NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 AKTIFITAS SEPERTI BIASA

Singkat cerita...

Waktu pun semakin berlalu.

Bapak, aku, dan juga Harum, melewati hari demi hari seperti biasa.

Bapak masih bekerja di kebun milik bosnya.

Harum bersekolah dan mengaji seperti biasanya juga. Serta beraktifitas selayaknya seorang anak gadis berusia 14 tahun bersama semua teman-temannya juga.

Dan aku, bekerja di kantor. Serta melaksanakan semua tanggung jawabku sebagai seorang anak, sekaligus sebagai seorang ibu dengan sebaik mungkin di rumah.

Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda denganku dan juga dengan anakku, setelah kejadian tengah malam itu.

Entah kenapa, beberapa hari, bahkan mungkin sudah hampir hitungan minggu ke belakang, Dayang Putri dan Sekar Mayang jarang sekali hadir di dekatku.

Aku tak mengerti apa yang sudah terjadi dengan mereka.

Meski pun kemampuan ghoibku masih aktif seperti biasanya, hanya saja, dua perewanganku itu seperti enggan menampakkan wujudnya di dekatku.

Bahkan, beberapa kali aku mencoba memanggil mereka, namun mereka tak juga hadir.

Jujur, yang aku rasakan adalah seperti sebuah kekosongan dalam diriku, karena dua perewanganku itu bertingkah seperti itu sekarang.

Dan semua itu berbanding terbalik dengan anakku, Harum.

Setelah kejadian tengah malam itu...

Setelah sosok Sekar Arum menampakkan dan mengobrol langsung denganku...

Sosoknya malah semakin sering hadir di dekat anakku.

Sekar Arum selalu hadir di banyak kesempatan. Entah saat anakku sedang bermain, sedang di sekolah, sedang mengaji, bahkan sampai anakku sedang tidur. Sekar Arum selalu ada di dekatnya.

Sebenarnya aku tak mempermasalahkan hal itu. Karena kini aku sudah paham dan tahu apa maksud Sekar Arum hadir.

Meski di sisi anakku sendiri, dirinya sama sekali belum bisa merasakan, belum bisa melihat, belum bisa memahami, kalau ada sosok perewangan yang ada bersamanya sekarang.

Mungkin, anakku itu belum pernah ku ajarkan melakukan tirakat untuk menjadi "tuan" dari sosok Sekar Arum itu.

Dan aku juga tak mau gegabah mengajarkan "tirakat" tersebut. Karena usianya masih terlalu muda.

Aku paham, sangat paham malah, jika ku paksakan mengajari anakku "tirakat" itu, maka raganya belum kuat sama sekali.

Bahkan, mungkin juga batinnya pun belum bisa untuk menjadi "tempat bersemayam" Sekar Arum.

Semua itu sangat ku sadari, karena pasti akan ada "dampak" secara ghoib, secara mental, dan juga kejiwaan pada Harum, anakku.

Dan, jujur saja, aku semakin bertanya-tanya dengan dua perbedaan yang terjadi antara diriku dan anakku itu.

Kenapa Sekar Arum sekarang jauh lebih sering menampakkan wujudnya padaku?

Kenapa malah Dayang Putri serta Sekar Mayang yang sudah bertahun-tahun bersamaku, malah seperti enggan untuk hadir bagiku?

Ada apa sebenarnya?

Apakah ada sesuatu yang salah?

.....

.....

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

🏢🏢🏢🏢🏢🏢🏢

"Alhamdulillah... Kenyangnyaaa..." ucapku, saat sudah menghabiskan menu makan siang, di kantin tempatku bekerja.

Aku bangkit dari kursi, dan segera menuju kasir untuk membayarnya.

Setelah itu, aku kembali ke ruanganku. Untuk melanjutkan pekerjaanku sebagai seorang staff administrasi di sebuah pabrik pembuatan alat-alat rumah tangga.

Dan sudah 2 tahun aku bekerja di sini. Semenjak kepergianku dari pondok pesantren putri di kaki Gunung Kelud itu.

Dan Alhamdulillah, tempatku bekerja ini tak terlalu jauh dari rumah, hanya butuh waktu kurang lebih 40 menit dengan naik kendaraan umum.

Dan Alhamdulillah, gaji yang aku dapatkan tiap bulannya, bisa sangat mencukupi kebutuhan keluargaku di rumah. Bahkan, aku bisa menabung sedikit demi sedikit untuk operasi mata anakku nanti.

Aku kembali melanjutkan pekerjaan di ruanganku. Saat sedang sibuk bekerja, boss ku yang bernama Pak Jihan, masuk.

"Nisa..." panggilnya sambil berdiri di depan pintu ruang kerjaku.

"Iya Pak?" jawabku.

"Gimana? Udah selesai laporan persediaan barangnya?"

"Sedikit lagi Pak, ini masih saya kerjakan Pak."

"Oh... Ya udah, cepetan ya. Saya butuh laporannya segera."

"Baik Pak."

Aku pun berusaha lebih cekatan, mengerjakan laporan yang diminta Pak Jihan.

