Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis yang mengalami broken home, sejak ia masih duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak kls 3 SMA.
Dikarenakan sang ayah berselingkuh dengan wanita lain dan lebih memilih selingkuhannya dibandingkan dengan sang ibu, oleh sebab itu mereka bercerai, dan dari masalah itu pula ibunya meninggalkan dirinya dengan sang nenek.
Lambat laun ia pun bertemu dengan seorang pria yang memiliki sikap dan hati sedingin es.
Ia pun memiliki rencana untuk menaklukkan hati sedingin es itu, mampukah ia menaklukkan hati pria es itu?
Nb: Cerita ini hanya fiksi saja, jika ada kesamaan dalam nama, tempat, alur, dll, itu tidak disengaja 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anowmuri3__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Saat ini Senja dan William serta John sudah berada di rumah Senja, di sana masih ada beberapa warga yang masih membantu Senja.
Saat Senja tengah makan siang dengan William di ruang makan yang letaknya menyatu dengan dapur, sementara beberapa ibu-ibu tengah berada di luar.
Tiba-tiba pak Tama ayah dari Senja datang ke sana, awalnya ia terkejut lantaran ada bendera kuning yang terpasang di rumah mantan ibu mertuanya itu.
Namun ia menormalkan rasa keterkejutannya.
"Eh ada pak Tama, ada apa bapak kemari? Apa bapak mau melayat mantan mertua bapak?" tanya salah satu ibu-ibu, dengan nada menyindir, saat dia melihat pak Tama yang sudah berada di depan rumah Senja.
"Wah tumben sekali pak Tama datang, dulu saat mantan istrinya meninggal pak Tama tidak pernah datang untuk berkunjung, meski hanya sekali saja," sindir yang lainnya.
"Maklum Bu, pak Tama kan lebih sayang sama gundik nya dibanding saya sama anak kandungnya. Bahkan anak kandungnya sendiri saja di lantarkan," timpal ibu-ibu yang lainnya.
Maklum, dulu saat pak Tama belum menjadi pebisnis dan memiliki rumah besar, ia dulunya tinggal bersama Soraya ibu kandung Senja di rumah neneknya Senja, yang tak lain ialah ibu mertuanya.
Bahkan ibu-ibu di sana pun tau, bahwa pak Tama sudah berselingkuh dan sebagian ibu-ibu itu tau wanita selingkuhan pak Tama.
Lantaran dulu, sebelum ibu kandung Senja meninggal dunia, pak Tama menceraikan ibu Senja dengan membawa gundiknya ke rumah mertuanya.
Yang dimana saat itu ada Senja yang sudah kelas tiga SMA.
Dan dari situlah, rasa benci Senja pada sang ayah muncul dihatinya.
Namun meski begitu, Senja masih menyimpan rasa rindu pada ayahnya itu.
Pak Tama yang mendengar sindiran dari ibu-ibu itu pun hanya bisa mengepalkan tangannya secara diam-diam, ia pun menghala nafasnya dengan kasar demi meredakan emosinya.
"Apa Senja nya ada?" tanyanya.
"Tumben pak Tama menanyakan Senja, biasanya pak Tama tidak pernah datang atau menanyakan Senja. Bukankah pak Tama jauh lebih sayang anak tiri pak Tama dibanding anak kandung sendiri." Bukannya menjawab, ibu-ibu itu malah menyindir pak Tama yang telah lalai mengurus Senja.
"Jawab saja pertanyaan saya, apa Senja ada didalam?" tanya pak Tama lagi, lantaran ia sudah malu di sindir terus-terusan oleh ibu-ibu ada yang di sana.
Meski hanya sebagian, yakni yang tau bahwa ia telah berselingkuh.
"Ada apa ini ibu-ibu?" tanya Senja yang keluar, lantara tadi saat ia selesai makan siang, ia mendengar suara bising-bising di luar.
Senja pun keluar guna melihat apa yang terjadi.
"Ohh itu nak Senja, ada ayah nak Senja, tumben-tumbenan ya ayahmu datang menemui mu, biasanya ayah kamu tidak pernah mau menemui mu kan," jawab ibu-ibu yang memegang memiliki mulut super super bawel.
"Aduh bu Saodah, jangan langsung di ulti kenapa," saut ibu-ibu lainnya.
"Pria yang kaya gini emang kudu di sindir, biar tau diri, itu bangun perusahaan dari biaya siapa!" ujar Bu Saodah.
"Sudah Bu, bagaimana pun dia ayah saya," ujar Senja.
"Silahkan masuk," ucap Senja pada sang ayah, dan menyuruhnya untuk masuk kedalam rumah.
