NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: SIMFONI PENGKHIANATAN DAN POTRET YANG RETAK

​Malam setelah acara Peringatan Konstitusi menyisakan kelelahan yang luar biasa bagi Rhea. Namun, bagi keluarga Diningrat, malam justru baru saja dimulai. Di kediaman pribadi Ian yang terletak di lereng gunung, udara dingin menusuk hingga ke tulang, namun suasana di dalam perpustakaan pribadi Ian jauh lebih membekukan.

​Ian duduk di balik meja kerja mahoganinya, menatap sebuah layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV tersembunyi dari sudut-sudut istana. Di sampingnya, Yusuf berdiri dengan sikap siaga, sementara Vier duduk di sofa kulit sambil memutar-mutar pulpen dengan wajah gelisah.

​"Cansu memulai gerakan 'Mawar Hitam'-nya, Tuan Muda," lapor Yusuf dengan nada rendah. "Dia baru saja mengadakan pertemuan rahasia dengan beberapa direksi di Diningrat Grub yang masih setia pada mendiang kakek Anda. Dia mencoba memutus aliran dana untuk proyek rumah sakit baru yang Anda janjikan pada keluarga Nona Rhea."

​Ian tidak terkejut. Ia menyandarkan punggungnya, jemarinya membentuk kerucut di depan dagu. "Dia tidak sedang menyerang bisnisku, Yusuf. Dia sedang menyerang 'janji' yang kuberikan pada Rhea. Dia ingin membuktikan pada Rhea bahwa aku tidak berdaya melindunginya."

​"Kak," sela Vier, suaranya terdengar serius—sebuah nada yang jarang ia gunakan. "Rhea tidak tahu apa-apa soal ini. Tadi di kampus, dia hampir menangis karena asisten dosen kita tiba-tiba membatalkan jadwal praktikumnya tanpa alasan jelas. Itu ulah Ibu juga, kan? Dia mulai meracuni pendidikan Rhea."

​Ian memejamkan mata sejenak. "Cansu adalah seorang perfeksionis dalam hal menghancurkan hidup orang. Dia tidak akan memukul dengan kasar; dia akan mencabut helai demi helai kebahagiaanmu sampai kamu merasa lebih baik mati daripada terus hidup."

​Keesokan paginya, Rhea terbangun dengan perasaan cemas yang tidak bisa dijelaskan. Saat ia turun ke ruang makan, ia melihat Mbok Yem sedang menata sarapan dengan wajah yang murung.

​"Mbok, ada apa? Di mana Ian?" tanya Rhea.

​"Tuan Muda Ian sudah pergi sejak subuh, Cah Ayu. Katanya ada urusan mendesak di kantor pusat," jawab Mbok Yem sambil mengusap air mata yang hampir jatuh. "Nona... Mbok hanya ingin berpesan. Hati-hati dengan Nyonya Besar. Dulu, sebelum dia menikah dengan Bapak Presiden, dia adalah gadis yang sangat lembut. Tapi sekarang... Mbok melihat ada kegelapan di matanya yang tidak bisa ditembus siapa pun."

​Rhea terdiam. Ia teringat tatapan Cansu di Istana Merdeka dengan kebaya hijau zamrudnya. Ada kesedihan yang mendalam di balik intimidasi itu.

​"Mbok, apa Mbok tahu kenapa dia berubah?"

​Mbok Yem menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada ajudan lain yang mendengar. "Semua itu karena Tuan Pradikta. Dia memperlakukan Nyonya Cansu seperti barang dagangan. Mbok pernah melihat Nyonya Cansu menangis di taman belakang sambil memegang foto Tuan Muda Ian, tapi saat Tuan Pradikta datang, dia langsung berubah menjadi patung es. Dia terpaksa menjadi kejam agar tidak hancur, Nona."

​Belum sempat Rhea merespons, ponselnya berdering. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan koordinat lokasi dan sebuah pesan singkat:

​"Jika kamu ingin tahu rahasia di balik 'Mawar Hitam' dan cara menyelamatkan ayahmu, datanglah ke Galeri Nasional. Sekarang. Datanglah sendiri jika kamu tidak ingin Ian tahu betapa rapuhnya kontrak kalian."

