"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Kemarahan.
Luka Nadia sudah sedikit sembuh. Dia meloncat kegirangan saat melihat mobil suami Posesifnya keluar dari halaman rumah mertuanya. Hari ini Rehan berniat tidak mau berangkat kerja. Dia beralasan ingin menjaganya.
Nadia mengancam akan meninggalkan Rehan kalau dia tidak segera berangkat kerja. Nadia beralasan dia tidak mau mempunyai suami yang kerjaannya hanya bermalas-malasan.
"Akhirnya aku bisa pergi ke caffe." Nadia melirik jam dinding rumah mertuanya sambil menghela nafas kasar. Ini tuh gara-gara Rehan, dia jadi kesiangan ke caffe.
Nadia berlari ke kamarnya, dia memilih memakai celana panjang berwarna biru dongker serta baju putih bertulis My Heart. Nadia merias wajahnya dengan make up tipis.
"Cantik." Nadia memuji dirinya sendiri sambil berdiri di depan cermin besar yang terletak di kamarnya.
Nadia meraih tas selempang dan heandponenya, dia menulis sesuatu di benda pipihnya.
To Melody
Aku OTW.
Nadia mengunci rumahnya, dia mengendarai mobil putih milik suaminya dengan kecepatan sedang. Jangan tanyakan berapa mobil Rehan sekarang? Lelaki itu memiliki banyak mobil yang terparkir rapi di garasi.
"Baru nyadar kalau suami aku kaya raya." Nadia terkikik pelan. Sebelum pergi Rehan sudah berpesan kepadanya agar tidak pergi kemana-mana dan beristirahat di rumah saja. Berhubung Nadia orangnya bandel, dia lebih memilih bertemu dengan sahabatnya di caffe.
Jalanan sedikit lenggang. Nadia sampai di caffe pukul 11.00 Wib.
Kaki jenjang Nadia memasuki caffe sambil bersenandung kecil.
"Aku kirain kamu nyasar ke rumah berondong." Melody terlihat sangat kesal. Dia sudah lumutan menunggu kedatangan Nadia. Sudah hampir 2 jam Melody di caffe ini, dan Nadia baru datang jam segini. Benar-benar tuh orang.
"Aku gak mau berondong, mereka gak punya uang. Aku maunya Om-om, kalau mereka mati, hartanya bisa buat aku." Nadia tertawa kecil. Dia tahu bahwa sahabatnya sedang marah sekarang.
"Aku traktir deh." Bujuk Nadia kepada Melody yang masih menekuk wajahnya.
"Mau gak?" Goda Nadia. Alis Nadia naik turun, dia tahu betul sifat Melody. Perempuan itu sangat suka dengan yang berbau gratisan. Selain ngirit, katanya uang jatah jajannya bisa dia belikan novel.
"Mentang-mentang sudah menjadi istri dari pengusaha kaya, sekarang main neraktir orang aja." Melody melipat kedua tangannya ke dada.
"Tapi mau kan?" Goda Nadia.
"Siapasih orang yang nolak gratisan?" Cengir Melody.
"Dasar Kamu."
***
Rehan tidak berangkat ke kantor. Melainkan dia sedang mengintai istrinya. Rehan tahu, caffe yang istrinya datangi adalah milih Danil Aditama. Caffe itu adalah salah satu cabang dari Caffe yang keluarga Danil miliki. Perusahaan yang mengarah ke kuliner itu berkerja sama dengan perusahaan perhotelannya.
"Sepertinya kamu ingin bermain-main dengan ku." Rehan menajamkan penglihatannya. Danil sedang tersenyum kepada istrinya.
"Jadi ini Cabang caffe mu, Nil?" Nadia tidak menyangka jika dia akan bertemu Danil di sini.
"Bukan, ini Cabang caffe milik keluarga ku. Aku hanya memiliki restoran yang dekat dengan perusahaan perhotelan milik suami mu." Nadia mengangguk. Dia tahu itu.
"Bagaimana karir mu sebagai seniman? Aku lihat di Instagram mu, kamu mendapat penghargaan atas karyamu ya?" Danil tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Wow keren. Kalau gitu selamat." Baru saja Nadia ingin menjaga tangan Danil, Rehan sudah menepisnya.
"Bisakah kamu tidak mengganggu istri orang?" Rehan menatap Danil penuh amarah.
"Kamu tahu dia sudah bersuami? Lalu untuk apa kamu masih mendekatinya?!" Bentak Rehan.
Brak...
Rehan menendang kursi di caffe itu. Dia menatap Melody Dan Danil bergantian.
"Kalian memang sahabatnya, tapi saya suaminya. Dan kamu Nad, tidak seharusnya kamu pergi tanpa seijin ku." Kali ini kemarahan Rehan tidak bisa di remehkan. Dia menarik kasar tangan Nadia.
"Pulang!!" Suruh Rehan dengan penuh penekanan. Mereka berempat sontak menjadi tontonan gratis semua pengunjung caffe.
