Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Nona Muda Krista Hans
Hari ini adalah waktunya mengambil pedang Hiragi. Harui sengaja mempercepat pengambilan pedangnnya lagipula pedang itu dalam proses penyelesaian, jadi dapat diambil dalam dua hari.
"Harui aku tidak pernah melihat pedangmu."
"Terserah aku ingin menunjukkannya atau tidak." Ucapnya dingin.
Entah kenapa pria kepala batu ini seperti tidak ada perubahan sama sekali pikirnya.
Sesampainya di toko. Seperti biasa Daisi menyambut mereka berdua dengan hangat. Dia mengetahui kedatangan kedua insan ini. Daisi mengambil pedang yang dia janjikan.
Mata Hiragi berbinar saat melihat pedang besar dan bagus itu. Kalau di perhatikan warna pedang serta desainnya sama seperti Hiragi. Tubuh pedang besar dan tajam itu berbalut warna Blue Dark persis dengan warna rambut Hiragi dan desain lainnya.
"Ini Pedang-"
SYUT!~
Dalam sekejap pedang itu hilang dari hadapan Hiragi, dan jujur saja, menyentuh atau mengangkatnya saja Hiragi tak sempat.
"Itu pedangku!"
"Aku akan mencoba pedang ini terlebih dahulu, karena kau pemula, pedang ini dapat melukai siapa saja." Jelas Harui.
Paman Daisi pun setuju dengan apa yang dikatakan Harui. Memang jika pedang baru akan langsung digunakan atau dipegang oleh seorang pemula, akan terjadi sesuatu. Karena pedang itu adalah cermin dari diri sendiri.
Setelah selesai, Hiragi dan Harui pun langsung meninggalkan toko dengan lambaian dari Bibi Mina, yaitu salah satu partner sekaligus Istri Paman Daisi.
Selama perjalanan Hiragi tak ada habisnya menyapa orang lain begitu pula dengan orang lain. Mungkin dengan keberadaan Hiragi di Kota ini akan menjadi lebih baik.
Angin yang begitu kencang menyentuh wajah paras cantik Hiragi. Tapi sayang, gadis itu. harus bertolak belakang dengan dunianya.
Dari kejauhan Harui menyadari bahwa dia melihat Krista. Melihatnya saja membuat Harui kesal dengan tragedi beberapa hari yang lalu. Tapi sayangnya mungkin disengaja, Krista menghampiri mereka berdua.
Hiragi dengan cepat merubah raut wajahnya, walaupun masih terbesit ketakutan yang mendalam, dia harus memberanikan diri.
"Lihatlah ini, Nona Katsura Hiragi dan Tuan Muda Harui Mahiru, sedang bersama." Ucap Krista pada beberapa pengawalnya dan disertai senyuman manis palsunya.
Hiragi tahu Krista akan melakukan sesuatu pada mereka berdua, dengan cepat Harui menggenggam tangan Hiragi. Itu adalah sebuah sinyal, untuk Hiragi untuk tidak melakukan hal yang gegabah.
Melihat skenario itu Krista memanas, namun dia harus menjaga penampilannya. Memang disaat ini banyak yang menyukai Hiragi namun ada juga yang membencinya, itupun mungkin karena ulah licik dari Krista.
"Aku lihat kalian dari toko pedang."
"Apapun yang kami lakukan bukan urusanmu!" Bentak Hiragi dengan nada kasar.
Beberapa orang yang berlalu-lalang berhenti sejenak karena ada suatu peristiwa yang mungkin dianggap seru.
Bentakan Hiragi membuat orang-orang di sekitarnya membicarakan hal-hal buruk tentangnya.
"Ada apa dengan gadis itu, dia berbicara kasar pada Nona Muda Krista."
"Apa yang gadis itu katakan."
Beribu bisikan tertera di telinga Hiragi, namun
gadis itu tetap menyingkirkan hal yang tidak penting menurutnya.
"Saya yakin, kedatangan Nona Muda Krista saat ini bukanlah kebetulan, jadi, silahkan jika ada suatu hal yang ingin Anda katakan." Ucapan Hiragi nyaris membuat Krista melayangkan tangannya.
"Gadis ini lumayan licik." Batinnya.
"Karena kemampuan dari Nona Hiragi di
tempo hari membuat ku terkejut jadi aku sedang membuka latih tanding tepat di kediaman besar Keluarga Hans."
