NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Dingin tapi manis

Kanaya menatap deretan makanan yang memenuhi meja di hadapannya dengan mata berbinar penuh semangat. Tanpa basa-basi, ia langsung menyendok nasi hangat, mencampurnya dengan sambal, lalu menambahkan sepotong ayam goreng renyah sebelum memasukkannya ke dalam mulut.

"Mm... Mantep banget ini," gumamnya puas.

Tak berhenti sampai di sana, ia segera mengambil cah kangkung favoritnya dan menambahkannya ke atas nasi. Wajahnya tampak begitu bahagia menikmati setiap suapan, seolah semua masalah yang mengganggu pikirannya sejak pagi menghilang begitu saja.

Di seberangnya, Rafael duduk tenang sambil menikmati secangkir americano yang masih mengepulkan uap tipis. Jari-jarinya melingkari cangkir, sementara matanya sesekali tertuju pada Kanaya yang makan dengan lahap.

Sudut bibir pria itu terangkat samar.

"Pelan-pelan. Tidak akan ada yang meminta makananmu." lirihnya datar. Lalu menyesap kopinya kembali.

Kanaya mendongakkan wajahnya menatap Rafael, ia menelan kunyahannya. Lalu menampilkan senyum lebarnya, "Oh iya, Kakak yakin nggak mau ?" tawar Kanaya, "Ini enak banget loh, ayam kremesnya enak. Bumbunya pas, ditambah sambel em.. Mantul." lanjutnya sambil mempraktekkan apa yang di katakannya itu. Lalu kembali mengunyahnya.

"Tidak, aku sudah kenyang." balas Rafael. "Saya ketemu orang dulu, kamu habiskan saja makanannya."

Kanaya hanya mengangguk saja.

Rafael pun berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah meja dimana rekan bisnisnya berada.

Setelah menghabiskan sepiring nasi hingga tandas, Kanaya kembali menikmati semangkuk es krim dingin dengan aneka potongan buah segar sebagai topping di atasnya.

Sesekali ia menyuapkan sesendok demi sesendok es krim ke mulutnya sambil melirik ke arah Rafael yang duduk di meja lain. Pria itu tampak fokus berbincang dengan rekan bisnisnya, sesekali membuka berkas dan memberikan tanggapan dengan ekspresi tenang serta penuh wibawa.

Tanpa sadar, pandangan Kanaya beberapa kali kembali tertuju pada Rafael. Entah karena bosan menunggu atau karena pria itu memang menarik perhatiannya sejak tadi.

"Ganteng.." gumamnya tampa sadar.

Lalu ingatannya kembali pada saat dirinya masih kecil dulu.

Flashback On :

Siang itu halaman rumah keluarga besar terasa ramai. Anak-anak berlarian ke sana kemari, sementara orang dewasa sedang berbincang di teras.

Rafael yang saat itu sudah duduk di bangku SMP memilih duduk di bawah pohon mangga sambil membaca buku. Wajahnya terlihat tenang dan serius seperti biasa.

Sementara itu, Kanaya kecil yang masih TK berlari-lari mengenakan gaun kuning dengan dua kuncir di kepalanya.

"Kak Rafael!"

Suara nyaring itu membuat Rafael mengangkat pandangannya sebentar.

Kanaya langsung menjatuhkan diri di sampingnya.

"Kak Rafael lagi ngapain?"

"Membaca."

"Membaca apa?"

"Buku."

Kanaya mengerucutkan bibir. "Aku tahu itu buku. Maksudnya buku apa?"

Rafael menutup bukunya sebentar.

"Pelajaran."

"Sayang.. Jangan disini, Kak Rafael lagi belajar. Jangan ganggu dia, ayo ikut Mommy main bareng Keisya aja." suara Kirana lembut, membujuk putrinya agar tak menganggu Rafael.

Kanaya mengangguk, menatap Kirana lalu menoleh dan melambaikan tangannnya pada Rafael. "Aku main dulu Kak, nanti kalau Kakak sudah selesai belajarnya. Main bareng aku ya.." ucapnya penuh semangat.

