*DI BARENGI PERBAIKAN*
Serena adalah seorang gadis yatim piatu tomboy yang pintar beladiri. saat bekerja ia tak sengaja melihat novel diatas meja. karna tertarik Serena pun membacanya
Namun saat bangun dari tidurnya dipagi hari dirinya berada ditempat yang sangat asing untuk dirinya.
apa yang sebenarnya terjadi pada Serena?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Sudah seminggu terhitung dari hari berangkatnya Raja, permaisuri dan para pangeran juga putri kerajaan Mediteran ke kerajaan Muse. Raja Sein dan Ratu Ailen sudah pulang ke Mediteran lima hari yang lalu.
Dean kini berada dalam perjalanan pulang bersama saudaranya. Sialnya ia harus berada satu kereta dengan kakak yang hanya beda
dua hari dengannya yaitu pangeran Herlis. Herlis selalu memiliki pembawaan yang
tenang. Hampir setiap ia berbicara selalu ada kata-kata sindiran.
Berbeda dengan Dean dengan pembawaan santai namun mudah terbawa emosi. Dean tipe pendendam. Kini Dean membuang arah pandangnya ke luar kereta di manapun kemanapun asal jangan menatap Herlis.
"Adikku, kenapa kau selalu menatap keluar? Apa ada hal yang begitu menarik?"
"Berhentilah mengatakan itu. Itu sangat
menjijikkan jika kau yang mengucapkannya."
Tanpa mengalihkan pandangannya, Dean menjawab. Herlis hanya terkekeh pelan. " Kau benar-benar tak memiliki selera humor Dean."
Dean tak menanggapi kata kata Herlis.
Herlis tumbuh besar dengan Dean bersama bagai anak kembar. Dia sangat tau akan sifat dan tabiat Dean dan tak bisa dipungkiri
dirinya sudah terlanjur menyayangi Dean. Namun semenjak kematian ibu Herlis,
permaisuri terdahulu yaitu ratu Betric semuanya berubah.
Setelah kematian ibunya, ibu Dean-lah yang diangkat menjadi permaisuri. Ratu Ailen sangat berambisi menjadikan anaknya sebagai seorang raja, sehingga ratu Ailen menggunakan banyak cara salah satunya membuat Dean dan Herlis bermusuhan.
"Dean apa kau tak lelah selalu dimanipulasi
ibumu?"
"Bukan urusanmu."
"Jujur aku tak pernah bisa membencimu walau kau bersikap seperti itu padaku
Aku tak menyalahkan mu. Hanya saja aku merindukan kebersamaan kita, aku berjanji suatu aku akan mengembalikannya. Jadi kumohon percayalah saat saat itu akan terwujud kembali."
'Aku akan melepaskan mu dari kendali ibu Ratu.'
'Aku percaya. Selalu. Akan aku tunggu sampai waktu itu tiba Herlis.'
Suasana hening kembali mendominasi kereta mereka. Hanya terdengar suara derap langkah kuda dan putaran roda kereta yang
mengiringi mereka hingga tiba di istana.
☆☆☆
Arianda melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai tengah tengah papan target. Semenjak Serena tak sadarkan diri akibat ulahnya Arianda berlatih sangat keras agar lebih baik dari Serena.
Selama kurang lebih seminggu dirinya berlatih Arianda sudah menguasai senjata panahan itu. Memang bakat Arianda tidak bisa dipandang
remeh.
"Aku akan benar benar mengalahkan mu dalam segala hal Serena. Takkan ku biarkan kau lebih baik dari diriku."
Arianda kembali memanah dan selalu tepat sasaran. Arianda juga sudah mulai berlatih memanah target yang bergerak. Hingga
latihannya terhenti oleh suara seorang pelayan yang dia bawa dari kediamannya.
"Nona Arianda."
"Ya! Ada kabar apa Rere?"
"Pangeran Dean sudah pulang dari kerajaan Muse nona."
"Baiklah terimakasih sudah memberitahu ku. Kau boleh pergi sekarang."
Saat Rere sudah pergi Arianda menyeringai. Dirinya berpuas diri akan apa yang telah ia lakukan beberapa hari lalu.
Flashback
Beberapa hari setelah Arianda datang ke rumah bibinya ia mulai berani berkeliling rumah sendiri. Dirinya sudah mulai hafal tempat
tempat dan bagian bagian dari mansion keluarga Lexus.
Saat berjalan sendirian tak sengaja dirinya melihat ruangan Serena sedikit terbuka pintunya. Rasa penasaran mendorongnya untuk
mengintip dari celah pintu.
"Ah! Masa aku mengirim surat ini ke Dean. Yang benar saja bisa mati aku. Tapi aku benar benar ingin dia tak menggangguku
Tapi- ah! Entahlah apa yang kupikirkan sampai menulis hal segila ini? Tenang. Tenangkan dirimu Serena."
