NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 RENCANA 1

"Hee, Gretta! Apa kamu punya rencana seru buat menghabiskan liburan empat hari nanti?" tanya Ruby antusias, menatap sahabatnya yang saat ini sedang sibuk menyelempangkan tas ranselnya ke bahu.

Mengingat Gretta masih tenggelam di dalam kemeja hitam besar milik Gian yang aromanya masih melekat samar, dia menjawab dengan agak canggung. "Emm... aku kurang tahu sih, Ruby. Palingan cuma rebahan di rumah sampai lumutan," saut Gretta sambil membenarkan letak tali tasnya.

Tiba-tiba, dari meja sebelah, Reo yang baru saja selesai menarik ritsleting tasnya langsung berdiri dan berteriak heboh, "Woy, guys! Daripada lumutan di rumah, gimana kalau kita kemping aja?! Libur empat hari itu waktu yang sangat premium!"

"Wah, ide yang sangat bagus, Reo! Aku setuju seratus persen!" ujar Ruby bersemangat sambil bertepuk tangan. Namun, matanya kemudian melirik ke arah bangku seberang di mana seorang gadis berkuncir kuda sedang merapikan kotak pensilnya. "Tapi masa cuma kita bertiga doang? Nana, kamu ikut kan?" tanya Ruby setengah berteriak pada Nana.

Nana yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh, lalu berjalan menghampiri dan dengan santai merangkul pundak Ruby dari belakang. "Emm, tentu saja aku ikut! Masa kalian liburan seru-seruan tanpa melibatkan diriku yang imut ini? Nanti kemping kalian hambar kayak sayur tanpa garam!" seru Nana penuh percaya diri, membuat Ruby dan Gretta tertawa kecil.

"Oke, mantap! Tapi... siapa yang mau jadi pemimpinnya?" pekik Ruby dengan wajah heran, mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Kita butuh orang yang waras dan bisa diandalkan buat mengurus logistik dan rute."

Reo tampak berpikir sejenak, memegang dagunya dengan gaya sok detektif. "Emmm... kalau ngajak Gian buat jadi pemimpin, yang ada kita kemping dalam kesunyian malam tanpa suara karena dia nggak bakal ngomong. Kayaknya kita harus ngajak Ketua Kelas kita aja deh," gumam Reo pelan. Matanya kemudian menangkap sosok laki-laki jangkung berkacamata yang sedang bersiap melangkah ke arah pintu.

"Arkana! Apa kamu sibuk nanti pas hari libur? Bagaimana kalau kita berkemah bareng-bareng?" teriak Reo memecah keramaian kelas, mengarahkan pandangannya langsung pada Arkana.

Arkana, sang ketua kelas yang baru saja ingin melangkah pulang, menghentikan gerakannya di ambang pintu. Ia menoleh ke arah sumber suara sambil menaikkan letak kacamata dengan telunjuknya. "Emm, boleh saja sih. Kebetulan agenda liburanku cuma mencuci motor," ujar Arkana dengan senyum ramah. "Tapi, apa aku boleh mengajak seseorang buat ikut?"

Reo langsung membentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan ekspresi penuh drama. "Tentu saja boleh, Arkana! Asalkan kamu bawa pasokan makanan yang banyak dan melimpah ruah untuk sekte kelaparan kita ini!"

Arkana tertawa kecil mendengar syarat absurd dari temannya itu. "Elleh, kamu pikir aku ini minimarket berjalan apa?" pekik Arkana sambil menggelengkan kepala geli.

Belum sempat pembicaraan berlanjut, sebuah lengan kekar tiba-tiba meluncur dan merangkul pundak Reo dengan sangat erat hingga Reo hampir tersedak. Siapa lagi kalau bukan Zordan.

"Bagaimana denganku, hah? Apa kamu sengaja tidak mengajakku, Reo? Sungguh tega sekali persahabatan kita yang sedalam lautan ini dinilai sepihak," seru Zordan dengan nada dramatis yang dibuat-buat, memasang wajah cemberut yang terlihat sangat kocak.

Reo memutar bola matanya malas, mencoba melepaskan rangkulan maut Zordan. "Tentu saja aku mengajakmu, Zordan! Itu pun kalau kamu nggak bikin rusuh dan mau ikut!" ujar Reo pasrah.

"Asiiik! Siap komandan!" seru Zordan riang.

Ruby yang melihat formasi kelompok mereka mulai terbentuk langsung bertepuk tangan heboh. "Baik semua, berarti total ada enam orang yang fix ikut ya!" seru Ruby dengan mata berbinar-binar. "Emm... lalu, apa Gian mau ikut juga?" tanya Ruby kemudian dengan suara agak lantang, melihat Gian yang baru saja berdiri bersiap untuk pulang.

