NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Putri asli/palsu / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
​Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
​Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
​"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
​Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: RERUNTUHAN DI ATAS PODIUM

​"Matikan! Aku bilang matikan suaranya sekarang juga!"

​Teriakan Elyas Lynn menggelegar, memecah keheningan mencekam yang menyelimuti ballroom. Namun, operator teknis tampaknya telah kehilangan kendali, atau mungkin sengaja dibuat tidak berdaya. Suara audio dari layar raksasa itu justru semakin jernih, mengulang kalimat terakhir Elysia yang merendahkan kedua orang tua kandungnya sendiri.

​“Ayah dan Ibu sangat bodoh...”

​Kata 'bodoh' itu terus terngiang, memantul di dinding-dinding mewah hotel, menghantam harga diri Elyas dan Anora Lynn di depan ratusan pasang mata elit kota.

​Di atas panggung, Elysia Lynn tampak seperti boneka rusak. Ia jatuh terduduk, gaun putih sutranya yang mahal kini terseret di lantai podium yang dingin. Wajahnya yang tadi berseri-seri kini dipenuhi teror. Ia menoleh ke arah Andrew, mencari perlindungan, namun Andrew sendiri sedang berdiri mematung dengan wajah sepucat kertas.

​"Nerina... Apa yang kamu lakukan?" Andrew akhirnya bersuara, napasnya tersengal. Ia melangkah maju, tangannya gemetar hebat. "Kamu memfitnah kami! Itu... itu audio palsu! AI! Kamu menggunakan teknologi untuk menjebak kami!"

​Nerina melipat tangannya di dada, tetap berdiri tegak di tengah sorot lampu yang kini terasa seperti lampu interogasi bagi Andrew dan Elysia. Ia melirik Andrew dengan tatapan iba yang menghina.

​"Teknologi AI, Andrew?" Nerina terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat jernih tertangkap mikrofon. "Apakah AI juga bisa meniru getaran nada suaramu yang begitu penuh ambisi saat berencana menyabotase audit perusahaan? Ataukah AI juga bisa menciptakan ekspresi wajah ketakutan Elysia saat ini?"

​"Nerina, hentikan!" Nero berteriak dari bawah panggung, ia mencoba naik namun tertahan oleh kerumunan wartawan yang mulai beringas mengambil gambar. "Kamu menghancurkan keluarga kita di depan semua orang!"

​"Menghancurkan keluarga?" Nerina menoleh pada Nero, matanya berkilat tajam. "Keluarga mana yang kamu maksud, Kak Nero? Apakah keluarga yang membiarkan putri kandungnya menyebut orang tuanya sendiri bodoh? Atau keluarga yang membiarkan seorang anak angkat dijadikan tumbal untuk kesalahan audit yang tidak ia lakukan?"

​Nerina kemudian berjalan mendekati Elysia. Langkah sepatunya terdengar seperti detak jam kematian di telinga gadis itu. Nerina berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan Elysia yang sedang terisak histeris.

​"Elysia," panggil Nerina lirih, suaranya sangat lembut namun mematikan. "Kenapa diam saja? Tadi di ruang VIP kamu terdengar sangat vokal. Kamu bilang aku hanya anak angkat yang malang, kan? Sekarang, lihatlah siapa yang malang di bawah lampu sorot ini."

​"Kak... t-tolong... ini salah paham..." Elysia mencoba meraih tangan Nerina, air matanya kini benar-benar jatuh karena rasa takut yang nyata.

​Nerina menepis tangan itu dengan halus namun tegas. "Jangan kotori gaun hitamku dengan air mata palsumu, Elysia. Simpan itu untuk pembelaanmu di depan Ayah nanti."

​Di meja utama, Anora Lynn akhirnya jatuh pingsan di pelukan pelayannya. Elyas Lynn, pria yang biasanya begitu berwibawa, kini tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap. Ia melangkah naik ke panggung dengan langkah gontai, matanya merah menahan amarah yang meledak-ledak.

