Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reno Versus Jalal
...Nafsu yang tak terkendali adalah kegelapan yang paling pekat. Ia merusak sanubari, membutakan akal sehat, dan mengubah manusia menjadi lebih rendah daripada binatang jalang....
Di dalam rumah panggung yang kini telah porak-poranda, Darsih terkapar tak berdaya di atas lantai bambu. Pakaiannya terkoyak, setengah telanjang, menyisakan luka memar di sekujur tubuhnya akibat siksaan yang keji. Napasnya tersengal-sengal, berat dan putus asa. Di ambang pintu kamar, Reno berdiri dengan seringai kepuasan yang menjijikkan di wajahnya yang penuh bekas luka. Tangannya bergerak santai, mengancingkan kembali ritsleting celananya seolah baru saja menyelesaikan urusan sepele.
Namun, tepat saat Reno melangkah keluar ke teras rumah, langkah kakinya terhenti secara mendadak.
Malam yang semakin gelap di Desa Kragan mendadak terasa mencekam. Di ujung jalan setapak, berdiri seorang pria bertubuh tinggi tegap yang menghalangi jalur keluarnya. Pria itu mengenakan jaket kulit cokelat yang berdebu sisa perjalanan jauh, dengan kacamata merah gelap yang menutupi sepasang matanya yang terpejam. Di tangan kanannya, sebuah tongkat bambu murni tergenggam erat, bertumpu pada tanah berbatu.
Ia adalah Jalal.
Melalui indera pendengarannya yang telah terlatih di puncak Semeru, Jalal meraba atmosfer di sekitarnya. Telinganya menangkap suara detak jantung Darsih dari dalam rumah—sangat lemah, berantakan, namun perempuan itu masih bernapas. Hati Jalal berdesir tajam; ada kemarahan murni yang perlahan membakar sanubarinya melihat kebiadaban yang baru saja terjadi.
Reno tersenyum tipis. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk mengintimidasi, ia merapikan kancing kemejanya yang terbuka, sementara matanya melirik tajam, menilai penampilan pemuda di hadapannya.
"Apa kabarmu, Jalal?" gertak Reno, suaranya parau menembus kesunyian malam. "Atau mungkin... kamu lebih suka aku memanggilmu Si Buta yang akan segera mati?"
Bersamaan dengan kalimat itu, tangan Reno bergerak ke balik punggungnya. Sebuah celurit kecil berkilau keperakan dicabut dari sarungnya, memantulkan sisa cahaya senja yang temaram.
Jalal tidak bergeming. Ia justru menggeser kakinya, berdiri menyilang dengan santai seolah tidak ada ancaman maut di depannya.
"Wah, julukan yang bagus... mudah-mudahan terwujud," jawab Jalal, nadanya sangat tenang, bahkan cenderung meremehkan. Tangannya meraba serat tongkat bambunya. "Sebenarnya aku malas berhadapan dengan seorang bawahan sepertimu. Tapi melihat lagak dan perbuatanmu pada wanita di dalam... sepertinya aku terpaksa harus melenyapkanmu."
Wajah Jalal terarah tepat ke posisi Reno berdiri. Pada saat yang sama, daun telinganya bergerak lembut. Sensor sensorik batinnya mendeteksi getaran langkah kaki yang bergerak cepat di arah utara, sekitar beberapa ratus meter dari tempat mereka berada. Itu adalah anak buah Reno yang sedang memburu sesuatu.
Wajah Reno perlahan berubah merah padam. Penghinaan dari seorang pria tunanetra adalah hantaman besar bagi harga dirinya. "Lancang sekali kau! Tidak butuh Tuan Satya untuk membunuhmu, cukup aku saja yang turun!"
BOOM!
Kaki Reno menghentak tanah dengan keras. Kekuatan tenaganya membuat debu berhamburan, dan dalam sekejap mata, tubuhnya melesat maju seperti bayangan hitam yang membelah malam. Celurit di tangannya mengayun deras, mengincar leher Jalal.
Daun telinga Jalal bergerak-gerak mengikuti robekan angin. Dengan gerakan yang sangat pelan—hampir terlihat seperti malas—ia mengayunkan tongkat bambunya ke sisi kanan badan.
TRAAAK!
Percikan api memercik di udara malam. Bilah celurit yang tajam beradu telak dengan permukaan tongkat bambu Jalal yang ternyata sekeras baja. Belum sempat Reno menarik senjatanya, ia memanfaatkan momentum untuk melayangkan kaki kirinya, sebuah tendangan melingkar yang mengincar pinggang Jalal.
Jalal dengan tenang menarik kaki kanannya selangkah ke belakang, memutar tubuhnya setengah lingkaran sekaligus memutar arah tongkatnya ke bawah.
DUAK!
Suara benturan keras kembali terdengar, kali ini bodi tongkat bambu itu menghantam telak tulang kering Reno.
"Agh!" Reno mengaduh pendek. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar hingga ke lututnya, seolah-olah kakinya baru saja menghantam sebongkah batu meteor. Namun, sebagai petarung berpengalaman, ia memaksakan kakinya menjejak tanah, menggunakan sisa tenaganya untuk melompat dan melakukan tendangan berputar udara yang mengarah langsung ke leher Jalal.
