Alex patah hati karena wanita yang ia incar ternyata lebih memilih rival bisnisnya. Membuat pria ini putus asa dan memilih melampiaskan kesedihannya dengan minum minuman keras.
Dalam keadaan terpuruk, tak sengaja Alex bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan wanita yang ia sukai.
Sayangnya kesalahpahaman sering terjadi di antara mereka. Meski begitu, tak dipungkiri bahwa Alex sebenarnya juga menyukai gadis itu.
Akankah Alex mampu merebut hati si gadis penolong? Ataukah malah menghindarinya gara-gara gadis itu berwajah mirip dengan wanita yang dia suka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepuasan Alex, Derita Emma
Apa yang dipikirkan Emma ternyata benar adanya, Alex memang licik. Ia akan melakukan berbagai cara untuk mengubah pikiran Emma terhadap dirinya.
Namun, sejauh ini Alex tidak berhasil. Gadis itu begitu kekeh enggan menerima uang darinya. Ditambah, ia juga begitu kekeh tak mau mengakui bahwa dirinya pintar dan kaya.
"Gimana ya caranya bikin ni cewek tahluk dan mengakui betapa cerdas dan kayanya diriku," gumam Alex sembari menatap layar laptop yang ada di depannya.
"Ha, akan ku kerjain dia," ucap Alex sembari mencari ponselnya dan segera menghubungi gadis itu. Rasanya harinya merasa kurang kalau tidak membuat Emma kesal.
"Ya, ada apa?" tanya Emma ketus.
"Dih, sama bosnya ketus. Sini naik, aku butuh sesuatu!" ucap Alex sok tidak punya masalah.
"Kamu bukan bosku, hanya kebetulan saja kamu adalah cucu dari bosku. Jadi nggak pengaruh apapun buatku," jawab Emma ketus.
Di atas sana, Alex tersenyum. Bener apa yang ia pikirkan, bahwa kekesalan Emma adalah sumber kebahagiaannya.
Emma tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang Alex inginkan. Setelah mendapatkan izin dari keamanan di sana, Emma pun masuk ke dalam gedung perkantoran milik tuan muda arogan itu.
"Ada apa?" tanya Emma, tanpa basa basi.
"Dih, dia sewot. Jangan begitu, nanti cepat tua. Mau dipanggil Oma Emma?" canda Alex, sayangnya Emma malas meladeni candaan itu. Gadis manis ini hanya diam, membungkam rapat mulutnya agar emosinya tidak meledak ketika meladeni pria menjengkelkan ini.
"Sini, aku kasih kerjaan. Nanti aku kasih cuan, biar kamu semangat kerja sama aku," ucap Alex, sengaja memancing emosi Emma.
Emma melangkah mendekati Alex, lalu ia pun kembali bertanya. "Kerja apaan?" tanya Emma.
"Bisa mengoperasikan laptop kan?" tanya Alex.
"Tidak, pegeng pun belum pernah!" jawab Emma, berbohong. Dia sengaja agar Alex tidak memintanya bekerja di sini. Emma sangat malas kerja hanya duduk saja.
"Hah? Hari gini, masih ada orang yang nggak bisa mengoperasikan komputer. Heee.. nona kamu hidup di jaman apa?" tanya Alex dengan tawa khasnya.
"Saya tidak peduli dengen ocehan anda. Saya sudah bilang bukan, bahwa saya akan menolak pekerjaan yang tidak saya kehendaki. Dan anda, silakan anda kerjakan sendiri. Saya nggak mau jadi boneka anda," Jawab Emma tegas. Tak lupa tatapan penuh permusuhan juga ia sematkan untuk menggebrak pertahanan seorang Alex.
"Kamu bandel juga rupanya ya, bagaimana jika aku membuatmu di pecat oleh oma. Rasanya akan menyenangkan," ucap Alex, mencoba mengancam Emma.
"Lakukan saja, saya pun tidak akan pusing kehilangan pekerjaan ini. Toh saya juga tidak punya hutang, baik padamu atau pada oma. Jadi tidak masalah jika aku pergi," Jawab Emma, tak mau kalah.
Lagi-lagi Alex kalah telak. Ternyata Emma sangat cerdas dari apa yang ia perkirakan selama ini.
"Kamu tu makan apa sih? Selalu saja bisa jawab omongaku. Ahhh, sudah sekarang kau duduk diam di situ. Jangan ke mana-mana!" ucap Alex, akhirnya menyerah.
Emma tersenyum dalam hati. Sebab ia masih menang melawan pria penjajah itu. Dan sampai kapanpun Emma berjanji tidak akan pernah menyerah melawan pria arogan itu.
***
Hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Alex masih berkutat dengan pekerjaannya. Rasanya lelah sekali menunggu pria itu menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan Emma bertanya dalam hati, apa sih yang di kerjakan Owlh pria itu.
"Tidakkah anda lelah seharian hanya melihat benda kotak itu?" tanya Emma kesal.
"Aku nggak boleh lelah, kalo lelah gimana aku gaji mereka? Lalu gimana mereka mau makan, mau bayar sekolah anak-anak,bayar kontrakan dan keperluan yang lain," jawab Alex, santai dan masih fokus pada layar laptop yang ada di depannya.
Jawaban Yang cukup membuat Emma menemukan sosok lain dari dalam diri seorang Alex.
"Iya, tapi menunggumu selesai aku lelah. Seharian cuma duduk makan duduk makan, minum kopi, udah," ucap Emma merajuk.
"Siapa suruh, harusnya kamu tadi sapu pel aja ruangan ini."
"Ih, jika di rumah, saya bisa mengerjakan semua pekerjaan itu. Masak dan melakukan apapun tugas yang diberikan Oma. Dari pada di sini, menyebalkan sekali. Kenapa sih anda nggak minta di antar jemput aja, jadi saya kan nggak boring duduk-duduk nggak jelas gini!" ucap Emma, kesal.
"Enak aja, aku kan sengaja mau bikin kamu bosan, lalu mengundurkan diri dari kerjaan. Dan jika itu terjadi, maka kamu kalah dalam pertempuran ini," ucap Alex sembari mematikan laptop miliknya.
"Dih, dasar gila!" gumam Emma kesal.
"Kamu kalo mau mengumpat, mengumpat aja. Nggak usah dipendam dalam hati. Ntar darah tinggi tahu rasa," ucap Alex sembari meraih tas kerjanya dan menyerahkan itu pada Emma.
"Besok jangan meminta saya jadi asisten anda, saya ogah."
"Kamu nggak akan bisa nolak, camkan itu. Ohh, aku lapar, sampai apartemen kamu harus masak untukku, yang enak ya!" ucap Alex sok tak berdosa.
"Ya Tuhan, kenapa harus saya. Kan katanya cuma seharian. Ini udah lebih dari sehari, Pak. Anda bener-bener. Sumpah!"
"Pegawai dilarang membantah bos. Siapa Bosnya di sini? Aku kan?"
"Tau lah!"
"Jangan cemberut, nanti cepat keriput! mau keriput?"
"Entah!"
"Yo kita ke surpermarket, kita cari bahan makanan. Tak sabar aku ingin membuatmu naik darah!" ucap Alex sengaja.
"Dasar pria gila!" umpat Emma lirih dan umpatan itu terdengar sangat manis di telinga Alex. Sehingga pria itu tertawa meski lirih. Setidaknya hari ini dia puas membuat musuhnya ini kesal.
Bersambung...
kog malah muncul masalah baru,...
lanjut crazy up gtu kak😊