Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banana Makan Pisang
Karena hari sudah makin sore, pasar tradisional mungkin akan segera tutup sebentar lagi. Shasha cepat-cepat memilih sayuran dan ikan yang dibutuhkan.
"Itu anak sibuk banget pilih-pilih sayuran, ikan, segala macem. Seperti dia sendiri yang mau masak,"
"Ngapain ngambil yang ini? aku lagi gak mau masak ini, lho. Yang ini juga, nih, aku gak doyan makan ini. Apalagi yang ini bakalan ribet masaknya," protes Luthfie. Dia sampai sewot sendiri melihat kelakuan Shasha yang tengah memilih-milih belanjaan sesuka hatinya.
"Bawel amat, sih, tenang aja, deh, masaknya nnti aku bantuin, Kaka bayarin aja semuanya biar cepet, sebelum terlalu sore. Kita mau pulang jam berapa coba?"
"Ya, ya, ya. Terserah kamu deh, atur aja." Luthfie mengalah dan menuruti perkataan Shasha.
"Oh, ya. Beliin aku pisang dulu, ya, Kak, nanti uangnya aku ganti." Shasha menunjuk penjual pisang dengan jarinya.
"Kamu suka makan pisang? hahaha...."
"Kenapa emangnya? Pisang, kan enak."
"Ya gak apa-apa, sih," ucapnya pelan sambil senyum kecil. "Masa Banana makan pisang? Aneh." Luthfie berjalan menuju penjual buah pisang kesukaan Shasha sambil menggaruk kepalanya.
"Udah belum, Kak? Jangan lama-lama."
Luthfie berlari setelah selesai membayar satu sisir pisang.
"Udah, nih." Luthfie mengambil alih semua belanjaan dari tangan Shasha. "Loh, katanya harus buru-buru, kok, malah duduk di situ?" tanya Luthfie ketika Shasha tiba-tiba duduk karena merasa lelah.
"Bentar, kak, aku istirahat dulu," ucapnya sambil menghela napas.
"Kamu kenapa, cape? Aku gendong aja sampe depan, mau?"
"Udah bawa belanjaan segitu banyak, gimana bisa gendong aku."
"Kamu yang bawa belanjaan, aku yang gendong kamu, gimana?" Luthfie hanya bercanda.
"Hhaa, Ogah! Mending aku lari. Masih kuat, kok." Benar saja, Shasha lari seakan lupa dengan rasa lelahnya. Dia hanya sedang berusaha melawan rasa lemas di tubuhnya karena belakangan membuatnya jadi pemalas.
"Eh, dia lari. Gak tahu apa aku repot bawa belanjaan. Dasar anak kecil."
Sampai di rumah ternyata sudah tak ada seorang pun para pekerja. Mereka pulang karena sore makin petang.
"Loh, mereka pada kemana, kok, gak ada?" tanya Luthfie seraya membawa belanjaannya ke dapur. Matanya berkeliling mencari-cari meski dia tahu orang-orang yang dia maksud memang tak ada di sana.
"Ya, pulanglah, Kak. Pastinya mereka tadi nunggu terlalu lama."
"Kalau gitu nanti abis salat aku telpon mereka. Kamu tunggu aku bentar ya, sambil duduk di sofa. Aku ambil tensimeter dulu." Jiwa seorang dokter-nya selalu penasaran jika melihat orang di depannya tidak terlihat normal. Dia segera datang lalu duduk sambil memasangkan manset di tangan kanan Shasha.
"Duduknya yang tegak, dong!" perintah Luthfie, sementara matanya menatap angka yang tertera di layar LCD.
"Emangnya, tinggal sama dokter itu harus diperiksa kesahatan tiap waktu? Supaya dokternya ada kerjaan, gitu, ya? Atau jangan-jangan ... kita mau dijadiin bahan percobaan lagi." Shasha tidak berhenti menggerutu.
"Tekanan darahnya normal kok, aku pikir kamu mengalami anemia," ucap Luthfie sambil mengerutkan keningnya.
"Aku emang gak kenapa-kenapa. Saat ini cuma gak selera makan aja, jadinya agak sedikitlemas, kadang merasa pusing dan cepat lelah, itu jelas karena aku telat makan."
"Kalau gitu, jangan telat makan lagi. Abis salat Ashar, masak lalu makan yang banyak."
"Oke." jawabnya cuek. Sambil menenteng tas sekolah, dia melangkah menuju kamarnya. Lalu, suara bariton itu kembali terdengar menghentikan gerakan Shasha yang ingin membuka pintu kamar.
"Tunggu! Sekarang itu menjadi kamarku."
"Oh, iya ya. I'm forget, dokter," jawab Shasha sambil menepuk jidatnya.
Dia lupa, hari ini kamarnya sudah dipindahkan ke lantai atas. Tanpa basa basi lagi, dia langsung naik. Selesai menaiki tangga, Shasha si pisang Lampung di buat takjub. Karena ruangan di atas sekarang nampak berbeda. Dinding dihiasi wallpaper yang sangat cantik, serta furniture yang sudah lama tak digunakan sekarang menjadi bersih lagi.
"By the way ... kamar aku yang mana, ya?" Pintu kamar dia buka satu persatu.
"Akhh... ternyata yang ini. Smua barang-barangku tertata rapi di sini,"
Shasha melihat lembar kertas ulangannya tergeletak di atas meja belajar. Sepertinya, seseorang sengaja meletakkannya di sana. "Wah, aku malu. Mereka semua pasti melihatnya." Shasha melempar kertas-kertas itu ke tempat sampah.
Selesei mandi dan salat, Shasha kembali turun ke dapur karena perutnya mulai merasakan lapar. Dilihatnya Luthfie tengah memotong-motong sayuran yang dibelinya di pasar.
"Loh... bukan kek gitu motongnya. Kalau kangkung, selain dipotong, batangnya juga harus dibelah. Terus cabe, kenapa gak dibuang dulu bijinya. Udahlah, biar aku aja yang masak." Luthfie hanya bengong sambil menaikan alis ketika melihat Shasha datang tiba-tiba langsung protes lalu mengambil pisau dari tangannya.
"Loh, malah bengong. Gak mau aku bantuin masak, ya?"
"Aku heran aja, tadi bilangnya kan gak bisa masak. Aku kira, chef Marinka yang datang komentarin cara aku masak."
"Aku emang gak bisa masak, tapi kalau bantuin tante Mira --masak--lumayan sering."
"Dasar Zubaedah, itu kan sama aja!"
"Aku sering bantuin tante Mira di rumah makannya, jadi tahulah sedikit cara-cara masak."
Shasha menyerahkan kantong berisi ikan pada Luthfie. "Cuciin, ikannya, dari pada bengong, bikin Zubaedah salah tingkah aja."
°
°
°
°
BERSAMBUNG....
Note :
*Sumber informasi by google