​Rhea tahu ini adalah jebakan. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk berhenti menjadi beban bagi Ian membuatnya nekat. Ia menyelinap keluar melalui pintu belakang dapur, memanfaatkan Mbok Yem yang sedang sibuk, dan memesan taksi daring menuju pusat kota.

​Galeri Nasional tampak lengang di hari kerja. Rhea berjalan menyusuri lorong-lorong pameran lukisan kontemporer yang gelap. Di ujung lorong, di depan sebuah lukisan besar yang menggambarkan seorang wanita yang terkurung dalam sangkar kaca, Cansu berdiri sendirian.

​Hari ini Cansu tidak memakai kebaya. Ia mengenakan trench coat berwarna camel yang sangat elegan dengan kacamata hitam yang menutupi wajahnya. Ia tampak seperti warga sipil biasa, namun auranya tetap dominan.

​"Kamu datang juga, Rhea. Ternyata kamu lebih berani dari yang kukira," ucap Cansu tanpa menoleh.

​"Apa mau Anda, Nyonya?" tanya Rhea, mencoba menahan getaran di suaranya.

​Cansu berbalik, perlahan melepas kacamata hitamnya. Matanya tampak sembab, namun tatapannya tetap tajam. "Aku ingin memberikanmu satu kenyataan pahit. Kamu pikir Ian melindungimu? Tidak. Dia sedang menggunakanmu sebagai umpan agar ayahku, Pradikta, keluar dari persembunyiannya."

​Cansu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan melemparkannya ke arah Rhea. Rhea membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada dokumen-dokumen kontrak antara Ian dan sebuah perusahaan keamanan swasta untuk 'memantau' keluarga Rhea.

​"Dia tidak menjamin keamanan ayahmu, Rhea. Dia memonitor kalian. Jika ayahku bertindak, Ian akan membiarkannya terjadi hanya agar dia punya alasan sah untuk memenjarakan ayahku dan menjatuhkan kabinet. Kamu hanya umpan dalam perang antara anak dan ibu tiri."

​"Bohong!" teriak Rhea. "Ian berjanji padaku—"

​"Janji seorang Diningrat harganya semurah kertas koran," sela Cansu dingin. "Dengar, aku membencimu karena kamu memiliki apa yang tidak bisa kumiliki lagi: masa depan. Tapi aku tidak ingin melihat gadis muda sepertimu berakhir menjadi tumbal politik."

​Cansu melangkah mendekat, aroma mawar hitamnya kembali menyerang indra penciuman Rhea. "Pergilah dari hidup Ian. Aku akan memberimu uang, paspor, dan beasiswa kedokteran di Italia. Aku akan menjamin ayahmu aman dari ayahku. Tapi kamu harus menghilang malam ini juga."

​Rhea menatap Cansu, mencari kebohongan di matanya. "Kenapa Anda membantu saya? Bukankah Anda ingin saya hancur?"

​Cansu terdiam sejenak. Sebuah senyum pahit muncul di bibirnya. "Karena jika kamu hancur, Ian akan benar-benar berubah menjadi monster seperti ayahku. Dan aku... aku masih cukup bodoh untuk mencintai sisa-sisa kemanusiaan yang ada pada dirinya."

​Di kantor pusat, Ian mendadak berdiri dari kursinya. "Yusuf! Di mana Rhea?"

​"Nona Rhea tidak ada di kamarnya, Tuan Muda. Sinyal GPS di ponselnya dimatikan," jawab Yusuf dengan panik.

​Ian memukul meja kerjanya hingga vas bunga jatuh pecah. "Cek rekaman jalan raya menuju Galeri Nasional! Aku tahu Cansu punya jadwal di sana hari ini."

​Ian langsung berlari menuju lift. Di kepalanya, ia mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan Rhea sendirian. Ia tahu Pradikta juga mungkin sedang mengawasi pertemuan ini. Jika Pradikta tahu Cansu mencoba melepaskan 'umpannya', Pradikta tidak akan ragu untuk menghabisi keduanya.

​Sesampainya di Galeri Nasional, Ian masuk dengan langkah lebar. Ia melihat Rhea sedang berdiri mematung memegang amplop cokelat, sementara Cansu sedang berjalan menuju pintu keluar belakang.

​"Rhea!" panggil Ian.

