"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI PERCEPAT KATANYA
Arnold menatap Arya yang terduduk di hadapannya. Ia sudah mengetahui kalau Kakak dari Anjani akan datang ke pondok penginapannya. Kelvin dan Anjani berada di luar dan membiarkan mereka berdua berbicara.
"Ya, ini hanya sebuah kebetulan, bro." kata Arnold dengan santai.
Arya tampak memutar matanya malas, tujuannya menemui Arnold hanya satu. Menatap wajah tampan Arnold yang di hiasi beberapa plaster luka, Arya tersenyum puas. Setidaknya kemarahannya tersalurkan dan yang kebetulan orang itu adalah Arnold.
"Kebetulan atau kamu memang mencari tahu tentang Adikku, Arnold?" tangan pria itu tersilang dengan tatapan tajam.
Arnold terkekeh dan melempar sebuah kotak rokok kepada Arya, "lama juga kamu bersembunyi dari ku. Pintar sekali,"
"Aku tidak ingin berlama-lama, membuat ku muak melihat wajahmu." jawaban itu sangat ketus dan tidak bersahabat.
"Wel, aku serius ingin mengajak Adik mu menikah, Arya Sanjaya." senyuman licik itu terpancar dari wajah tampan seorang Arnold.
Arnold sengaja menyebut nama lengkap pria di hadapannya, ia tahu kalau Arya tak menyukai nama lengkapnya di sebut oleh pria asing manapun, termasuk dirinya mungkin. Kedua pria yang memiliki usia tak jauh itu saling bertatapan, Arnold wajah tengilnya sedangkan Arya dengan wajah kesalnya.
"Pasti kamu belum menikah," ujar Arya tersenyum miring.
Arnold mengangguk dan tidak mengelak. Karena yang dikatakan oleh Arya ada benarnya. Usianya sudah menginjak kepala tiga, namun ia belum juga menikah ataupun memiliki kekasih.
"Ya ... ya Kamu benar dan yang akan menjadi istri sekaligus Kekasihku adalah Anjani, Adikmu."
"Ck, apa yang akan kamu berikan kepada ku? Permintaan maaf?" tanya Arya membuat Arnold tertawa terbahak-bahak.
Ternyata pria ini sungguh marah. Batin Arnold dengan diiringi tawa.
"Itu sudah lama dan kamu masih mengingatnya? C'mon dude,"
"Walaupun sudah sangat lama, tapi kamu tidak akan mengerti menjadi diriku, Arnold." Arya berdiri dari tempatnya dan menatap pondok penginapan itu.
Arnold terdiam, ia menatap ke arah dada Arya yang terlihat jelas perban melilit di sana. "Apa kamu tahu, kalau Anjani meminjam uang kepada Kades di sini?"
Arya melirik, "Ya. Aku mengetahui semuanya,"
"Kenapa kamu tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Anjani? Mau sampai kapan kamu terus berbohong?"
Percakapan itu mulai terdengar serius, Arya melepas baju putih yang sudah usang itu dan mengambil kemeja hitam milik Arnold tanpa ijin. Arnold hanya diam memperhatikan gerak-gerik Arya dengan seksama.
"Kamu harus membayar lebih pondok penginapan ini kepada ku,"
Arnold memutar matanya jengah, tak ada yang tahu kalau pondok penginapan yang berada di tengah sawah ini adalah milik seseorang yang mereka hina. Pondok penginapan yang langsung di perlihatkan sunset serta bentangan sawah yang menguning.
"Dasar owner pelit. Aku ini tamu dan aku juga sahabat mu," Arnold menyambut pelukan hangat dari Arya.
"Welcome Arya Sanjaya, Om Nathan menunggu mu setelah sekian lama."
Arya hanya menepuk pelan pundak Arnold. Ya, Arya adalah sahabat dekat Arnold setelah Kelvin. Mereka bersahabat sebelum Kelvin datang menjadi sekretaris dari Arnold.
...****************...
MANSION DARMAWANGSA ....
Sepasang suami istri tampak bersantai sembari menikmati sinar matahari pagi, dengan ditemani secangkir teh dan kopi, kedua mereka berdua tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jasmine bolak-balikkan majalah dengan sesekali melirik Fero di sebelahnya.
"Lama juga bocah itu di desa, apakah dia betah di sana?" celetuk pria tua itu membuat Jasmine menoleh.
Sudah hampir dua hari lamanya, tapi Arnold belum menelpon sama sekali ataupun menghubungi Jasmine. Fero tidak khawatir, tapi ia takut sang istri kepikiran dan mendesaknya untuk menyusul sang Putra.
"Kalau kamu merindukannya, susul Arnold sekarang."
Fero menghela nafas, ia sudah menduga kalau Jasmine akan mengatakan hal itu. Jasmine dibuat terheran-heran dengan tingkah sang suami dan Putra mereka, saat berada di dalam rumah mereka selalu beradu mulut dan beradu argument, berbeda saat berada di luar ruangan atau bertemu dengan tamu penting, terkadang seperti orang asing dan terkadang menjadi sangat akrab.
Jasmine tidak tahu harus bagaimana, karena Arnold adalah sebagian besar sifat dari Fero. "Katanya kamu khawatir,"
"Untuk apa mengkhawatirkan pria sudah 33 tahun itu, membuang waktuku saja." Fero mengatakan hal itu tanpa sebab, karena ada Kelvin yang ikut bersama Arnold ke desa.
