Tuhan mempertemukan dua insan untuk saling belajar atau mengajarkan , entah akan menjadi yang terpenting atau hanya sekedarnya, tak ada yang tahu dan tak ada yang sia sia karna Allah lah yang mempertemukan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idtx_x, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Samuel baru saja menapakkan kaki di Basecamp sekretariat BEM, bahkan ia belum meletakkan tas dipunggungnya, dan belum sempat mengambil napas dengan tenang, seseorang menepuk pundaknya.
“Safari Ramadhan diadakan di Pesantren. Gimana menurut lo?” Fathur mengambil tempat duduk disamping meja komputer lalu mendudukinya.
Samuel menggaruk kepalanya yang tak gatal, nampak guratan-guratan letih di wajahnya, “Izinin gue napas dulu, baru bahas proker. ” Ia merebahkan diri di karpet dengan menjadikan ranselnya bantalan untuk menyanggah kepala.
Tak butuh waktu lama, laki-laki itu sudah tertidur pulas. Matanya tertutup rapat, dan terdengar suara dengkuran halus.
Fathur menatap rekannya prihatin.
Samuel memang selalu seperti itu. Tidur dimanapun dan kapanpun, tanpa tahu tempat dan situasi.
“Kebo banget emang.”
Fathur hendak meninggalkan Basecamp, namun ia berpapasan dengan Vika yang hendak masuk. “Eh, Thur, lihat Samuel nggak?”
Laki-laki itu menelengkan kepalanya, memberikan arahan pada Vika, “Di dalam. Lagi ngebo.”
Vika tertawa. Ia paham maksud ucapan Fathur. Yang dimaksud ngebo adalah tidur. Istilah itu adalah istilah legend yang sering mereka gunakan di Basecamp. Dan yang paling sering mendapat julukan dengan istilah itu adalah Samuel.
Vika memasuki Basecamp dan mendapati Samuel yang sedang tidur meringkuk di pojokan. Ia mendekati laki-laki tersebut. Dipandanginya wajah polos Samuel saat tertidur, begitu tenang dan damai. Hanya disaat seperti ini wajah Samuel terlihat lugu, seperti bayi yang belum tahu menahu kehidupan. Setelah bangun nanti, wajah lugu tersebut akan berubah menjadi tegas dan slengean.
Vika mengamati setiap inci wajah Samuel. Pahatan-pahatan indah itu memaksa matanya untuk terus memperhatikan. Hidung mancung, alis tebal, bulu mata yang begitu lentik, dan kelopak mata yang terlihat indah, semua itu menumbuhkan pesona tersendiri untuk laki-laki dihadapannya kini.
“Gue ngerasa ganteng banget diperhatiin kayak gitu.”
Vika berjengit kaget. Bahkan punggung gadis itu hampir menubruk tembok karena reaksi refleksnya. Ia mengira Samuel benar-benar tidur.
Samuel membuka matanya. Senyum jail dengan smirk mengejek terbit dari wajah laki-laki itu, membuat muka Vika merah padam karena malu sudah tertangkap basah memperhatikan bocah tengik semacam Samuel.
“Lo..sejak kapan bangun?”
Samuel bangun dan mengambil posisi duduk yang nyaman.
“Sejak lo baru masuk.” Ucapnya polos.
Vika melongo. Bahkan Samuel sampai khawatir lalat akan masuk dengan bebas ke mulutnya.
“Kenapa lo pura-pura tidur?!” Vika berteriak tak santai.
Refleks Samuel menutup kedua telinganya karena kaget, “Ebuset, santai aja kali nggak usah ngegas. Ini gue yang merasa diuntit saat tidur, tapi malah lo yang galak.”
Vika menimpuk kepala Samuel menggunakan toothbag miliknya, membuat laki-laki itu mengaduh. Setelahnya Vika tak mengucapkan sepatah katapun lagi lalu melenggang begitu saja keluar dari Basecamp tanpa berpamitan dengan Samuel.
“Naksir kan lo sama gue?!” Samuel berteriak menggoda Vika yang wajahnya sudah merah padam seperti ketumpahan saus tomat seember.
Vika masih tak menjawab. Gadis itu menutup pintu dengan kasar hingga bunyi bedebum terdengar di ruangan yang sepi. Samuel tertawa melihat reaksi gadis itu. Vika selalu saja lucu ketika sedang malu-malu.
\*
“Jadi gue udah nentuin tempat yang akan kita kunjungi untuk safari ramadhan tahun ini. Kita bakalan adain di Pesantren.
Tempatnya cukup strategis, tidak begitu jauh dari Kampus. Jadi buat teman-teman yang tidak memiliki kendaraan, bisa naik mobil BEM semua, berhimpit-himpitan nggak papa, kan nggak jauh. Fathur mengakhiri kalimatnya dengan tawa cekikikan yang dibalas dengan hujatan oleh beberapa anggota perempuan.
