NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengambil Hadiah

Tiba-tiba…

“Cukup!!!”

Sebuah teriakan keras menggema, memecah suasana yang tegang. Suara itu begitu dalam dan penuh tekanan hingga membuat beberapa penonton tanpa sadar menutup telinga mereka.

Whoosh!

Sosok seorang pria tua melesat masuk ke dalam arena. Jubahnya berkibar, dan hanya dalam sekejap… ia sudah berdiri di antara Gao Rui dan Cai Yun.

Aura yang dipancarkannya berat dan menekan. Membuat udara di sekitarnya terasa kaku. Latih tanding itu terhenti seketika.

Api di tangan Gao Rui masih menyala… namun perlahan ia menurunkannya. Sementara itu, api di tangan Cai Yun langsung padam begitu melihat sosok tersebut.

“Te-Tetua…!” gumamnya, wajahnya berubah pucat.

Ia mengenali orang itu. Tetua Sekte Lembah Seribu Bayang. Pria tua itu tidak langsung menatap Cai Yun. Tatapannya justru tertuju pada sisa panas yang masih tertinggal di udara… bekas api milik Gao Rui.

Matanya sedikit menyipit.

“…api yang luar biasa,” gumamnya pelan.

Lalu, dengan suara tegas, ia berkata,

“Latih tanding dihentikan.”

Tidak ada yang berani membantah.

Ia melirik ke arah Cai Yun sekilas, lalu kembali menatap Gao Rui.

“Aku merasakan kekuatan api yang kau lepaskan tadi…” katanya perlahan. “Jika ini diteruskan… akan sangat berbahaya.”

Nada suaranya tenang, tapi jelas penuh penilaian.

“…dan,” lanjutnya, “tidak ada gunanya melanjutkan jika hasilnya akan menimbulkan bahaya. Terutama bagi penonton.”

Cai Yun mengepalkan tangannya, namun tidak berani berkata apa-apa. Wajahnya menegang… antara marah dan malu.

Pria tua itu melangkah maju satu langkah mendekati Gao Rui.

“Aku adalah Da Liang,” katanya.

Tatapannya dalam. Menilai. Seolah ingin melihat hingga ke dasar diri Gao Rui.

“Nak…” lanjutnya, “…kau memiliki bakat yang sangat hebat. Jarang aku melihat anak seusiamu mampu mengendalikan api dengan tingkat seperti itu.”

Ia berhenti sejenak.

“Bagaimana jika kau bergabung dengan Sekte Lembah Seribu Bayang kami?”

Suasana langsung hening. Para penonton membelalakkan mata.

“Apa?!”

“Ditawari langsung oleh Tetua?!”

“Itu… tidak mungkin…”

Murid-murid sekte itu sendiri tampak terkejut. Tidak menyangka seorang tetua akan secara langsung mengundang seseorang di depan umum.

Gao Rui menatap pria tua itu sejenak. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada kesombongan, tidak juga kegugupan.

Ia kemudian menangkupkan tangan dengan sopan.

“Terima kasih atas tawarannya, Senior,” katanya hormat. “Namun… saya tidak bisa bergabung. Saya sudah menjadi murid dari sekte lain.”

Da Liang tidak terlihat marah. Justru ia tersenyum tipis.

“Tidak masalah,” katanya santai. “Jika kau mau… kau bisa pindah.”

Kalimat itu membuat kerumunan kembali gempar.

“Pindah sekte?!”

“Dia benar-benar serius!”

Namun Gao Rui hanya menggeleng pelan.

“Maafkan saya,” jawabnya tetap sopan. “Saya tidak berniat berpindah.”

Penolakannya… halus. Tapi jelas.

Untuk sesaat, Da Liang hanya menatapnya. Lalu akhirnya ia mengangguk kecil.

“Sayang sekali,” gumamnya.

Gao Rui kembali menangkupkan tangan.

“Kalau begitu… saya mohon izin.”

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia berbalik. Langkahnya tenang saat meninggalkan arena. Baru beberapa langkah...

“Tunggu.”

Suara Da Liang terdengar lagi. Gao Rui berhenti. Ia menoleh sedikit ke belakang. Tetua itu menatapnya dalam-dalam.

“Siapa namamu, nak?”

Suasana kembali hening. Semua orang ikut menahan napas, menunggu jawaban. Gao Rui tidak terlihat ragu.

“Nama saya… Gao Rui.”

Jawabannya sederhana. Tenang. Tanpa tambahan apa pun.

Namun entah kenapa… nama itu terasa berat saat terdengar di telinga banyak orang.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia berbalik. Langkahnya tenang saat meninggalkan arena. Di pinggir, Bai Kai sudah berdiri menunggunya. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung mengikuti dari belakang.

Suasana… menjadi sunyi. Tidak ada sorakan lagi. Tidak ada ejekan. Hanya tatapan kosong dari ratusan orang yang masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Beberapa dari mereka… mulai merasa ada sesuatu yang familiar.

“…Gao Rui…” gumam seseorang pelan.

“…nama itu…”

Kerutan muncul di dahi beberapa orang. Hingga tiba-tiba... seorang murid dari Sekte Lembah Seribu Bayang berseru dengan suara terkejut,

“Tunggu… jangan-jangan dia… Gao Rui dari Sekte Bukit Bintang?!”

