Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.
Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.
Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.
Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan
Suster Rina membantu Lia untuk duduk kembali di ranjangnya dan mengenakan pakaiannya yang bersih, tak lupa ia juga merapikan rambut Lia dan mengikatnya menjadi satu. Suster Rina sudah menganggap Lia seperti adiknya sendiri, ia merawatnya dengan sangat baik.
"Seandainya saja aku bisa membawamu pulang, aku pasti akan merawatmu dengan lebih baik lagi. Aku akan memakaikanmu pakaian yang bagus dan merawat kulitmu dengan skincare." gumam suster Rina pelan.
"Aku tahu semuanya memang berat untuk dilalui." bisik suster Rina. Ia menghela nafasnya perlahan.
"Aku pun dulu rasanya ingin bunuh diri saja. Sudah tidak ada yang bisa kuharapkan lagi. Orang yang kuharapkan menjadi masa depanku pun malah meninggalkanku padahal aku bisa mengalami semuanya karna berusaha menolongnya." Suara suster Rina terdengar bergetar, matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Kamu pasti berpikir 'Mengapa semuanya ini terjadi kepada diri kita? Mengapa tidak terjadi pada orang lain saja?' Aku pun begitu, bahkan berkali-kali aku marah kepada Tuhan, padahal aku merasa sudah taat beribadah kepada-Nya, tapi mengapa Tuhan tidak menolongku saat itu?" ungkap suster Rina. Perlahan air matanya menetes tapi buru-buru ia menghapusnya.
"Maaf!" seru suster Rina, ia tertawa kecil.
Suster Rina menatap Lia dengan seksama, Lia hanya terus terdiam, pandangannya kosong. Perlahan suster Rina meraih tangan Lia dan menggenggamnya dengan lembut.
"Kali ini kamu harus sembuh ya, Lia! Tidak adil rasanya melihatmu harus terkurung di sini seumur hidup. Di luar sana masih banyak hal baik yang menunggumu." Suster Rina membelai rambut Lia dengan lembut.
"Aku bisa melaluinya, aku yakin kamu juga pasti bisa melalui semuanya ini!"
...
Dokter Adi membuka matanya perlahan, ia mengalihkan pandangannya ke jendela yang ada di kamarnya, langit sudah tampak mulai gelap, ia melirik ke jamnya yang tergantung di dinding.
"Lima empat lima.." gumamnya pelan. Perlahan ia menegakkan tubuhnya dan kemudian beranjak dari tempat tidur.
Dokter Adi berjalan perlahan menuju dapur untuk memeriksa isi lemari pendinginnya. Miris! Hanya ada air mineral di dalam lemari pendinginnya, padahal cacing dalam perutnya sudah berteriak. Sejenak ia tampak memikirkan sesuatu, lalu sesaat kemudian ia beranjak untuk mengambil ponselnya. ia mengutak atik ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo." sapanya pelan.
"Tunggu aku di sana, aku akan menjemputmu." ucapnya.
"Pokoknya tunggu! Aku akan segera ke sana!" serunya. Setelah memutus panggilan pada ponselnya, dokter Adi bergegas mengganti pakaiannya lalu pergi meninggalkan rumah.
...
"Hmm.. dasar pemaksa!" gerutu suster Rina pelan. Ia mengemasi barang-barangnya ke dalam ransel dan berjalan menuju gerbang utama rumah sakit. Karena terburu-buru, suster Rina melewatkan kebiasaannya memeriksa pasien spesialnya sebelum meninggalkan rumah sakit.
Suster Rina menunggu seseorang di mini market yang tak jauh dari rumah sakit. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Dina..!" sapanya lembut.
"Mama pulang terlambat ya hari ini, kamu panaskan saja makanan yang sudah mama masak tadi pagi." jelasnya. Suster Rina duduk di kursi yang ada di depan mini market itu.
"Love you sayang!" ucapnya mengakhiri perbincanganya dengan Dina. Setelah memutuskan panggilan itu, suster Rina menaruh kembali ponselnya ke dalam saku.