​Elyas mengambil mikrofon dari tangan Nerina dengan kasar. Suaranya bergetar saat ia bicara ke arah tamu.

​"Acara... acara malam ini berakhir di sini. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Pihak Lynn akan memberikan klarifikasi segera."

​"Klarifikasi apa lagi, Ayah?" Nerina menyela, suaranya tetap tenang meski Elyas menatapnya dengan penuh kebencian. "Semua orang sudah mendengar kejujuran yang paling murni malam ini. Bukankah Ayah yang menginginkan transparansi?"

​"Diam kamu, Nerina!" bentak Elyas. "Ikut aku ke ruang belakang. Sekarang!"

​Ruang VIP di belakang ballroom terasa seperti peti mati yang dingin. Begitu pintu ditutup rapat, suara tamparan keras menggema.

​Plak!

​Andrew tersungkur setelah tangan Elyas Lynn menghantam wajahnya.

​"Berani-beraninya kamu!" raung Elyas. "Aku memberikanmu kepercayaan untuk menjaga perusahaan, dan kamu berencana menjatuhkan Nerina demi mencuri asetku?!"

​"Tuan Lynn, dengarkan saya—" Andrew mencoba memohon sambil memegangi pipinya yang membiru.

​"Dan kamu!" Elyas menunjuk Elysia yang sedang meringkuk di sofa, menangis sesenggukan. "Putri kandungku? Kamu menyebutku bodoh? Sepuluh tahun aku mencarimu, mengeluarkan miliaran uang untuk menemukanmu, dan ini balasanmu?!"

​"Ayah... hiks... Andrew yang menghasutku! Dia bilang Nerina ingin mengusirku!" Elysia mencoba melakukan taktik terakhirnya: membuang semua kesalahan pada orang lain.

​"Boong! Kamu yang bilang kamu ingin melihat Nerina mengemis!" Andrew balas berteriak, panik karena merasa akan dibuang sendirian.

​Nerina berdiri di sudut ruangan, bersandar pada dinding kayu dengan tenang. Di sampingnya, Ergino berdiri dengan posisi tegak, wajahnya tanpa ekspresi namun matanya terus mengawasi setiap pergerakan di ruangan itu.

​"Menarik," gumam Nerina pelan. "Saling menggigit saat terpojok. Sangat khas ular."

​Nero menatap Nerina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Nerina, bagaimana kamu mendapatkan rekaman itu? Kamu memata-matai mereka?"

​Nerina menoleh pada kakaknya. "Memata-matai? Tidak, Nero. Aku hanya memasang sistem keamanan yang seharusnya sudah ada sejak lama. Jika mereka tidak merencanakan kejahatan, rekaman itu hanya akan berisi suara sunyi, bukan?"

​"Tapi kamu mempermalukan kita semua!" Nero mendekati Nerina. "Bisnis kita, saham kita... semuanya akan anjlok besok pagi!"

​"Biarkan saja anjlok," sahut Nerina santai. "Lebih baik kehilangan saham daripada membiarkan parasit menggerogoti rumah dari dalam. Bukankah begitu, Gino?"

​Ergino membungkuk sedikit. "Benar, Nona. Terkadang, rumah harus dibakar sepenuhnya untuk membasmi rayap yang bersembunyi di balik dinding."

​Elyas Lynn menatap Ergino dengan tajam. "Kamu... pelayan sialan. Kamu yang membantu Nerina melakukan ini, kan? Kamu dipecat! Keluar dari rumahku!"

​Ergino tidak bergeming. Ia tidak tampak takut sedikit pun. Ia justru menatap Elyas dengan pandangan yang membuat pria tua itu merinding.

​"Kontrak saya adalah untuk melayani Nona Nerina, Tuan Lynn," suara Ergino rendah namun sangat berwibawa. "Dan sejauh yang saya tahu, Nona Nerina-lah yang membayar kompensasi saya belakangan ini, bukan Anda."