​Rhea menoleh dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap Ian seolah melihat orang asing. "Apa aku benar-benar hanya umpan bagimu, Ian?"

​Langkah Ian terhenti. Ia melihat Cansu yang berhenti di dekat pintu, memberikan senyum kemenangan yang hancur.

​"Adrian," panggil Cansu lembut. "Gadis kecil ini terlalu pintar untukmu. Dia sudah tahu bahwa pangerannya hanyalah seorang algojo yang memakai mahkota."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari pintu utama. Bukan Yusuf, melainkan sekelompok pria bersafari hitam dengan senjata tersembunyi—ajudan pribadi Perdana Menteri Pradikta.

​Pradikta melangkah masuk dengan senyum lebar yang mengerikan. "Wah, pertemuan keluarga yang sangat menyentuh. Putriku yang licik mencoba menyelamatkan pion milik anak tirinya. Sungguh sebuah melodrama yang mahal."

​Pradikta menatap Rhea, lalu beralih ke Cansu. "Cansu, sayang... bukankah aku sudah bilang jangan membuat gerakan tambahan? Sekarang, karena kamu mencoba merusak rencanaku, aku harus melakukan sesuatu yang sedikit lebih... drastis."

​Salah satu ajudan Pradikta menodongkan senjata ke arah Rhea. Ian dengan sigap menarik Rhea ke belakang punggungnya, sementara Cansu berdiri membeku di tempatnya.

​"Pradikta! Jangan berani-berani," geram Ian, suaranya terdengar seperti raungan serigala yang terpojok.

​"Kenapa tidak, Adrian? Jika umpan ini mati di tangan 'orang tak dikenal' di galeri ini, maka aku bisa menyalahkanmu atas kelalaian pengamanan tunanganmu, dan aku akan memiliki alasan untuk menggulingkan ayahmu karena ketidakstabilan keluarga presiden. Ini adalah checkmate."

​Di saat kritis itu, Cansu melangkah maju, berdiri tepat di depan moncong senjata yang diarahkan ke Ian dan Rhea.

​"Ayah," suara Cansu bergetar namun tegas. "Jika Ayah menembak, pastikan peluru pertamanya menembus jantungku. Karena aku sudah mengirimkan rekaman percakapan kita di ruang kerja Ayah semalam ke semua media jika aku tidak kembali ke istana dalam satu jam."

​Pradikta tertawa kecil. "Kamu pikir aku tidak tahu kamu akan mengancamku? Maya sudah memberikan rekaman itu padaku sebelum kamu berangkat, Cansu."

​Cansu terbelalak. Nyonya Maya—asisten setianya selama bertahun-tahun—berdiri di belakang Pradikta dengan kepala menunduk. Pengkhianatan terdalam datang dari orang yang paling kita percaya.

​Dunia seolah melambat. Ian menarik napas panjang, tangannya meraba pistol di balik jasnya. Rhea memejamkan mata, memeluk punggung Ian dengan erat. Di tengah keheningan yang mematikan itu, sebuah suara sirene polisi terdengar mendekat dalam jumlah besar.

​Vier masuk dari pintu samping dengan puluhan ajudan Diningrat Grub dan polisi militer. "Maaf terlambat, Kak! Yusuf butuh waktu untuk meretas sistem komunikasi Pradikta!"

​Pradikta mendengus kesal, ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur. "Pertunjukan hari ini berakhir di sini. Tapi Adrian... ingatlah, mawar merahmu ini sudah mulai layu karena keraguan."

​Pradikta pergi bersama anak buahnya, meninggalkan Ian, Rhea, dan Cansu dalam reruntuhan kepercayaan yang hancur. Ian berbalik menatap Rhea, namun Rhea melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, masih memegang amplop cokelat dari Cansu.

​"Jangan sentuh aku, Ian," bisik Rhea. "Aku butuh waktu untuk tahu siapa kamu sebenarnya."

​Rhea berjalan pergi meninggalkan Ian yang terpaku di tengah galeri yang gelap. Di sudut lain, Cansu jatuh terduduk, menangisi pengkhianatan Maya dan cintanya yang sudah lama mati. Malam itu, di bawah lukisan wanita dalam sangkar kaca, tiga hati benar-benar retak tanpa suara.

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!