Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama di Rumah Raka
Ajeng mendapatkan sebuah kamar yang besar di lantai dua. Kamar itu sepertinya sudah disiapkan Bu Rika untuk ditempatinya bersama Gea. Tak menunggu lama, Ajeng pun mulai merapihkan baju dan barang bawaanya di kamar. Ketika dia hendak memasukkan baju bajunya ke dalam lemari. Dia terkejut di dalam lemari rupanya sudah banyak baju baju perempuan. Ajeng bertanya-tanya apakah baju ini untuknya atau memang ini baju milik anggota keluarga di rumah ini. Namun pertanyaan itu langsung terjawa ketika Ibu Rika masuk ke kamarnya.
"Saya sudah membeli beberapa baju untukmu di lemari. Pakailah itu!" ucap Bu Rika datang dengan tersenyum.
"Terimakasih Bu, harusnya ibu tidak perlu repot-repot membeli itu," kata Ajeng.
"Tidak itu hadiah kecil dari saya, dan ini ...." Bu Rika kemudian menyodorkan selembar kertas yang Ajeng tahu itu adalah selembar cek.
"Apa ini Bu?" tanya Ajeng.
" Gunakan ini untuk keperluan kamu, sesuai yang saya pernah katakan sebelumnya. Ini hadiah untukmu karena sudah mau mengurus Gea," kata Bu Rika sambil tersenyum.
Ajeng melongo. Ternyata Bu Rika memberinya uang dalam bentuk cek. Dan Ajeng sempat melihat 9 biji nol di belakang angka 1.
Satu Miliyar. Jumlah uang yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Namun Ajeng merasa itu terlalu berlebihan.
"Maaf bu, Ajeng tidak bisa menerima uang itu. Simpan saja Bu. Dan untuk keperluan Ajeng dan Gea selama di sini tidak mungkin sebesar itu," tolak Ajeng dengan bahasa yang halus.
"Tapi ini tidak seberapa dengan ketulusan kamu Jeng," kata Bu Rika heran melihat seorang anak muda yang tidak tertarik dengan uang sebesar itu.
"Maaf bu, saya kira uang itu tidak perlu. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Saya ikhlas merawat Gea," jawab Ajeng mencoba membuat Bu Rika paham dan mengerti. Ajeng tidak mau kalau dia menerima uang itu. Dia akan dianggap matrealistis.
Ibu Rika membuang napasnya dan mencoba menenangkan syarafnya. Kemudian dia nampak seperti berpikir.
"Kalau begitu, begini saja, Saya akan transfer tiap bulan untuk keperluan kamu. Bayar kuliah, jajan dan kebutuhan kamu per bulan." Bu Rika mencoba mencari alternatif lain.
"Itu juga saya rasa tidak perlu bu," jawab Ajeng membuat Bu Rika jadi tambah senewen karena Ajeng yang keras kepala.
"Terus bagaimana kamu mencukupi kebutuhan dan keperluan kamu?" tanya Bu Rika heran dengan sifat Ajeng itu.
" Saya kan kerja Bu. Mengajar di TK, lumayan cukup untuk keperluan sehari-sehari. Lagipula saya kan nanti menjadi menantu Ibu. Tentu saja nanti harusnya anak Ibu lah yang berkewajiban memberi nafkah ke saya. Bukan ibu," ucap Ajeng merasa tak enak hati.
"Oh ya, betul kalau begitu. Ya sudah nanti Raka saja yang akan memberi mu uang." Bu Rika nampaknya setuju dengan perkataan Ajeng barusan. Ajeng memaksa untuk tersenyum pada ibu calon mertuanya itu.
Bu Rika pun meninggalkan Ajeng di kamarnya. Sepeninggal calon mertuanya itu, Ajeng mengusap-usap keningnya yang memar. Sedikit sakit dan membuat dirinya malu di depan Raka.
Oh ya, mengingat Raka. Ajeng jadi penasaran bagaimana dengan kondisi Raka. Kemudian Ajeng pun keluar kamarnya.
Kamarnya terletak di samping kanan sebelah barat. Di lantai dua ini, ada beberapa ruangan yang Ajeng tidak tahu ruangan apa saja itu. Ajeng pun mulai memeriksa dan mencoba mencari tahu tiap sudut rumah ini. Dan yang menjadi penasaran Ajeng adalah foto keluarga rumah ini. Siapa suami Bu Rika dan berapa anaknya. Setahu dia ketika Raka melamarnya ke rumah. Hanya mengajak beberapa orang yang dia tahu itu adalah paman dan bibinya Raka. Dia tidak tahu papanya atau suaminya Bu Rika.
