yang sudah lama di tahan. "Aku tinggal di kosan."

"Kosan mana? Apa jauh dari sini?" Kakak mengangguk sebagai jawaban.

"Sudah bu. Kita istirahat dulu ya. Kakak harus istirahat begitu juga ibu." Aku menyudahi. Karena kulihat wajah kak Toni memerah seperti menahan tangis. Aku tak tega. Lagian ibu baru pulang dari rumah sakit kan.

Walaupun ibu awalnya tidak setuju, tapi setelah ku bujuk ibu menurut. Ibu pergi ke kamarnya dan kakak, dia masih duduk di ruang depan.

Setelah aku mengemasi tas yang belum aku taruh ke dalam, aku duduk di samping kak Toni. Setelah sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu.

"Sebenarnya ada apa kak?" Aku tak berani menatap kakakku langsung. Aku menunduk. "Apa gara-gara aku belum beliin hp baru?"

Aku melirik ke arah kakak. Dia juga menunduk. "Masalah itu bukan ada apa-apa nya sama masalah kakak yang lain, man."

Aku diam. Masalah sebesar apa yang kakak maksud ini? Apa lebih besar dari dulu saat dia menyerempet mobil?

"Kakak belum siap buat cerita. Nanti kalau sudah siap kakak bakal cerita. Ke kamu dan ibu." Kakak bangun dari duduknya. "Titip salam buat ibu. Bilang buat ga usah terlalu mikirin kakak. Kakak baik-baik aja." Setelah mengatakan itu, kak Toni pergi keluar rumah. Lagi.

Aku bahkan belum bisa mencerna apa yang kak Toni katakan, tapi orangnya sudah pergi jauh. Tentu aku mengejarnya tapi katanya kakak masih ada urusan.

Apa dia cuma mau nengok ibu? Kenapa buru-buru sekali? Aneh!

"Mungkin kakak benar-benar lagi sibuk makanya buru-buru begitu."

Aku kembali ke rumah. Aku juga butuh istirahat.

---

"Toni! Toni!"

Aku terbangun setelah mendengar suara teriakan ibu.

"Kemana Toni manda?"

Aku mengucek mataku. "Udah pergi bu. Tadi kak Toni nitip salam buat ibu."

"Ibu ga butuh salah itu. Ibu butuhnya Toni manda! Dia anak ibu satu-satunya."

Mendengarnya tentu aku terkejut. Bahkan aku melihat ibu juga terkejut setelah mengatakan itu.

"Maksud ibu apa?"

"Bukan! Ibu salah ngomong."

"Beneran bu?" Aku juga berusaha meyakinkan diriku jika omongan ibu benar-benar salah.

Ibu mengangguk. "Iya. Yaudah ibu mau mandi. Kamu coba tanyain ke temen-temen Toni lagi ya. Siapa tau ada yang tau."

Aku diam. Mematung beberapa saat. Semoga ibu benar-benar salah ucap.

Aku berbalik ke dalam kamar. Meraih ponselku yang tergeletak di atas kasur. Aku akan mencoba menghubungi teman-teman kak Toni lagi.

Tut...tut...

'Halo'

"Halo kak fajar. Maaf ganggu ya."

Hanya nomor kak Fajar yang aku punya. Semoga dapat kabar baik lagi.

'Ga papa santai aja. Kenapa Man?'

"Kakak tau dimana kosan kak Toni?"

'Ga tau man. Udah lama juga kita ga kontekan. Terakhir... 2 hari lalu dia nelpon minjem duit tapi aku lagi ga ada uang.'

"Nelpon?" Aku heran. Ponsel kak Toni kan sedang rusak.

'Iya. Tapi lewat hp cewenya.'

Aku tambah terkejut. Aku kira kak Toni ga punya pacar. "Kak, boleh minta nomor cewenya kak Toni?"

'Emm... Gimana ya?'

"Tenang kak. Aku ga bakal macem-macem. Cuma mau tau sekarang kak Toni dimana." Aku berusaha menenangkan.

'Yaudah. Nanti tak kirim lewat chat ya.'

Sambungan telepon terputus. Notif chat langsung kuterima dari kak Fajar.

Lita

Nama itu yang tertera di sana. Mungkin namanya Lita?

'Kak. Ini manda adiknya kak Toni. Apa benar ini pacarnya kak Toni?'

Aku tak berniat menelepon. Takut canggung dan akhirnya aku gagal menanyakan kakakku.

1 menit... 5 menit.... 10 menit....

Tak ada jawaban. Apa dia sedang sibuk? Biarkan saja kalau begitu. Nanti jika dia sudah sempat membuka ponselnya, pasti dia akan membalasku chatku.

Aku meninggalkan ponselku untuk bergegas mandi. Setelahnya aku akan membeli nasi bungkus. Tentu untukku dan ibuku. Apalagi ibu masih harus rutin minum obat untuk proses penyembuhan nya.

Aku harap ada kabar baik setela aku pulang dari warung nanti. Dan ibu mungkin bisa lebih cepat pulih dari sakitnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!