lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Joglo Misterius
Waktu berjalan dengan sangat cepat siapa sangka pada saat ini Arjuna di antar oleh seorang sopir ke ampel gading.
Sebagai seseorang yang bertempat tinggal di Dau, tentu saja Arjuna tidak familiar dengan Ampel gading.
Namun ada satu hal yang membuat suasana di Ampel Gading ini seperti di Dau, yaitu sama sama terletak di lereng gunung.
Arjuna akhirnya di turunkan di sebuah gerbang yang mirip dengan gapura candi, sebuah gapura kembar yang mengapit jalan.
"Mengapa kamu menurunkanku di sini?" Tanya Arjuna dengan heran.
Sopir itu menjawab, "tidak tahu, aku hanya menurunkan sesuai perintah. Mungkin kamu di suruh masuk ke dalam sendirian?"
Siapa sangka sebelum Arjuna menjawab pertanyaan sopir, sopir itu langsung menginjak pedal gasnya dan pergi begitu saja dari tempat ini.
"Sial!" Kutuk Arjuna dengan frustasi, dia sudah di tuduh macam-macam, di tangkap secara paksa dan kini harus menemui gurunya Gumilar, dan siapa sangka dia saat ini di turunkan begitu saja dan harus mencari gurunya Gumilar berada. Benar-benar hari yang apes bagi Arjuna.
Arjuna menarik nafas panjang dan mulai masuk ke dalam gapura kembar itu. Ketika Arjuna memasuki gapura itu dia mendapati ada banyak sekali tumbuhan kopi yang di tanam di berbagai tempat.
Siapa sangka gerimis namun cukup lebat turun dari atas langit. Arjuna menggaruk kepalanya ketika mendapati turun hujan. Ya meskipun ini hanyalah hujan tipis namun sebaiknya dia mencari tempat berteduh.
Siapa sangka di tengah-tengah kebun kopi terdapat sebuah rumah joglo yang berdiri megah, "apakah ini rumahnya gurunya Gumilar? Atau tempat ini yang aku tuju?"
"Mengapa rumahnya di dalam hutan seperti ini? Jangan-jangan ini rumah angker?" Tanya Arjuna dalam hatinya.
Kemudian Arjuna memandangi rumah itu dengan tatapan curiga, siapa sangka pintu rumah itu terbuka.
Beberapa orang yang di pimpin oleh seorang kakek tua sedikit bungkuk keliar dari rumah itu.
"Ma.. maafkan kami yang tidak segera menyambut anda..."
"Oh Tuan Perkasa tolong ampuni kami."
Semua orang yang keluar dari rumah itu gemetar ketakutan di hadapan Arjuna yang melongo kebingungan.
"Lah? Siapa kalian? Mengapa kalian ketakutan? Apakah kalian fikir aku hantu?" Tanya Arjuna sambil menggaruk kepalanya dengan ekspresi bingung.
***
Siapa sangka Arjuna di turunkan Arjuna di turunkan di gerbang terluar, Gumilar sudah berada di sebuah perkebunan kopi milik Tuan Harsono.
Terlihat Tuan Harsono yang sedang merawat kopi-kopinya. Gumilar dengan sopan berdiri di belakangnya.
"Ada apa Gumilar? Bukankah kamu telah menyelesaikan tugas dengan baik dan membawa orang yang kamu curigai ke gerbang kebun kopi kuno itu? Apa yang kamu risaukan?" Tanya Tuan Harsono.
"Tuan apakah dengan cara ini kita benar-benar bisa mengetahui siapa identitas dia?" Tanya Gumilar.
Tuan Harsono tersenyum dia masih belum membalikan badannya. Dia masih mengamati bunga bunga kopi yang ada di sana.
"Muridku, kamu tahu sendiri bukan seberapa mengerikannya kebun kopi kuno itu? Tempat di mana kamu memasukan manusia yang kamu curigai itu?" Tanya Tuan Harsono kepada Gumilar.
"Itu adalah tempat yang sangat wingit di mana anda melarang semua murid anda termasuk saya masuk ke tempat itu..." jawab Gumilar.
"Aku melarang kalian masuk karena di sana terdapat sebuah rumah joglo yang sangat misterius! Konon penghuni rumah joglo itu merupakan makhluk-makhluk halus dengan kesaktian Tiada Tandingannya!" Ucap Tuan Harsono kemudia barulah Tuan Harsono menoleh ke arah Gumilar, "dan kamu harus tahu muridku, bahkan aku juga tidak bisa mengalahkan makhluk-makhluk halus yang menghuni rumah joglo misterius itu!"