"Hm.." gumam Rafael, kembali membaca bukunya.

* *

Dilain waktu, Kanaya yang sedang bermain di halaman rumah bersama beberapa anak lainnya.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai tanpa sengaja ia terjatuh saat berlari mengejar bola.

Bruk!

Lutut kecilnya membentur tanah. Hening beberapa detik. Lalu...

"Waaaaaaaah!"

Tangisan Kanaya langsung pecah memenuhi halaman.

Orang-orang menoleh, sementara Kanaya duduk di tanah dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya.

"Aku sakiiit...!"

Beberapa orang dewasa mencoba menenangkannya, tetapi Kanaya justru menangis semakin keras.

Di teras rumah, Rafael yang saat itu duduk bermain game mengangkat pandangannya.

Ia memperhatikan Kanaya yang menangis tanpa henti.

Beberapa saat kemudian, Rafael berdiri dari kursinya dan masuk ke dalam rumah. Tak lama, ia kembali keluar dengan sebuah es krim cokelat di tangannya.

Kanaya masih terisak-isak saat Rafael berhenti tepat di depannya. Tangisannya perlahan mereda ketika melihat sesuatu di tangan Rafael.

Rafael mengulurkan es krim itu.

"Ini."

Kanaya mengedipkan matanya yang basah.

"Buat aku...?" tanyanya dengan suara sengau.

Rafael mengangguk singkat.

Kanaya langsung menerima es krim itu dengan kedua tangannya. Tangisnya berhenti seketika.

Benar-benar berhenti.

Air matanya masih menempel di pipi, tetapi matanya sudah berbinar menatap es krim cokelat favoritnya.

"Terima kasih, Kak Rafael..."

"Hm." gumamnya, kemudian pergi meninggalkan Kanaya.

Flashback of :

Mengingat itu, Kanaya sedikit menyunggingkan senyumnya. Tangannya masih mengaduk es krim yang mulai mencair di dalam mangkuk kecil di hadapannya.

Ia terlalu larut dalam kenangan masa kecilnya hingga tidak menyadari sosok Rafael yang kini sudah berdiri tepat di depan meja.

"Kenapa tersenyum sendiri?"

Suara bariton rendah itu membuat Kanaya sedikit terkejut. Ia mengangkat kepalanya cepat, menatap Rafael yang kini berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

"Hah?" sahutnya refleks.

Rafael mengangkat sebelah alisnya. "Melamun?"

Kanaya berdeham pelan, sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang memikirkan sesuatu.

"Nggak juga. Udah selesai ?"

"Hm.." gumamnya.

"Cepet banget perasaan."

Rafael mengerutkan keningnya, "Ya.. terlalu cepat sampai kamu saja sudah menghabiskan seluruh makanan dimeja, dan tersisa es krim yang mencair di gelas." katanya. Membuat Kanaya hanya tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.

"Ngapain masih duduk ? Nggak mau pulang ?" ucap Rafael, lalu berjalan pergi tanpa menunggu Kanaya.

"Eh.. Ya pulang dong. Tungguin Kak.." serunya, beranjak dari duduk lalu berjalan sedikit berlari untuk mengejar Rafael.

"Aishh.. Tambah tua bukannya meleleh, malah nambah bongkahan es nya." gerutu Kanaya pelan, namun masih bisa terdengar oleh Rafael.

"Saya dengar apa yang kamu katakan." ucap Rafael, lalu masuk ke dalam mobil.

Kanaya mengatupkan mulutnya, dan merutuki dirinya sendiri karena kelepasan bicara sampai dia dengar walaupun sudah memakai volume yang menurutnya paling kecil.

Ia pun buru-buru masuk ke dalam mobil, sebelum Rafael benar-benar meninggalkannya.

