Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.
Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.
Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.
Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
"Perubahan adalah esensi dari kehidupan," kata Katie Wilson pelan pada dirinya sendiri.
Ia menutup pintu belakang rumah peninggalan orang tuanya rapat-rapat. Sambil menghela napas panjang, ia melangkah menuju mobil, duduk di balik kemudi, lalu memutar kunci kontak.
Namun, baru saja mobilnya bergerak sampai di ujung jalan masuk, Katie mendadak menginjak rem. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, menatap kosong ke arah bangunan rumah yang kini sunyi.
Kenangan masa kecilnya mendadak berhamburan di kepala.
"Nenek, boleh aku minta kopinya sedikit saja?" bisik Katie kecil dalam ingatannya, diam-diam menyeruput kopi di meja dapur saat ibunya sedang lengah.
"Katie, ayo bantu Ibu di depan kompor. Sebentar lagi kita makan malam," suara lembut ibunya seolah terngiang kembali, menyambutnya pulang sekolah.
"Ayah pulang!" seru Katie kecil di memori lain, melompat dari kursi goyang tua di teras depan demi menyambut kepulangan sang ayah dari tempat kerja.
Katie memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sisa kehangatan masa lalu itu menguatkan hatinya.
"Sudah waktunya melangkah maju," bisiknya pada diri sendiri sebelum kembali menginjak pedal gas, melaju mantap menuju pabrik milik Mark Barrington.
Tak lama kemudian, ia sudah tiba di depan kompleks pabrik milik Mark Barrington. Karena area depan penuh, ia terpaksa memarkir mobilnya di bagian belakang gedung. Saat berjalan menuju kantor utama, sebuah papan nama menarik perhatiannya: Klinik & Ruang Kesehatan.
"Seperti apa fasilitas kesehatan yang disiapkan Mark untuk pekerjanya?" gumam Katie penasaran. Ia pun mendorong pintu dan melangkah masuk.
Kondisi di dalam ruangan itu membuatnya sedikit bergidik. Dinding putih antiseptik, lantai ubin abu-abu, dan hanya ada enam kursi plastik yang berjejer kaku. Benar-benar gersang tanpa ada majalah atau tanaman satu pun.
Saat Katie mendekati pintu belakang bertuliskan "Suster", sebuah suara ketus dari dalam langsung menghentikan langkahnya.
"Nggak! Itu bukan tugas saya!" seru suara perawat wanita itu galak.
"Tapi, Suster... saya cuma mau tahu apa yang harus saya lakukan soal infeksi telinga yang dialami anak laki-laki saya," sahut seorang pekerja pria dengan nada pelan dan memohon.
"Dengar ya, Pak," balas sang perawat, terdengar semakin tidak sabar. "Tugas saya di sini adalah menangani kecelakaan yang terjadi di area kerja pabrik! Bukan untuk memberikan Anda nasihat atau konsultasi tentang bagaimana cara mengasuh anak-anak Anda di rumah!"
Katie langsung mengernyitkan dahi mendengar ketajaman kata-kata itu.
"Ya ampun... perawat macam apa yang disewa oleh Mark Barrington ini?" bisik Katie heran pada dirinya sendiri.
"Perawat profesional yang kompeten harusnya senang berbagi informasi kesehatan yang bermanfaat," gumam Katie Wilson kesal dari balik pintu.
Di dalam ruangan, suara ketus si perawat kembali terdengar memotong keluhan pekerja pria tadi.
"Pergi saja ke dokter! Jangan membuang-buang waktu saya di sini," cetus sang perawat.
"Saya sudah ke dokter," sahut pekerja itu, suaranya mendadak meninggi karena frustrasi. "Tapi dia cuma meresepkan sesuatu, dan setiap kali saya mencoba bertanya untuk minta kejelasan informasi, dia selalu mengabaikan saya begitu saja!"
Sikapnya persis seperti perawat di sini, batin Katie miris.
"Itu bukan urusan saya," potong si perawat dengan nada dingin yang final. "Sekarang sudah waktunya saya istirahat."
Katie segera melangkah pergi dari sana agar tidak tertangkap basah sedang menguping. Sambil berjalan menuju kantor utama pabrik, ia merenungkan celah besar dalam layanan kesehatan yang disediakan perusahaan Mark. Celah yang bahkan bisa dibilang berbahaya.