Jalal kembali memutar tongkatnya ke atas kepala untuk menangkis, namun di tengah gerakan, ia mengubah taktik. Dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata awam, kaki kanan Jalal mendahului gerakan Reno, menendang lurus ke depan tepat mengenai ulu hati pria berwajah luka itu.
BUM!
Reno terbelalak, napasnya tercekat seketika. Tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang sebelum akhirnya berguling-guling di atas tanah kering. Jaket hitamnya kini kotor penuh debu desa.
Jalal kembali menarik tongkatnya, berdiri tegak dengan melipat kedua tangan di atas dada. "Memalukan sekali. Bagaimana bisa kau mengaku sebagai tangan kanan Satya kalau kalah dengan orang buta seperti aku?"
Ucapan itu bagai menyiramkan bensin ke dalam api yang membakar dada Reno. Amarahnya meluap hingga ke ubun-ubun. Dengan mata mendelik merah, ia merogoh balik pinggangnya lagi, mencabut celurit kedua yang identik. Dua senjata inilah yang selama bertahun-tahun membuatnya ditakuti di dunia bawah tanah dan mendapatkan julukan 'Malaikat Maut Ibu Kota'.
"Sekarang, kamu tidak akan kuampuni, Jalal!" geram Reno, suaranya bergetar karena murka yang memuncak.
Reno kembali melesat maju. Namun kali ini, gerakannya berbeda. Tubuhnya berputar cepat di atas tanah layaknya sebuah gangsing yang mengamuk, dengan dua bilah celurit yang berputar membentuk pusaran perak yang mematikan di kedua sisinya. Angin yang dihasilkan dari putaran itu bahkan sanggup menerbangkan daun-daun jati di sekitarnya.
Jalal sedikit terkejut. Melalui gesekan udara yang tertangkap telinganya, ia merasakan kecepatan Reno meningkat hingga tiga kali lipat dari sebelumnya. Senyum santai di wajah Jalal seketika menghilang. Ia tahu, jika ia lengah sekejap saja, tubuhnya akan terpotong-potong oleh pusaran besi itu.
Jalal memegang erat tongkat bambunya dengan kedua tangan. Ia merentangkan kedua kakinya, mengambil kuda-kuda kokoh. Alih-alih menghindar atau mundur, Jalal justru memusatkan seluruh sirkulasi napasnya, lalu melesat maju, menerobos masuk langsung ke dalam inti putaran tubuh Reno yang mematikan.
Di belahan lain Desa Kragan, suasana di dalam gubuk bambu penyimpanan pupuk terasa begitu mencekam. Malam yang kian larut membuat kegelapan di dalam gubuk semakin pekat.
Miranti menempelkan wajahnya pada celah dinding bambu yang bolong. Matanya membelalak, dan mulutnya mulai menggigil hebat. Di luar sana, di antara temaramnya pohon-pohon jati, tampak siluet sepuluh orang pria berbadan kekar sedang berjalan mengendap-endap, mempersempit kepungan ke arah gubuk itu. Senter di tangan mereka sesekali menyorot ke arah dinding anyaman, membuat bayangan di dalam gubuk bergerak-gerak mengerikan.
Miranti tahu waktu mereka sudah habis. Tempat ini telah bocor.
Ia berbalik dengan cepat, merosot berlutut di hadapan Kirana. Kedua tangannya yang basah oleh keringat dingin memegang erat pundak keponakannya yang berumur sepuluh tahun itu.
"Kirana, dengar Mbak..." lirih Miranti, suaranya bergetar menahan tangis yang hendak pecah. Ia menggunakan jemarinya untuk mengusap pipi Kirana yang kotor terkena debu gubuk.
"Mbak mau keluar sekarang untuk mengalihkan perhatian mereka. Sedapat mungkin, kamu harus lari lewat pintu belakang. Lari secepatnya ke arah utara, jangan pernah menoleh ke belakang. Paham?"
Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Air matanya keluar deras, membasahi seragam sekolah dasarnya yang kusam. Ia mencengkeram erat ujung baju Miranti dengan jari-jari kecilnya yang gemetar.
"Kirana nggak mau, Mbak... Kirana nggak mau kehilangan Mbak Ranti juga. Ibu di sana, Mbak di sini... Kirana takut," bisik bocah itu di sela tangisnya yang tertahan.
Miranti merasakan dadanya sesak luar biasa, seolah ada batu besar yang menghimpitnya. Kasih sayangnya sebagai seorang bibi yang sudah menganggap Kirana seperti anak sendiri bergejolak hebat. Namun, ia harus kuat demi kelangsungan hidup titisan mustika ini.
Miranti memaksa dirinya tersenyum, menatap langsung ke dalam sepasang mata berbinar milik Kirana yang kini meredup oleh ketakutan. "Mbak akan baik-baik saja, Sayang. Mereka cuma mau tanya-tanya. Nanti setelah mereka pergi, Mbak pasti menyusul kamu. Berjanjilah pada Mbak, kamu harus selamat."
Sebelum Kirana sempat menjawab, suara gesekan langkah kaki di atas daun kering di luar gubuk terdengar semakin dekat. Jarak para pemburu itu kini tidak lebih dari sepuluh langkah lagi dari pintu depan gubuk bambu tersebut.
Bagaimana nasib Miranti dan Kirana? Apakah Kirana berhasil dibawa ke hadapan Satya? Atau Jalal berhasil datang tepat waktu?