NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9.Permainan Kata dan Kebebasan Semu

Suasana sarapan di hari Minggu itu terasa lebih hangat bagi Baskara, namun tidak bagi ketiga orang lainnya di meja makan.

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar, menyinari piring-piring berisi roti panggang dan buah segar. Revan, yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, kembali hadir atas undangan Baskara.

"Revan," Baskara membuka suara sembari mengoleskan selai ke rotinya.

"Om sangat senang tahu kalian satu fakultas. Setidaknya, Om merasa jauh lebih tenang."

Alea mengerutkan kening, perasaannya mulai tidak enak. "Tenang kenapa, Dad?"

Baskara menatap putrinya dengan tatapan sayang yang protektif. "Dunia kampus itu berbeda dengan SMA, Sayang. Pergaulannya lebih luas, dan jujur saja, Daddy khawatir. Jadi, Revan... Om titip Alea ya selama di kampus. Tolong jaga dia, pastikan dia tidak bergaul dengan orang-orang yang salah."

Revan tersenyum sopan, melirik Alea sejenak. "Tentu, Om. Tanpa diminta pun, saya akan pastikan Alea selalu aman."

Alea meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras di atas piring porselen.

"Daddy! Aku ini mahasiswa, bukan anak TK yang harus dititipkan saat berangkat sekolah. Kenapa semua orang bersikap seolah aku akan hilang kalau tidak ada yang memegang tanganku?"

"Ini soal keamanan, Alea," potong Baskara lembut.

"Keamanan atau pengekangan?" Alea mendengus. "Aku sudah besar, Dad. Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak butuh Revan untuk menjadi bayanganku di setiap koridor kampus."

Bima, yang sejak tadi hanya diam mengamati dengan tatapan tajamnya, tiba-tiba menyandarkan punggung ke kursi. Ia menyeringai tipis, sebuah seringai yang sulit diartikan.

"Aku setuju dengan Alea, Baskara," sahut Bima dengan suara berat dan tenang.

Semua orang di meja makan menoleh ke arahnya. Alea menatap Bima dengan curiga, sementara Revan menyipitkan mata, mencoba membaca arah permainan pria itu.

"Kau setuju?" Baskara tampak heran.

"Bukankah kemarin kau juga yang bilang kota ini tidak aman?"

Bima menyesap kopinya perlahan, matanya menatap Alea dengan cara yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang—bukan karena ancaman, tapi karena rasa hormat semu yang diberikan Bima.

"Benar. Tapi Alea bukan lagi little bird yang perlu dikurung," ucap Bima, menggunakan kata-kata yang pernah Alea ucapkan untuk melawannya.

"Dia sudah mahasiswa. Dia punya insting dan kecerdasannya sendiri. Memaksanya dijaga oleh orang lain—siapa pun itu—hanya akan membuatnya merasa terkekang. Biarkan dia mandiri."

Alea memutar bola matanya jengah, meski di dalam hati ia sedikit terkejut Bima membelanya. "Terima kasih, Uncle. Setidaknya ada satu orang yang sadar kalau aku sudah dewasa."

Alea kemudian menatap ayahnya dan Revan secara bergantian. "Dengar ya... aku sudah dewasa. Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak perlu dijaga oleh Revan, atau siapapun... termasuk Uncle Bima. Jadi tolong, berhenti bersikap seolah aku ini barang pecah belah."

Bima mengangguk-angguk setuju, seolah benar-benar mendukung penuh kemandirian Alea.

"Kau dengar itu, Baskara? Dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Kurasa Revan tidak perlu terlalu repot-repot mengawasinya. Biarkan Alea mengeksplorasi dunianya tanpa harus selalu ada 'pengawal' di sampingnya."

Revan terdiam. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Bima. Dengan mendukung Alea, Bima sedang berusaha menyingkirkan Revan agar tidak memiliki alasan sah untuk berada di dekat Alea di kampus. Bima sedang membangun citra sebagai orang yang "paling mengerti" Alea agar Alea menurunkan pertahanannya.

"Tapi Bima, bukankah kau sendiri yang—" Baskara mencoba membantah.

"Dulu aku memang khawatir," potong Bima cepat.

"Tapi melihat keberanian Alea hari ini, aku sadar aku salah. Kita harus mulai memercayainya, bukan?"

Alea mendengus, merasa menang namun tetap merasa ada yang aneh dengan nada bicara Bima.

"Baguslah kalau sadar. Kalau begitu, hari ini aku mau ke perpustakaan kota sendiri. Tidak perlu diantar, tidak perlu ditemani."

"Tentu, my little bird." sahut Bima dengan senyum misterius. "Nikmati kebebasanmu, sayang."

Setelah sarapan selesai dan Revan pamit pulang dengan perasaan yang jelas-jelas tidak tenang, Alea memutuskan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan kota.

