Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10: Yura Selemah Alma
Wanita dengan wajah sedih, mata sembab dan merah itu menoleh sana-sini, seperti mencari Adli, tapi tidak kunjung ketemu. Menemukan Sean yang tidak tidur, Alma mendekati lelaki itu. Tatapannya terlihat sedih, lalu bertanya. "Mas Adli, kamu tahu dimana? Tadi sore dia bilang akan bermalam denganku lagi seperti sebelum-sebelumnya tapi kutunggu sampai tengah malam dia tidak kunjung datang."
Sean diam. Dia tahu di mana Adli, tapi menjawab di lokasi mana lelaki itu berada hanya akan membuat Yura resah dan bisa saja mengamuk.
Sean menggeleng, Yura terlihat kewalahan. Wanita itu menggigit bibir sambil mengusap perut. Kembali dia berkeliling. "Mungkin dia lagi keluar? Padahal sudah tengah malam kenapa dia tidak pulang." Yura mengusap sudut matanya yang basah. Wanita itu berdiri di teras, mengecek halaman dan garasi, semua mobil dan kendaraan masih terparkir rapi di tempatnya. Yura masuk kembali, berdiri menghadap Sean. "Kamu tahu 'kan di mana Mas Adli? Pasti tahu 'kan?"
Sean diam sejenak, tentu ragu untuk membeberkannya. Bisa jadi wanita ini gila karena tahu faktanya.
"Mungkin di kamar Alma—" raut wajah Yura langsung masam. "Maksudku, mungkin. Hanya menebak, aku tidak tahu." Sean buru-buru memotong. Begitu saja Yura langsung menyimpulkan apa yang Sean katakan benar.
Wanita itu tersenyum perih, "kalau begitu ... sepertinya aku tidak boleh menganggu mereka."
"Ra?" Sean mendesah merasa bersalah. Tak terduga respon Yura akan sebiasa itu. Di luar dugaan Sean sebelumnya wanita itu yang akan mengamuk lalu mengentak menuju kamar Alma untuk menuntut janji ke suaminya. Sikap Yura yang seperti itu mengingatkan Sean pada sikap Alma. "Begini, ya. Entah kenapa kamu dan Alma itu sama saja."
"Aku dan Alma sama saja? Kamu salah besar! Aku tidak secengeng perempuan itu!" Yura berteriak kesal.
"Kata siapa kamu tidak secengeng dan semenye-menye dia?" Sean mengangkat sebelah alis. Sangat geli saat mendengar bantahan Yura. "Suami kalian tidak adil, kalian malah diam saja."
Sean semakin menenggelamkan punggung ke sandaran sofa, napasnya terhembus perlahan. "Alma hanya bisa pasrah dan menangis, membiarkan suaminya terus mendatangimu dan tidak mendatanginya selama tiga bulan. Lalu kamu, saat suamimu itu ikut mendzalimimu, tindakanmu sebelas-duabelas dengan Alma, pasrah, diam saja, seakan rela diinjak-injak."
Sean terdengar kesal. "Nanti Adli akan semakin semena-mena dengan kalian. Setidaknya tunjukkan sedikit saja taring kalian sebagai perempuan. Agar Adli sadar, dia tidak boleh main-main."
"Aku butuh bantuan Adli, makanya aku tidak mungkin membantah atau menentangnya. Jika begitu, dia takkan mau membantuku." Yura menunduk sambil mengusap perut, seakan yang dia maksud berhubungan dengan anak ini.
"Bantuan? Maksudmu?" Sean terdengar tertarik.
"Bayi ini ...." Kalimat awal Yura membuat Sean ikut melirik perutnya, "butuh ayahnya, jadi aku tidak bisa membantah Adli."
"Apa hubungannya anakmu dan membantah Adli?" Sean terlihat bingung.
"Adli sebagai Ayah juga butuh anaknya, sekalipun kamu menyampaikan kebenaran pada Adli—kata lainnya menentangnya, Adli tidak akan meninggalkan darah-dagingnya."
"Kamu pikir Adli sebaik hati itu sampai-sampai mau menjadi ayah dari darah-daging orang lain tanpa timbal-balik?"
Penyampaian Yura membuat Sean termenung kaget. Sahutan Yura benar-benar di luar dugaan. "A-apa?"
Yura membuang muka, menyesal membuka aib. Wanita itu segera pergi meninggalkan Sean yang masih termangu. Helaan napas Sean terdengar kuat. Entah apa yang terjadi di rumah ini? Pengakuan mendadak Yura, perubahan sikap Adli dan skandalnya bersama Alma. Rasanya, Sean ingin bunuh diri dengan cara menggantung diri di tengah ruangan.