Ketika Tuan Harsono mengucapkan hal ini, Gumilar langsung kelebarkan matanya, "a... apa! Guru tidak bisa mengalahkan penghuni rumah joglo itu?!"
Tuan Harsono menganggukan kepalanya, "benar sekali, oleh karena itu aku dan mereka membuat kesepakatan damai hingga kami bisa hidup berdampingan dengan mereka."
Gumilar baru mengetahui fakta ini, ternyata di dalam kebun kopi kuno itu terdapat sebuah rumah joglo yang sudah ada sebelum tempat ini di bangun, dan gurunya sangat segan terhadap penghuni rumah joglo itu.
Kemudian Tuan harsono tersenyum, "da ada sebuah fakta unik, apabila yang melintasi di kebun kopi itu manusia biasa maka orang itu akan di biarkan lewat begitu saja oleh rumah joglo itu dan orang itu tidak akan menemukan adanya rumah joglo di sana."
Kemudian senyum Tuan Harsono menghilang, "namun apabila orang yang kamu masukan ke dalam kebun itu tidak muncul kembali, maka bisa di pastikan dia memiliki kesaktian."
Gumilar menganggukan kepalanya. Gumilar kemudian bertanya, "guru sebenarnya apa yang di jaga oleh makhluk halus yang menghuni rumah joglo itu?"
Tuan Harsono tersenyum tipis, "Kopi legendaris, sebuah kopi yang konon di berkahi oleh kahyangan yang bahkan aku tidak di bolehkan mencicipinya!" Jawab tuan Harsono.
Ketika mendengar hal ini Gumilar menarik nafas dalam dalam, kpi yang di berkahi kahyangan? Betapa istimewanya hal itu!
***
Sementara itu di saat yang bersamaan.
Orang-orang super baik penghuni rumah joglo itu mempersilahkan Arjuna untuk berteduh di teras rumah itu.
Dengan senang hati Arjuna duduk di kursi kayu yang berada di teras rumah joglo itu.
Seorang pembantu terlihat kenuangkan air panas dari dalam kendi, untuk di masukan ke dalam sebuah cangkir keramik di hadapan Arjuna.
Arjuna yang duduk itu langsung mencium wangi yang begitu nikmat yang muncul dari seduhan kopi itu. Membuat Arjuna bersemangat.
Dari aroma yang super duper nikmat dari kopi ini Arjuna mengetahui bahwa kualitas kopi ini merupakan kualitas kopi premium tingkat tinggi!
Arjuna tersenyum kemudian berucap, "sepertinya kopi kalian enak, nanti aku minta, ya?" Tanya Arjuna dengan sangat enteng sekali.
"Ki... ki.. kira berapa Tuan? Apakah semuanya?" Tanya Kakek tua yang sedikit bungkuk itu.
"Ah tidak! aku bukan manusia serakah. Aku minta sekantung saja bagaimana? Kalau tidak boleh aku beli saja.." tanya Arjuna kepada orang-orang yang ada di depannya ini.
Ketika mendengar hal ini semua orang yang ada di sana segera menghela nafas lega.
"Tentu saja Tuan, tidak perlu beli. Saya akan memberikannya kepada anda.." ucap Pria tua yang agak bungkuk itu.
"Pak Indroprasto, mengapa dan tidak duduk bersamaku?" Tanya Arjuna kemudian menyeruput kopinya. Mata Arjuna melebar dengan semangat ketika merasakan pahit yang begitu nikmat dari kopi ini.
Pak Indroprasto tidak berani melanggar perintah Arjuna dengan cepat dia duduk sebangku dengan Arjuna.
Arjuna sendiri memandangi Indroprasto dengan tatapan kagum, sebelum ini ketika Arjuna datang dia di sambut dengan sangat baik oleh Indroprasto dan yang lainnya meskipun Arjuna baru bertemu.
Arjuna sempat bingung dan bertanya, mengapa mereka sangat menghormatinya? Mereka menjawab karena Arjuna adalah tamu.
Arjuna memaklumkan saja hal itu, memang terkadang ada sebuah keluarga yang sangat merajakan tamunya. Dan kebanyakan dari keluarga itu adalah para penduduk yang tinggal di kaki gunung jadi mereka masih memiliki kesopanan yang sangat tinggi dan sangat ramah kepada siapapun tamu yang berkunjung, termasuk Arjuna. ya walaupun tampang Arjuna seperti bujang kere.