Ternyata tidak ada satu foto pun di lantai dua ini. Kemudian Ajeng pun turun ke lantai bawah. Di anak tangga Ajeng berpapasan dengan seorang perempuan yang masih belia yang masih berseragam sekolah. Sepertinya usianya sekitar lima belas tahun. Dia kaget melihat Ajeng.
"Hai dek!" sapa Ajeng. Dia berspekulasi pasti dia adiknya Raka.
Gadis itu tidak menjawab dia hanya memandangi Ajeng dari atas sampai bawah. Kemudian dengan tatapan sinis dia meninggalkan Ajeng tanpa sepatah kata pun. Ajeng bengong melihat dia yang tidak punya sopan santun sama sekali. Apakah itu sifat asli anak orang kaya. Tapi Ajeng tak mau menanggapinya. Mungkin saja dia belum terbiasa dengan keberadaanya dia di sini. Ajeng kemudian menuju ruang belakang. Dia yakin pasti di sanalah tempat dapur berada.
Ternyata memang benar dugaannya. Dapur itu cukup luas meja makan yang panjang nampak di depan dapur itu. Ajeng melihat ada beberapa orang yang sibuk mengobrol di dapur.
"Selamat siang semua!" sapa Ajeng.
"Siang Non, apa ada yang Non butuhkan ?" tanya seorang ibu-ibu berusia sama dengan bundanya bertanya.
"Oh tidak bu, saya hanya bosan di kamar, saya Ajeng bu kenalkan," ucap Ajeng menyodorkan tangannya.
Ibu-ibu itu mengelap tangannya dengan celemek yang dia pakai sebelum menyalami Ajeng.
"Saya Aminah, panggil saja dengan Bi Minah, saya kerja di sini. Kalau Non Ajeng butuh apa-apa silahkan panggil saya," jawab Bi Minah.
"Oke Bi Minah," jawab Ajeng senang. Ternyata masih ada orang yang ramah di rumah ini selain Bu Rika.
"Saya Karyo, panggil saja saya Mas Karyo." Seorang laki-laki tinggi kurus berwajah ramah. Usianya mungkin empat puluh tahun.
"Saya Ajeng Mas Karyo."
"Iya Mbak, eh Non. Kami sudah tahu dari Bu Rika kalau Non ini adalah calon istri dari Tuan Raka."
"Kalau ini namanya Suparti, dia masih baru di sini. Dia tugasnya membersihkan dalam rumah, kalau saya di sini tugasnya di luar dan halaman rumah, kalau Bi Minah tugasnya menyiapkan kebutuhan logisitik di rumah ini," sambung Mas Karyo membuat Ajeng senang mendengarnya.
Ajeng tersenyum melihat mereka bertiga. Dia berharap meski pun ada satu orang yang tidak menerimanya di rumah ini. Mereka bertiga cukup lah membuat Ajeng merasa tidak kesepian nanti.
"Oh ya, ada yang lihat Gea?" tanya Ajeng. Kalau sejak dia tadi ke kamar.Gea belum keliahatan.
"Tadi dia di ajak sama Pak Randi," jawab Bi Minah.
"Pak Randi, siapa dia?" tanya Ajeng.
"Dia Sekretaris dan Asisten pribadinya Bu Rika," jawab Mas Karyo.
"Kira-kira di bawa kemana ya?" tanya Ajeng.
" Sepertinya ke depan rumah, paling di taman," jawab kembali Mas Karyo.
"Oke, saya permisi dulu. Mau nyusul Gea," pamit Ajeng.
"Iya Non," jawab mereka bertiga kompak.
"Hmmm-, kayaknya enak dipanggil dengan nama aja deh, atau Mbak juga boleh, saya keberatan kalau dipanggil dengan Non!" kata Ajeng.
Mereka bertiga saling pandang. Sepertinya mereka juga merasa tidak enak kalau tidak memanggil dengan sebutan Nona atau Nyonya.
"Jangan sungkan, panggil saja Mbak Ajeng.Oke!" kata Ajeng kemudian meninggalkan mereka bertiga yang saling berbisik bisik.
