Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapar
Mega segera berdiri, diikuti oleh Harry yang juga bersiap disamping Graven.
"Sebelumnya saya mohon maaf, kalau anda berdua masih ingin melanjutkan diskusi pribadi, nanti malam bisa di lanjutkan, dan sekarang_, ayo kita mulai, Meeting akan kita rekam sesuai dengan aturan yang ada, karena para Investor sudah menunggu, jadi_" Mega men jeda setelah menyiapkan laptop dan dokumennya.
"Kita harus saling bekerjasama" lanjutnya.
Kalau Graven hanya terdiam menyimak dengan wajah seriusnya, Sera lebih pada sedikit tak nyaman di wajahnya.
"Memangnya semua harus di rekam, tidak bisakah ada editing?, hal yang tak perlu di rekam bisa di buang, bukankah itu hal mudah, mengingat Zaman sudah sangat canggih sekarang" Sera memberi saran.
"Tidak bisa, lanjutkan rekaman dari awal hingga akhir, tidak ada yang di kurangi, tidak ada yang perlu di sembunyikan di sini, kita melakukan sesuatu yang legal bukan ilegal"
Mega segera berpindah kembali.
"Okey baiklah, kita mulai meeting dan Rekam sekarang juga, siap?"
Ada anggukan dari Sera, mungkin terpaksa, tapi mau tidak mau harus diterima, dan Graven hanya memberi tatapan yang artinya adalah sebuah persetujuan.
Layar monitor telah di hidupkan, Mega segera membuka file presentasi di slide pertama, dan kedua kubu yang saling baku hantam segera diam memperhatikan.
"Kita akan mulai" ucap Mega.
Namun saat sesuatu yang terpampang begitu besar dan cukup menganggu mata Sera, segera ada interupsi disana.
"Tunggu, apa tidak bisa logo besar seperti itu di hilangkan?" tanya Sera merasa risih dengan apa yang dilihatnya.
"Tidak, itu adalah tanda kerjasama dua perusahan, Megatan dan Rudolf Company, lanjutkan" sahut Graven.
"Ck, kampungan"
"Itu lambang kerja sama yang solid"
"Tapi menurutku itu terlalu_"
"MOHON TENANG!" kini Harry ikut membantu Mega agar suasana kembali aman.
Akhirnya semua kembali pada presentasi, Sera dengan serius mendengarkan begitu juga dengan Graven, untuk sesaat dunia terasa baik-baik saja, semua berjalan seperti yang di harapkan.
Hingga di menit ke 20, ada yang mulai merasa tidak enak badan, mungkin.
"Okey, tunggu sebentar" Sera mengangkat tangan kanannya, tanda butuh pertolongan sepertinya.
"Iya, Nona Sera, ada apa?" tanya Harry yang saat ini sedang kebagian Presentasi.
"Tidak adakah yang lebih waras disini?"
"Maksudnya?" tanya Harry.
"Aku belum minum, makan dan bahkan tak ada sesuatu apapun yang masuk untuk menenangkan lambungku dari pagi" protes Sera yang merasakan perutnya mulai perih.
"Kita masih meeting, dan masih bejalan 20 menit, tinggal sepuluh menit lagi" sahut Graven.
"Jadi kamu mau tanggung jawab kalau aku tiba-tiba saja pingsan karena kelaparan?"
"Kamu tidak akan pingsan semudah itu Nona Sera, dan aku pastikan kamu sepenuhnya sadar dengan tanggung jawab yang besar"
"Baiklah, aku berharap anda akan menyesal jika terjadi sesuatu dengan ku dan akan ada kudeta di sepuluh tahun perjalanan anda bekerjasama"
Graven menyandarkan tubuhnya kembali, tangannya mengetuk meja perlahan, tanda dia berpikir keras untuk memberikan tekanan pada lawannya jika jangan main-main saat bekerjasama dengannya.
"Dan aku pastikan, sebelum kau melakukannya, aku yang akan membuat mu panas dingin duluan"
"Apa?!"
Sera terkejut mendengar perkataan Graven yang entah kemana tujuannya, tapi dia merasa ada maksud terselubung sedang di rencanakan untuk nya.
"Sebaiknya anda berhati-hati mulai sekarang" ada senyum tipis dalam tatapan tajamnya.
"Iya, setidaknya aku tidak masuk dalam perangkap seorang Rudolf" balas Sera.
