NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Hingga akhirnya mereka benar-benar pergi menghilang di balik keramaian mall, meninggalkan Sekar berdiri sendirian di tengah banyak orang yang perlahan kembali pada urusan masing-masing.

Barulah setelah itu, tubuh Sekar melemah. Ia tidak sampai jatuh, tapi langkahnya goyah, napasnya tidak teratur. Dunia di sekitarnya kembali terdengar, tapi terasa terlalu bising, terlalu jauh, terlalu tidak nyata.

Rendi dengan cepat berdiri di sampingnya, refleks menopang bahunya. “Sekar… hey, kamu nggak apa-apa?” suaranya pelan, penuh kekhawatiran.

Sekar tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke arah di mana Sea tadi menghilang, seolah berharap keajaiban kecil akan terjadi, bahwa anak itu akan berlari kembali ke pelukannya. Tapi tidak ada siapa-siapa. “Aku… nggak bisa…” akhirnya ia bicara, suaranya pecah, hampir tak terdengar. “Aku bahkan nggak bisa mempertahankan anakku sendiri…”

Rendi menggeleng pelan. “Jangan bilang gitu. Ini bukan salah kamu.”

Sekar tertawa kecil, tawa yang pahit dan kosong. “Tapi aku diam, Ren… aku nggak ngelawan… aku biarin mereka ngomong seenaknya…”

“Karena kamu lagi lindungi Sea,” potong Rendi tegas, menatapnya serius. “Itu bukan kelemahan. Itu… ibu.”

Kalimat itu membuat Sekar akhirnya menunduk dalam, bahunya bergetar pelan. Air mata yang tadi ia tahan kembali jatuh, kali ini tanpa bisa ia cegah.

“Aku cuma pengen dia…” bisiknya lirih. “Cuma itu.”

Rendi tidak banyak bicara lagi. Ia hanya berdiri di sana, tetap di samping Sekar, memberi ruang sekaligus penopang saat Sekar akhirnya membiarkan dirinya hancur—bukan dengan suara keras, tapi dengan tangisan pelan yang terasa jauh lebih menyakitkan.

Di tengah keramaian yang terus berjalan, Sekar berdiri dengan luka yang tidak terlihat, tapi begitu dalam. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak ikut hilang keinginannya untuk kembali pada Sea. Dan kali ini… keinginan itu terasa lebih kuat daripada rasa takutnya.

***

Malam itu terasa panjang tanpa ujung bagi Sekar. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan lampu redup, punggungnya bersandar pada dinding, mata terbuka tapi kosong, menatap titik yang bahkan ia sendiri tidak tahu di mana. Waktu berjalan, tapi tidak terasa. Jam berganti, suara adzan subuh sempat terdengar dari kejauhan, tapi Sekar tidak benar-benar menyadarinya. Ia tidak tidur. Bahkan tidak mencoba. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul hanya wajah Sea, tangannya yang terulur, suaranya yang memanggil, lalu ditarik menjauh darinya. Berulang. Tanpa jeda. Tanpa belas kasihan.

Ibunya memperhatikan dari balik pintu yang sedikit terbuka. Wajah tua itu penuh kekhawatiran yang tak bisa lagi disembunyikan. Ia sudah memanggil Sekar beberapa kali, menyuruhnya makan, menyuruhnya istirahat, tapi tidak ada respons berarti. Yang ada hanya diam. Diam yang menakutkan. Pada akhirnya, dengan perasaan tidak tenang, ia menghubungi Lita, satu-satunya orang yang ia percaya bisa menjangkau Sekar saat ini.

Ketika Lita datang, pagi sudah sepenuhnya hadir, tapi suasana rumah terasa berat, seperti masih terjebak di tengah malam. Lita masuk dengan langkah pelan, menyapa ibu Sekar dengan anggukan penuh pengertian, lalu langsung menuju kamar. Ia menemukan Sekar masih di posisi yang hampir sama seperti semalam, tidak berubah, tidak berpindah, seolah tubuhnya ikut membeku bersama pikirannya.

“Kar…” panggil Lita lembut sambil mendekat dan duduk di sampingnya.

Sekar menoleh perlahan, matanya sembab tapi kering, seperti sudah terlalu lelah untuk menangis lagi. “Aku nggak bisa tidur,” ucapnya pelan, suaranya datar tanpa emosi yang jelas.

