Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Sebuah Buku
Malam terakhir di hutan Linyi menjadi saksi bisu atas sebuah pencapaian yang mustahil bagi banyak orang biasa tanpa sumber daya.
Yan Bingchen duduk bersila di tengah pusaran energi yang dahsyat.
Di dalam tubuhnya, kabut api yang membara dan uap es yang membekukan tak lagi saling mencambuk.
Dengan satu sentakan kehendak yang luar biasa, ia memaksa keduanya menyatu dalam pusaran konsentris di pusat Dantian-nya.
Ting!
Suara halus seperti dentingan kristal bergema di dalam kesadarannya.
Gas-gas energi itu tiba-tiba memadat, mengental, dan jatuh setetes demi setetes menjadi cairan bening yang berkilau di dasar energinya.
Tubuh Yan Bingchen memancarkan cahaya aura ungu yang pekat, meratakan rumput di sekelilingnya hingga radius sepuluh meter.
Ia telah berhasil. Tahap Pembentukan Fondasi tercapai dengan sempurna.
Kekuatan yang kini mengalir di nadinya terasa jauh lebih tenang, namun memiliki daya hancur yang berkali-kali lipat lebih besar.
Keesokan harinya, kabut tipis menyelimuti hutan saat fajar menyingsing. Ini adalah hari terakhir dari bulan kedua.
Sesuai janji, mereka harus berangkat menuju Kota Linyi untuk pendaftaran ulang turnamen.
Mo Ran sedang merapikan tas lusuhnya, wajahnya tidak seceria biasanya. Ia menatap ke arah jalan setapak yang biasa dilalui kakek tua pencari kayu.
Si Hitam, serigala raksasa itu, juga tampak gelisah, telinganya tegak mengarah ke semak-semak.
Tak lama kemudian, sosok bungkuk yang familiar muncul. Kakek itu berjalan pelan, namun kali ini keranjang rotannya kosong. Tidak ada kayu bakar, tidak ada kapak di pinggangnya.
"Kek! Kau datang!" Mo Ran berlari menghampiri, mencoba menyembunyikan kesedihannya dengan senyum lebar. "Kami harus pergi hari ini. Turnamennya dimulai besok. Nanti kalau aku sudah kaya, aku akan kembali ke sini dan membangunkanmu istana dari kayu cendana!"
Kakek tua itu berhenti di depan mereka. Matanya yang biasanya redup, kini tampak bersinar dengan kehangatan yang mendalam. Ia menatap Yan Bingchen, lalu mengangguk pelan. "Kau sudah melampaui batasmu, Anak Muda. Fondasimu sekuat karang di tengah samudera."
Yan Bingchen membungkuk hormat, posisi yang sangat rendah yang jarang ia berikan pada siapa pun. "Semua berkat ketenangan dan ilmu yang Kakek ajarkan di hutan ini."
Kakek itu meraba saku bajunya yang kasar dan mengeluarkan sebuah buku tua dengan sampul kulit yang sudah mengelupas.
Tidak ada judul di depannya, hanya aroma debu dan keberanian yang tercium dari kertasnya.
"Ambillah," ujar sang kakek, menyodorkan buku itu kepada Yan Bingchen. "Kalian berdua telah menemaniku dengan tulus tanpa meminta imbalan. Di dunia yang penuh dengan orang-orang rakus akan kekuatan, kebaikan kalian adalah artefak yang paling langka."
Yan Bingchen menerima buku itu dengan tangan gemetar.
Saat jemarinya menyentuh sampul buku, sebuah getaran energi pedang yang sangat tajam menyengat sarafnya. Ia tersentak. Ini bukan sekadar buku biasa. Ini adalah warisan tingkat tinggi.
"Kek, ini ..."
"Gunakan dengan bijak," potong sang kakek. Ia mulai berjalan mundur, menjauh ke arah kabut yang semakin tebal. "Pergilah. Dunia menanti untuk mendengar namamu, Yan Bingchen."
"Tunggu, Kek! Siapa namamu yang sebenarnya?" teriak Mo Ran dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sosok bungkuk itu perlahan berdiri tegak. Tubuhnya yang tadinya layu kini tampak gagah dan bercahaya.
Jubah kasarnya berubah menjadi bayangan energi pedang yang menyilaukan.
Tekanan Qi yang terpancar darinya begitu agung hingga si Hitam langsung bersujud ke tanah karena ketakutan yang bercampur hormat.
"Aku hanyalah sebilah pedang yang tertinggal dari zaman yang sudah terlupakan," suara kakek itu kini menggema seperti guntur yang lembut di telinga mereka. "Nama tidak lagi penting bagi mereka yang sudah menyatu dengan alam."
Perlahan, tubuh sang kakek mulai memudar, berubah menjadi ribuan helai kelopak bunga persik yang terbang tertiup angin.
Kabut di sekeliling mereka pun perlahan sirna, meninggalkan keheningan yang menyesakkan dada.
Mo Ran jatuh terduduk, air matanya menetes ke tanah. "Dia ... dia benar-benar pergi, Kak Bingchen."
Yan Bingchen menatap buku di tangannya, lalu menatap ke arah tempat kakek itu menghilang.
Ia merasakan kehilangan yang nyata, sesuatu yang belum pernah ia rasakan bahkan saat ia meninggalkan kedua orang tuanya.
Kakek itu memberinya sesuatu yang lebih dari sekadar teknik—dia memberinya pengakuan sebagai manusia, bukan sebagai monster.
"Dia tidak pergi, Mo Ran," bisik Yan Bingchen sambil menepuk pundak temannya. "Dia hanya kembali ke tempat seharusnya seorang legenda berada."
Ia menarik napas panjang, menelan semua emosi pahit itu dan mengubahnya menjadi tekad yang membara.
Ia memasukkan buku teknik pedang itu ke dalam jubahnya, lalu berbalik ke arah Kota Linyi yang mulai terlihat di cakrawala.
"Ayo berangkat. Kita punya janji yang harus ditepati."
Dengan langkah yang lebih berat namun pasti, mereka meninggalkan hutan itu.
Di belakang mereka, si Hitam melolong panjang ke arah langit, seolah memberikan penghormatan terakhir bagi sang Roh Pendekar yang telah menjaga mereka dalam diam selama dua bulan penuh.