NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Raja

"Raja."

Anjing hitam itu tidak suka namanya langsung dipanggil.

Tubuhnya merendah. Giginya terlihat di balik bibir yang kotor. Busur listrik kecil di bulunya berkedip lebih terang, lalu hilang, lalu muncul lagi. Satu telinganya yang tersisa bergerak sedikit, menangkap suara zombie yang masih mengerang jauh di luar villa Kevin.

Hendry tidak maju.

Ia tahu hewan seperti ini tidak bisa dipaksa.

Di kehidupan sebelumnya, rumor tentang Anjing Petir satu telinga beredar di antara basis besar seperti cerita hantu. Ada yang bilang ia pernah menghancurkan satu regu pemburu Kristal hanya karena mereka mencoba menangkapnya. Ada yang bilang ia berpura-pura jinak selama tiga hari sebelum menggigit leher pemimpin kelompok yang mengurungnya.

Cepat.

Licik.

Pendendam.

Dan pada akhirnya, level Raja.

Hendry tidak tahu bagaimana anjing kurus di depannya bisa tumbuh menjadi legenda itu. Ia hanya tahu satu hal: jika ingin punya rekan pertama di kiamat, makhluk ini jauh lebih layak daripada banyak manusia.

"Tenang," kata Hendry pelan.

Raja menggeram.

Di belakang Hendry, darah Kevin masih mengalir di lantai basement. Bau manusia mati, wine pecah, dan asap mesiu menempel di udara. Raja mencium semuanya. Matanya tidak melepas parang Hendry.

Hendry perlahan memasukkan parang ke Ruang Dimensi.

Tangannya kosong.

Raja tetap tidak percaya.

Bagus.

Anjing bodoh sudah mati di hari pertama kiamat.

Hendry mengangkat tangan kanan. Kali ini bukan senjata yang muncul, melainkan sepotong daging sapi matang yang masih hangat, disimpan dari masakan sederhana di rumahnya. Aroma lemak dan bumbu langsung menyebar di ruang tamu villa.

Mata Raja bergerak.

Hanya sedikit.

Tetapi Hendry melihatnya.

"Daging sapi. Halal. Bukan umpan beracun."

Raja tentu tidak mengerti semua kata itu. Namun ia mengerti bau makanan.

Hendry melemparkan daging itu ke lantai, tidak terlalu dekat dengannya, tidak terlalu dekat dengan Raja.

Jarak tengah.

Raja menatap daging itu.

Menatap Hendry.

Menatap mayat di belakangnya.

Lalu anjing itu maju satu langkah, mundur setengah langkah, berputar kecil, seolah mencari tali, jebakan, atau manusia lain yang bersembunyi. Setelah yakin tidak ada, ia menyambar daging itu dan melompat mundur.

Ia makan dengan cepat.

Bukan seperti hewan peliharaan.

Seperti makhluk yang sudah lama belajar bahwa makanan bisa hilang kapan saja.

Hendry mengeluarkan potongan kedua.

Kali ini Raja tidak langsung menggeram.

Potongan kedua hilang lebih cepat.

Potongan ketiga membuat ekornya bergerak sekali, sangat kecil, lalu berhenti seolah ia sendiri malu.

Hendry hampir tertawa.

"Jadi legenda Anjing Petir juga bisa disuap pakai daging."

Raja mengangkat kepala, menatapnya tajam, seolah paham nada ejekan itu.

"Baik, baik. Bukan suap. Kerja sama."

Di luar villa, suara kaca pecah membuat Raja langsung menoleh.

Tiga zombie masuk melalui gerbang yang penyok. Salah satunya adalah penghuni cluster berbadan besar, perutnya terbuka, ususnya bergantung sampai lutut. Dua lainnya bergerak terseret, tetapi tetap menuju bau darah di dalam rumah.

Raja mundur setengah langkah, lalu bulu punggungnya berdiri.

Busur listrik kecil yang tadi lemah tiba-tiba memanjang.

Hendry meraih parang dari Ruang Dimensi.

"Kalau mau makan lagi," katanya, "kerja dulu."

Zombie pertama masuk lewat pintu depan.

Hendry bergerak ke kiri, memberi ruang.

Raja tidak menunggu perintah.

Anjing itu melesat.

Gerakannya rendah, hampir menempel lantai. Zombie besar mengayunkan tangan, tetapi Raja sudah berada di bawahnya. Tubuh hitam itu berputar, ekornya menyapu dengan cahaya petir tipis.

Thunder Tail.

Belum sempurna.

Belum kuat seperti legenda.

Namun cukup.

Ekor Raja menghantam lutut zombie besar. Bunyi daging terbakar kecil terdengar, disusul retakan tulang. Zombie itu ambruk ke samping. Hendry maju dan menebas tengkoraknya sebelum ia sempat bangun.

Zombie kedua menerjang Raja.

Raja melompat mundur, pura-pura tersudut di dekat meja, lalu tiba-tiba menyelinap ke bawah kursi dan menggigit pergelangan kaki zombie itu dari belakang.

Licik.

Benar-benar sejak awal sudah licik.

Hendry mengayunkan parang, memotong leher zombie kedua.

Zombie ketiga hampir sampai ke tubuh Ferry. Raja berlari menyeberang ruangan, listrik di bulunya menyambar lebih terang. Ia menabrak sisi zombie itu, membuatnya terpental ke rak wine.

Botol-botol pecah.

Hendry menyelesaikannya dengan satu tebasan ke kepala.

Tiga zombie.

Kurang dari satu menit.