Lita mengangguk pelan, tidak terkejut. “Aku tahu.”

Mereka terdiam sejenak. Lita tidak langsung berbicara banyak. Ia tahu, Sekar bukan orang yang bisa dipaksa untuk membuka diri. Semua harus datang dari dalam dirinya sendiri.

“Kamu mau cerita?” tanya Lita akhirnya.

Sekar menggeleng kecil. “Percuma… aku juga nggak tahu harus mulai dari mana.”

Lita menatapnya dalam, lalu berkata pelan tapi tegas, “Dari mana aja. Dari yang paling sakit. Dari yang paling kamu hindari.”

Sekar terdiam lagi. Tangannya saling menggenggam erat, kukunya menekan kulit sendiri, tapi tetap saja… tidak ada yang keluar. Tidak ada kata. Tidak ada tangis. Hanya sesak yang semakin menumpuk.

“Aku… nggak bisa ngerasain apa-apa lagi,” bisiknya akhirnya, hampir putus asa. “Mau marah, capek. Mau nangis… nggak keluar.”

Lita tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, menerima itu sebagai bagian dari proses. Matanya kemudian tanpa sengaja menangkap laptop Sekar yang masih terbuka di meja, layar menampilkan halaman penuh tulisan.

“Ini… kamu yang nulis?” tanya Lita sambil menunjuk..

Sekar mengangguk pelan. “Cuma… iseng.”

Lita bangkit dan mendekat, matanya mulai membaca baris demi baris dengan perlahan. Semakin ia membaca, semakin ekspresinya berubah dari penasaran menjadi serius, lalu… tersentuh. Tulisan itu terasa hidup. Bukan sekadar rangkaian kata, tapi seperti napas yang tertahan, seperti luka yang berbicara, seperti hati yang selama ini tidak mampu Sekar suarakan secara langsung.

Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sekar memperhatikan dari jauh, ada rasa cemas yang muncul. “Jelek ya?” tanyanya pelan.

Lita menoleh cepat, menggeleng tegas. “Ini… hidup, Kar.” suaranya pelan tapi penuh makna. “Aku bisa ngerasain semuanya dari sini. Sakitnya, kosongnya… bahkan cintanya ke Sea.”

Sekar terdiam, tidak tahu harus merespons apa. Ia tidak pernah melihat tulisannya dari sudut pandang seperti itu.

Lita menutup laptop perlahan, lalu kembali duduk di samping Sekar. “Judulnya apa?”

Sekar ragu sejenak, lalu menjawab pelan, “Cinta yang Mendua…”

Lita mengangguk, senyum tipis muncul di wajahnya. “Kedengarannya klise… tapi isinya nggak sama sekali.” Ia menatap Sekar dengan tatapan yang sedikit lebih ringan. “Ini bukan sekadar tulisan. Ini… kamu.”

Sekar menunduk, jemarinya kembali saling menggenggam. Untuk pertama kalinya, ada sedikit getaran berbeda di dalam dadanya bukan sakit, bukan kosong… tapi sesuatu yang belum bisa ia namai.

“Kar,” lanjut Lita, kali ini dengan nada sedikit santai, bahkan hampir bercanda, “kenapa nggak kamu jual aja?”

Sekar langsung mengangkat kepala, kaget. “Hah?”

“Iya, serius. Kirim ke penerbit, atau posting online. Siapa tahu laku.” Lita tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Siapa tahu kamu jadi penulis terkenal, terus kaya raya. Nanti aku numpang terkenal juga bilang kenal kamu dari awal.”

Sekar menatapnya beberapa detik, lalu… tanpa sadar, sudut bibirnya bergerak tipis. Senyum kecil. Sangat kecil, tapi nyata. “Ngaco…” gumamnya pelan.

Lita ikut tersenyum, tapi matanya tetap hangat dan serius. “Aku nggak bercanda sepenuhnya. Ini bagus, Kar. Dan yang lebih penting… ini cara kamu hidup lagi.”

Sekar tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah laptopnya, menatap layar yang kini gelap, tapi terasa menyimpan begitu banyak hal di dalamnya.

Mungkin ia belum siap menghadapi dunia. Mungkin ia belum tahu bagaimana cara mengambil kembali Sea. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia punya sesuatu yang bisa ia pegang. Suaranya sendiri. Dan mungkin itu adalah awal dari segalanya.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!