​Elyas tertegun. Ia menoleh pada Nerina. "Apa maksudnya ini?"

​"Ayah lupa?" Nerina berjalan ke tengah ruangan. "Tiga hari yang lalu, Ayah menyerahkan otorisasi penuh atas manajemen staf rumah tangga dan anggaran operasional kepadaku untuk persiapan pesta. Jadi, secara teknis, akulah majikannya sekarang."

​Nerina menatap Andrew yang masih terduduk di lantai. "Andrew, pertunangan kita... berakhir malam ini. Dan jangan harap keluargamu bisa membantumu. Aku sudah mengirimkan rekaman tentang rencanamu memanipulasi audit kepada ayahmu. Kurasa, dia jauh lebih peduli pada nama baik Fidelis daripada putra sepertimu."

​Andrew membelalak. "Nerina! Kamu tidak boleh melakukan ini!"

​"Aku baru saja melakukannya," balas Nerina.

​Nerina kemudian menatap Elysia yang masih terisak. "Dan untukmu, 'Putri Kandung' tercinta... selamat menikmati kamar mewahmu malam ini. Karena mulai besok, setiap sen yang kamu habiskan akan aku hitung sebagai hutang. Kamu ingin menjadi ratu? Belajarlah cara membayar pajaknya lebih dulu."

​Nerina berbalik, memberikan isyarat pada Ergino untuk mengikutinya. Saat ia sampai di pintu, ia berhenti dan menatap keluarganya untuk terakhir kali malam itu.

​"Gino, bawa aku pulang. Aku lelah melihat drama murahan ini."

​"Baik, Nona."

​Saat mereka berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi menuju parkiran, Nerina merasakan angin malam menerpa wajahnya. Ia menarik napas panjang.

​"Gino," panggil Nerina.

​"Iya, Nona?"

​"Kamu tadi sangat berani bicara pada Ayah seperti itu. Kamu tidak takut dia akan menggunakan pengaruhnya untuk menghancurkanmu?"

​Ergino membukakan pintu mobil untuk Nerina. Ia menatap mata wanita itu di bawah lampu temaram parkiran. Senyum tipis yang misterius muncul di wajah tampannya.

​"Pengaruhnya tidak menjangkau tempat saya berdiri, Nona," bisik Ergino. "Lagipula, seorang pelayan harus selalu membela majikannya, bukan?"

​Nerina masuk ke dalam mobil, merasa sebuah debaran aneh di jantungnya. Ia merasa di kehidupan kedua ini, rahasia terbesar bukanlah tentang Elysia atau Andrew, melainkan tentang siapa sebenarnya pria yang sedang mengemudikan mobilnya ini.

​Di atas podium tadi, Nerina merasa telah menghancurkan musuhnya. Namun saat melihat punggung Ergino, ia merasa seolah ia baru saja membuka pintu menuju sebuah kekuatan yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.

1
Ariska Kamisa
/Shhh//Shhh//Shhh//Shhh//Shhh/
aditya rian
burulah dinikahin nerina nya gino
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
anak angkat seakan sengaja dibuang agar bisa hidup
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
wow/Scare/
Ariska Kamisa: 🤔🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
aditya rian
mulai babak drak romance
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rahasia terbaru👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
gino tidak mati dulunya? apakah time traveler?
Ariska Kamisa: ikuti terus ya🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
ergino keren amat
Ariska Kamisa: terimakasih🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
cettaass
aditya rian
wow tentara bayaran
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
sepertinya ergino terobsesi 🤭
Ariska Kamisa: yes👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
ini mulai babak baru , misteri ibu kandung nerina.
Ariska Kamisa: betul
total 1 replies
aditya rian
gob**k elysia 🤣
aditya rian
ibu kandung nya hidup???
aditya rian
dibutakan oleh rasa bersalah karena telah terpisah lama ini orang tuanya jadi anak salah geh kaya ga mau salah🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rame👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
siapa gino sebenarnya, begitu kuat kah sehingga di takuti
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!