Gian menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya yang setajam silet menyapu wajah mereka satu per satu.

"Aku tidak ikut," saut Gian dingin dan singkat. Tanpa menunggu respons atau bujukan lebih lanjut, ia melanjutkan langkah tegapnya, berjalan meninggalkan teman-temannya dengan jawaban yang terasa sangat angkuh dan kaku.

"Ih! Kenapa sih si balok es itu selalu saja begitu? Angkuh banget jadi orang!" gerutu Ruby kesal sambil mengerucutkan bibirnya, mengejek pose dingin Gian yang sudah keluar dari kelas.

"Sudahlah, kalau dia memang gak mau ikut ya sudah, jangan dipaksa," ujar Reo menenangkan suasana.

Sementara teman-temannya melanjutkan obrolan, Gretta justru terpaku menatap pintu kelas yang kosong. Ada perasaan aneh yang mendadak menyelinap di hatinya. Kenapa dia gak ikut ya? batin Gretta. Namun sesaat kemudian dia tersentak, Ih! Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku malah memikirkannya!

Ruby yang sejak awal memperhatikan gerak-gerik Gretta tersenyum penuh arti. Ia cukup paham dengan apa yang sedang bergolak di dalam otak sahabatnya itu.

"Yasudah yuk semua, kita pulang sekarang!" pekik Nana pada teman-temannya.

"Tunggu, kapan kita akan pergi kemping?" tanya Arkana memastikan.

"Emmm, soal itu nanti aku bikin grup baru di WhatsApp. Reo, nanti kita bahas semuanya di grup ya!" pekik Ruby sambil mengacungkan jempolnya.

"Baiklah kalau begitu," saut Arkana yang kini berjalan bersama Zordan meninggalkan ruang kelas.

Karena hari ini adalah jadwal piket untuk Ruby dan Nana, mereka berdua harus tinggal sebentar untuk membersihkan kelas. Gretta yang merasa tidak enak jika langsung pulang berniat menawarkan bantuan. "Apa aku harus menunggu kalian menyelesaikan tugas piket dulu?" tanya Gretta lembut.

"Tidak usah, Gre! Nanti pasti bakal lama banget karena kami harus mengepel juga. Kamu pulang saja duluan," ujar Ruby tersenyum manis sambil mendorong pundak Gretta keluar kelas.

"Benarkah? Kalau begitu aku duluan ya. Semangat piketnya!" ujar Gretta, lalu ia pun melangkah pulang.

Setelah memastikan Gretta benar-benar sudah jauh, Ruby langsung memasang wajah penuh konspirasi. Ia melirik Reo yang baru saja melangkah selangkah menuju pintu luar. Dengan gerakan secepat kilat, Ruby menarik kuat-kuat tas ransel Reo dari belakang hingga cowok itu hampir terjungkal.

"Kemu tunggu dulu, kita harus bicara!" bisik Ruby dengan nada misterius.

Reo yang kaget setengah mati langsung menatap Ruby dengan wajah bingung. "Bicara apa lagi sih, Rub?" pekik Reo heran.

Ruby menarik Reo mendekat ke arah meja guru bersama Nana. "Ini tentang Gian. Kita harus mengajak Gian, gimanapun caranya memaksa si balok es itu buat ikut kemping bersama kita!" tegas Ruby berbisik.

Reo langsung menghela napas panjang, memasang wajah malas. "Ya ampun Ruby, kamu kan tahu sendiri sifat Gian kayak gimana. Dia itu susah banget diajak bicara, buang-buang energi tahu nggak!"

Tolakan Reo sama sekali tidak membuat Ruby gentar. Sebuah seringai licik muncul di wajah manisnya. "Oh ya? Bagaimana kalau aku kasih tahu kamu satu rahasia besar? Kamu tahu gak kenapa Gretta hari ini pakai kemeja yang super kebesaran dan baunya wangi parfum cowok?"

Reo mengerutkan kening. "Enggak. Emang kenapa?"

Ruby tersenyum penuh kemenangan, lalu mulai menceritakan kejadian menggemparkan di ruangan laboratorium biologi tadi. Tentang dia dan Nana diam-diam mengintip momen romantis tersebut.

Mendirikan cerita super panas itu, mata Reo langsung membulat sempurna. Jiwa pencinta gosipnya seketika meronta-ronta penuh semangat. "SERIUS KAMU, RUB?! Wah, ini plot twist terbesar abad ini! Oke, aku siap! Aku bakal pakai segala cara buat seret si balok es itu ikut kemping bersama kita!" seru Reo bersemangat membara.

Setelah pembicaraan rahasia itu selesai, Reo pun melangkah pulang dengan langkah riang, meninggalkan Ruby dan Nana yang tertawa cekikikan penuh kemenangan sambil melanjutkan aktivitas piket mereka.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!