~ ~ ~ ~ ~ ~
Ajeng menuju taman di depan rumah Raka. Taman itu luas sekali. Banyak pohon-pohon yang di tanam untuk membuat suasana taman itu rindang dan teduh. Selain itu beraneka ragam tanaman hias dan tanaman bunga menjadikan taman ini lebih asri dan indah. Mas Karyo pasti yang merawat dan memelihara ini semua. Ajeng kemudian melihat ada kolam dan air mancur di sana. Dia juga bisa melihat dari jauh kalau ada Gea yang sedang bermain gelembung sabun di temani dua laki-laki dewasa. Yang satu dia tahu itu Raka, tapi yang satunya lagi Ajeng pernah melihatnya bersama Bu Rika waktu di rumah sakit dulu. Apakah itu yang bernama Pak Randi, Asisten pribadi Bu Rika. Ajeng sebenarnya merasa malu jika dia menghampiri mereka. Tapi dia juga mau mengajak Gea bermain.
Dengan sedikit ragu Ajeng perlahan mendekati mereka dan sepertinya mereka sedang mengobrol serius meskipun sambil mengawasi Gea yang sedang bermain.
"Aku sudah meminta bantuan salah satu temanku di kepolisian, dia akan membantu kita mencari keberadaan Bayu," kata Randi sambil melipat kedua tanggannya di dadanya.
"Oke, aku akan tunggu kabar progressnya. Semakin cepat Kak Bayu ketemu, akan semakin bagus. Dengan begitu Mama akan tenang, dan papa juga bisa segera operasi," jawab Raka.
Ajeng pun tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka. Bayu, papa operasi. Demikian yang didengar Ajeng.
"Mamaaaaaa...." Gea nampak berlari ke arah Ajeng ketika dia melihat kedatangan Ajeng. Ajeng langsung memeluk dan memangku Gea. Randi dan Raka pun menoleh ke belakang. Sadar kalau Ajeng sudah berada di belakang mereka. Randi pun segera pamit untuk segera pergi.
"Aku pergi dulu ya, aku mau kasih laporan perusahaan dulu ke Bu Rika, silahkan kalian nikmati waktu kalian sebagai keluarga kecil," goda Randi membuat Raka jadi tertawa terbahak-bahak.
Ajeng melihatnya ingin sekali memasukkan seekor lalat ke dalam mulutnya itu. Dia merasa Raka itu sering tertawa orangnya.
Kemudian Randi menundukkan kepalanya ke Ajeng sebelum dia berjalan meninggalkan mereka.
"Kamu sudah lihat kamarmu?" tanya Raka sambil berjalan menggunakan kruk mendekatinya.
Ajeng mengangguk pelan.
"Kamarku ada di sebelah kamarmu," kata Raka sambil menggerak-gerakkan alisnya. Entah apa maksudnya dari gerakan alis itu.
"Terus kenapa?" tanya Ajeng dengan mata yang sedikit jutek.
"Sekedar info saja, kalau sewaktu-waktu aku butuh apa-apa kamu bisa langsung datang ke kamar," jawab Raka dengan nada genit.
"Ingat yaaa, kita belum muhrim," jawab Ajeng.
"Cckck, bentar lagi juga kita nikah, jadi tak apalah kalau kamu mau ke kamarku!" kata Raka.
Ajeng merasa terkejut dengan ucapan Raka. Dia tidak tahu kalau sifat Raka seperti itu. Apa dia benar-benar seorang laki-laki genit dan playboy. Kalau benar begitu Ajeng akan menikah dengan seorang laki-laki macam dia. Ajeng mulai khawatir.
"Kalau bisa sih, aku pengennya cepat-cepat nikah sama kamu," kata Raka kembali menggoda Ajeng.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ajeng.
"Mmm-, tidak tahu sih, pengen aja," jawab Raka pura-pura polos.
"Jawaban yang aneh,"gerutu Ajeng cemberut.
Raka pun tersenyum melihat Ajeng dengan wajah cemberut itu.
"Kalau kamu?" tanya Raka pada Ajeng yang sedang meniup gelembung sabun.
"Kalau kamu apa?" tanya Ajeng masih asyik meniup-niup gelembung.
"Kamu memang tidak mau cepat-cepat menikah sama aku?" tanya Raka yang terdengar Ajeng seperti kekanakan.
"Kalau aku sih masih muda, jadi seharusnya aku belum waktunya menikah, lagipula kita belum saling mengenal," jawab Ajeng santai.
"Jadi kamu menikah sama aku karena terpaksa, begitu?" tanya Raka lagi.
Ajeng berhenti meniup gelembung sabun. Dan menatap wajah Raka yang nampak serius. Raka menatapnya dengan tatapan penuh harap. Ajeng tidak dapat menebak isi pikiran Raka. Entahlah dia juga merasa kalau Raka juga sebenarnya terpaksa menikahinya.Meskipun dia bersikap baik padanya. Dia berpikir seperti itu.
"Aku tidak bisa jawab itu?" jawab Ajeng.
