NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

"Ukh! Sangat melegakan!"

Morvak puas telah meninggalkan ruang sempit kurang lebih selama dua minggu. Padahal waktu pengeksekusiannya semakin dekat, tetapi dia terlihat begitu tenang. Bukan tanpa sebab, itu semua karena dia berpikir pada akhirnya akan terbebas setelah membereskan bocah bernama Ilyar Justina Valgard. Berada di Dakrossa hanya waktu untuk bermain-main, tidak lebih dari itu.

Kembali dalam penjara tingkat tinggi, Morvak merenggangkan otot seraya memandangi teman sekamarnya yang ketakutan. Seringai Morvak terulas sementara mereka ketakutan karena sejak kedatangan penjahat satu itu, mereka bukan menjadi manusia melainkan karung pasir yang akan menerima pukulan dan tendangan bertubi-tubi Morvak.

"Jangan sedih begitu. Setelah membunuh anak bernama Ilyar, kita tidak akan berjumpa lagi," ucap Morvak sembari melemaskan pergelangan tangan. Sementara teman sekamarnya sudah tergeletak tidak berdaya dengan luka di wajah dan tubuh.

Sedangkan di waktu bersamaan, Ilyar baru saja kembali setelah berlatih penuh selama dua pekan bersama Graven di ruang tertutup.

Dia menyapa Adrene, Rubia, dan Valeris dengan senyum ramah seperti biasa, tapi ketiga wanita itu merinding dalam seperkian detik sesaat menangkap aura tidak biasa terpancar dari Ilyar. Meski hanya sekelebat, tapi mereka yakin bahwa gadis tersebut telah bertambah kuat dalam waktu singkat.

Apa yang dilakukannya pada ruang perenungan? Mereka bertanya-tanya dan saling pandang satu sama lain, sementara Ilyar mengucapkan terima kasih pada Heidan yang telah mengantarnya. Lantas, dia duduk bersila di depan ketiga wanita itu dan bertanya, "Dia juga pasti sudah keluar, kan."

"Siapa yang kamu maksud?" tanya Valeris.

"Morvak."

Adrene langsung mencengkeram sepasang bahu Ilyar. "Apa yang coba kamu lakukan?"

Tanpa menghindari kontak mata, Ilyar menatap Adrene tanpa kegentaran dan nada bicaranya sangat tenang, seolah Morvak bukan lawan yang perlu ditakuti. "Dia datang ke Dakrossa untuk membunuhku."

Ilyar telah mengetahui banyak fakta mengejutkan dari Menthia serta Solomon. Terlebih selama menghabiskan waktu selama dua pekan di ruangan tertutup, Graven sedikit membagikan cerita tentang seperti apa situasi kekaisaran. Setelah mencoba mengaitkan semuanya satu persatu, Ilyar memahami situasi yang sedang terjadi dan separah apa posisinya saat ini.

Dia bisa mati kapan saja. Tanpa Solomon dan orang-orang yang sekarang berpihak di hadapannya, dia benar-benar keberadaan yang mudah disingkirkan. Efra seharusnya sudah cukup untuk membuatnya terbunuh lebih cepat, tapi bantuan ketiga wanita dewasa di hadapannya menggagalkan rencana tersebut. Jika musuh sampai mengirim Morvak, salah satu penjahat paling berbahaya di Tyraven, maka keberadaannya sudah naik tingkatan.

"Aku tidak bisa menghindarinya," lanjut Ilyar.

Rubia mengembuskan napas. "Jadi kamu berencana untuk melawannya? Jangan gegabah! Waktu itu saja kamu sudah kewalahan dan Morvak jauh berbeda dengan lawanmu sebelumnya!"

"Lagi pula hanya sepekan. Kami bisa menanganinya. Kamu cukup tidak bersinggungan dengannya," imbuh Valeris.

"Jangan lakukan apa pun. Dia jauh lebih berpengalaman dari pada kamu." Adrene memperingati.

"Jika langsung menghadapinya tanpa persiapan, tentu saja aku akan mati. Maka dari itu, aku punya rencana." Ilyar menyengir.

"Apa rencanamu?" tanya ketiganya secara bersamaan.

Ilyar mengulum senyum penuh makna, mencondongkan tubuh sembari memberitahu apa rencananya. Raut wajah Valeris dan Rubiah berubah skeptis, sementara sudut bibir Adrene terangkat, membentuk seringai culas.

"Kamu memang muridku!" Adrene menepuk bangga bahu Ilyar.

"Tapi kamu sudah masuk ke ruang perenungan sebanyak dua kali. Memang mereka mau mengizinkanmu ikut membersihkan penjara makhluk magis? Selain itu, terlalu beresiko mengizinkanmu lagi setelah waktu itu hampir mati karena Serpeis."