Sore ini, seluruh warga BEM menggelar rapat untuk pengadaan proker tahunan yang rutin mereka jalankan. Kali ini, sasaran kegiatan Safari Ramadhan direncanakan akan diselenggarakan di Pesantren yang terletak di Depok.
Berbeda dengan safari ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang diadakan di Panti Asuhan, kali ini anggota BEM periode 2019/2020, mencoba untuk mengusung ide baru. Dan ide itu diusulkan oleh si Ketua BEM alias Fathur.
Safari Ramadhan berisi kegiatan-kegiatan amal yang diselenggarakan oleh BEM. Kegiatan itu bisa berupa bazar, lomba-lomba keagamaan, sampai bagi-bagi takjil gratis untuk yatim piatu dan kaum dhuafa. Safari Ramadhan biasanya berlangsung selama 3-4 hari. Selain beberapa kegiatan diatas, ada beberapa kegiatan tambahan yang menambah keseruan. Seperti menginap di lokasi kegiatan dan mengikuti beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak dalam.
“Instruksi!” Samuel mengangkat tangan hendak memberi pendapat.
“Kalau di Pesantren, apa teman-teman yang non-muslim tidak keberatan?”
Vika dan beberapa rekan non-muslim yang lain serempak menggeleng. “Kita justru seneng. Sekali-kali dong BEM out of box.” Ucap gadis itu.
Samuel mengangguk-angguk paham, “Gimana sama akses izinnya? Apa tidak sulit? Biasanya Pesantren memiliki jadwal belajar yang padat, apalagi di bulan Ramadhan begini.”
“Untuk masalah perizinan, jangan khawatir. Gue punya Pak Lek disana yang bertanggung jawab sebagai salah satu pembina Pesantren. Dan saya juga sudah ngomong dengan beliau. Saat ini sedang nego dengan pemilik Pesantren. Nanti kalau sudah ada kejelasan saya sampaikan lagi, lalu kita langsung mulai menyusun proker.
” Fathur menjawab pertanyaan Samuel dengan percaya diri.
“Disana Pesantren formal atau gimana?” Pertanyaan itu berasal dari Indri, gadis asal Sorong, Papua.
“Oke sepertinya saya perlu menjelaskan detail Pesantrennya agar teman-teman tidak perlu menebak-nebak. Jadi, disana itu Pesantren formal. Tapi waktu belajarnya dibagi. Pagi sampai siang mereka belajar pelajaran formal sesuai tingkatan Sekolah, sore sampai malam, mereka diwajibkan untuk menelaah ilmu-ilmu agama, seperti memepelajari hadits, menghapal Qur’an, belajar ilmu tajwid dan masih banyak lagi.
Dan ya, disana itu sebenarnya bukan hanya sekedar Pesantren, tapi juga rumah singgah bagi anak-anak yatim. Atau istilah lainnya Panti Asuhan berbalut Pesantren. Disana lebih mengutamakan siswa yang yatim piatu atau tidak memiliki tempat tinggal.” Seluruh peserta rapat manggut-manggut paham dengan penjelasan Fathur.
“Oke Pak Ketua, saya setuju. Besok eksekusi.” Samuel berdiri dengan semangat.
“Lo jangan seneng eksekusinya doang. Lo malam ini harus begadang nyusun proker!”
Ucapan Fathur membuat semangat Samuel jadi melorot. Laki-laki itu memasang tampang memelas, seperti anak kucing jalanan yang ditinggal mati induknya.
“Lo tenang aja, sekretaris bakalan ikut andil. Kita kerja sama sama.” Vika berusaha mengembalikan semangat rekannya, yang disambut dengan tawa girang Samuel yang seolah-olah mengejek Fathur.
Fathur nampak sebal, “Nggak asik lo, Vik. Nggak bisa apa sekali aja biarin tuh anak menderita.”
“Barangsiapa yang mempersulit orang lain, maka Allah akan mempersulitnya pada hari Kiamat.” Samuel berkata jumawa.
“Gayaan lo, sok hafal hadits. Dhoif bukan tuh?”
Sesaat ruang Sekretariat dipenuhi oleh suara percekcokan antara Samuel dan Fathur. Kedua-duanya tidak ada yang mau mengalah. Padahal rapat belum ditutup. Seluruh peserta mahfum dengan sifat kekanakan keduanya. Pemandangan seperti itu sudah menjadi hal biasa yang terjadi. Bukan hanya sekali dua kali, tapi hampir setiap hari. Samuel dan Fathur selalu memiliki topik yang dijadikan bahan percekcokan. Jika orang luar melihat kelakuan mereka, maka mereka akan meragukan kemampuan keduanya mengayomi seluruh Mahasiswa di Guna Dharma. Tapi nyatanya, dalam menjalankan tugas, mereka selalu menjadi partner yang ideal. Seluruh tugas dapat mereka selesaikan dengan baik, tanpa terkecuali.