"Aku tidak pernah membuat perangkap untuk seseorang yang sudah masuk sendiri"
Sera langsung melotot, tak terima.
"Maaf, permisi!, aku CEO, aku memutuskan keputusanku sendiri, dan aku bukan orang yang bisa kamu atur-atur sesukamu!"
"Lupa siapa di sini yang memimpin sekarang?, atau ada yang lupa siapa yang bilang bahwa ada yang baru saja menjadi CEO beberapa jam yang lalu, jadi_, apa perlu aku jelaskan lagi siapa yang paling pantas sebagai pemimpin di sini?"
"KAU_!"
"Interupsi!" kini Mega segera mengangkat tangannya, takut jika bukan lagi meeting tapi malah akan ada tawuran sebentar lagi.
"Ada apa?!" sahut Sera dengan kekesalan yang masih tersisa.
"Begini, bagaimana kalau anda berdua menyimpan tenaga untuk negosiasi dengan para investor yang sudah menunggu saja, bukan saling tembak di sini, anda berdua bisa mati"
"Okey, kita lanjutkan" Sahut Graven tanpa peduli Sera hendak membuka mulutnya.
"Terimakasih Tuan Graven, mohon untuk bersabar"
"Tentu saja, aku hanya melakukan serangkaian tes saja" jawab Graven lalu melirik Sera sekilas.
Mega tersenyum, begitu juga dengan Harry, namun tidak dengan Sera yang sepertinya masih sulit untuk di jinakkan, makin mengerang seperti singa kelaparan.
Kini Meeting berjalan kembali, serius dan semua diam memperhatikan, bahkan para Investor mulai menunjukkan ketertarikannya, lumayan, Mega dan Harry berkolaborasi untuk memberikan penampilan yang terbaik.
Graven memberikan tambahan penghitungan laba yang realistis, sesuai dengan angka keuntungan dan minim kerugian yang membuat semua investor semakin yakin.
Sementara Sera terdiam memperhatikan dengan serius, mata cantiknya sesekali berkedip indah, jari lentiknya menari di atas Tab pribadi miliknya, semua hal penting baginya di catat untuk di pelajari nantinya.
Waktu berjalan, sudah sepuluh menitan, dan kenapa justru meeting semakin terasa tak ada hentinya, jelas Sera mulai resah, bukan karena apa, tapi_
"Ya Tuhan, aku tak tahan lagi" ucapnya sambil mengelus perutnya perlahan, rasanya mulai perih, dalam hati mengumpat Graven yang makin asik.
Begitu juga dengan Mega, masih serius memberikan presentasi dan membantu memberikan jawaban yang masuk akal dan meyakinkan.
Hingga di menit ke lima belas, Sera mengangkat tangan dengan cepat.
"Iya, nona Sera?"
Tanya Graven yang sesaat tadi sedang memberikan jawaban pada Investor nya.
Sera tersenyum sebentar, dia tau kalau wajahnya saat ini pasti di sorot camera.
"SAYA LAPAR"
Sesaat ruangan nampak hening, untung tidak ada jangkrik.
"Lapar?"
Tanya Graven seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Sera mengangguk pelan, lalu tersenyum canggung.
"Aku butuh makanan untuk tenaga, butuh asupan gula, mungkin coklat hangat dan roti, dan kalau ini di biarkan, aku bisa tumbang duluan"
Mega menarik nafas panjang,
Harry segera mendekati nya dan berkata.
"Yakin dia pewaris Megatan Company?"
"Entahlah, kenapa aku juga ragu sekarang" jawab Mega dengan nada pasrah nya.
Keduanya kini hanya menatap Sera yang masih memberikan senyum harapan agar apa yang diinginkan dikabulkan.
"Please, aku hanya lapar"
Permintaan seperti anak kucing yang lucu dan menggemaskan, mungkin bagi sebagian orang, tapi tidak dengan_
"Lanjutkan!"
Perintah dari Graven di berikan.
Terkejut, bukan hanya Sera, tapi juga Mega dan Harry yang masih terdiam.
"Apa kalian tuli, lanjutkan meeting nya, hidupkan Camera dan monitor kembali!" perintah Graven sangat jelas.
"Kau keterlaluan!"
"Dan kau tidak akan mati kelaparan "
Sera dan Graven saling melemparkan tatapan tajam.
Bersambung, Yuk mana VOTE nya nich?
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