Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam dengan iblis
Kapal The Leviathan terus membelah Samudera Hindia dengan kecepatan konstan. Bagi Clara, setiap getaran mesin kapal terasa seperti detak jantung monster yang menelannya bulat-bulat. Ia sudah menghabiskan waktu enam jam hanya dengan menatap dinding kayu di kamarnya, mencoba memikirkan setiap kemungkinan untuk meloloskan diri. Namun, gelang perak di pergelangan tangannya terus berkedip, mengingatkannya bahwa ia adalah tawanan yang diberi label harga.
Pintu kamar diketuk dua kali. Bukan ketukan lembut, melainkan ketukan penuh otoritas. Seorang pelayan pria berseragam rapi masuk tanpa menunggu izin, membawa nampan berisi gaun baru.
"Tuan Nikolai menunggu Anda di ruang makan utama dalam lima belas menit," ujar pria itu dalam bahasa Inggris yang kaku. "Tolong kenakan ini."
Clara menatap gaun itu. Warnanya merah darah, berbahan beludru berat yang tampak sangat kontras dengan kesederhanaan pakaian yang biasa ia kenakan di Jakarta. Ia ingin menolak, ia ingin berteriak bahwa ia bukan boneka pajangan. Namun, ia teringat kata-kata Silas di hotel: Ayah sedang terjepit. Jika ia ingin tahu lebih banyak tentang rahasia keluarganya, ia harus bermain dalam permainan Nikolai.
Ruang makan utama kapal itu lebih mirip ruang perjamuan di kastil Eropa daripada di atas kapal kargo. Sebuah meja panjang berbahan kayu ek berdiri di tengah ruangan, dengan lilin-lilin besar yang menyala meski lampu elektrik tersedia. Nikolai duduk di ujung meja, sedang membaca tumpukan berkas fisik.
Di sudut ruangan, Sebastian Reef berdiri dengan bantuan satu kruk. Wajahnya pucat dan ia tampak kehilangan beberapa kilogram berat badan dalam waktu singkat. Tatapannya terus menunduk ke lantai, tidak berani menatap langsung ke arah Nikolai.
Clara melangkah masuk, suara sepatu hak tingginya menggema di lantai marmer. Nikolai mengangkat wajahnya, menutup berkasnya, dan memberikan isyarat agar Clara duduk di kursi tepat di sebelahnya, bukan di ujung meja yang jauh.
"Duduklah, Clara. Aku tidak suka makan sendirian," ucap Nikolai.
Clara duduk dengan kaku. Ia melirik ke arah Sebastian. "Kenapa dia masih di sini? Bukankah kau menembaknya karena dia pengkhianat?"
Nikolai melirik Sebastian sekilas, membuat pria itu sedikit gemetar. "Sebastian sedang menjalani masa percobaan. Ternyata, kakakmu yang hebat itu sangat pintar memalsukan rekaman suara untuk mengadu domba anak buahku. Tapi, Sebastian tetap bersalah karena membiarkan celah itu terbuka. Dia akan tetap di sini sebagai pengingat bagiku... bahwa kepercayaan adalah barang mewah yang mahal harganya."
Sebastian segera membungkuk kecil. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tuan Nikolai."
"Keluar," perintah Nikolai singkat. Sebastian segera terseok-seok keluar dari ruangan dengan bantuan kruknya.
Kini hanya tersisa Nikolai dan Clara di ruangan luas itu. Pelayan mulai menyajikan hidangan pembuka berupa kaviar dan wine merah.
"Kenapa kau membawaku ke sini, Nikolai? Jika kau ingin memeras ayahku, kau sudah melakukannya," tanya Clara sambil menatap gelas wine-nya, tidak berniat menyentuh makanan itu.
"Ayahmu tidak punya apa-apa lagi yang aku inginkan, Clara. Silas sudah mengambil alih kendali perusahaan Marine secara de facto. Arthur Ocean sekarang hanyalah orang tua yang membiarkan anaknya melakukan apapun, dan meninggalkan rumah besarnya di Amsterdam," Nikolai menyesap wine-nya. "Alasanku membawamu adalah karena kau adalah satu-satunya kunci untuk membuka brankas digital keluarga Marine yang paling rahasia."
Clara mengernyit. "Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku hanya seorang guru di Jakarta."
Nikolai tertawa kecil, suara yang terdengar kering. "Jangan berbohong padaku. Silas mungkin yang memegang kendali bisnis, tapi ayahmu memberikan 'kunci kematian' imperium Marine padamu. Enkripsi di ponselmu, cara kau bersembunyi... kau dididik untuk menjadi pewaris rahasia, bukan Silas. Silas hanya tameng agar perhatian orang teralihkan darimu."
Clara terdiam. Ia teringat memori masa kecilnya, saat ayahnya sering memintanya menghafal deretan angka yang tidak masuk akal dan memberikan sebuah perangkat kecil yang dikalungkan di lehernya, yang ayahnya sebut sebagai "jimat keberuntungan".
"Kau hanya menginginkan kode itu," bisik Clara.
"Awalnya, ya," Nikolai menggeser kursinya lebih dekat ke arah Clara. "Tapi setelah aku melihatmu di perpustakaan itu... aku menyadari bahwa memiliki kode itu tidak akan lengkap tanpa memiliki pemiliknya. Kau memiliki api yang tidak dimiliki Silas. Dia hanya pria yang terobsesi dengan angka, sementara kau... kau punya nyali untuk meninggalkan kemewahan demi mencari jati diri."
Nikolai mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan gelang perak di tangan Clara. "Berikan aku kode itu, dan aku akan menghancurkan Silas untukmu. Aku akan memberimu kebebasan yang tidak akan pernah diberikan oleh keluargamu."
"Kebebasan bersamamu adalah penjara yang berbeda, Nikolai," balas Clara tajam.
"Mungkin. Tapi setidaknya di penjara ini, kau adalah ratunya, bukan pionnya."
Tiba-tiba, radar di meja Nikolai berbunyi nyaring. Seorang awak kapal masuk dengan tergesa-gesa.
"Tuan, ada tiga kapal cepat tanpa identitas mendekat dari arah barat daya. Mereka mengabaikan panggilan radio kita."
Nikolai berdiri, ekspresinya langsung berubah menjadi dingin dan mematikan. Ia menarik pistolnya dari balik pinggang. "Tampaknya Silas tidak sabar untuk menjemput adiknya. Atau mungkin, dia datang untuk memastikan adiknya tidak bicara terlalu banyak padaku."
Nikolai menatap Clara. "Tetap di sini. Jangan bergerak dari kursi ini jika kau masih ingin melihat matahari besok."
Nikolai keluar dari ruang makan dengan langkah cepat, meninggalkan Clara sendirian di tengah kemewahan yang kini terasa seperti peti mati yang sedang tenggelam.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...