Khalisa, harus rela bekerja pada keluarga kaya. Bukan sebagai pembantu rumah tangga melainkan merawat seorang pria yang bernama Adrian. Adrian adalah seorang pria muda yang di nyatakan stroke.
Meski pun Adrian sangat keras kepala dan memperlakukan Khalisa dengan sangat kasar. Khalisa tetap sabar menjalankan pekerjaan nya demi sang adik yang sedang sakit keras.
Dari rasa benci berubah ke rasa suka lalu berubah lagi pada rasa benci hingga pada akhirnya mereka saling mencintai. Banyak hal yang terjadi dalam hidup Khalisa, namun diri nya dengan sabar melewati kesedihan yang selalu datang dalam hidup nya.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Silahkan baca dan Jangan lupa Like, Rate, Vote and Coment 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09.Berpikirlah Positif
Mata sembab itu tak bisa di tutupi oleh Khalisa, wanita mengantar sarapan ke kamar Adrian tak seperti biasa nya. Adrian merasa aneh dengan Khalisa, wanita tidak banyak bicara atau mengoceh seperti biasa nya.
"Khalisa, kau sakit?" tanya Adrian namun Khalisa hanya menggelengkan kepala nya. "Kau habis menangis? kenapa? ada masalah apa?" tanya Adrian penasaran.
"Tidak, aku hanya merindukan orang tua ku." jawab nya lirih.
"Kau yakin hanya itu?" tanya Adrian kembali.
Khalisa terduduk lemas, wanita itu menutup wajah nya menahan air mata yang jatuh. "Aku takut adik ku pergi meninggalkan ku." ucap Khalisa dalam isak nya. Adrian berusaha menghampiri Khalisa, pria itu mengusap pucuk kepala Khalisa untuk memberi semangat.
"Kenapa kau berkata seperti itu? bukan kah kata mu selama ini Disa bersemangat untuk sembuh."
Khalisa mengusap air mata nya, "Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dari ku." ujar Khalisa.
"Berpikirlah positif Khalisa, mana tahu adik mu hanya sedang merindukan orang tua nya saja."
Khalisa menarik nafas dalam, wanita itu mengusap kembali air mata nya. "Hari ini jadwal mu terapi." ujar Khalisa mengalihkan susana. "Makanlah setelah itu kita pergi."
Adrian mengiyakan ucapan Khalisa, pria itu kemudian meminta Khalisa untuk ikut bersama nya ke suatu tempat.
Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan dan jelas saja itu membuat Adrian merasa bosan. Khalisa yang biasa nya berisik kali ini masih betah dengan diam nya.
Sesampai nya di klinik Dimas, Pria itu langsung melakukan terapi pada Adrian. Adrian yang mulai merasa sakit di kaki yang semula mati rasa.
"Kaki ku sudah mulai merasa sakit." ujar Adrian merintih.
"Ini belum seberapa, untuk sementara kaki mu hanya bisa merasakan sakit. Untuk kedapan nya kita akan memulai menggerakkan jari kaki mu." tutur Dimas.
"Dimas, apa harus selama itu terapi nya?" tanya Khalisa penasaran.
"Tidak harus juga, jika tuan mu ini rajin melatih kaki nya, ada kemungkinan cepat sembuh nya."
Terapi masih berjalan, sesekali Adrian berteriak menahan rasa sakit dari pijatan demi pijatan yang di lakukan Dimas.
Setelah selesai, Adrian istirahat sebentar.
"Baru dua kali terapi tapi kaki sudah terasa ringan." ujar nya senang.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Khalisa lega.
Kemudian mereka pulang, bukan pulang melainkan Adrian mengajak Khalisa ke sebuah cafe yang sudah di pesan oleh Adrian sejak kemarin.
"Mau apa kita kesini?" tanya Khalisa.
"Sudah dua tahun aku tidak bertemu sahabat ku,aku dan dia janjian di sini."
"Memang nya dia tinggal di luar kota?"
"Tidak, selama ini aku yang melarang mereka untuk datang menjenguk ku."
Khalisa membuang nafas kasar, "Kau ini, kalau kau mau hidup sendiri, sana pindah ke hutan."
"Wah...mulut kau ini, aku hanya merasa malu dengan keadaan ku." ucap Adrian sedih.
"Ngapain malu, wajah mu tampan dan kau kaya soal sakit kan pasti ada obat nya, kau saja yang bodoh tidak mau berobat."
Adrian mulai geram, "Kau ini ku bayar tapi mulut mu suka sekali bilang aku bodoh."
"Kau memang bodoh! hanya karena satu wanita kau menjadi lemah tak mau sembuh." ledek Khalisa kembali.
Asik berdebat, mereka di kejutkan dengan kedatangan dua sahabat Adrian.
"Adrian...." sapa David dan Orland.
Mereka saling berpelukan melepas rindu, David dan Orland memberikan buah tangan yang mereka bawa.
"Siapa dia?" tanya David saat melihat Khalisa.
"Yang merawat gue." jawab Adrian.
Khalisa kemudian memperkenalkan diri kepada David dan Orland, kemudian mereka duduk sambil menikmati beberapa makanan.
Sesekali David mencuri pandang pada Khalisa dan itu di sadari oleh Adrian.
"Khalisa, kenapa kau mau merawat dia?" tanya David.
"Bayaran nya mahal." jawab jujur Khalisa.
"Adrian kan galak kenapa kau betah?" tanya Orland juga.
"Dia bahkan jauh lebih galak dari pada gue." ujar Adrian.
"Benarkah? wah, kau hebat Lisa." puji David.
Obrolan mereka terus berlanjut, banyak hal yang mereka ceritakan tentang kerjaan bahkan tentang wanita. Khalisa yang mudah akrab juga ikut mengobrol bersama mereka. Menjelang sore baru lah Khalisa mengajak Adrian untuk pulang.