Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Senam Jantung di Bawah Matahari Bali
Aiswa membanting pintu kamar hotelnya dengan sisa kekesalan dari balkon tadi.
"Gila! Benar-benar gila! Itu orang kalau bukan bos besar, sudah gue laporin ke Dinas Sosial karena gangguan jiwa!" omelnya pada bantal.
Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah kotak beludru kecil di atas meja rias. Dengan ragu, ia membukanya.
Sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian mungil yang berkilau indah tergeletak di sana. Aiswa sempat terpaku sejenak, indah sekali. Namun, suasana hatinya langsung terjun bebas saat membaca kartu ucapan di sampingnya.
"Untuk leher indah yang tadi sudah berani meneriakiku. Pakai ini.
–Devan Argian, calon suamimu."
"Dih! Ini duda kepedeannya sudah lewat atmosfer! Dikira gua bakal langsung luluh apa?" cibir Aiswa.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur king size yang empuk, tapi matanya tetap melirik kalung itu
"Kalau bukan karena Zianna yang lucu, aku sudah minta dipulangkan detik ini juga!"
Iseng, Aiswa memotret hadiah itu dan mengirimkannya via WhatsApp ke nomor Devan.
Aiswa: "Ngasih hadiah semahal ini, Bapak nggak takut saya jual?"
Hanya butuh beberapa detik sampai ponselnya bergetar.
Devan: "Jual saja. Saya bisa belikan toko perhiasannya sekalian kalau kamu mau."
Aiswa hampir saja melempar ponselnya.
"Sombongnya nggak bergetar ya, Pak Sultan!" gumamnya kesal. Belum sempat ia membalas, satu pesan masuk lagi.
Devan: "Tidur, Aiswa. Simpan energimu untuk besok. Karena kamu akan sangat membutuhkannya."
"Dasar duda tua sok mengatur!" gerutu Aiswa sebelum akhirnya menarik selimut tinggi-tinggi.
Ia berdoa semoga besok kegiatan seminar begitu padat sehingga ia tak punya waktu sedetik pun untuk bertemu pria ajaib itu.
Keesokan paginya, matahari Bali menyapa dengan hangat. Sesuai jadwal, seluruh peserta seminar berkumpul di lapangan rumput luas dekat pantai untuk senam pagi bersama.
Aiswa, yang prinsip hidupnya adalah 'olahraga hanya jika terpaksa', memilih berbaris di paling belakang. Ia memakai kaos olahraga sekolahnya yang longgar, bergerak dengan gerakan setengah ikhlas mengikuti instruktur di depan.
"Satu... dua... tiga... empat..." Aiswa menghitung dalam hati sambil menguap pelan.
Namun, ada yang aneh. Di tengah sesi transisi musik ke lagu yang lebih upbeat, ibu-ibu guru di barisan depan mulai menoleh ke arah belakang, tepatnya ke arah Aiswa. Mereka berbisik-bisik heboh, ada yang menutupi mulut, ada yang terang-terangan melirik dengan tatapan iri.
Duh, apa bedak gue luntur ya? batin Aiswa panik.
Aiswa buru-buru mengambil ponsel dari saku, menggunakan layar gelapnya sebagai cermin.
Aman kok. Alis masih simetris. Apa mereka tahu kalau aku diculik ke sini?
Karena penasaran, Aiswa akhirnya membalikkan tubuhnya 180 derajat untuk melihat apa yang ada di belakangnya.
"Astaga!"
Aiswa terhuyung ke belakang karena kaget bukan main. Di sana, tepat satu meter di belakangnya, berdiri Devan Argian. Pria itu memakai kaos dry-fit hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya, dengan butiran keringat kecil di pelipis.
Ia terlihat sangat berbeda, jauh lebih muda dan... seksi, tanpa setelan jas kaku itu.
Sebelum tubuh Aiswa mencium rumput, sepasang lengan kekar sudah lebih dulu menahan pinggangnya. Jarak mereka terkikis habis. Musik senam yang tadinya berisik mendadak sunyi di telinga Aiswa, berganti dengan detak jantungnya sendiri yang berdegup liar seperti sedang ikut maraton.
Zianna, yang ternyata ada di sebelah Devan, langsung bertepuk tangan riang.
"Hore! Papa tangkap Tante Guru!"
Tatapan Devan mengunci mata Aiswa. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang maskulin.
"Kenapa? Kamu terpesona dengan ketampanan saya?" celetuknya dengan suara bariton yang rendah.
Aiswa tersadar, ia segera melepaskan diri dari pegangan Devan dan berdiri tegak dengan wajah semerah kepiting rebus.
"B-Bapak ngapain di sini?! Ini barisan peserta seminar!"
"Saya donatur, Aiswa. Saya bebas senam di mana saja, termasuk di belakang calon istri saya," jawab Devan santai, lalu kembali mengikuti gerakan senam dengan luwes, seolah tidak terjadi apa-apa.
Aiswa langsung berbalik arah, mengikuti gerakan senam dengan super kaku. Tangannya bergerak asal, matanya lurus ke depan, tapi pikirannya sudah lari ke mana-mana. Sementara itu, di sampingnya, Zianna ikut melompat-lompat kecil mengikuti irama.
Ya Tuhan, seminggu di sini bisa-bisa aku beneran butuh dokter spesialis jantung! batin Aiswa menjerit, sementara ia bisa merasakan tatapan Devan yang masih betah hinggap di punggungnya.