Arianda melihat kejadian itu. Tak lama setelahnya Serena bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi di kamarnya itu. Arianda
tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dia masuk dan mengambil kertas yang ditulis Serena. Arianda buru buru keluar setelahnya dan langsung ke kamarnya sendiri. Di
perjalanan dirinya berpapasan dengan Ane namun keduanya sama sama tak memiliki
respon satu sama lain. Ane tak ada niatan untuk menyapa apa lagi membungkuk hormat
seperti halnya yang pelayan-pelayan lain lakukan.
Serena keluar kamar mandi dan mendapati Ane di dalam kamarnya. Setelah Arianda keluar kamar memang Ane berpapasan dengan Arianda namun dirinya tak tau Arianda barusan masuk ke kamar Serena jadi Ane cukup masa
bodoh dengan Arianda.
"Ane? Apa yang kau lakukan?"
"Ini saya membereskan kamar nona dan membawakan beberapa camilan."
"Bukan manisan kan Ane?" Serena dari dunia
moderen memang membenci manisan. Ane hanya mengangguk sambil tersenyum.
Serena mengambil camilan itu dan memasukkan dalam mulutnya. Ia melirik kertas diatas meja namun dirinya tidak mendapati kertas itu. Serena tak ambil pusing ia pikir Ane sudah membuangnya karena Ane memang
sangat menyukai hal yang bersih.
Berbanding terbalik dengan dirinya. Hampir Serena tak pernah membereskan meja yang telah ia gunakan. Beruntung saat ini ada pelayan yang membereskannya. Dulu Serena sangat malas membereskan rumahnya sendiri. Ia baru akan membereskan rumahnya ketika Momo berkunjung dan memarahinya karena
rumahnya kotor.
Ketika Momo bertanya kenapa Serena malas membersihkan rumah maka Serena akan menjawab ' Momo bersih itu kotor dan kotor itu bersih untuk apa membersihkannya kalau ujung-ujungnya kotor lagi.' Saat itu Momo hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
Sementara itu di kamar Arianda, Arianda sedang tersenyum mendapati isi surat itu. "Aku akan benar benar menghancurkan mu
kali ini Sepupuku tersayang."
Flashback of
Arianda tertawa pelan. "Bagaimana reaksi
tunangan mu nanti saat datang karena membaca surat yang dengan baik hati aku mau
mengirimkannya.
Aku sangat menantikannya. Pangeran ke tiga pasti benar benar mengira kau sudah membencinya apa lagi saat dia melihat kondisimu yang mengenaskan itu."
Arianda senang bukan main. Sebentar lagi akan terjadi masalah kecil diantara pertunangan sepupu tersayangnya itu.
☆☆☆
Berlin tertidur di tepi ranjang Serena. Serena masih betah dengan tidur panjangnya itu. Beberapa hari yang lalu Alex meminta maaf
pada Berlin karena tak bisa ikut menjaga Serena sementara waktu.
Alex mengatakan ada urusan mendadak yang tidak bisa di tinggalkan. Entah mengapa Ane juga minta izin di waktu yang bersaman dengan
Alex. Ane beralasan neneknya di desa sedang sakit.
Berlin tak ambil pusing keduanya. Hanya saja merasa sedikit lelah. Dirinya tidak tega meminta bantuan kepada ibunya karena ia tau
ibunya sibuk. Padahal dirinya sendiri juga sangat sibuk.
Perlahan kelopak mata Berlin terbuka. Matahari sudah berada di ufuk Barat. Berlin menghela nafas entah yang ke berapa kali dalam
sehari ini.
"Serena. Apa kau tidak kasihan pada kakak.
Padahal kakak sangat berharap ketika kakak bangun yang pertama kali kakak lihat
adalah wajahmu yang tersenyum"
Berlin meraih tangan Serena dan menggenggamnya. Di ciumnya tangan mungil adiknya itu. Tanpa terasa cairan bening lolos dari manik seindah permata milik Berlin.
"Hiks... kakak mohon... hiks... bangunlah... hiks.. kakak.. berjanji.. apapun... hiks... permintaanmu... kakak akan.. berusaha.. mewujudkannya."
Sekali lagi Berlin menangis dan terlihat lemah di depan orang lain. Bukan baru kali ini Berlin merasakan kehilangan. Dirinya
tidak ingin merasakan pedihnya kehilangan orang yang disayangi untuk ke dua
kalinya.
Seorang pemuda berjubah yang disebut 'ketua' oleh Alex, Ane dan gadis berjubah bernama Jesica memandang kejadian itu dari jarak
yang cukup jauh.
"Sungguh takkan kubiarkan ini terjadi dua kali
untukmu Berlin."
Pemuda itu membalikkan badan dan berjalan menjauh. Lebih terlihat normal dari pada saat Jesica pergi.
susah di mengerti....
SEMOGAAA AJAAA CUMA KARENA HIATUS 1 TAHUN
selalu di nanti nih ceritanya.
bingung sumpah banyak teka-tekinya