Tapi, Pak Jihan masih berdiri di ambang pintu ruang kerjaku. Aku jadi sedikit tak bisa fokus melihatnya.

Kemudian, Pak Jihan melangkah mendekat ke mejaku. Dia perhatikan semua pekerjaanku.

Sebenarnya, Pak Jihan ini memang sering seperti ini. Mengontrol semua pekerjaanku, dan juga pekerjaan semua karyawan yang menjadi bawahannya.

"Nisa..." panggilnya lagi.

"Iya Pak Jihan?"

"Emmm..."

Aku pun jadi sedikit heran melihatnya menahan apa yang ingin ia ucapkan padaku.

"Ada apa Pak?" tanyaku sedikit penasaran.

"Emmm... Enggak apa-apa kok..."

Aku mendengarnya menjawab begitu, malah semakin penasaran.

Karena, Pak Jihan malah berdiri di depan mejaku. Sambil sesekali menatap tumpukan kertas laporan yang sedang ku kerjakan.

Dan, apa yang selanjutnya dia katakan, membuatku tambah heran.

"Nisa, umur kamu sekarang berapa sih?"

"Emmm, kenapa memangnya Pak?" tanyaku.

"Ya... Gak apa-apa sih. Saya kelupaan aja."

Sungguh, aku bertanya-tanya dalam hati. Sambil menatap Pak Jihan dengan ekspresi heran di wajahku.

"Hehehe... Janga liatin saya kayak gitu dong Nis. Biasa aja." ucapnya.

"Maaf Pak Jihan, habisnya, Bapak kayak gugup gitu Pak." kataku.

"Emmm, enggak gugup kok Nis." jawabnya sambil memegangi rambutnya sendiri dengan satu tangan.

"Oh ya, kamu belom jawab pertanyaan saya barusan loh..." tambahnya.

"Emmm, umur saya sekarang 27 tahun Pak. Memangnya kenapa Pak?"

"Ah, gak apa-apa... Umur kamu udah 27 ternyata ya."

"Iya Pak..."

"Kalo saya, udah 32 Nis. Hehehe..."

Sungguh, semakin dibuat heran aku dengan ucapannya itu, dengan semua tingkahnya di depanku sekarang.

"Ya udah, kamu lanjut buat laporannya aja ya. Nanti kalo udah selesai, langsung kasihkan aja ke sekretaris saya. Oke?"

"Iya Pak. Segera saya selesaikan."

Akhirnya, Pak Jihan berjalan keluar dari ruanganku.

Aku masih memperhatikannya, berjalan melewati sebuah kaca besar yang menjadi dinding ruangan kerjaku.

Dan, sedetik kemudian, aku melihat wajahnya menoleh ke arahku dari luar kaca itu.

Wajahnya tersenyum padaku.

Aku seketika jadi mengalihkan pandanganku, menatap lembaran-lembaran laporan yang sedang ku kerjakan. Dengan pertanyaan dalam kepalaku.

"Kenapa dia bertingkah agak aneh begitu ya? Siapa juga yang nanya umur dia barusan?"

😅😅😅😅😅

.....

.....

Singkat cerita, semua laporan persediaan barang sudah ku selesaikan.

Aku segera berjalan menuju ke ruangan sekretaris Pak Jihan, yang berada tepat di sebelah ruangan boss ku itu.

Dan pembatas antar ruangan juga hanya berupa kaca besar yang bening. Sehingga Pak Jihan bisa melihatku yang kini sudah berada di dalam ruangan sekretarisnya itu.

"Bu Gina, maaf, saya mau serahkan laporan yang diminta sama Pak Jihan." kataku, pada sekretarisnya yang bernama Gina itu.

"Oh, iya Nis. Taruh aja disini ya." ucapnya.

Aku langsung letakkan saja laporan itu di atas mejanya.

Bu Gina juga masih sibuk dengan pekerjaannya. Kedua tangannya sangat sibuk mengetik di komputernya. Kedua matanya pun seperti tak bisa berpaling dari layar komputer, walau aku masih berdiri di depannya.

Sejenak, aku jadi menoleh ke arah ruangan Pak Jihan.

Dan ternyata, Pak Jihan sedari tadi terus saja menatapku.

Aku jadi sedikit tak nyaman atas tingkahnya itu. Karena selama 2 tahun aku bekerja disini, baru kali ini dia bertingkah seperti itu padaku.

"Bu Gina, saya kembali ke ruangan ya Bu." kataku.

"Oh, iya Nis. Silahkan..."

Akhirnya, aku berjalan keluar ruangan Bu Gina. Hendak menuju ke ruanganku lagi.

Akan tetapi, seolah mataku ini penasaran, mataku malah kembali melirik ke dalam ruangan Pak Jihan.

Sontak, apa yang ku lakukan ini malah membuat Pak Jihan tersenyum padaku. Sambil melambaikan tangan kanannya pelan ke arahku.

"Ada apa sih sama dia???" gumamku dalam hati, sambil terus saja melangkah menuju ruanganku lagi.

🤨🤨🤨🤨🤨

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!