* *

Di sisi lain, Raditya masuk ke apartemennya dengan langkah lebar dan rahang mengeras. Tanpa peduli, ia melempar tas yang dibawanya ke atas sofa hingga terjatuh dengan bunyi pelan. Setelah itu, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu, menyandarkan kepala sambil mengusap wajahnya kasar.

Dadanya masih terasa sesak mengingat pertemuannya tadi. Ucapan Rafael terus terngiang di kepalanya, membuat suasana hatinya semakin kacau. Raditya mengepalkan tangannya erat, menatap langit-langit apartemen dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.

"Calon suami Kanaya..." gumamnya pelan dengan nada penuh penekanan. "Sial..."

Ia mengembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Namun bukannya tenang, bayangan Kanaya dan Rafael justru terus berputar di pikirannya, membuat rasa kesal yang sejak tadi ditahannya semakin membesar.

"Nggak bisa, Kanaya itu tetap milikku. Tidak boleh ada lelaki lain yang menggantikan diriku Nay.." lirihnya, ia menundukkan kepala meremas rambut kepalanya kasar.

Hingga sebuah tangan merangkul pundaknya dengan pelan dan lembut, membuat Raditya kembali menegakkan kepalanya. Ia menoleh ke samping dan mendapati seorang wanita bergaun pas badan yang menampilkan kesan anggun sekaligus berani sedang tersenyum kepadanya.

"Luna.." lirihnya.

"Hm.. Kamu pikir siapa Beby," ucap Luna lembut sembari duduk di sampingnya.

Raditya mengembuskan napas pelan tanpa menjawabnya. Tatapannya yang semula tajam sedikit melunak, meski gurat kekesalan masih terlihat jelas di wajahnya.

Wanita itu terkekeh pelan, sama sekali tidak tersinggung oleh nada dingin Raditya. Jemarinya terangkat, merapikan sedikit rambut pria itu yang berantakan karena berkali-kali diacak dengan tangan sendiri.

"Ayolah Beb. Tidak usah memikirkan wanita itu lagi, kalau pun dia pergi. Kamu tenang saja, masih ada aku disini yang selalu setia bersamamu." ujarnya santai.

Raditya hanya diam. Ia menyandarkan kembali tubuhnya ke sofa, menatap lurus ke depan. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak tiba di apartemen, pikirannya sedikit teralihkan dari sosok Kanaya dan Rafael.

"Kamu beda dengan Kanaya, Lun." lirihnya, membuat Luna sedikit melebarkan matanya. Dengan raut wajah menahan amarah tak suka.

Dia sadar, bahwa posisinya disini hanya sekedar pelampiasan Raditya karena apa yang tak bisa di dapatkannya dari Kanaya, Luna bisa memberikannya.

Namun, setelah sekian lama ia bersama Raditya. Membuat ambisinya yang tadinya menjadi nomor dua, kali ini dia berniat untuk menjadi nomor satu. Posisinya bukan hanya di tempat tidur lelaki itu, namun juga di hatinya.

Luna Ia kembali memasang senyum manis yang selama ini selalu berhasil mencairkan suasana.

Dengan gerakan lembut, Luna bergeser sedikit lebih dekat. Jemarinya menyentuh lengan Raditya sekilas, cukup untuk menarik perhatian pria itu.

"Benar," ucapnya pelan. "Aku memang berbeda darinya, dan jelas kita tidak akan sama."

Raditya melirik sekilas, saat kata-kata Luna seperti sebuah penekanan.

Luna lebih mendekatkan posisi pada Raditya, lalu meraih wajah Raditya pelan dengan sedikit sentuhan yang membuat menyulut panas di tubuhnya.

Raditya yang terlanjur tersulut emosi dan sudah tak tahan menahan gejolak di tubuhnya saat melihat dan serangan godaan dari Luna, membuatnya segera memajukan tubuhnya lalu segera mencium b!b!r Luna dengan sedikit menggebu untuk melampiaskan segala emosinya yang sejak tadi bersarang di dadanya.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!