Cukup lama suster Rina menunggu seseorang itu sampai akhirnya sebuah mobil berwarna maroon berhenti tepat di depan mini market itu, begitu melihat mobil tersebut suster Rina langsung mengenalinya. Seseorang keluar dari mobil maroon tersebut yang ternyata adalah dokter Adi.
"Hai sayang!" sapa dokter Adi, ia menebar senyumnya.
"Hmm!" Suster Rina membalasnya dengan ketus.
"Terima kasih ya kamu sudah mau menungguku." ucap dokter Adi. Ia berusaha meraih tangan suster Rina untuk menggandengnya tapi suster Rina mengelak, ia bergegas masuk ke dalam mobil agar dokter Adi tidak mengulangi perbuatannya itu, dan dokter Adi hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kamu tahu tempat makan yang enak di sekitar sini?" tanya dokter Adi.
"Hmm.. aku ga gitu tahu, aku lebih sering makan di rumah." jawab suster Rina.
"Bagaimana kalau kita makan di rumahmu saja? Kamu buatkan aku makanan yang enak!" saran dokter Adi
"Tidak! Jangan!" tolak suster Rina. Suara suster Rina terdengar cukup keras hingga membuat dokter Adi tersentak. Dokter Adi menatap suster Rina dengan seksama kemudian menghela nafas panjang berkali-kali. Seketika suasana menjadi sangat canggung.
"Kita makan di rumahmu saja!" ucap suster Rina akhirnya.
"Hah?!" Dokter Adi tampak sangat terkejut.
"Kalau harus masak dulu akan memakan waktu lama, lebih baik kita beli makanan di luar lalu makan di rumahmu saja." saran suster Rina.
"Setuju!" seru dokter Adi. Ia tampak sangat senang dan antusias.
Akhirnya mereka membeli makanan di salah satu restoran cepat saji dan segera melaju ke rumah.
"Selamat datang di istanaku." seru dokter Adi begitu tiba di depan rumahnya. Ia membukakan pintu utama rumahnya dan mempersilahkan suster Rina untuk masuk. Suster Rina duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah itu. Rumah itu tampak lapang karena tidak begitu banyak barang yang ada di dalamnya.
"Ini rumah milikmu atau kamu kontrak?" tanya d
suster Rina.
"Aku beli sebulan sebelum pindah ke sini." jawab dokter Adi sambil sibuk mempersiapkan peralatan makan.
"Memangnya kamu mau menetap di sini?" tanya suster Rina lagi. Dokter Adi keluar dari dapur dengan membawa beberapa peralatan makan.
"Awalnya aku tidak yakin mau menetap di sini atau tidak." ucapnya pelan. Dokter Adi duduk berhadapan dengan suster Rina.
"Tapi entah kenapa ada perasaan yang mendorongku untuk membeli rumah di sini. Ternyata ada kamu di sini!" ungkapnya. Ia tersenyum lebar.
"Apa hubungannya denganku?" tukas suster Rina.
"Karna ada kamu di sini, aku jadi mantap untuk menetap." Dokter Adi tersenyum lebar sambil menatap suster Rina.
Mereka mulai menyantap makanan yang mereka beli tadi. Dokter Adi tampak sangat senang bisa menyantap makanan bersama suster Rina setelah terpisah belasan tahun lamanya.
"Kamu tahu tentang keluarganya Lia?" tanya dokter Adi yang tiba-tiba saja teringat pasiennya itu.
"Aku pernah bertemu dengan mereka. Dulu ketika awal-awal Lia dirawat mereka beberapa kali datang mengunjungi tapi setelah itu mereka tidak pernah datang lagi." ungkap suster Rina.
"Tapi mereka tidak pernah terlambat membayar tagihan rumah sakit setiap bulannya." tambahnya.
"Hmm. Kamu tau kenapa mereka tidak pernah mengunjunginya lagi?" tanya dokter Adi lagi. Suster Rina menggeleng.
"Aku ga tahu. Mungkin karena setiap mereka datang mengunjungi Lia selalu mengamuk meminta pulang." jawabnya.
"Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang keluarganya?" ucap suster Rina balik bertanya.
"Aku penasaran dengan keluarganya." jawab dokter Adi.
...
Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
benci dokter Adi 😡