"Aku sudah menanyakan ini pada Heidan dan dia bilang aku bisa ikut karena Warden sangat terbatas, mereka kekurangan seorang ahli. Lebih dari itu, aku berpikir para petugas tidak akan mempermasalahkannya karena jika tidak memanfaatkan kita, mereka yang harus turun tangan. Alih-alih membahayakan nyawa sendiri, mereka mendorong kita untuk menggantikannya melakukan pekerjaan berbahaya ini."

"Apa kamu tidak jera setelah hampir mati karena Serpeis?"

Ilyar diam sejenak lalu sedetik kemudian cengirannya semakin lebar. "Kurasa Serpeis tidak semengerikan itu dan aku cukup senang bersinggungan dengan makhluk-makhluk magis."

Valeris tertegun. Tidak tahu harus menganggap Ilyar berani atau sombong, tapi yang jelas gadis itu mulai gila. Seseorang biasanya akan trauma setelah mengalami peristiwa di mana menempatkan diri diambang kematian.

"Seharusnya aku tidak melatihmu menjinakkan makhluk magis." Valeris menghela napas.

Ilyar tertawa pendek kemudian memandangi tiga wanita di hadapannya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

Ketiganya terkesiap. Cukup lama merekam memandangi Ilyar sebelum akhirnya mengeroyok gadis itu dengan pelukan dan usapan gemas.

Gadis penakut yang datang dengan kepala tertunduk karena ketakutan itu sudah tumbuh dan berkembang dalam banyak hal.

***

"Gila!"

"Aku belum pernah lihat gadis sesinting kamu!"

"Aku memang tidak salah memilih murid!"

Valeris dan Rubia tidak henti-hentinya memaki tindalan Ilyar setelah kembali dari lantai sembilan sambil diam-diam menawa sebotol bisa Serpeis ukuran sedang berkat bantuan Heidan.

Sekarang isi botol dituang dalam ember kayu dan Adrene sudah sibuk sejak setengah jam lalu dengan sejumlah jarum dihunjam ke beberapa titik di sekitar tangan kanan Ilyar menggunakan metode akupuntur khusus.

Setelah cukup lama berkutat dengan jarum-jarum halus tersebut, Adrene mempersilakan Ilyar merendam tangan kanan ke dalam ember berisi bisa.

"Metode macam apa yang sebenarnya kamu gunakan?" Rubia bertanya ketika racun mulai menyerap melalui pori-pori kulit Ilyar, tetapi saraf yang perlahan menghitam karena efek bisa tidak melewati pergelangan tangan gadis itu, seolah terkunci pada bagian ujung jemari hingga pangkal telapak tangan saja.

"Di dalam tubuh kita terdapat sejumlah aliran energi dan aku memblokir beberapa titik vital yang beresiko mengancam organ lainnya lalu memanipulasinya. Setelah itu, aku hanya perlu fokus pada pembuluh darah dan mengontrolnya. Racun tersebut akan diserap sampai batas tertentu kemudian terperangkap pada pembuluh kapiler di jarinya." Adrene berusaha menjelaskan semudah mungkin agar Rubia dan Valeris bisa memahaminya dan tidak meninggalkan kecemasan berlebih terhadap kondisi Ilyar. Namun, dia malah mendapati raut wajah dua temannya makin pucat.

"Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Bukankah kalian bisa lihat dari wajahnya? Memang ada manusia yang tersenyum ketika dihadapkan racun mematikan?" Adrene menggerakkan ujung dagu untuk menunjuk Ilyar.

"Hah ... sebenarnya dia dapat ide gila itu dari mana?" Valeris geleng-geleng kepala.

"Sepertinya dia juga jadi nyaman berada di ruang perenungan," komentar Rubia.

Sementara ketiga wanita di belakang membicarakan rencana gilanya, Ilyar justru memandangi cairan hitam pekat yang menenggelamkan tangan kanannya. Itu adalah bisa Serpeis, ular yang terakhir kali mengguyur tubuhnya dengan bisa.

Jika diingat lagi, rasa sakit dari bisa itu membuatnya amat tersiksa sepanjang malam. Satu-satunya cara dia bisa melewati semua itu adalah tekad untuk bertahan hidup. Ilyar enggan berakhir begitu menyedihkan setelah mengetahui ketidak adilan yang dialami. Apalagi membayangkan musuh-musuhnya tertawa setelah kematiannya. Dia harus kembali dan berada di sisi ayahnya. Banyak hal yang harus diperbaiki dan direbut kembali.

"Aku sebenarnya takut menghadapi Morvak, tapi lebih menakutkan jika tidak melakukan apa pun dan terus berharap semua baik-baik saja karena di kehidupan ini, bahaya yang mendekatiku tidak akan datang sekali dua kali dan aku harus selalu siap menghadapinya." Ilyar berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak mundur menghadapi Morvak.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!