Sean mengucek kedua matanya. Waktunya untuk istirahat, orang-orang aneh di rumah ini benar-benar membebani pikirannya. Dimasukinya kamar yang ada di belakang punggungnya. Dibaringkannya tubuh ke ranjang dan memejamkan mata. Sialan, Adli. Lelaki itu tidak terduga. Bermalam di sini sehari saja, Sean sudah tahu banyak rahasia yang bahkan Alma tidak mengetahuinya.
>><<
Nyaris Subuh, bukan dengungan ayat suci yang membangunkan Adli, melainkan ruang kosong dalam dekapan dadanya yang tadinya dihimpit oleh tubuh Alma yang dia rengkuh. Adli bangun, berdecak, menggeram lalu matanya mencari Alma, mengitari seluruh ruangan dengan tatapan tidak sabar. Adli turun, tatapannya yang lurus tidak menunduk membuatnya tidak sadar Alma tidur di lantai, meringkuk kedinginan, hanya dimodali sebuah bantal kepala. "Kemana wanita itu? Alma—" Teriakan Adli terputus saat mendapati sang istri terbaring di lantai dengan kondisi memeluk tubuh. Adli mendengus, istrinya benar-benar menyebalkan. Melihat tingkahnya yang bebal itu, dendamnya tentu saja semakin menumpuk padanya.
Adli berjongkok di sebelah tubuh Alma, menepuk-nepuk pipi sang istri yang memejamkan mata. "Alma? Alma, bangun. Bangun, sayang. Alma. Astaga!" Adli menepuk jidat. Menyebalkan, desisnya. "Hei, Alma. Bangun. Siapa yang menyuruhnya tidur di bawah? Siapa yang menyuruhmu lari dari pelukanku?" Tak ada respon dari Alma, Adli menggeram. "Dasar menjengkelkan." Diangkatnya tubuh Alma lalu berlalu ke dalam kamar mandi. Ada bathub yang masih penuh oleh air jernih, Adli tanpa menimbang menceburkan Alma ke dalam genangan air sana. Lelaki itu menyeringai saat mendapati Alma sontak terbangun, wanita tersebut terbatuk-batuk dengan mata memerah.
"Akhirnya bangun juga kamu, ya?" Adli menangkup kedua pipi Alma yang wajahnya pias. Adli memasuki bak yang sama, menghadap sang istri kini Adli menggesek-gesekkan ujung hidung dan dahi mereka. Alma bisa merasakan kehangatan yang dia rindukan, kenapa lagi lelaki ini? Perubahan sikapnya benar-benar aneh. "Masih mengantuk?" Adli berbisik lirih, memastikan. Kepala Alma menggeleng, Adli nampak tersenyum. "Pagi ini, entah kenapa dengan wajah layumu kamu terlihat begitu cantik sekali ...." Bisikan Adli terdengar menggoda dan memanjakan. "Kamu tahu betapa aku menyukai wajahmu?"
Alma bisa merasakan tubuhnya gemetar. Posisi mereka mengingatkan insidennya yang terjadi dengan Sean. Hal itu membuat Alma semakin merasa bersalah dan salah tingkah. Apalagi dari cara Adli memeluk dan menghimpit, berikut sapuan-sapuan bibir lembutnya ke kening, dahi dan puncak hidung Alma. Adli terlihat begitu mendambakannya, setiap segi wajahnya dan tentu saja seluruh tubuhnya.
"Air ini cukup menyegarkan, ya?" Adli berbasa-basi, ditampungnya air di telapak tangan lalu membasuhnya ke wajah Alma, setelah itu kembali mengusap wajah basah istrinya. Adli mengendus rambut kepala Alma, hidungnya mengernyit. "Bau rambutmu tengik." Diambilnya lagi tampungan air lalu membasuhnya ke rambut kepala Alma, mengambil shampoo lalu membersihkan kepala 'tengik' istrinya. Setelah 'wangi' Adli bisa leluasa menciuminya, mengendusnya sesuka hati yang memanjakan hidung, mata dan bibirnya.
"Sehari berapa kali kamu mandi? Kenapa baumu bisa semasam ini?" Adli menarik lengan Alma ke atas, lalu mengendus sela lengan istrinya. Menurutnya bau. Sekalipun Alma tidak sebau yang dia katakan.
"Dua kali sehari ... seperti biasa."
"Bohong," Adli menuduh ketus. "Katakan saja kamu jarang mandi. Jika rajin mandi tidak mungkin sebau ini 'kan?" Indra penciuman Adli berpindah tempat ke ujung bahu, sela leher dan ke berikutnya. Lelaki itu meringis, "kamu bau sekali, jangan mengelak."
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