Semua orang menoleh.

“Yang… pemenang kompetisi beladiri antar murid sekte beberapa waktu lalu itu?!”

Detik berikutnya suasana langsung pecah!

“Apa?! Serius?!”

“Tidak mungkin… bocah itu?!”

“Pantas saja…!”

“Dia itu?!”

Kegaduhan memenuhi arena. Wajah-wajah penuh keterkejutan, penyesalan, bahkan rasa tidak percaya.

Namun… saat mereka kembali menoleh ke arah perginya, sosok Gao Rui… sudah tidak terlihat lagi. Ia telah pergi. Meninggalkan arena… dan cerita yang akan terus dibicarakan oleh semua orang di tempat itu.

******

Gao Rui berjalan santai di jalanan kota, Bai Kai mengikutinya dari belakang seperti biasa. Suasana pagi di kota Heifa masih ramai, para pedagang mulai membuka lapak, dan aroma makanan memenuhi udara.

“Ke mana kita sekarang, Tuan Muda?” tanya Bai Kai.

Gao Rui melirik sekilas ke depan, lalu menjawab ringan, “Kita ke Toko Harta Langit.”

Bai Kai mengangguk, namun tak lama kemudian ia tersenyum tipis, seolah teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong…” katanya, “kenapa tadi kau tidak menghajar bocah itu, Tuan Muda?”

Gao Rui menghela napas pelan. Ia mengangkat bahu.

“Entahlah, Paman… aku juga tidak tahu,” jawabnya jujur. “Namun rasanya… justru memalukan jika aku menghajarnya.”

Langkahnya tetap santai, tapi nada suaranya terdengar tulus. Bai Kai terdiam sejenak… lalu tiba-tiba tertawa kecil.

“Hahaha… memang benar,” katanya sambil menggelengkan kepala. “Jika kau benar-benar menyerang, mungkin dia bahkan tidak akan punya kesempatan berdiri lagi.”

Gao Rui hanya tersenyum tipis. Tidak menyangkal, tapi juga tidak membanggakan diri.

Mereka terus berjalan, melewati beberapa jalan besar hingga akhirnya toko Harta Langit mulai terlihat di kejauhan. Tempat yang terkenal menjual berbagai harta langka dari pil obat, senjata, hingga artefak yang sulit ditemukan. Tidak sedikit para pendekar berkumpul di depan sana, keluar masuk dengan wajah serius ataupun puas.

Gao Rui dan Bai Kai berjalan mendekat. Namun baru saja mereka sampai di depan pintu… pintu itu terbuka dari dalam.

Dua sosok wanita keluar. Lan Suya… dan Rou Xi. Lan Suya yang awalnya melangkah santai tiba-tiba berhenti. Matanya sedikit melebar saat melihat siapa yang berdiri di depannya.

“Eh?” gumamnya pelan. “Kalian?”

Gao Rui juga tampak sedikit terkejut.

“Bibi Ya?” katanya.

Namun sebelum suasana menjadi canggung, Lan Suya langsung tersenyum tipis, seperti biasa, penuh percaya diri.

“Kebetulan sekali,” katanya ringan. “Ayo ikut.”

Ia bahkan tidak menunggu jawaban.

Gao Rui berkedip.

“Hah? Hendak ke mana kita?” tanyanya.

Entah kenapa… firasat buruk muncul di hatinya. Ia masih ingat dengan jelas kejadian kemarin, menunggu berjam-jam hanya karena Lan Suya berbelanja tanpa henti.

Lan Suya meliriknya sekilas, seolah bisa membaca pikirannya.

“Aku hanya ingin mengambil hadiah,” katanya santai. “Untuk perayaan ulang tahun rekanku nanti malam.”

Ia berhenti sejenak… lalu menatap Gao Rui dengan senyum tipis yang sedikit menggoda.

“Tenang saja… aku hanya mengambil sesuatu,” lanjutnya. “Kau pasti takut aku berbelanja lama lagi, ya?”

Gao Rui langsung menegang.

“Ti-tidak seperti itu,” jawabnya cepat, sedikit gugup.

Bai Kai yang berdiri di belakang hanya menahan tawa.

Lan Suya terkekeh pelan.

“Kalau begitu… ayo.”

Tanpa memberi ruang penolakan sedikit pun, ia langsung berbalik dan berjalan pergi. Rou Xi mengikuti di sampingnya. Gao Rui berdiri diam sejenak… lalu menghela napas panjang.

“…kita tidak punya pilihan, ya,” gumamnya pelan.

Bai Kai tersenyum lebar.

“Sepertinya begitu, Tuan Muda.”

Akhirnya, mereka berdua pun mengikuti dari belakang. Namun kali ini… Gao Rui tidak tahu. Bahwa “mengambil hadiah” yang dimaksud oleh Lan Suya… mungkin tidak sesederhana yang ia katakan. Dan malam nanti… bisa jadi, akan menjadi malam yang jauh lebih merepotkan dari yang ia bayangkan.

1
adek Darma
kok up ny cmn keseringan 1eps truss thorrr
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
Armoire
Aduh duh duh duh duh... Author nya paling pinter bikin readers mati penasaran... Lagi seru2 nya malah "To be continued" 😭😭😭😭
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!