"Gak mau!!" Nadia meringis pelan. Pergelangan tangannya terasa sakit.
"KAMU TULI? AKU BILANG PULANG YA PULANG!!" Nadia terjengkit kaget. Dia terisak pelan.
"Jangan kasar dong sama perempuan." Danil maju selangkah ke hadapan Rehan.
"Hak kamu apa? Berani-beraninya melarang saya. Dia istri saya, terserah saya mau berlaku kasar atau tidak kepada dia." Rehan menarik paksa Nadia keluar dari caffe. Dia mendorong tubuh Nadia hingga membentur belakang mobilnya.
"Kamu sadar kesalahan kamu? Kamu sudah punya suami, tapi tingkah kamu seperti ABG!!" Rehan menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Tingkah kekanakan-kanaka Nadia membuat bagian kepalanya pusing.
"Tidak seharusnya kamu bertemu dengan dia." Rehan mencengkram Stri mobilnya. Matanya menatap Nadia tajam.
"Aku tidak tahu kalau caffe itu milik Danil. Aku..."
"Aku, Aku apa? Jangan membuat alasan lagi. Aku sudah tidak percaya lagi sama kamu." Potong Rehan. Wajar saja dia marah kepada Nadia. Di depan Danil Nadia tersenyum manis, sedangkan di depannya?
Rehan tersenyum getir. Apa dia salah menikahnya? Tapi....
"Percaya atau tidak, aku..."
"Emppp..." Rehan ******* bibir Nadia dengan kasar. Dia tidak mau mendengar ocehan tidak beralasan dari bibir istrinya lagi.
Tautan bibir mereka terlepas disaat keduanya sudah kehabisan nafas. Nadia menghirup oksigen dengan rakus.
Plak...
Nadia menampar pipi Rehan. Dia keluar dari mobil Rehan dan masuk kedalam mobilnya sendiri.
"Arggg...," Erang Rehan, frustasi.
***
Melody merasa bersalah telah membuat masalah antara Nadia dan Rehan. Dia tidak tahu jika semuanya akan serumit ini.
"Rehan terlalu kasar kepada Nadia." Danil duduk di depan Melody yang sedang bingung memikirkan nasib pernikahan sahabatnya.
"Ini salah ku yang mengajak Nadia pergi tanpa meminta izin kepada Rehan. Aku menyamakan Nadia yang sekarang dengan yang dulu. Dulu aku bebas mengajak Nadia pergi kemanapun, tidak ada yang melarang. Tapi sekarang...." Melody menangis. Dia menyesali perbuatannya.
"Dia sudah bersuami. Aku melupakan hal itu. Bagaimana jika pernikahan mereka retak? Ini semua salah ku." Melody menangis tersendu-sendu.
Danil merasa iba melihat adik kelasnya menangis di depannya. Entah dapat dorongan dari mana, Danil berani memeluk tubuh Melody.
"Mereka sudah dewasa, mereka bukan anak kecil lagi. Percaya pada ku, rumah tangga mereka akan baik-baik saja." Danil mencoba menenangkan Melody yang sedang nangis.
***
Nadia memeluk batu nisan yang ada tulisan nama mamanya. Dia menangis dan mengadu kepada mamanya. Sekarang dia hancur.
"Ma, aku sudah tidak tahan berada di dunia ini. Sepertinya mati lebih baik dari pada hidup penuh dengan kesengsaraan." Nadia memejamkan matanya sejenak. Dia merindukan usapan tangan mamanya.
"Aku ingin mama kembali. Andai mama ada disisi ku, mungkin aku tidak akan sekesepian ini." Nadia meremas tanah merah di gundukan tanah mamanya.
"Aku kembali hancur karena laki-laki. Pertama aku hancur karena papa menikah lagi setelah mama meninggal. Kedua aku hancur di saat mencintai Danil, Tapi dia malah pergi begitu saja. Dan lagi-lagi aku hancur karena laki-laki. Rehan, dia berlaku kasar kepada ku." Nadia terisak di makam mamanya.
"Ma..." Nadia menaruh kepalanya di atas pusaran mamanya.
"Pulanglah nak, perbaiki semuanya." Nadia menatap wanita yang dia rindukan. Wanita itu memakai baju putih, seberkas senyum menghiasi bibirnya.
"Kembali kepada Nak Rehan, dia jodoh mu." Pesan Wanita itu. Wanita itu adalah Dina, Mama kandung Nadia.
"Jangan sampai kamu menyesal telah meninggalkan nya." Perlahan Dina menghilang. Nadia berlari mengejar mamanya.
"Ma, mama..." Nadia tertunduk dengan air mata membanjiri pipinya.
"Jangan beri aku pilihan ya Allah, tapi beri aku hal yang pasti. Hal yang bisa membuat ku tersenyum kembali seperti dulu." Nadia menatap nanar kepergian mamanya.