Sebenarnya Senja kasihan lantaran ayahnya itu terus-terusan disindir oleh ibu-ibu yang ada di sana, tapi disisi lain ia pun senang, setidaknya dengan di sindir ibu-ibu, ayahnya bisa sedikit berpikir dan sadar.
Namun sepertinya keinginan Senja tidak terjadi, terbukti saat ini ayahnya malah meminta dirinya membebaskan istri muda ayahnya itu.
Sungguh hal itu membuat Senja muak, sekali lagi ayahnya itu membuktikan bahwa ayahnya itu lebih saya pada istri sirinya dibanding dengan dirinya, yang notabenenya adalah putri kandungnya sendiri.
"Ayah mohon bebaskan Tante Sarah," ucap pak Tama memohon, kali ini ia tak menyebut Sarah sebagai ibu tiri Senja melainkan menyebutnya dengan sebutan Tante.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah membebaskan wanita penggoda itu," ucap Senja dengan tegas.
"Karena gara-gara wanita itu, ibu dan nenekku meninggalkan ku seorang diri di dunia ini," lanjutnya, tanpa sadar air matanya kembali menetes.
"Tapi kamu masih memiliki ku, aku adalah ayahmu, kita bisa menjadi keluarga."
"Heh ayah? Sejak kapan anda perduli padaku? Dan sejak kapan anda menyebut diri anda adalah ayah saya? Bukankah selama ini anda tidak pernah perduli pada saya? Mau saya kelaparan! Mau saya sakit! Mau saya menderita pun anda bahkan tidak perduli pada saya!! Lalu sekarang anda menganggap diri anda adalah seorang ayah?!"
"Mana ada seorang ayah yang tega menelantarkan anaknya sendiri, demi orang lain!! Mana ada seorang ayah yang pura-pura tuli dan buta ketika anaknya meminta pertolongan pada ayahnya sendiri!! Mana ada!! Ayah sejati adalah, ayah yang selalu perduli pada anaknya, yang selalu melindungi anaknya, yang selalu menyayangi anaknya meskipun ada orang baru di hatinya." Senja pun terus mengeluarkan unek-unek yang ada dihatinya, yang selama ini ia simpan begitu rapat.
Sementara pak Tama, ia hanya bisa memejamkan matanya, dengan mengepalkan tangannya erat.
Sungguh ini baru pertama kali ia melihat putrinya itu bertingkah seperti itu, berbicara menggunakan nada tinggi padanya.
Padahal selama ini putrinya itu tidak pernah berbicara menggunakan nada tinggi padanya, meski kerap kali putrinya itu menggunakan nada dingin dan menggunakan bahasa formal ketika bertemu dengannya.
Tapi sekarang? Entahlah, mungkinkah hal ini disebabkan oleh dirinya sendiri yang tidak pernah perduli pada putri kecilnya.
Putri kecilnya? Ah ya, dia baru ingat bahwa dulu ia sering memperlakukan Senja seperti putri kecil, dan dulu ia masih memanggil putrinya itu dengan sebutan princess, meski putrinya itu sudah menginjak bangku SMA.
Tapi semenjak, ia berselingkuh dengan salah satu karyawan di perusahaan nya, ia sudah melupakan kenangan manisnya bersama putrinya itu.
Ya, dulu istri sirinya itu adalah salah satu karyawan di perusahaan nya.
Dan Sarah pun selalu berusaha menggodanya, sehingga lambat laun ia pun tergoda dengan wanita bernama Sarah itu, yang kini sudah menjadi istri sirinya.
Karena tak sanggup melihat putrinya itu rapuh, pak Tama pun memilih untuk meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Senja yang melihat ayahnya pergi dari rumahnya, pun langsung mendudukkan dirinya di atas sofa yang ada diruang tengah.
Senja pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia pun menangis sejadi-jadinya.
Hingga ia merasakan ada sebuah tangan yang membawanya ke dekapan seseorang.
Orang itu pun mengelus rambut hitam gelombang nya.
"Menangis lah, keluarkan semua yang menyesakkan dada mu," bisik William.
Ya, orang itu adalah William. Sebenarnya tadi ia sudah berada tak jauh dari ruang tengah.
William pun tak ingin ikut campur masalah anak dan ayah itu. Jadi sebab itu ia lebih memilih memantau Senja dari dapur.
Lantaran letak dapur dan ruang tengah tidak jauh.
Mendengar bisikan William, Senja pun memeluk tubuh kekar suaminya itu dan menangis sejadi-jadinya, sehingga membasahi kemeja yang dipakai oleh suaminya itu.
...###...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Oh ya, guys klo kalian punya akun wat***ad follow akun ku yuk, nama pena nya sama kok kaya disini yakini anowmuri3__ heheh
Thanks and happy reading 😘
.
gmna rasanya d selingkuhi enak kan
itu lah yg d rasakan ibu nya senja..