Jasmine berdecak kesal dengan jawaban sang suami, "Tapi ...."
"TUAN!" terlihat seseorang mengejutkan Fero dan Jasmine. Mereka berdua secara bersamaan menoleh dan mendapati seorang pria yang seumuran dengan mereka berlari dengan wajah tidak bisa di deskripsikan oleh mereka.
"Turunkan ada bicaramu, Berta!" tegur Fero dengan wajah tenang.
Pria bernama Berta, terkejut dan dan membungkukkan tubuhnya. "Maafkan saya Tuan dan Nyonya besar, tapi saya memiliki pesan penting."
"Pesan dari siapa itu?" tanya Jasmine dengan rasa penasaran.
"Tuan Muda Arnold."
Uhuk ....
"Pelan-pelan, Sayang." Fero terbangun terkejut dan mengelus punggung sang istri. Jasmine menatap membinar kepada Berta dan berharap mendapatkan pesan yang menyenangkan hati mereka.
"Say!" Jasmine menatap Fero dengan senang. "Cepat katakan, Berta!"
"Tuan Muda Arnold berencana untuk melamar gadis desa yang bernama Anjani itu,"
"WHAT?!" Fero terkejut membuat Jasmine memukul lengan pria itu. Fero berdeham dan menyeruput sisa kopinya. "Bagus, kapan rencananya dia akan melamar gadis itu?"
"Kelvin mengatakan rencana itu akan dilaksanakan besok,"
Jasmine melompat kecil kegirangan, ia tak menyangka kalau Arnold benar-benar serius mencari gadis desa untuk dijadikan istrinya. "Sayang, kamu dengar yang dikatakan oleh Berta? Putra kita, Arnold akan segera menikah dengan gadis pilihannya!"
Fero memijat pangkal hidungnya, walaupun wajahnya terlihat tak peduli namun di lubuk hatinya ia berkata lain. Fero jauh lebih bahagia, bahagia sekaligus sedih karena akhirnya Putra semata wayang mereka mendapatkan gadis yang akan di nikahinya.
"Katakan kepada Putra mu, hari ini kita akan berangkat ke desa."
Berta mengangguk mengerti, saat hendak meninggalkan Fero dan Jasmine, Berta kembali menoleh mengundang tatapan tanya dari Fero.
"Apakah ada hal yang ingin kamu katakan, Berta?"
Berta mengangguk dan melirik Fero, "dengan Tuan Besar."
Fero pergi meninggalkan Jasmine yang kebingungan, tapi wanita itu tak memikirkan dan memanggil semua pelayan. Ia harus mempersiapkan semuanya.
"Bik Santi!"
"Iya, Nyonya!"
Sedangkan di lain sisi, di ruangan besar milik Fero. Berta sedikit melonggarkan dasinya dan memberikan sesuatu kepada pria di hadapannya.
"Dia bersembunyi di desa, Tuan." kata Berta dengan pelan.
"Aku sudah mengetahuinya,"
Berta menaikkan alisnya. "Kenapa Tuan tidak memberitahu keluarga sebelah?"
"Untuk apa, Berta? Bukan urusan ku,"
Yang di katakan Fero ada benarnya, keluarga besar Darmawangsa sedang berkonflik panjang dengan seseorang. Walaupun tidak mencolok, konflik antar keluarga ini sudah sangat lama bahkan lebih dari setengah abad.
"Lagipula pria itu tetap memakai nama belakangnya, dia tinggal bersama Adiknya." ucap Fero kembali.
"Saya mengira, konflik antar keluarga ini telah usai." Berta menggaruk kepalanya dengan canggung.
Fero tertawa pelan dan mengambil satu kertas terlipat yang di berikan oleh Berta. "Walaupun tidak mencolok, sebenarnya kami saling menyerang dari belakang, contohnya beberapa bulan yang lalu, di mana keluarga payah itu menyerang kepercayaan para klien ku,"
Berta mengangguk. Berta adalah Ayah dari Kelvin, sekaligus tangan kanan dari Fero. Bedanya, Kelvin menjadi sekretaris sekaligus tangan kanan, sedangkan Berta hanya tangan kanan. Ia hanya cukup melakukan perintah dari Fero dan mengikuti setiap langkah pria seusianya itu.
"Dan, gadis yang akan menjadi calon menantu ku adalah Anjani Calista Amadea. Adik dari Arya Sanjaya,"
Berta sedikit terkejut, itu artinya Anjani yang di maksud oleh Kelvin adalah Anjani adik dari Arya Sanjaya, putra yang di angkat secara resmi oleh keluarga Airlangga.
"Itu artinya Arya? Oh, astaga. Dunia sangat sempit."
Fero menyimpan kertas itu ke laci dan menatap Berta dengan serius. "Berta, Arya tidak ada hubungannya dengan keluarga Airlangga, ia hanya di angkat secara resmi namun dia tidak memiliki keterlibatan apapun."
"Saya mengerti,"
"Good job." Fero melenggang pergi dengan diikuti oleh Berta, "dan, ternyata anak itu ingin mempercepat proses memiliki Anjani ternyata."
Berta tertawa pelan. Kelvin mengatakan kalau Arnold sangat tergila-gila oleh Anjani, bahkan wajahnya babak-belur karena di hajar habis-habis oleh Arya karena tidak terima. Berta yang mengingat hal itu, mengingatkannya dengan kisah Fero dan Jasmine dulu.
"Kisah mereka sangat mirip dengan kalian,"