NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Barikade Berdarah Dingin

Guncangan keras akibat pengereman mendadak itu melemparkan punggung Alana kembali ke sudut jok kulit. Di luar jendela antipeluru, suasana asri gerbang utama kediaman Adhitama runtuh dalam sekejap. Berganti dengan barisan kendaraan taktis berwarna hijau zaitun yang berjejer rapi, memblokade jalur masuk dengan keangkuhan militer yang kaku.

Pria-pria berseragam loreng dengan senjata laras panjang di dada berdiri tegak di sepanjang perimeter. Membentuk pagar betis yang mengisolasi total kawasan tersebut dari jangkauan publik. Di tengah-tengah barikade, seorang pria paruh baya dengan jubah dinas militer berhias bintang emas di pundaknya berdiri bersedekap, menatap lurus ke arah moncong SUV hitam milik Devano.

Dia adalah Jenderal Wijaya. Paman kandung Siska sekaligus sosok pelindung asli yang selama ini menjadi pilar kekuatan politik di balik nama besar keluarga Wijaya.

Alana merasakan pasokan udara di dalam paru-parunya mendadak mengering. Monolog batinnya berputar dalam kepanikan yang hebat. Jenderal Wijaya telah kembali dari misinya di perbatasan. Siska pasti sudah merencanakan ini sebagai jaring pengaman terakhirnya jika teatrikal di kantor gagal total.

Devano Adhitama tidak menunjukkan riak kepanikan sedikit pun. Pria itu perlahan menegakkan tubuh tingginya, merapikan lengan kemeja satin abu-abunya yang sedikit kusut akibat interaksi intim mereka sebelumnya. Sepasang netra obsidiannya menyipit pekat, memancarkan kilat dingin yang sanggup meremukkan nyali seorang prajurit paling berani sekalipun.

"Jefri, tetap di dalam. Buka pintu khususku," perintah Devano melalui interkom statis dengan nada suara yang sangat datar namun sarat akan otoritas mutlak.

Devano beralih menatap Alana yang duduk membeku dengan wajah sepucat kapas. Tangan besarnya terulur, tidak lagi mencengkeram leher atau pinggang wanita itu, melainkan mengunci jemari dingin Alana ke dalam genggaman telapak tangannya yang hangat dan kokoh. Sebuah sentukan dominasi psikologis yang menegaskan bahwa Alana tidak diizinkan untuk melangkah mundur dari sisinya.

"Tetap di belakangku, Nyonya Adhitama. Mari kita lihat seberapa jauh pangkat bintang emas itu bisa melindunginya dari hukum bisnisku," desis Devano dengan seringai tipis yang mengerikan di sudut bibirnya.

Pintu hidrolik SUV terbuka secara otomatis. Devano turun dan langsung menduduki kursi roda elektriknya, kembali mengenakan topeng kelumpuhannya yang legendaris di hadapan barisan moncong senjata. Alana melangkah keluar dengan gaun yang sedikit gemetar, namun genggaman tangan Devano yang masih mengunci jemarinya memberikan jangkar kekuatan yang tak kasat mata.

Derap langkah sepatu bot militer bergema berat di atas beton lobi luar kediaman saat Jenderal Wijaya melangkah maju. Wajah tua yang dipenuhi gurat ketegasan itu menatap Devano dengan sorot penuh penghinaan yang mendalam.

"Devano Adhitama! Kau memiliki keberanian yang luar biasa untuk menyentuh keponakan kandungku!" gertak Jenderal Wijaya, suaranya menggelegar membelah keheningan sore yang mencekam. "Kau memalsukan dokumen, menjebak Siska hingga melarat, dan sekarang menyuruh polisi sipil menyeretnya seperti hewan! Apakah kau pikir uang Adhitama Group bisa membeli hukum di negara ini?!"

Devano menghentikan gerakan kursi rodanya tepat tiga langkah di hadapan sang Jenderal. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan keanggunan seorang kaisar sejati, mengabaikan barisan laras senapan yang mengarah tepat ke kepala dan dadanya.

"Jenderal Wijaya. Senang melihat Anda kembali dengan selamat dari perbatasan," ucap Devano, suaranya mengalun sangat tenang namun bergetar tajam bak belati yang siap mengoyak urat nadi.

"Namun sayang sekali, bintang di pundak Anda tampaknya membuat pandangan Anda menjadi buram. Keponakan Anda yang berharga itu bukan dijebak olehku, melainkan dihancurkan oleh keserakahannya sendiri. Dia memeras istriku, memalsukan mutasi saham, dan mencoba kabur dengan dana ilegal," lanjut Devano tanpa keraguan sedikit pun.

Jenderal Wijaya mengepalkan tangannya hingga otot-otot di lengannya menonjol keras. "Alana hanyalah anak pungut tidak sah yang kau jadikan boneka! Siska adalah mempelai yang sah untuk perjanjian bisnis kita dua tahun lalu! Batalkan semua tuntutan polisi atau aku akan memastikan seluruh izin logistik Adhitama Group di pelabuhan dicabut malam ini juga!"

Ancaman itu adalah sebuah deklarasi perang terbuka yang sangat melodrama. Kerugian finansial yang dipertaruhkan tidak lagi bernilai miliaran, melainkan kelangsungan urat nadi bisnis Adhitama di sektor internasional.

Alana menatap punggung tegap Devano dengan kecemasan yang memuncak. Namun, yang ia dapati justru sebuah tawa rendah yang keluar dari tenggorokan suaminya. Sebuah suara tawa yang kering, dingin, dan sarat akan kepuasan yang kejam.

