NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Wanita Penghibur Atau Pulang?

Christaly melengos membuang mukanya saat Sean dan Vera berpeluk cium sebelum mereka berangkat ke Malang. Sambil memonyongkan bibir Christaly bergumam lirih, “Cih! Sok romantis.”

Fakta bahwa Christly merasa cemburu buta dengan keromantisan yang ditunjukkan oleh Vera dan Sean tidak bisa untuk dia sangkal. Hatinya terasa panas jika melihat mereka bermesraan.

Jauh di dalam lubuk hatinya Christaly merasa iri dengan Vera yang di matanya memiliki kehidupan yang sempurna. Wajah yang cantik dan lekuk tubuh ideal, keluarga yang terpandang dan selalu mendukungnya di belakang, kekasih yang tampan dan sangat mahir bercinta di atas ranjang, dan di atas segalanya kekuasaan dan koneksi yang luas dan juga uang yang bisa untuk membeli segala apa pun yang dia inginkan.

Seolah belum cukup, Vera juga memiliki otak yang cerdas, seorang analisis dan dia orang yang sangat pengertian. Sebuah kehidupan yang jelas berbanding terbalik dengan kehidupan Christaly yang sangat berantakan. Jauh dari kata sempurna apalagi bahagia.

“Kalau aku dilahirkan kembali ke dunia, aku cuman ingin dua hal. Lahir dari keluarga kaya raya yang harmonis dan memiliki kekuasaan,” kata Christaly pada dirinya sendiri. “Dengan begitu aku baru benar-benar bisa menikmati hidup yang singkat di dunia ini. Sayang, nggak ada yang namanya kelahiran kedua atau reinkarnasi. Huh!”

Sean dan Christaly akan pergi ke Malang menggunakan kereta api. Awalnya, Tuan Wiyoko meminta agar mereka pergi dengan pesawat terbang supaya mereka lebih cepat. Akan tetapi, Sean menolak ide tersebut dengan asumsi kalau mereka tidak boleh tampak mencolok sejak pertama.

Selain itu, jika mereka pergi menggunakan kereta api yang mana merupakan transportasi umum yang lebih banyak digunakan masyarakat dari berbagai kelas, bukan tidak mungkin mereka akan mendapat sedikit informasi dari salah satu penumpang.

“Orang-orang yang naik kereta api biasanya lebih mudah untuk didekati dan diajak mengobrol tanpa menaruh curiga,” kata Sean. “Beda sama orang yang naik pesawat, di mana kebanyakan dari mereka itu orang golongan menengah ke atas yang cukup waspada.”

Sebenarnya Christaly ingin membantah Sean, karena menurutnya asumsinya itu sangat tidak masuk akal. Akan tetapi, dia langsung mengurungkan niatnya seketika itu juga saat ingat akan ancaman pria itu dan konsekuensi apabila mereka gagal menjalankan tugasnya.

Christaly bertekad untuk menurut saja pada Sean. Apa pun yang diperintahkan kepadanya dia tidak akan membantah sekalipun dia tidak satu pemahaman dengan detektif itu. Dan dia juga bertekad untuk tidak akan banyak bertanya.

Meskipun dia tidak tahu apa-apa atau penasaran dengan sesuatu. Akan tetapi, belum juga apa-apa, dia sudah terpancing amarahnya saat Sean bersikeras tidak mau bertukar tempat duduk dengannya padahal Christaly sudah memohon.

“Enak saja mau tukeran tempat duduk. Yang milih nomor itu kan kamu, bukan aku. Jadi terima nasib kalau kursimu nggak yang di pinggir jendela,” kata Sean sambil tersenyum kecil penuh kemenangan.

“Dasar pelit! Kamu itu kan laki-laki. Harusnya ngalah dong sama perempuan,” sahut Christaly masih mencoba untuk memaksa.

“Persetan! Pokoknya aku nggak mau tukeran tempat duduk.” Sean membuat gerakan singkat di udara lalu dia kembali melanjutkan, “Lagian kamu ngapain sih, maksa banget pengen duduk di dekat jendela? Kurang kerjaan banget!”