Raja berdiri di tengah pecahan kaca dan darah, napasnya cepat. Busur listrik di tubuhnya berdenyut liar selama beberapa detik, lalu mereda.

Hendry menatapnya.

Thunder Power Level 1.

Tepat di hari pertama.

Lebih cepat daripada rumor yang ia dengar dulu.

"Kau juga mulai lebih cepat, ya?"

Raja menjilat darah zombie dari moncongnya, lalu langsung menyesal karena rasanya buruk. Ia menggeleng keras, bersin, dan mundur dengan ekspresi jijik yang terlalu manusiawi.

Kali ini Hendry benar-benar tertawa kecil.

Di luar, matahari mulai turun. Jeritan di cluster berkurang, digantikan erangan jauh dan suara barang jatuh. Hari pertama belum selesai, tetapi gelombang terburuk di area dekat villa Kevin sudah lewat.

Hendry mengambil tiga Kristal Level 0 dari dahi zombie, memasukkannya ke Ruang Dimensi, lalu mengeluarkan semangkuk bakso panas.

Bakso itu seharusnya dimakan manusia.

Hari ini, manusia mengecewakannya.

Anjing tidak.

Ia meletakkan mangkuk itu di lantai.

"Upah."

Raja mencium mangkuk itu. Matanya melebar sedikit. Bakso, kuah hangat, sedikit nasi, potongan daging sapi. Di luar rumah, dunia baru saja berakhir. Di dalam rumah musuh yang mati, seekor anjing liar mendapat makanan lebih baik daripada sebagian besar manusia yang masih hidup.

Raja makan.

Cepat pada awalnya.

Lalu lebih pelan.

Seolah ia mulai percaya mangkuk itu tidak akan direbut.

Hendry duduk di kursi yang belum terkena darah, menjaga jarak. Ia tidak mengelus Raja. Belum. Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dengan tangan.

"Namamu Raja," katanya. "Kalau tidak suka, protes nanti saat kau bisa bicara."

Raja mengangkat kepala dari mangkuk.

Kuah menetes dari moncongnya.

"Grr."

"Aku anggap setuju."

Mereka meninggalkan villa Kevin menjelang malam.

Hendry membawa dokumen, ponsel, Kristal, dan anjing hitam yang berjalan beberapa meter di belakangnya. Raja tidak berjalan di samping. Belum. Ia mengikuti dari jarak aman, kadang berhenti untuk mencium jalan, kadang menatap Hendry seolah menimbang apakah manusia ini akan menusuk dari belakang.

Hendry membiarkannya.

Di jalan cluster, mereka membersihkan beberapa zombie yang berkeliaran. Hendry memakai parang untuk kepala. Raja menyerang kaki, menjatuhkan target, lalu mundur cepat sebelum tangan zombie meraih bulunya. Sesekali ekornya menyala dan menghantam seperti cambuk petir kecil.

Koordinasi mereka belum rapi.

Namun sudah cukup untuk membuat Hendry merasa sesuatu yang lama hilang mulai kembali.

Bukan rasa aman.

Rasa punya punggung kedua.

Malam turun ketika mereka tiba di villa Hendry.

Halaman belakang sudah disiapkan. Pagar tinggi. Gerbang kecil. Air bersih. Beberapa mangkuk stainless. Hendry mengeluarkan daging sapi lagi, kali ini dalam porsi lebih besar, lalu menaruhnya di dekat pintu belakang.

Raja berhenti di gerbang.

Ia menatap halaman.

Menatap Hendry.

Menatap jalan gelap di belakangnya.

Pilihan pertama dalam hidup barunya.

Tetap menjadi anjing liar di kota yang berubah menjadi neraka, atau masuk ke wilayah manusia yang memberi makan, tidak memaksa, dan membunuh musuh tanpa ragu.

Akhirnya, Raja masuk.

Hendry menutup gerbang.

Tidak mengunci dari luar.

Ia hanya menutupnya.

Raja melihat gerakan itu, lalu berbaring di sudut halaman dengan posisi masih siap meloncat. Kepalanya turun ke kaki depan. Satu telinganya yang tersisa tetap bergerak.

Hendry duduk di tangga belakang.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia tidak sepenuhnya sendirian.

"Selamat datang di kiamat, Raja."

Raja membuka satu mata.

Mungkin karena nama itu.

Mungkin karena bau daging.

Mungkin karena di kejauhan, dari arah timur Cluster Pondok Indah, terdengar suara benturan yang berbeda dari zombie biasa.

BUGH!

Satu kali.

BUGH!

Dua kali.

Seperti kepalan tangan menghancurkan sesuatu yang keras.

Raja tiba-tiba mengangkat kepala dan menggonggong tajam ke arah timur.

"Guk!"

Hendry berdiri. Ia mengambil teropong kecil dari Ruang Dimensi dan naik ke balkon belakang.

Sekitar dua ratus meter dari villa, di antara dua mobil yang terbalik, seorang pria besar berdiri sendirian.

Zombie menerjangnya.

Pria itu memukul.

Kepala zombie pecah seperti semangka busuk.

Pukulan berikutnya menghantam zombie lain sampai tubuhnya terlempar ke pagar.

Tidak ada senjata.

Hanya tangan kosong.

Kekuatan itu tidak normal.

Hendry menurunkan teropong perlahan.

Sudut bibirnya naik.

"Bagus Santoso."

Raja menggonggong sekali lagi, seolah mendesak.

Malam pertama kiamat belum selesai.

Tapi rekan kedua sudah muncul.

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!