"Mencabut izin logistikku?" Devano mengulang kalimat itu dengan nada mengejek yang sangat pekat. Pria itu perlahan mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat kepada Jefri yang segera keluar dari mobil dengan sebuah koper metalik kecil.

Jefri membuka koper tersebut dan mengeluarkan selembar dokumen dengan lambat. "Jenderal Wijaya, lima belas menit yang lalu, Kementerian Pertahanan telah merilis surat mutasi resmi. Jabatan Anda sebagai pengawas logistik militer wilayah barat telah dicabut atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan pasokan dana gelap dari Mahendra Group dua tahun lalu."

Mendengar laporan itu, wajah Jenderal Wijaya yang semula memerah penuh amarah seketika berubah menjadi abu-abu. Matanya membelalak sempurna, menatap lembaran kertas berkop resmi negara yang kini berada di tangan Jefri.

"Kau... bagaimana bisa kau mengintervensi keputusan pusat?!" suara sang Jenderal mendadak tercekat, keangkuhan militernya runtuh berantakan di atas tanah dalam hitungan detik.

"Di dunia bisnis atau politik, Jenderal... aku tidak pernah menunggu musuhku mengarahkan senjatanya ke wajahku," desis Devano dengan rahang yang mengeras sempurna. Sepasang mata elangnya menatap Jenderal tua itu dengan pandangan membunuh yang mutlak. "Anda sudah menerima uang haram dari Julian Mahendra untuk mengamankan jalur penyelundupan Siska. Dan dokumen yang dipegang Jefri... adalah surat perintah penangkapan Anda dari Polisi Militer yang saat ini sudah berada di ujung jalan."

Derap sirine mobil dinas Polisi Militer terdengar meraung dari kejauhan, memutus sisa-sisa pertahanan pasukan pengawal Jenderal Wijaya. Barisan pria berseragam loreng itu perlahan menurunkan senjata mereka, menyadari bahwa sang panglima telah kalah telak dalam papan catur yang dimainkan oleh sang tirani Adhitama.

"Bawa dia masuk ke dalam mansion," perintah Devano kepada Jefri, merujuk pada Alana yang kini berdiri lemas dengan tubuh yang dingin akibat teror psikologis yang baru saja dilewatinya.

Devano menggerakkan kursi rodanya masuk melintasi pintu ganda mansion yang megah, diikuti oleh Alana yang melangkah dengan sisa-sisa kekuatannya. Begitu mereka sampai di dalam kamar utama yang luas dan remang-remang, Devano langsung mengunci pintu dari dalam.

Atmosfer kamar seketika berubah menjadi ruang isolasi yang sarat akan ketegangan intim. Devano perlahan bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya, postur tubuh tingginya yang tegap melangkah dengan pasti, memotong sisa jarak di antara mereka hingga tubuh kekarnya menyudutkan Alana langsung pada pilar tempat tidur yang kokoh.

Brak!

Devano menumpukan tangan kanannya di pilar kayu di atas kepala Alana, mencondongkan badannya hingga dada bidang mereka saling bergesekan halus. Hawa panas dari tubuh Devano yang baru saja memenangkan pertempuran besar memancar kuat, mengepung seluruh indra penciuman Alana.

"Kau masih takut, Alana?" bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah dan seksi di depan bibir mungil Alana yang bergetar. Sepasang mata elangnya berkilat dengan kegilaan obsesi yang sangat pekat, mengunci seluruh ruang gerak wanita di bawah kuasanya.

Alana mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam pekat suaminya. Air mata haru yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipi. "Saya tidak takut pada Jenderal itu, Tuan Devano... Saya hanya takut pada kenyataan bahwa Anda... Anda begitu mengerikan saat menghancurkan seseorang."

Devano menyeringai tipis, seutas senyuman kejam yang justru membuat ketampanannya terlihat begitu mematikan. Jemari tangannya yang besar bergerak naik, tidak untuk mencium bibir Alana, melainkan meraba perlahan garis rahang wanita itu dengan ibu jarinya, menghapus air matanya dengan gerakan lambat yang penuh klaim kepemilikan.

"Aku harus menjadi mengerikan untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku, Istriku," desis Devano posesif. Tangan kirinya bergerak turun, mencengkeram pinggang ramping Alana dengan tekanan dominan yang memaksa tubuh wanita itu melekat erat tanpa jarak pada tubuh tegapnya.

"Jenderal Wijaya sudah tumbang. Siska tidak akan pernah melihat matahari kota ini lagi. Tapi ingat, Alana... setiap kali aku menumpahkan darah musuhmu, utang kepatuhanmu padaku bertambah satu baris. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sangkar ini, seumur hidupmu."

Alana hanya bisa mengangguk pasrah, merasakan tarikan napas Devano yang berembus hangat di keningnya saat pria itu mengunci tubuhnya dalam dekapan posesif yang tak menyisakan celah untuk melarikan diri di tengah keheningan malam yang sunyi.

Namun, ketegangan intim itu mendadak terputus ketika sebuah suara dentangan lonceng besar dari arah halaman belakang mansion berbunyi berulang kali, menandai terjadinya sebuah pelanggaran sistem keamanan yang jauh lebih fatal.

Teng! Teng! Teng!

"Tuan Devano!" Suara Jefri melalui interkom dinding terdengar bergetar hebat penuh horor. "Seseorang telah meledakkan pintu ruang bawah tanah tempat penyimpanan berkas asli Wijaya Corps! Dan pelakunya... adalah Herman Wijaya, ayah kandung Nyonya Alana sendiri!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!