“Yang kurang kerjaan itu kamu, Sean! Nggak mau ngalah sama perempuan dan nggak malu debat sama perempuan. Apa itu namanya kalau bukan kurang kerjaan, hah?!” cibir Christaly. Dia benar-benar kesal dengan sikap keras kepala Sean yang luar biasa itu yang membuat Christaly melanggar tekad yang dibuatnya sendiri.

“Huh! Sekarang aku jadi menyesal udah mau nerima kamu kerja sama aku,” ujar Sean. Nada bicaranya tiba-tiba saja muram. “Padahal, tadinya aku pikir kita bisa jadi partener kerja yang baik karena punya tujuan yang sama. Yaitu uang untuk melunasi hutang. Tapi, ya, sepertinya aku udah buat kesalahan besar. Karena kamu sama sekali nggak cocok sama aku. Bahkan buat sekadar akur saja sulit.”

Christaly ternganga dan menatap Sean dengan bingung selama hampir lima detik lamanya. Dia sama sekali tidak menduga dengan apa yang Sean katakan itu. Christaly tahu jika dia sulit untuk tidak membantah Sean dan tidak berdebat dengannya. Karena pria itu sendiri yang selalu memancing kemarahannya dengan sikap keras kepala.

Memang, perdebatan-perdebatan seperti yang barusan itu tidak perlu terjadi seandainya dia juga tidak memaksa. Akan tetapi, sebelumnya Christaly sudah memohon untuk bertukar tempat duduk dengan alasan dia ingin lebih leluasa menikmati pemandang di luar kereta saat kereta meluncur nanti.

Kalau yang di sebelahnya Riko, maka pria itu akan dengan senang hati mengizinkan Christaly bertukar tempat duduk dengannya. Tapi Sean tidak melakukan itu. Dia malah bersikeras ingin tetap duduk di kursinya apa pun yang terjadi.

“Uh, aku minta maaf udah bikin kamu jengkel,” ujar Christaly dengan sangat berat setelah beberapa lama dia diam. “Aku janji, ke depannya aku nggak akan bersikap menyebalkan dan kekanak-kanakan lagi. Tolong, jangan pecat aku. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Kamu tahu, kan, kalau aku sangat butuh uang itu buat lunasin hutang-hutangku. Kalau aku nggak bisa lunasin hutang-hutangku ke Pak Haris secepatnya ... uh, aku pasti mampus.”

“Aku nggak yakin kamu bakalan nepatin janjimu,” jawab Sean sambil membuang muka. Dia melihat ke arah luar jendela.

“Asal kamu tahu saja, Christaly. Sebanarnya aku nggak benar-benar peduli sama kondisimu. Maksudku, soal hutang-hutangmu ke Pak Haris. Aku menerimamu untuk bekerja dan ikut denganku ke Malang, karena aku ingin menjadikanmu alat buat menghasilkan banyak uang. Aku akan menjualmu ke mucikari kenalan salah satu temanku di sana untuk dijadikan wanita penghibur lelaki hidung belang.”

“Apa katamu?!”

“Aku yakin kamu dengar semua yang barusan aku katakan.” Seulas senyum licik tersungging di wajah Sean. Dia menoleh dan menatap ke arah Christaly dengan tatapan yang sulit dipahami.

“Jangan bercanda yang bukan-bukan, Sean! Itu sama sekali nggak lucu, tahu!” sergah Christaly yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sean.

“Huh! Buat apa aku bercanda yang nggak lucu begitu? Tentu saja aku serius dengan semua kata-kataku. Aku dan Vera sudah bersekongkol sejak pertama,” jawab Sean.

Memang, nada bicaranya terdengar sangat begitu meyakinkan. Akan tetapi, kilatan di matanya masih menyiratkan sesuatu yang lain sama sekali.

“Sekarang, sebelum kereta berangkat, aku kasih kamu pilihan. Kamu mau melanjutkan kerja sama aku tapi bukan sebagai asisten pribadiku melainkan menjadi seorang wanita penghibur, atau kamu mau berhenti dan pulang. Melanjutkan hidup di Jakarta dan terus diteror karena hutang. Semua keputusan ada di tanganmu. Aku nggak akan maksa kamu. Jadi, bagaimana? Apa keputusanmu, Christaly?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!