Kadang-kadang, edukasi dan informasi kesehatan jauh lebih penting daripada sekadar selembar resep obat—sebuah fakta yang dulu selalu ditekankan oleh mendiang ayahnya. Tapi tampaknya, pengetahuan dasar seperti itu sama sekali tidak membawa pengaruh baik bagi perawat ketus tadi.
Katie mengernyitkan dahi penuh pertimbangan saat mendorong pintu masuk kantor utama. Saat ini statusnya sedang tidak terikat pekerjaan apa pun.
Awalnya ia berniat mencari lowongan kerja sukarela di salah satu lembaga sosial di kota ini, tapi setelah melihat kejadian tadi, ia merasa tidak perlu mencari jauh-jauh. Ada kebutuhan riil yang sangat besar tepat di sini, yang sangat cocok dengan keahliannya.
"Pabrik ini butuh klinik khusus anak," gumam Katie, matanya berbinar. "Tempat untuk pemeriksaan rutin dan kelas edukasi yang membahas berbagai masalah kesehatan anak bagi para pekerja."
Pertanyaannya, apa Mark bakal mengizinkanku melakukannya? pikir Katie mendadak ragu. Ide ini pasti akan langsung meredam antusiasme pria itu. Mark mungkin tidak akan sudi membiarkannya memakai fasilitas klinik.
Pria itu pasti juga tidak mau memicu konflik atau menyinggung perawatnya dengan membawa orang asing masuk.
Katie menggigit bibir bawahnya cemas. "Aku tahu persis apa yang bakal dia katakan nanti," keluhnya pelan.
Namun di sisi lain, Katie juga tahu kalau risiko terburuk dari permintaannya ini hanyalah sebuah penolakan mentah-mentah. Kalaupun Mark bilang tidak, nasibnya toh tidak akan lebih buruk daripada sekarang.
Lagipula, Mark adalah pria yang aneh; perpaduan antara kepal batu yang sinis namun sebenarnya punya kepedulian. Sangat mustahil untuk menebak bagaimana reaksi pria itu sebelum ia benar-benar menanyakannya langsung.
"Ah, Nona Wilson," sapa resepsionis berpenampilan sangat rapi itu dengan senyuman profesional yang cerah. "Pak Barrington bilang Anda akan mampir pagi ini. Beliau berpesan agar saya langsung mengantar Anda ke ruangannya."
"Terima kasih," sahut Katie Wilson, diam-diam melirik kemeja kuning lemonnya untuk memastikan tidak ada noda kotor yang menempel.
Katie melangkah menyusuri koridor, lalu masuk ke area ruang tunggu di depan kantor Mark. Langkahnya mendadak melambat saat menyadari ia tidak sendirian di sana. Seorang pria kurus berwajah lelah dan stres tampak duduk di kursi kulit cokelat, menatap kosong ke arah motif karpet dengan pundak merosot lesu.
Merasa iba dan ingin mengalihkan pria itu dari pikirannya yang tampak berat, Katie menghampirinya dan duduk di seberangnya.
"Selamat pagi," sapa Katie ramah dan ceria.
Pria itu tersentak, lalu membalas dengan senyuman ragu-ragu. "Pagi... tapi sejauh ini belum terasa terlalu selamat bagi saya," mutakhirnya cemas, melirik cemas ke arah pintu ruangan Mark lalu melihat jam tangannya. "Kalau boleh tahu, jam berapa jadwal janji temu Anda dengan Barrington?"
"Sebenarnya saya nggak punya jam janji temu yang pasti," jawab Katie santai. "Saya ke sini cuma untuk menandatangani beberapa berkas. Memangnya dia sedang terlambat?"
"Bisa dibilang begitu," keluh pria itu putus asa. "Jadwal saya harusnya hampir sejam yang lalu. Dan itu kemungkinan besar artinya dia sama sekali nggak tertarik dengan rapat kami ini."
"Belum tentu," potong Katie, mencoba membesarkan hatinya. "Mungkin saja dia sedang menerima telepon penting dari luar negeri. Atau... siapa tahu dia tidak sengaja menumpahkan kopi ke seluruh setelannya, jadi dia harus mengirim bajunya ke laundry dan sekarang terpaksa menunggu sampai bajunya kembali?"
Pria itu menatap Katie dengan dahi mengernyit, seolah menganggap teori Katie sangat mustahil bagi seorang Mark Barrington.
Bersambung ....