Harui tersentak mendengarnya. Dia yakin bahwa Hiragi pasti akan menolaknya, karena dia tau gadis ini tidak ingin terlibat dengan apapun.
"Hamba terima permintaanmu." Balas Hiragi dengan wajah sombong meremehkan. "Tapi dengan satu syarat, yang kalah akan menuruti perintah yang menang, apapun itu!" Tambah Hiragi.
Krista merasa saat ini harga dirinya diinjak,
kesabaran itu ada batasnya, namun saat ini bukan waktunya meluapkan emosi. Krista dendam ditempo hari itu, dan harus membuat Hiragi membayarnya dengan kematian.
Keduanya pun sepakat dengan keputusan itu. Hanya saja saat ini emosi Harui membeledak.
...☄☄☄☄...
Sesampainya di Mansion suara pertikaian begitu keras dan heboh membuat Yuri yang sedang di ladang berlari menuju ruang tengah.
"Aku tidak akan membatalkannya!"Bentak Hiragi.
"Kau sudah gila! Untuk apa kau menerimanya, kalau kau sudah yakin pasti kalah!" Jawab Harui dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Aku belum meyakinkan diriku untuk kalah! jadi biarkan aku yang melakukannya!"
"Apa yang bisa kau lakukan hah?! Yang kau lakukan hanya merepotkan orang lain, membebani orang lain!"
Kraak!~
Ucapan barusan berhasil membuat Hiragi terdiam. Yuri yang melihat kejadian itu segera berlari ke gedung yang berada di lingkungan Mansion Harui untuk menemui Erthan yang sedang berlatih disana.
Mendengar penjelasan panjang Yuri, Erthan bergegas berlari menuju rumah ruang utama.
"Ada Ap-"
"Kau benar! Saat ini aku memang selalu merepotkan dirimu! Merepotkan Yuri serta paman! Termasuk semua orang! Kau kira aku senang berada di sini, itu TIDAK!"
Wajah cantik Hiragi perlahan-lahan memerah dan mengalirkan tangisan perihnya. Perihnya berada di dunia yang tak dia kenal, perihnya selalu membuat orang kesulitan dengan perilakunya, dan sangat perih tidak dipercayai oleh satu-satunya orang yang menurut Hiragi penting.
"Membutuhkan bertahun-tahun agar aku bisa terbiasa dengan tempat ini... Dengan bantuan kalian! Namun apa hasilnya, aku salah, dan selalu salah!"
Harui merasa perkataanya tadi terlalu kasar, dan ingin meminta maaf pada Hiragi. Tetapi dengan langkah berat dan cepat Hiragi meninggalkan tempat itu.
Air mata yang terjatuh di lantai membuat dirinya terkulai lemah di lantai, dia tak menyangka akan membuat hati gadis itu terluka. Meminta maaf pun percuma bagi Harui.
"Harui setelah ini temui aku di halaman belakang, dan Yuri, temani Hiragi sementara."
...☄☄☄☄...
《Di kamar.》
Sudah satu jam Yuri membiarkan Hiragi sendiri dan sekarang dia memasuki kamar Hiragi dengan membawa makanan kesukaannya.
Saat memasuki kamar Yuri tidak melihat sosok gadis cantik itu. Dan ternyata terkulai pulas di kursi besar kamarnya.
Yuri melihat Hiragi dengan wajah kasihan, dan dia harus memindahkan tubuh Hiragi ke atas ranjang. Mungkin saat Hiragi depresi dia tidak langsung beranjak ke ranjang.
Jadi Yuri keluar dari kamar dengan tujuan meminta pertolongan, tapi saat membuka pintu kamar, Yuri mendapati Tuan Mudanya yang berdiri kaku di depan pintu.
"Tuan ini sangat pas, aku ingin meminta tolong padamu, untuk mengangkat tubuh Hiragi ke atas ranjang."
Harui lekas memasuki kamar Hiragi dengan cepat, dia mendapati Hiragi yang tertidur pulas di atas kursi besar yang tepat dekat jendela besar.
Harui mengangkat tubuh Hiragi dengan perlahan-lahan agar tetap membuat gadis yang di rangkuhannya merasa nyaman.
"Maafkan aku Tuan, ada tugas lain yang harus aku lakukan, mempersiapkan makan malam inilah saatnya."
"Pergilah, biar aku di sini." Ucap singkat Harui
Melihat kepolosan gadis itu tertidur membuat Harui merasa bersalah dengan perkataanya tadi.
"Maaf." Lirihnya
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????