Ia sudah siap untuk berdebat lagi jika Bima mencoba melarangnya atau memaksa mengantar.

Namun, saat ia menuruni tangga, ia melihat Bima sedang berdiri di lobi. Pria itu tidak memakai kemeja hitam yang intimidatif, melainkan kaos polo santai berwarna biru navy.

Di tangannya, ia memegang sebuah kunci mobil—bukan kunci SUV-nya, melainkan kunci mobil city car kecil milik Alea yang selama ini jarang dipakai.

"Mau berangkat?" tanya Bima lembut.

"Ya. Dan jangan coba-coba melarangku," tantang Alea.

Bima terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar manis di telinga Alea.

"Aku tidak melarangmu. Aku justru sudah memanaskan mesin mobilmu. Aku tahu kau tidak suka disetirkan, jadi silakan bawa mobilmu sendiri."

Alea mematung. "Kau... kau serius?"

Bima melangkah mendekat, memberikan jarak yang cukup sopan agar Alea tidak merasa terancam. Ia menyerahkan kunci mobil itu ke telapak tangan Alea.

"Dan ini," Bima menyodorkan sebuah kartu akses perpustakaan eksklusif yang selama ini sulit didapatkan Alea. "Aku punya koneksi di sana. Kau bisa belajar di ruang privat yang lebih tenang jika kau mau."

Alea menatap kunci dan kartu itu bergantian.

"Kenapa kau melakukan ini?"

Bima menatap Alea lama, matanya memancarkan ketulusan yang membuat pertahanan Alea perlahan goyah.

"Karena aku ingin membayar kesalahanku kemarin. Aku ingin kau tahu bahwa Paman Bima-mu yang dulu masih ada di sini. Aku hanya... butuh waktu untuk menyesuaikan diri melihatmu tumbuh secantik ini."

Bima mengusap puncak kepala Alea sekilas—gerakan kasih sayang yang sangat familiar dari masa kecil mereka—lalu ia mundur.

"Hati-hati di jalan, little bird. Telepon aku jika kau butuh sesuatu. Aku tidak akan mengganggumu."

Sepanjang hari di perpustakaan, Alea merasa pikirannya kacau. Bukan karena Revan, tapi karena perubahan sikap Bima.

Pria itu benar-benar tidak meneleponnya, tidak mengirimkan pesan posesif, dan benar-benar membiarkannya sendiri.

Saat sore hari Alea pulang, ia menemukan sebuah kotak cokelat dari toko legendaris yang dulu sering Bima datangi hanya untuk membelikannya hadiah.

Di atas kotak itu ada catatan kecil: Selamat sudah menjadi mahasiswa mandiri. Maaf untuk bibirmu yang terluka kemarin. - B.

Alea menyentuh bibirnya yang kini sudah hampir sembuh. Rasa benci yang tadi pagi ia agungkan kini mulai terkikis oleh rasa rindu yang kembali menyeruak.

Ia mulai merasa bahwa mungkin... mungkin monster kemarin hanyalah bayangan buruk akibat kelelahan perjalanan jauh Bima. Paman manisnya telah kembali.

Malam itu, Alea turun ke bawah untuk mengambil minum. Ia melihat Bima duduk di ruang tengah, sedang membaca dokumen bisnis dengan kacamata bertengger di hidungnya. Bima mendongak dan tersenyum lembut saat melihat Alea.

"Sudah selesai belajarnya?" tanya Bima, suaranya hangat.

Alea mengangguk ragu. "Terima kasih untuk cokelatnya, Uncle."

"Sama-sama. Tidurlah, kau pasti lelah," ujar Bima kembali fokus pada pekerjaannya, membiarkan Alea memiliki ruangnya sendiri.

Alea berjalan kembali ke kamarnya dengan perasaan bimbang. Di satu sisi, ia merasa merdeka.

Di sisi lain, perhatian lembut Bima mulai menariknya masuk ke dalam sebuah perangkap yang jauh lebih berbahaya daripada kekerasan: perangkap kenyamanan.

Alea tidak menyadari bahwa Bima sedang memainkan permainan jangka panjang. Pria itu tahu, memaksa Alea hanya akan membuatnya lari.

Namun, menjadi sosok yang paling mengerti dan mendukung kemandiriannya akan membuat Alea datang sendiri ke pelukannya.

Bima melirik ke arah tangga saat suara pintu kamar Alea tertutup. Senyum lembutnya perlahan berubah menjadi seringai tipis yang penuh kemenangan.

"Terbanglah sesukamu, little bird," gumamnya pelan. "Semakin jauh kau mencoba terbang, semakin kau akan sadar bahwa hanya aku yang akan selalu ada untuk menangkapmu saat kau lelah."

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!