"Jadi benar memang terpaksa, cuma kamu tidak mau mengakuinya," kata Raka.
"Bukan beg-," perkataan Ajeng terpotong.
"Baiklah kalau begitu, mau terpaksa atau tidak itu tidak jadi masalah buatku. Karena bagiku yang penting Gea punya mama ," ucap Raka.
"Kamu melakukan ini hanya demi Gea kan?" sambung Raka lagi.
Ajeng tidak mau menjawab Raka itu. Dia cukup sadar kalau situasi yang dia hadapi sekarang.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan memaksa kamu menjadi istri sesungguhnya," kata Raka.
"Maksudmu?" tanya Ajeng tidak paham dengan maksud istri sesungguhnya.
"Kamu tahu lah apa itu," ucap Raka sambil tersenyum lebar sambil berjalan dengan kruknya.
"Benaran aku tidak paham nih?" kata Ajeng gereget melihat Raka menjauh.
Raka terus berjalan tertatih-tatih. Sepertinya dia kesusahan untuk berjalan kembali ke dalam rumah. Tadi dia pergi ke taman bersama Randi. Sekarang dia kepayahan berjalan.
Ajeng melihat Raka terhuyung-huyung.
Dan Bruuuk.
Raka terjatuh. Dia meringis kesakitan. Ajeng buru-buru menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Kamu tidak apa-apa, harusnya kamu meminta bantuan kalau belum bisa jalan dengan benar?" protes Ajeng sedikit marah melihat Raka. Kemudian mengusap-usap kaki Raka yang kotor dengan tanah.
"Aduuuh, kok aku sakit sebelah sini ya," kata Raka menunjuk dadanya sebelah kiri.
"Apa, kok bisa yang sakit sebelah situ?" tanya Ajeng panik.
"Aduuhh," keluh Raka sambil meringis kesakitan.
"Kamu punya penyakit jantung, aku telepon ambulans ya kalau begitu," kata Ajeng cemas lalu hendak berdiri. Namun tangannnya ditarik Raka sampai badannya berbalik dan menubruk badan Raka. Dan wajah Ajeng hampir saja menabrak wajah Raka.
Wajah mereka terlalu dekat sampai-sampai Ajeng bisa merasakan napas Raka di wajahnya. Ajeng pun buru-buru menjauhkan wajahnya dari wajah Raka. Entah kenapa Raka menariknya seperti itu.
"Aku nggak punya penyakit jantung," jawab Raka membuat Ajeng semakin heran.
"Hatiku yang sakit tahu," sambung Raka pada Ajeng.
Ajeng kaget mendengarnya.
"Kenapa bisa hati kamu yang sakit, kamu punya penyakit liver?" tanya Ajeng.
Raka mendengus kesal karena Ajeng tidak peka akan maksudnya.
"Sudahlah, dasar tidak peka, bantu aku berdiri!" kata Raka. Lalu Ajeng pun menarik tubuh Raka pelan-pelan membantunya berdiri dan memberinya kruk lagi.
"Bantu aku sampai dalam rumah ya!" pinta Raka memelas manja pada Ajeng.
"Iya aku bantu," jawab Ajeng kemudian membopong tubuh Raka yang tinggi seperti tiang listrik itu. Raka memeluk tubuh Ajeng yang mungil itu. Dia tersenyum puas karena berhasil menjaili Ajeng.
"Eh, tapi seriusan kamu punya penyakit liver?" tanya Ajeng terus.
Terlihat Raka sangat gemas ingin sekali mengusak rambut Ajeng.
"Mana mungkin aku punya penyakit Liver, aku cuma becanda," jawab Raka disusul dengan tawa khasnya.
"Dasar tukang nyusahin tuh kan," Ajeng sudah curiga memang dari tadi.
"Sst, jangan marah di depan Gea," bisik Raka ke telinga Ajeng membuat Ajeng geli karena bibir Raka hampir menyentuh telinganya yang sensitif.
Wajah Ajeng langsung memerah. Setelah itu Ajeng menjadi teringat mimpinya yang semalam tentang Raka.
Wajah Raka kembali menggodanya sampai-sampai Ajeng tak tahu lagi harus menyembunyikan wajahnya yang merah merona.
"Please kenapa kok aku jadi deg-degan begini." Ajeng bergumam dalam hati sambil terus menuntun Raka ke dalam rumah.
Bersambung
Berikan cinta kalian untuk author dengan like, komen, dan vote.
Jadikan ini favorit ya supaya tidak ketinggalan kelanjutan cerita nya.
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini