NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Reruntuhan Kuno dan Bayangan Masa Lalu yang Tercecer

Gerbang utama Akademi Langit Biru pada pagi hari setelah perjamuan besar mengandung suasana yang sangat berbeda dari pagi-pagi biasanya.

Biasanya, pagi di gerbang ini adalah tentang murid-murid yang berlalu-lalang dengan jadwal dan tujuan yang jelas. Hari ini, pagi ini, ia tentang sesuatu yang lebih lambat dan lebih berat—tentang orang-orang yang berdiri di titik antara di sini dan di sana, antara waktu yang sudah berlalu dan waktu yang belum dimulai.

Kereta kuda Akademi Saint-Aurelius sudah berjajar di depan gerbang—tiga kereta besar dengan lambang bintang delapan di sisinya, ditarik oleh kuda-kuda yang jenisnya berbeda dari kuda biasa di wilayah ini, lebih tinggi dan lebih tenang dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan perjalanan jauh. Barang-barang sudah dimuat. Delegasi sudah bersiap.

Sir Alaric berdiri di samping Yu Fan dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara ia berdiri di arena dua hari lalu—tanpa pedang yang siap dicabut, tanpa aura yang dipersiapkan, hanya seseorang yang sudah menemukan sudut di mana percakapan antara dua orang yang sudah bertarung sungguh-sungguh bisa berlangsung dengan sangat jujur.

Cahaya matahari yang masih rendah di ufuk timur menyinari sisi kanan wajah Alaric—memperlihatkan goresan tipis yang sudah mulai menutup namun masih sangat jelas di pipi kirinya. Bekas tanda dari bilah pedang hitam-perak yang, dari semua hal yang terjadi dalam dua hari terakhir, adalah hal yang paling konkret dan paling nyata yang ia bawa pulang.

"Kekalahan kemarin adalah pelajaran terbaik yang pernah aku terima dalam dua puluh tahun." Tangannya menepuk bahu Yu Fan dengan mantap—genggaman yang berbeda dari cara orang biasa menepuk bahu, genggaman yang mengandung tekanan dari tangan yang sudah sangat lama berlatih dan yang sekarang mengekspresikan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Aku akan pulang dan menempa diri lebih keras. Dan saat kau datang ke Barat—" matanya menatap langsung, "—aku tidak akan membiarkanmu menang dengan mudah."

"Aku tidak mengharapkan yang lain," jawab Yu Fan.

Alaric tertawa—tawa yang kecil namun tulus, sesuatu yang di arena kemarin tidak ada dan yang sekarang ada karena sesuatu sudah berubah di antara mereka. "Kata-kata yang sama dengan yang kau ucapkan kepada Mo Han." Ia melepaskan genggamannya di bahu Yu Fan. "Kau seorang yang konsisten, Yu Fan dari Akademi Langit Biru."

Di sekitar gerbang, delegasi Saint-Aurelius mulai bergerak ke arah kereta masing-masing. Caelum yang lewat memberi anggukan singkat kepada Yu Fan—anggukan yang kecil namun sangat tulus, dari seseorang yang sudah sangat lama menjadi orang paling analitis di setiap ruangan yang ia masuki dan yang baru saja menemukan seseorang yang analisisnya tidak cukup untuk diprediksi. Seraphina melambaikan tangannya—dengan buku yang masih ada di pelukannya bahkan di pagi perpisahan ini. Garrick hanya menepuk-nepuk dadanya sekali dengan kepalan tangan—gestur yang dalam tradisi ksatria Barat artinya sesuatu yang lebih dalam dari selamat tinggal biasa.

Alaric melirik ke sisi lain dari gerbang—ke arah di mana Yan Er berdiri tidak jauh, dengan cara berdiri seseorang yang sudah memutuskan sesuatu namun belum sepenuhnya siap untuk mengeksekusi keputusan itu. Ia berdehem kecil. "Tampaknya ada yang ingin bicara secara pribadi." Kemudian, dengan nada yang jauh lebih rendah dan hanya untuk telinga Yu Fan: "Jaga dirimu baik-baik, Yu Fan. Apa yang aku sampaikan semalam—tentang yang memulai semuanya—ambil itu dengan serius."

Kemudian ia berbalik dan bergabung dengan rombongannya.

Yan Er berjalan mendekati Yu Fan saat ruang antara mereka sudah kosong dari orang lain yang berdiri di sana.

Jubah birunya—yang sama yang ia kenakan selama kompetisi, yang sekarang sudah dicuci bersih namun masih mengandung beberapa bagian yang tidak bisa sepenuhnya pulih dari pertarungan di arena—berkibar sangat pelan ditiup angin pagi yang sangat tipis. Rambutnya dikuncir ke belakang dalam cara yang lebih rapi dari cara ia biasanya menguncirnya—cara seseorang yang sudah memikirkan bagaimana ia ingin terlihat pada momen ini.

Di tangannya, dua bungkusan. Satu dari kain sutra berwarna biru yang ikatan simpulnya menunjukkan seseorang yang sudah sangat terlatih dalam membuat simpul yang kuat namun mudah dibuka. Satu lagi lebih kecil—sesuatu yang terbungkus daun kering dan diikat dengan tali halus.

Wajahnya—yang selama kompetisi selalu mengandung ketajaman seseorang yang selalu siap untuk bersaing—pagi ini mengandung sesuatu yang berbeda. Lebih lunak di tepinya. Lebih jujur di sudut matanya. Dengan tanda yang sangat kecil di bawah matanya dari seseorang yang mungkin tidak tidur dengan sempurna semalam.

"Ini," ucapnya, menyerahkan bungkusan biru itu. "Makanan manis. Aku membuatnya sendiri tadi pagi. Aku tahu kau suka yang manis—aku ingat tanghulu itu."

Yu Fan menerimanya.

"Dan ini." Bungkusan daun kering itu diserahkan dengan cara yang sedikit berbeda—lebih hati-hati, lebih seperti menyerahkan sesuatu yang tidak bisa dengan mudah diganti jika rusak. Di dalamnya, saat Yu Fan membuka lipatannya sangat sedikit untuk melihat, ada boneka kecil yang dianyam dari jerami kering—bentuknya sederhana, sangat tidak sempurna dalam cara yang menunjukkan seseorang yang tidak pernah membuat boneka sebelumnya namun yang memutuskan untuk mencoba karena tidak ada yang lain yang bisa ia berikan selain sesuatu yang dibuat dengan tangannya sendiri.

"Boneka pelindung," ucap Yan Er. "Di Suku Ular Putih—berdasarkan apa yang aku pelajari dari pihak di Saint-Aurelius tentang warisan darahku—ada tradisi membuat boneka dari bahan alami yang sudah diberkati oleh energi bulan sebagai pelindung. Aku tidak tahu caranya dengan benar. Ini hasilnya." Matanya menatap boneka itu dengan ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan—sesuatu antara tidak puas dengan hasilnya dan puas bahwa hasilnya ada. "Tapi aku membuatnya dengan serius, jadi mudah-mudahan itu cukup."

