Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sad tidings
"Ada yang ingin ku bicarakan lumina."
Lumina meneliti dengan seksama dan kembali duduk di samping nya.
"Tentang hal apa?"
"Ini tentang ayah mu."
"Tunggu, ada apa dengan ayah ku Nancy?"
Lumina bertanya dengan sedikit was-was takut akan hal buruk yang akan terjadi pada ayah nya.
"Tenanglah dulu nak, tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada ayah mu. Aku hanya ingin memberi tahu jika pekan depan ayahnu akan di kembalikan ke desanya."
Nancy berujar dengan pelan karena menangkap sedikit rasa gelisah di mata gadis itu.
"Maksudmu ke Biertan, tapi kenapa terkesan buru-buru. lagi pula ayah juga tidak memberi tahu ku."
Lumina berkata dengan nada lesu dan sedikit rasa kecewa, ia menyayangkan ayah nya yang akan pergi meninggalkan nya. Di sisi lain iya juga merasa bahagia karena Philips bisa kembali ke rumah mereka, tapi di sisi lain ia juga merasa sedih karena sebentar lagi ia akan sendirian.
Lumina yang merasakan hal itu sedikit terisak dan merasa sesak.
Nancy menangkap akan kesedihan gadis itu segera menggapai tangan nya dan menepuk dengan pelan.
"Tenang lah Lumina, aku pun juga baru di beri tau akan hal ini, entah atas dasar apa tuan Louis memulangkan ayah mu. Tapi kau tenang saja nak, kudengar ayahmu akan di jadikan kepala desa di sana. Kau tidak perlu khawatir, kehidupannya akan tetap terjamin disana."
Lumina yang mendengar hal itu tetap merasa sesak, ia enggan menerima keputusan itu dengan cepat bagi nya keputusan Louis cukup meninggalkan pertanyaan besar baginya. Ia merasa Louis sengaja melakukan hal ini, karena beberapa waktu lalu ia telah membuat masalah dengannya.
"Aku ingin menemui ayahku."
"Tunggu, jangan menemui ayahmu tanpa ijin dari tuan, dan lagi pula tempat itu cukup jauh dari sini. Akan memakan waktu setidak nya stengah hari untuk sampai di sana nak. lagi pula beberapa hari lagi ayahmu akan kembali dari tempat itu untuk sementara waktu bersabarlah dulu."
Lumina yang tidak ada pilihan lain hanya menimpalinya dengan anggukan kecil. Ia bergegas pergi ke dapur untuk membersihkan kekacauan yang ada.
Malam harinya Lumina berada di dalam kamar Sarah, ia membaca buku menggunakan penerangan dari sebatang lilin.
Sarah yang melihat hal itu hanya mengelengkan kepala, ia sedikit penasaran kenapa Lumina lebih sering menghabiskan waktu nya untuk sebuah buku. Padahal dari pada buku ada hal yang lebih berguna seperti tidur atau merawat diri.
"Apa kau tidak merasa bosan akan buku itu?
kulihat kau lebih sering menghabis kan waktu mu untuk sebuah buku. Kenapa kau tidak gunakan waktu senggang mu untuk beristirahat atau bersenang senang lumina?"
Lumina yang mendengar hal itu hanya menimpalinya dengan gedikan bahu ringan.
"Buku satu-satu nya hal yang membuat ku merasa terhibur Sarah."
Ia kembali akan kesibukannya, sedang Sarah yang mendengar itu hanya menimpalinya dengan acuh tanpa ada rasa tertarik. Saat ia membuka halaman dan membaca kata-kata yang membahas akan darah, ia teringat akan kejadian ganjil tadi pagi yang ia temukan di kamar tuannya. Dengan pelan dan hati-hati ia bertanya pada Sarah, Lumina mengatakannya stengah berbisik takut jika ada seseorang yang mendengar.
"Sarah, apa kau pernah membersihkan kamar tuan Louis?"
Sarah yang mendengar itu menjawab dengan santai.
"Tidak, aku tidak pernah membersihkan kamar nya. Aku hanya membersihkan kamar lain itu pun hanya beberapa kali. Kau tau aku masih baru disini Lumina, dan aku baru pertama kali ini bertemu dengan tuan Louis."
Lumina yang mendengarnya mengangguk kan kepala, ia beringsut mendekat pada Sarah dan bebisik tepat di telinga nya.
"Tadi saat aku membersihkan kamar tuan Louis, aku menemukan noda darahh, dan darah itu masih baru."
Lumina mengatakan hal tersebut dengan sangat lirih hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.
Sarah yang mendengar hal tersebut seketika terdiam begidik ngeri, ia teringat akan desas desus yang ia dengar dari para pekerja lain.
"Darahh ... benar yang kau temukan itu darah?"
"Iya. Aku memeriksanya secara langsung, dan saat aku membersihkan noda itu tuan Louis memergoki ku, tapi dia diam dan tak merasa curiga" sahut lumina dengan nada meyakinkan.
"Lumina apa kau pernah mendengar desas desus aneh tentang istana ini? aku mendengar dari beberapa pekerja lain kalau istana ini berhantu, ada iblis yang menghuni tempat ini. Kudengar iblis itu akan keluar saat malah hari, dan pada malam bulan purnama pernah ada pelayan yang melihat wujud nya secara langsung."
Lumina yang mendengar itu mulai tertarik dan terus mengorek informasi dari Sarah.
"Lalu apa yang terjadi?"