Yu Fan menatap boneka itu di tangannya. Sederhana sekali—dua batang jerami utama yang dilipat membentuk tubuh, batang-batang lebih kecil sebagai anggota badan, satu helai benang biru yang dipotong dari ujung selempangnya sendiri sebagai ikat pinggang. Sangat tidak sempurna. Sangat tulus.

"Berjanjilah padaku untuk selalu berhati-hati," lanjut Yan Er, suaranya turun sedikit. "Kekuatan yang kau tunjukkan di arena itu—aku bisa merasakannya bahkan dari posisiku. Itu terasa berat, Yu Fan. Seperti sesuatu yang sangat besar yang dipaksa melalui sesuatu yang lebih kecil dari dirinya." Jarinya menggenggam tepi jubahnya sebentar. "Aku tidak memintamu untuk tidak menggunakannya. Aku hanya memintamu untuk tidak membiarkan itu menggunakanmu."

Yu Fan menatapnya. Perempuan di depannya—yang dua hari lalu berdiri di arena dengan ekor ular putih raksasa dan pedang emas yang memancarkan cahaya bulan, yang malam di panggung pasar berdiri dengan mata yang sangat kelelahan dan tekad yang tidak akan menyerah—pagi ini berdiri dengan cara yang tidak kalah kuatnya namun dengan cara yang berbeda. Kekuatan yang lebih tenang. Kekuatan yang sudah menemukan bentuknya sendiri setelah melewati banyak hal.

"Aku akan belatih sekuat tenaga di Barat," lanjutnya. "Aku akan menyamai levelmu. Bukan untuk bersaing—untuk bisa berdiri di sampingmu kalau suatu saat kau butuh seseorang di sana." Napas singkat. "Aku tidak akan menjadi beban."

"Kau tidak pernah menjadi beban," ucap Yu Fan.

Yan Er menatapnya.

Kemudian, tanpa aba-aba—tanpa sinyal sebelumnya, tanpa kalimat yang mempersiapkannya—ia melangkah maju satu langkah dan memeluknya.

Bukan pelukan yang besar atau dramatis. Pelukannya seseorang yang sudah sangat lama terbiasa tidak meminta dan yang sekarang meminta satu hal kecil ini untuk dibawa bersama ke perjalanan yang sangat panjang. Kepalanya di dada Yu Fan—cukup untuk merasakan detak jantung yang ada di bawah jubah hitamnya—dan bahunya sangat pelan, sangat pelan bergetar.

Yu Fan tidak bergerak selama dua detik.

Kemudian, di sekitar mereka, suara-suara pagi yang biasa—suara murid-murid yang mulai memadati area depan akademi untuk kegiatan pagi, suara langkah kaki yang membawa tatapan-tatapan penasaran—mendaftar dalam pikirannya dengan cara yang sangat konkret.

Kalau ini sampai ke telinga Yuexin malam ini, aku akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari Alaric.

Namun di dalam dadanya—tepat di titik di mana kepala Yan Er bersandar—sesuatu yang sederhana dan sangat nyata. Ketulusan seseorang yang sudah melalui banyak hal yang sangat tidak mudah dan yang masih bisa memilih untuk peduli.

Ia menepuk punggungnya dengan sangat pelan. Satu kali. Dua kali.

"Pergilah," ucapnya. "Dunia menantimu di sana."

Yan Er melepaskan pelukannya dengan gerakan yang cepat dan sangat terkontrol—cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa jika pelukannya berlanjut satu detik lebih, ia tidak akan bisa berhenti. Tangannya mengusap sudut matanya dengan cepat sebelum ada yang terlalu jelas.

Kemudian ia tersenyum—senyum paling ceria yang bisa ia keluarkan pada pagi yang sebetulnya tidak ceria ini, senyum yang mengandung semua yang tidak bisa ia ucapkan dan yang disimpan di dalam sudut senyum itu untuk dibawa ke perjalanan yang sangat panjang.

Ia melompat. Energinya mengalir dari telapak kakinya, membawanya ke udara dalam gerakan yang sangat ringan—jauh lebih ringan dari saat ia pertama kali tiba di akademi ini, karena dua bulan di Saint-Aurelius dan beberapa hari di sini sudah mengubah sesuatu tentang cara ia bergerak.

Terbang menyusul rombongan keretanya yang sudah menjauh. Menoleh sekali—dua kali—tiga kali—sebelum siluetnya mengecil dan akhirnya menghilang di antara pegunungan yang ada di cakrawala barat.

Yu Fan menatap titik di mana siluetnya terakhir kali terlihat.

Di tangannya, boneka jerami dan bungkusan kain biru.

Di dalam dadanya, denyutan yang sudah sangat familiar—namun malam ini sedikit berbeda. Mengandung sesuatu yang lebih hangat dari biasanya. Sesuatu yang bukan tentang masa lalu yang tidak bisa ia ingat atau masa depan yang tidak bisa ia prediksi, melainkan tentang pagi yang sangat konkret ini dan seseorang yang baru saja terbang ke barat membawa tekad yang sangat nyata.

Ruangan Dekan mengandung aroma dupa gaharu yang selalu ada di sana—bukan parfum yang dipilih untuk kesan, melainkan dupa yang digunakan untuk keperluan meditasi ringan yang membantu konsentrasi dalam pekerjaan yang membutuhkan banyak konsentrasi sepanjang hari.

Yu Fan memasuki ruangan itu dengan cara yang sudah sangat terlatih dari bertahun-tahun mengunjunginya—kepala sedikit tertunduk, penghormatan tangan yang sudah sangat natural.

Namun pagi ini, sesuatu di ruangan itu sudah berbeda sebelum ia sempat duduk. Dekan dan Wakil Dekan duduk di sisi meja yang sama—biasanya Dekan di belakang meja dan Wakil Dekan di sisi—dan cara keduanya duduk sudah mengandung bobot yang berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.

"Yu Fan," ucap Dekan. Tidak ada pendahuluan. Tidak ada kalimat pembuka tentang hari yang baik atau bagaimana istirahatnya semalam. "Pertandingan kemarin menyisakan sesuatu yang perlu kita bicarakan secara langsung."

"Ya, Senior."

"Saat kau berubah di arena itu—" Dekan memilih kata-katanya dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah memikirkan tentang bagaimana mengucapkan ini sejak kemarin malam. "Aura yang keluar dari tubuhmu bukan sekadar manifestasi kekuatan yang terkumpul. Itu adalah sesuatu yang berbeda secara kualitatif dari Qi mana pun yang pernah ada dalam catatan akademi ini." Matanya menatap Yu Fan langsung. "Dan pertanyaanku adalah: apakah kau sadar saat itu?"

Yu Fan tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak ingin—karena pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang ia sendiri masih dalam proses memahaminya sepenuhnya. "Sejujurnya, Senior—aku berada di tempat yang berbeda saat itu. Di dalam kesadaranku sendiri, ada sesuatu yang mengajukan diri untuk membantu."

"Sesuatu?"

"Sosok yang sangat mirip denganku. Tapi berbeda." Yu Fan menatap lantai sebentar, memilih cara untuk menggambarkan sesuatu yang tidak mudah digambarkan dengan kata-kata yang ada. "Lebih tua. Lebih penuh dengan sesuatu yang aku tidak punya kata untuk menyebutnya." Ia mengangkat matanya kembali. "Ia menawarkan bantuan untuk memenangkan pertarungan. Dan aku—menyetujuinya. Dengan syarat tidak ada yang terbunuh."

Wakil Dekan Ruan Jing mengeluskan janggut pendeknya dengan cara yang sudah menunjukkan pikiran yang bekerja sangat keras. "Dan dia mematuhi syarat itu."

"Ya."

"Yang berarti entitas itu—apapun namanya—masih dalam batas yang bisa dinegosiasi." Wakil Dekan meletakkan tangannya di meja. "Itu penting untuk diketahui."

Dekan berdiri dari kursinya—gerakan yang, dari Dekan yang biasanya sangat ekonomis dalam gerakannya, mengandung sinyal bahwa ia sudah memutuskan untuk mengucapkan sesuatu yang membutuhkan berdiri. "Ada tempat yang mungkin bisa memberikan jawaban." Ia melangkah ke jendela yang menghadap ke arah barat akademi—bukan ke arah di mana kompetisi baru saja berlangsung, melainkan jauh melewati itu. "Reruntuhan Lembah Spiritual. Di hutan sebelah barat, tiga hari perjalanan dari sini. Tempat yang sudah ada jauh sebelum akademi ini ada, jauh sebelum Kota Langit ini ada."

"Kami tidak mengirimmu ke sana sebagai hukuman atau sebagai misi berbahaya," sambung Wakil Dekan. "Kami mengirimmu ke sana karena dari semua yang kami ketahui tentang tempat itu—dan kami sudah mempelajarinya selama bertahun-tahun—segel yang melindungi pintu masuknya merespons energi yang sangat spesifik." Ia menatap Yu Fan. "Energi yang sama yang kau pancarkan kemarin."

Dekan berbalik dari jendelanya. "Ini adalah perjalanan sendiri, Yu Fan. Tidak ada yang bisa menemanimu—segel itu hanya merespons pada satu jenis energi yang sudah jelas bukan milik siapa pun di akademi ini." Kemudian ia melangkah ke meja dan mengambil dua hal: satu tas kecil berisi beberapa botol porselen, dan satu bungkusan panjang yang terbungkus kain hitam. "Pil pemulihan dari Wakil Dekan—kualitas tertinggi yang ada di persediaan akademi. Dan ini—"

Kain hitam dibuka.

Pedang itu berwarna sangat gelap—tidak hitam pekat melainkan hitam dengan kedalaman yang mengandung variasi yang hanya terlihat dari sudut tertentu, seperti langit malam yang bukan satu warna. Sarungnya dari bahan yang bukan kulit biasa—lebih mengkilap, lebih padat, dengan formasi sangat tipis yang mengalir di permukaannya dalam pola yang hampir tidak terlihat. Gagangnya dibalut material yang hangat saat disentuh—sesuatu yang seharusnya tidak mungkin untuk logam yang sudah sangat lama tersimpan.

"Pedang Yin," ucap Dekan. "Warisan akademi yang usianya jauh melampaui akademi ini. Ia menolak banyak pemilik—bukan secara agresif, melainkan dengan cara tidak beresonansi dengan energi yang datang. Sejak aku di sini, tidak ada satu pun murid atau guru yang bisa mengaktifkan formasinya." Ia meletakkan pedang itu di depan Yu Fan. "Aku merasa itu akan berubah dengan kau."

Yu Fan menatap pedang itu.

Kemudian, dengan cara yang sama alaminya seperti mengambil sesuatu yang memang sudah miliknya, ia mengangkat pedang itu.

Dalam sepersekian detik saat tangannya menutup di sekitar gagang—formasi di permukaan sarungnya berpendar sangat tipis dalam warna merah tua yang sangat redup, seperti sesuatu yang sudah sangat lama tidur baru saja membuka matanya sedikit. Bukan ledakan energi, tidak ada suara dramatis. Hanya pengenalan yang sangat pelan dan sangat dalam antara dua hal yang sudah sangat lama terpisah.

"Satu hal lagi," ucap Wakil Dekan. "Jika kau menemukan batu giok merah yang bercahaya di dalam reruntuhan itu—bawalah kembali. Kami membutuhkannya untuk penelitian yang sudah sangat lama tertunda."

Tiga hari perjalanan terbang menghabiskan pemandangan yang berganti dari kota ke pegunungan ke hutan yang semakin rimbun dan semakin mengandung kualitas energi yang berbeda dari yang ada di dekat akademi. Yu Fan tidak terburu-buru—bukan karena tidak bisa, melainkan karena tiga hari ini ia gunakan untuk bermeditasi sambil terbang, membiarkan dirinya menyesuaikan diri dengan Pedang Yin yang tersandang di punggungnya dan yang setiap jam yang berlalu terasa semakin tidak seperti benda asing.

Di dalam cincin dimensinya, telur berdenyut dengan ritme yang sudah tidak sama dengan tiga bulan lalu—lebih cepat, lebih kuat, dengan variasi yang menunjukkan bahwa ada perkembangan yang sudah sangat jauh di dalamnya dari saat ia pertama kali membawanya.

Hari ketiga. Hutan yang di depannya.

Yu Fan berhenti terbang dan mendarat di perbatasan antara hutan biasa dan sesuatu yang berbeda.

Garis itu tidak terlihat secara fisik. Namun energi yang ada di udara berubah sangat jelas di satu titik—di sebelah kiri titik itu, udara hutan biasa yang bersih namun mengandung kualitas yang normal. Di sebelah kanannya, udara yang lebih padat, lebih tua, mengandung konsentrasi yang mengingatkan pada kualitas di jantung hutan Tingkat 4 tempat ia menemukan Singa Petir—namun berbeda, karena konsentrasi itu bukan dari energi alam liar melainkan dari sesuatu yang sudah sangat lama terstruktur di tempat ini dan yang sudah sangat lama dijaga.

Ia melangkah melewati garis itu.

Lembah Spiritual tidak terlihat seperti namanya dari jarak jauh—terlihat seperti bagian hutan yang lebih rimbun dari sekitarnya, dengan pohon-pohon yang lebih tinggi dan dengan kanopi yang lebih rapat. Namun saat Yu Fan masuk lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa digambarkan hanya dengan kata-kata visual mulai hadir—kualitas udara yang berubah, cara cahaya matahari yang menembus kanopi terasa berbeda dari cahaya matahari di tempat lain, dan terutama cara energi di dalam tubuhnya merespons.

Ia tidak perlu mengarahkan Qi untuk merasakannya. Qi-nya sudah bergerak sendiri—bukan secara tidak terkontrol, melainkan seperti seseorang yang mengenali sesuatu dan bergerak mendekatinya secara otomatis sebelum kepalanya memutuskan untuk melakukannya.

Kompleks istana kuno muncul di balik barisan pohon yang tiba-tiba sedikit lebih jarang. Bangunan-bangunannya sudah ditelan oleh waktu dalam cara yang tidak sepenuhnya menyedihkan—lumut yang melapisi sebagian besar dindingnya bukan abu melainkan biru tua, akar-akar pohon yang menembus tembok sudah lama berdamai dengan batu yang ada di sekitarnya sehingga keduanya sudah menjadi satu entitas yang saling menopang. Pagoda-pagoda yang menjulang masih berdiri—condong sedikit di beberapa tempat, namun berdiri, dengan cara yang menunjukkan bangunan yang fondasi terdalamnya lebih kuat dari apa pun yang ada di permukaannya.

Dan di puncak pagoda tertinggi—sesuatu yang bukan daun dan bukan langit namun yang ada di antara keduanya: bunga raksasa berwarna merah tua yang mekar dalam cara yang tidak mengikuti musim atau cuaca, memancarkan denyut cahaya merah dalam interval yang—saat Yu Fan memperhatikan dengan teliti—sama persis dengan denyutan yang ada di dalam dadanya.

Ini bukanlah kebetulan.

Di depan pintu masuk kompleks—pintu gerbang batu yang sudah kehilangan ornamen aslinya di banyak bagian namun yang strukturnya masih sangat kokoh—terdapat sesuatu yang tidak kasat mata. Penghalang transparan yang auranya hanya terlihat sebagai sedikit distorsi di udara, seperti panas yang mengembun dari jarak dekat.

Yu Fan berdiri di depannya.

Tidak melakukan apa-apa. Tidak mencoba menembus dengan Qi. Hanya berdiri.

Dan dari dalam dirinya—dari titik yang sama yang berdenyut mengikuti bunga merah di puncak pagoda itu—sesuatu mengalir keluar dengan sangat pelan. Bukan karena ia memerintahkan. Lebih seperti merespons pertanyaan yang ditanyakan oleh penghalang itu, jawaban yang diberikan bukan dalam kata-kata melainkan dalam kualitas energi yang mengalir.

Penghalang bergetar.

Retakan yang sangat tipis muncul di tengahnya, melebar dari titik kecil ke celah yang cukup untuk dilewati seseorang.

Celah yang menyambut, bukan yang diterobos.

Di dalam kompleks, Yu Fan bergerak dengan cara yang berbeda dari cara ia bergerak di luar—lebih pelan, lebih memperhatikan. Bukan karena ada ancaman yang ia rasakan, melainkan karena ada sesuatu yang ingin ia perhatikan dengan benar dan terburu-buru tidak akan mengizinkan itu.

Batu giok merah yang Wakil Dekan minta ada di banyak tempat—tertanam di dinding dalam pola yang tidak acak, beberapa sebesar kepalan tangan, beberapa lebih kecil, memancarkan cahaya merah yang sama dengan bunga di puncak pagoda namun lebih redup. Yu Fan mengambil beberapa, memasukkan ke cincin dimensinya dengan cara yang hati-hati—tidak semua, karena ada sesuatu yang memberitahunya bahwa mengambil semua tidak tepat.

Aula utama di pusat kompleks memiliki lantai yang jauh lebih baik kondisinya dari dinding-dindingnya—batu yang di banyak tempat lain sudah retak dan mengelupas, di sini masih sangat rata dan sangat bersih, seperti dilindungi oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Di tengah lantai itu, sebuah pola yang sudah ada sejak sebelum bangunan ini ada—sesuatu yang diukir langsung ke dalam batu dasar dari kompleks ini, dalam pola yang sangat kompleks namun yang memiliki satu titik pusat yang sangat jelas.

Segel kuno.

Di titik pusatnya, sebuah cekungan kecil berbentuk tidak teratur—bentuk yang tidak bisa disebut persegi atau lingkaran atau apapun yang teridentifikasi, namun yang terasa seperti bentuk yang sangat tepat untuk menerima sesuatu yang bentuknya sama.

Bentuk yang sama dengan bekas noda di telapak tangan Yu Fan dari saat ia menyentuh telur di hutan—bentuk cekungan yang Singa Petir meninggalkan di tanah tempatnya bersarang.

Bukan kebetulan.

Yu Fan berlutut di depan segel itu. Dari cincin dimensinya, ia mengeluarkan pisau kecil yang selalu ia bawa—bukan untuk pertarungan, untuk keperluan praktis di hutan. Menyayat ujung jarinya dengan sangat singkat.

Satu tetes darah jatuh ke titik pusat segel.

Tanah bergetar.

Bukan gempa—getaran yang sangat berbeda dari gempa, lebih seperti sesuatu yang sangat besar dan sangat dalam sedang bernapas untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Debu turun dari celah-celah di langit-langit, batu-batu kecil di sudut ruangan bergerak ke posisi yang berbeda tanpa ada yang mendorongnya, dan dari dinding-dinding aula, suara yang terdengar bukan dari luar melainkan dari dalam dinding itu sendiri—suara yang tidak bisa dikategorikan sebagai suara manusia atau suara hewan atau suara alat musik, namun yang mengandung ritme dan yang terasa seperti bahasa yang belum pernah ia pelajari namun yang, di suatu tingkat yang lebih dalam dari pemahaman sadarnya, sangat familiar.

"Para Dewa, Para Manusia, Para Iblis, dan Roh adalah satu kesatuan dalam kehampaan yang abadi..."

Suara itu bergema dari semua arah sekaligus—bukan keras, tidak menakutkan. Lebih seperti seseorang membaca mantra yang sudah sangat sering diulang hingga kata-katanya tidak lagi terpisah dari udara di mana mereka diucapkan.

Kepalanya berdenyut. Bukan menyakitkan—lebih seperti tekanan yang berasal dari sesuatu yang besar mencoba masuk ke dalam ruang yang tidak cukup besar untuk menampungnya, tekanan yang terasa asing namun yang tidak sepenuhnya asing.

Di lantai aula, segel yang sudah menerima tetesannya mulai berpendar—merah tua yang mengisi setiap garis ukiran dari titik pusat ke tepian terluarnya, menerangi detail-detail yang tidak terlihat dalam kegelapan sebelumnya.

Lantai terbelah—bukan dengan kekerasan, dengan cara yang sangat terstruktur, dua bagian meluncur ke samping dalam mekanisme yang sudah sangat lama menunggu untuk diaktifkan, mengungkapkan tangga yang turun ke bawah dalam spiral yang semakin kecil radiusnya semakin jauh ke bawah.

Obor-obor di dinding tangga menyala satu per satu saat Yu Fan melangkah turun—nyala yang berwarna biru-hijau, berbeda dari nyala api biasa, memberikan cahaya yang sangat jelas namun tidak membutakan.

Di sepanjang dinding tangga, ukiran-ukiran.

Yu Fan melambatkan langkahnya untuk melihat setiap panel ukiran yang ada.

Panel pertama: sosok-sosok dari langit—bersayap, memancarkan cahaya, membawa senjata yang tidak identik dengan senjata mana pun yang ia kenal—berdiri di atas awan. Di bawah mereka, dunia yang terlihat sangat berbeda dari dunia yang ia kenal sekarang—pegunungan yang berbeda bentuknya, lautan yang ada di posisi yang berbeda.

Panel kedua: pasukan hitam yang naik dari bawah—tidak dijelaskan sebagai jahat oleh cara ukiran itu memperlihatkan mereka, hanya berbeda. Berbeda cara bergeraknya, berbeda cara berdirinya, berbeda energi yang memancar dari ukiran mereka yang, meski hanya batu, terasa mengandung kualitas tertentu.

Panel ketiga: pertarungan. Bukan pertarungan yang bisa digambarkan dengan mudah—too complex, terlalu banyak lapisan yang terjadi sekaligus untuk satu panel ukiran.

Dan di panel keempat—sosok yang berdiri sendirian di antara dua kekuatan yang saling bertempur. Tidak di sisi langit. Tidak di sisi bawah. Di antara. Dengan dua senjata di tangannya yang, satu di tangan kanan, sangat mirip dengan Pedang Yin yang tersandang di punggung Yu Fan saat ini.

Di dekat sosok itu, yang terlihat di panel ini dan tidak di panel mana pun sebelumnya: seorang perempuan dengan jubah yang bilah-bilahnya sangat mirip dengan kelopak bunga yang sangat spesifik—bunga teratai.

Yu Fan berdiri sangat diam di depan panel keempat itu.

Kilasan masuk ke dalam kepalanya—bukan kilasan yang bisa ia kontrol atau tahan. Berdiri di tempat yang sangat tinggi. Suara yang sangat jauh namun sangat jelas. Rasa sakit di titik yang sama yang selalu berdenyut. Dan di balik rasa sakit itu—amarah yang tidak memiliki nama karena terlalu besar untuk satu nama.

Ia meneruskan langkahnya ke bawah.

Perpustakaan di dasar tangga adalah sesuatu yang tidak bisa ia antisipasi dari apa pun yang ia ketahui sebelumnya.

Bukan hanya ukurannya—meski ukurannya sudah sangat tidak masuk akal untuk ruangan yang berada di bawah tanah, sebesar lapangan latihan akademi dengan langit-langit yang sangat tinggi. Bukan hanya jumlah buku dan gulungan yang ada di rak-rak yang menjulang—ada ribuan, mungkin puluhan ribu. Bukan hanya kondisinya yang luar biasa baik untuk tempat yang sudah sangat tua—kertas yang tidak menguning, tinta yang tidak memudar.

Yang paling tidak bisa ia antisipasi adalah bahwa ia bisa membacanya.

Huruf-huruf dalam buku yang pertama ia ambil bukan dari alfabet yang ia pelajari. Namun saat matanya menatapnya—pemahaman datang bukan dari proses membaca yang ia kenal melainkan dari suatu tingkat yang berbeda, seperti seseorang melihat gambar dan langsung mengerti maknanya tanpa perlu menguraikan setiap garisnya satu per satu.

Ia membaca selama waktu yang ia tidak bisa perkirakan karena tidak ada cara mengukur waktu di ruangan tanpa jendela ini.

Satu buku berbicara tentang era yang ada sebelum semua era—ketika aturan yang sekarang mengatur dunia belum ada dan ketika entitas-entitas yang ada berinteraksi dengan cara yang jauh lebih langsung dari cara semua sekarang. Ketika perbedaan antara dewa dan manusia dan iblis dan roh bukan tentang hierarki melainkan tentang cara masing-masing memilih untuk ada.

Satu gulungan berbicara tentang sebuah pedang yang ditinggalkan—tidak hilang, tidak diambil. Ditinggalkan. Di suatu tempat yang disebut Alam Asura dalam bahasa gulungan itu, oleh seseorang yang terpaksa meninggalkannya karena membawa pedang itu lebih jauh dari titik itu berarti memastikan bahwa pedang itu tidak akan pernah bisa kembali ke orang yang seharusnya menerimanya.

Di bagian di mana identitas orang yang meninggalkan pedang itu seharusnya tertulis—halaman sobek. Bersih, dengan cara yang sudah sangat familiar—cara yang sama dengan halaman yang diambil dari buku di perpustakaan akademi tentang Aura Merah.

Tangannya merapatkan gulungan itu.

Ia meneruskan perjalanannya ke bagian terdalam ruangan ini.

Di belakang rak-rak yang paling jauh dari pintu masuk, akar-akar raksasa pohon yang ada di atas menembus langit-langit dan turun ke dalam ruangan ini—bukan sebagai kerusakan melainkan sebagai arsitektur, sebagai bagian integral dari desain ruangan ini yang sudah memperhitungkan bahwa pohon di atas akan tumbuh ke bawah dan bahwa pertumbuhan itu bukan ancaman melainkan sambungan antara atas dan bawah.

Di antara akar-akar itu, energi berkonsentrasi dengan cara yang berbeda dari keseluruhan ruangan—lebih pekat, lebih murni, lebih seperti sesuatu yang sudah sangat lama terkumpul di satu titik dan belum pernah digunakan.

Yu Fan duduk bersila di antara akar-akar itu.

Menutup matanya.

Dan di kegelapan yang ada di balik kelopak matanya, taman persik.

Ini berbeda dari kilasan-kilasan sebelumnya yang selalu hadir dalam fragmen-fragmen yang tidak lengkap dan yang selalu menghilang sebelum ia bisa menangkap apa pun yang bermakna dari mereka. Ini lebih utuh. Lebih nyata dalam cara yang berbeda dari nyata yang biasanya.

Taman persik yang sangat luas, dengan pohon-pohon yang sedang berbunga—kelopak merah muda yang jatuh perlahan dalam jumlah yang tidak pernah habis meski sudah sangat lama berjatuhan. Udara yang mengandung aroma yang mengkombinasikan bunga dan tanah dan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya.

Dan seorang gadis kecil.

Ia menoleh ke arah Yu Fan—wajahnya sangat cantik dengan cara yang berbeda dari cantik yang ia biasanya identifikasikan, cantik yang lebih sederhana dan lebih langsung dan lebih seperti seseorang yang tidak menyadari bahwa wajahnya cantik karena tidak pernah dibesarkan dalam konteks di mana kata itu relevan. Rambutnya hitam dan sangat lebat, dikuncir longgar ke belakang dengan cara yang menunjukkan seseorang yang menguncirnya sendiri tanpa cermin. Jubahnya putih dengan tepi yang sangat halus.

Ia memegang dua buah persik, satu di setiap tangan.

Tangan kanannya diulurkan ke arah Yu Fan. Makan, katanya—atau sesuatu yang terasa seperti itu tanpa ada suara yang terdengar.

Kemudian taman itu berubah.

Sangat tiba-tiba—bukan memudar, berubah. Api yang tidak berasal dari sumber yang terlihat, dari mana-mana sekaligus, mengkonsumsi bunga-bunga dan daun-daun dalam urutan yang sangat tidak acak. Di tanah, bentuk-bentuk yang Yu Fan tidak mau mengidentifikasi dengan terlalu tepat. Di udara, suara-suara yang bukan dari taman persik ini namun yang ada di sana, terdengar dari suatu tempat yang sangat jauh namun sangat hadir.

Dan di tepian api yang paling jauh—seorang pria.

Yu Fan tidak bisa melihat wajahnya. Bukan karena jarak—karena ada sesuatu yang mengaburkan tepat di titik di mana wajah pria itu seharusnya terlihat, seperti cermin yang sangat retak di titik yang paling penting. Jubahnya hitam dengan sobekan dan luka yang sangat banyak. Tubuhnya berdiri tegak meski seharusnya tidak bisa—tidak karena kekuatan yang tersisa melainkan karena menolak untuk jatuh. Di sekelilingnya, sosok-sosok bercahaya melingkar dalam formasi yang sangat familiar dari panel keempat di tangga tadi.

Pria itu menoleh.

Ke arah Yu Fan.

Dan meski wajahnya tidak terlihat, Yu Fan merasakan tatapan itu—tidak dengan matanya namun dengan titik di dadanya yang selalu berdenyut. Tatapan yang mengandung sesuatu yang tidak bisa ia kategorikan sebagai satu emosi karena terlalu banyak lapisan yang berbeda dari terlalu banyak waktu yang berbeda semua hadir sekaligus.

Energi di dalam tubuh Yu Fan—yang sudah selama tiga hari terbang dan satu malam di reruntuhan ini terus bergerak dalam cara yang berbeda dari biasanya—menemukan ritme baru.

Bukan ritme yang dipaksakan. Ritme yang ditemukan.

Seperti dua arus sungai yang sudah lama mengalir paralel akhirnya menemukan titik di mana mereka bergabung—bukan satu mengalahkan yang lain, tidak ada yang menjadi lebih atau kurang, hanya dua menjadi lebih terstruktur bersama dari masing-masing dalam kesendirian.

Emas dan merah tua. Terang dan dalam. Yang dua tahun terakhir selalu berputar terpisah di dalam tubuhnya, pagi ini—di antara akar-akar raksasa di bawah tanah lembah yang sudah sangat lama menunggu—menemukan cara untuk berputar bersama.

BOOM.

Ledakan energi yang keluar dari tubuhnya menyapu ruangan dalam radius yang menumbangkan beberapa buku dari rak terdekat, memadamkan beberapa obor dan menyalakan yang lain dengan warna yang berbeda dari sebelumnya. Di langit-langit, akar-akar pohon bergetar dan kemudian sangat pelan kembali diam.

Yu Fan membuka matanya.

Di dadanya—Master Tingkat 4 Tahap Akhir.

Bukan hanya secara kapasitas. Bukan hanya secara Qi yang bisa ia keluarkan. Sesuatu yang lebih fundamental dari itu, sesuatu tentang cara struktur di dalam dirinya sekarang jauh lebih solid dan jauh lebih kohesif dari sebelumnya.

Akar-akar yang tadi sangat diam mulai bergerak.

Tidak dengan cara alami pohon yang tumbuh. Dengan cara yang sangat berbeda—terarah, terkoordinasi, seperti sesuatu yang mengontrolnya dari dalam memutuskan bahwa kehadiran Yu Fan di ruangan ini sudah melampaui batas yang diperbolehkan.

Kemudian muncul kepala dari balik kumpulan akar yang paling besar.

Ular. Namun jauh lebih besar dari ular mana pun yang ada di dunia biasa—setinggi pohon dewasa jika kepala itu sepenuhnya terangkat, dengan sisik hijau tua yang mengandung kilau yang menunjukkan seseorang sudah sangat lama ada dan sudah sangat lama menyerap energi dari lingkungannya. Matanya berwarna kuning dengan pupil vertikal—mata yang sudah sangat lama mengamati sesuatu di ruangan ini dari sangat dekat.

Dari mulutnya—uap yang tidak putih melainkan hijau kekuningan, dengan aroma yang bahkan dari jarak aman terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya dihirup.

Ular Roh Hijau. Penjaga yang sudah sangat lama tinggal di sini. Tingkat yang sama dengan Singa Petir—Tingkat 4 Akhir.

Yu Fan menarik Pedang Yin dari punggungnya.

Pertama kalinya ia mencabutnya sejak Dekan menyerahkannya—dan di dalam ruangan yang sekarang mengandung aura dari dua entitas yang sangat berbeda, pencabutan itu terasa berbeda dari cara ia mencabut pedang biasanya. Pedang Yin merespons kontak dengan tangannya—formasinya yang tidur mulai bergerak, bukan dengan cepat melainkan dengan cara yang sangat terstruktur, seperti mesin yang sudah sangat lama tidak digunakan namun yang masih sangat tahu cara kerjanya.

Ular Roh Hijau menyemprot.

Semburan racun korosif dalam volume yang mengisi seluruh bagian depan ruangan—bukan diarahkan ke titik yang spesifik melainkan disebarkan untuk memaksimalkan coverage, teknik penyerangan yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan ruang tertutup dan yang mengerti bahwa di ruang tertutup, serangan yang menyebar jauh lebih efektif dari serangan yang terpusat.

Yu Fan melompat—ke atas, ke akar-akar di langit-langit yang cukup kuat untuk menahan beratnya. Dari posisi di atas, ia mengarahkan Pedang Yin ke bawah.

Teknik Pedang Yin : Tebasan Vertikal Ganda.

Dua tebasan berurutan dalam interval kurang dari setengah detik—pertama dari kanan ke kiri, kedua dari kiri ke kanan dalam arah yang berlawanan. Energi merah tua yang sekarang mengalir jauh lebih mulus dari sebelumnya melapisi setiap tebasan dalam pola yang Pedang Yin sendiri berkontribusi—formasinya yang sudah aktif menambahkan dimensi pada energi itu yang belum pernah ada dalam pertarungan-pertarungan sebelumnya.

Kepala ular itu mundur. Tidak terluka—mundur, menghindari, cara makhluk yang sangat berpengalaman merespons serangan yang mengenalnya sebagai ancaman nyata.

Kemudian ekornya bergerak.

Yu Fan merasakan angin dari pergerakan ekor itu sebelum ia melihatnya—ekor yang lebih tebal dari tubuh Singa Petir, bergerak dalam kecepatan yang dihasilkan oleh panjangnya yang ekstrem memberikan ujung ekor kecepatan yang berlipat dari sumbernya. Ia melepaskan akar yang ia pegang dan jatuh—membiarkan ekor itu melewati posisinya yang tadi—mendarat di lantai dan langsung bergerak ke samping.

Ekor itu menghantam rak buku di sisi yang ia tinggalkan—buku-buku berterbangan, beberapa rak runtuh dalam suara yang sangat keras.

Yu Fan tidak menoleh ke arah buku-buku yang berterbangan. Matanya di kepala ular itu—yang sudah kembali ke posisi menyerang, mulut terbuka lebar, uap racun mengumpul di dalamnya untuk semburan berikutnya.

Ia melangkah maju bukan mundur.

Teknik Pedang Yin : Garis Terobos Pertahanan.

Satu langkah ke depan yang dieksekusi dengan seluruh energi Tingkat 4 Tahap Akhir—bukan untuk kecepatan melainkan untuk densitas, untuk memastikan bahwa apa yang ada di ujung langkah itu tidak bisa diabaikan oleh sesuatu yang sudah sangat besar. Pedang Yin terangkat dalam gerakan vertikal dari bawah ke atas—tepat saat kepala ular itu turun untuk semburan kedua—dan menemukan celah di antara sisik-sisik di bagian bawah rahang yang, dalam anatomi Ular Roh, adalah titik paling tidak terlindungi karena posisi alaminya selalu menghadap ke bawah.

Satu tebasan yang sangat bersih.

Ular Roh Hijau itu tidak mati dengan suara yang dramatis. Tubuhnya berguncang—seluruh panjangnya bergerak dalam gelombang dari kepala ke ekor saat sistem energinya merespons luka yang sangat spesifik di titik yang sangat kritis—kemudian mengendur. Perlahan, dalam cara yang terasa lebih seperti istirahat daripada kematian, tubuhnya turun ke lantai.

Dan saat energinya memudar, seperti semua hewan sihir yang pernah ia lawan—sesuatu tersisa. Namun kali ini bukan pil yang melayang di udara.

Yang tersisa adalah sesuatu yang ada di balik kumpulan akar terbesar—sesuatu yang posisinya di sana sudah lama dijaga oleh Ular Roh Hijau bukan sebagai tindakan bermusuhan melainkan sebagai tindakan melindungi.

Bongkahan giok emas.

Lebih besar dari yang ada di hutan Singa Petir. Lebih tua—permukaannya tidak mengkilap melainkan matte dengan kualitas yang menunjukkan objek yang sudah sangat lama ada dan yang sudah sangat lama menyerap sesuatu dari lingkungannya. Dari dalamnya, denyutan yang bukan cahaya—lebih seperti detak.

Yu Fan mendekatinya.

Menyentuhnya.

Dan di bawah tangannya, giok itu retak.

Bukan retak karena tekanan—retak dari dalam, dengan cara yang sangat terstruktur, pola-pola retakan menyebar dari titik kontak dengan tangan Yu Fan ke seluruh permukaannya dalam waktu yang sangat singkat namun tidak seperti benda yang hancur. Lebih seperti cangkang yang sudah siap dibuka dan yang menunggu kontak yang tepat sebagai sinyalnya.

Kepingan-kepingan giok jatuh ke lantai.

Di tengahnya—seorang anak perempuan.

Berusia sekitar delapan tahun dalam penampilan fisiknya—namun ada sesuatu dalam kualitas cara ia ada di sana yang tidak sepenuhnya cocok dengan usia delapan tahun. Kulitnya sangat pucat dengan cara yang berbeda dari pucat karena kurang darah—lebih seperti warna yang ada sebelum pigmen memutuskan untuk ada, putih yang sangat bersih dengan transparansi sangat tipis di mana, dari sudut yang sangat spesifik, ada kilatan biru sangat redup di bawah permukaan kulitnya yang terlihat seperti aliran yang sangat pelan.

Rambutnya hitam—hitam yang sangat pekat, jauh lebih pekat dari hitam biasa, dengan cara yang membuat hitam rambut Xueru dan hitam rambut Yu Fan terlihat seperti variasi yang lebih terang dari warna yang sama.

Wajahnya sangat cantik dengan cara yang sangat asing—bukan cantik yang bisa diidentifikasikan dari standar kecantikan yang ia kenal dari dua tahun ini. Cantik yang lebih fundamental, lebih seperti sesuatu yang sudah ada sebelum standar kecantikan ada.

Ia tidak terjatuh saat giok pecah—meluncur, dengan cara yang sangat pelan dan sangat terkontrol, ke dalam pelukan Yu Fan yang instinktif terentang untuk menerimanya.

Hangat. Sangat hangat untuk seseorang yang baru keluar dari bongkahan giok—kehangatan yang bukan dari suhu tubuh biasa melainkan dari sesuatu yang ada di dalam tubuh kecil itu yang selama sangat lama sudah menyimpan panas tanpa ada yang menerimanya.

Napasnya teratur. Dalam. Seperti seseorang yang tidur dengan sangat nyenyak—namun tidak tidur biasa, sesuatu yang lebih dalam dari tidur biasa.

Di dalam dada Yu Fan, sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dalam bentuk yang sejelas ini mengambil tempat. Bukan denyutan. Bukan rasa sakit. Rasa yang tidak punya nama yang tepat dalam bahasa mana pun yang ia tahu—rasa yang terasa seperti rumah, seperti pulang, seperti menemukan sesuatu yang sudah sangat lama hilang dan yang ketidakhadirannya sudah menjadi begitu normal hingga baru saat ia ada lagi kau menyadari betapa besar lobang yang ia tinggalkan.

"Siapa kau?" bisiknya—bukan kepada anak itu yang tidak terjaga, melainkan kepada dirinya sendiri, kepada ruangan ini, kepada semua yang ada di sekitarnya yang mengandung terlalu banyak jawaban yang masih tersembunyi.

Perjalanan kembali dari reruntuhan Lembah Spiritual jauh lebih lambat dari perjalanan ke sana.

Bukan karena Yu Fan tidak bisa terbang cepat—melainkan karena ada seseorang di dadanya yang tidak bisa ia gerakan terlalu cepat tanpa membuatnya tidak nyaman dalam tidur yang sangat dalamnya. Kain yang ia gunakan untuk mengikat anak itu di dadanya—kain dari dalam tas perlengkapannya yang sudah sangat terbiasa mengandung hal-hal yang tidak diantisipasi—membuat ikatan yang sangat pelan dan sangat hati-hati.

Kepingan giok dari bongkahan itu sudah ia masukkan ke dalam cincin dimensinya. Dokumen-dokumen dari perpustakaan yang ia nilai paling penting sudah tersimpan dengan aman. Batu giok merah untuk Wakil Dekan sudah tersimpan.

Telur di cincin dimensinya—yang selama perjalanan ke sana sudah berdenyut sangat cepat—sekarang berdenyut dengan ritme yang berbeda dari sebelum dan sesudah ia masuki reruntuhan itu. Lebih lambat. Lebih dalam. Seperti sesuatu yang sudah sangat dekat dengan titik tertentu dan yang sekarang memilih untuk melambatkan dirinya sampai kondisi yang tepat ada.

Perjalanan kembali membawanya melewati hutan perbatasan yang berbeda dari hutan perbatasan lainnya karena ia sudah tahu ini adalah wilayah yang menjadi batas dari beberapa zona sekaligus.

Sesuatu di bawah pohon besar di tepinya menangkap matanya.

Ia mendarat.

Xueru terbaring di bawah pohon besar itu dengan cara yang tidak bisa disebut beristirahat—cara seseorang yang sudah tidak bisa berdiri lagi dan yang menemukan pohon ini bukan karena memilihnya melainkan karena tidak ada tenaga lagi untuk pergi lebih jauh. Jubah putihnya—yang selalu sangat bersih dan selalu sangat rapi—koyak di bahu kanannya, di sisi kirinya, di tepi bawahnya. Bukan sobekan yang bersih dari benda tajam—sobekan yang tidak teratur dari pertarungan yang melibatkan banyak jenis serangan yang berbeda-beda.

Darah di beberapa bagian sudah mengering dengan cara yang menunjukkan waktu yang cukup lama sejak luka itu terjadi.

Matanya terbuka saat ia mendengar langkah kaki mendarat—tangan kirinya bergerak ke gagang Pedang Teratai Putihnya dalam refleks yang sudah sangat terlatih dan yang tidak membutuhkan pikiran sadar untuk dieksekusi.

Kemudian matanya melihat siapa yang mendarat.

Tangannya turun kembali.

Yu Fan berlutut di sampingnya, tangannya bergerak untuk memeriksa kondisi luka—profesional, terstruktur, cara yang sudah ia pelajari dari dokter akademi yang sudah sangat teliti dalam mengajarkan murid-muridnya cara menilai kondisi luka dalam pertarungan.

"Kau terluka lagi." Suaranya mengandung kekhawatiran yang tidak ia usahakan untuk sembunyikan. "Tugas macam apa yang—"

"Bukan urusanmu, Yu Fan."

Dingin. Sangat singkat. Cara yang sudah sangat familiar sebagai cara Xueru menutup pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.

Namun matanya—yang untuk sesaat sebelum respons itu keluar sudah mengandung sesuatu yang berbeda—matanya sudah bergerak ke arah yang lain. Ke dada Yu Fan. Ke kain yang mengikat sesuatu di sana. Ke wajah yang, karena posisi mereka yang dekat dan sudut yang tepat, terlihat dari bawah tepi kain—wajah yang sangat cantik dengan rambut yang sangat hitam dan kulit yang sangat pucat.

Ekspresi yang ada di wajah Xueru saat matanya menatap anak itu—Yu Fan tidak pernah melihat ekspresi seperti itu di wajahnya sebelumnya. Bukan terkejut dalam arti tidak mengira ada seseorang di sana. Sesuatu yang lebih dalam dari terkejut. Lebih seperti seseorang yang melihat sesuatu yang ia sudah pernah membaca tentangnya dalam catatan yang sangat rahasia namun yang tidak pernah mengira akan melihatnya secara langsung.

Ekspresi itu bertahan di wajahnya selama tiga atau empat detik penuh—lama yang sangat tidak biasa untuk wajah yang sudah sangat terlatih untuk tidak menampilkan sesuatu lebih dari yang diperlukan.

Kemudian ia menarik platform teratai energinya—cara yang membutuhkan lebih banyak Qi dari yang seharusnya ia punya dalam kondisinya saat ini namun yang ia lakukan anyway—dan berdiri.

"Aku pergi duluan."

Tanpa penjelasan. Tanpa pertanyaan yang disuarakan tentang anak itu. Tanpa kalimat yang mengakui bahwa ia sudah melihat sesuatu yang membuat ekspresi itu muncul di wajahnya.

Hanya berbalik dan melesat ke arah akademi dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan kondisi tubuhnya—dengan cara seseorang yang sangat perlu pergi karena ada sesuatu yang sangat perlu dilakukan segera.

Yu Fan berdiri dan menatap kepergiannya.

Di dadanya, anak kecil yang tidur sangat nyenyak bergerak sedikit—bukan karena terjaga, hanya penyesuaian posisi dalam tidur yang sangat dalam itu, dengan cara yang sangat manusiawi dan yang untuk beberapa detik membuat Yu Fan berdiri sangat diam karena gerakan sekecil itu terasa sangat nyata dalam cara yang tidak bisa ia jelaskan.

Xueru mengenali anak ini, pikirnya. Atau mengenali sesuatu tentang anak ini yang jauh melebihi pengenalan biasa.

Dan Xueru pergi dengan sangat terburu-buru ke arah akademi.

Ke arah apa? Untuk melakukan apa?

Yu Fan menatap langit yang sudah mulai menggelap di sisi timur. Di dalam kepalanya—terlalu banyak pertanyaan yang semuanya membutuhkan jawaban namun tidak satu pun yang bisa ia kejar sebelum yang lain.

Di bawah telapak tangannya yang menopang punggung anak kecil itu, kehangatan yang masih ada dan yang mengandung sesuatu yang terasa seperti keakraban yang sangat jauh dan sangat dalam.

Siapa kau?

Dan mengapa melihatmu membuat bagian terdalam dari diriku—bagian yang tidak punya nama dan yang sudah sangat lama tidur—terasa seperti mengingat sesuatu yang terlalu penting untuk dilupakan?

Ia terbang ke arah akademi.

Dengan seribu pertanyaan. Dengan satu anak kecil yang tidur sangat nyenyak di dadanya. Dengan Pedang Yin di punggungnya yang sekarang sudah tidak terasa seperti benda asing melainkan seperti sesuatu yang sudah sangat lama seharusnya ada di sana.

Dan di cakrawala yang ia tuju—cahaya akademi yang sudah mulai terlihat dari kejauhan.

Serta sesuatu lain yang ia tidak bisa lihat namun yang sudah bisa ia rasakan: bahwa apa yang ditemukan di reruntuhan hari ini bukan jawaban.

Ia adalah pertanyaan yang jauh lebih besar dari semua pertanyaan yang sudah ada sebelumnya.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!