NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Rapat dimulai dengan suasana yang luar biasa menekan. Suara proyektor yang berdengung halus menjadi latar belakang dari penjelasan teknis yang kini diambil alih oleh Farez. Aku hanya duduk terpaku, menunduk menatap catatan di depanku yang tulisannya mulai membias karena air mata yang kupaksakan agar tidak jatuh.

Setiap kali "Pak Wira" berbicara, jantungku seperti dipukul. Suara baritonnya yang dulu sering membacakanku dongeng sebelum tidur, kini bicara soal margin keuntungan dan ekspansi pasar. Dia duduk tepat di seberangku, hanya terhalang meja kayu panjang dan tumpukan ego.

"Bagaimana menurut Anda, Ibu Rana?"

Pertanyaan itu meluncur dari mulut Ayah. Aku tersentak. Untuk pertama kalinya, ia menyebut namaku—meski dengan embel-embel formal yang terasa seperti duri. Aku memberanikan diri mendongak. Matanya menatapku, mencari jawaban profesional, tanpa sedikit pun rasa bersalah atau kilat pengenalan.

Benar-benar orang asing.

"Strateginya sudah cukup jelas, Pak Wira," suaraku keluar, tipis dan tajam. Aku bisa merasakan Farez di sampingku sedikit menegang, siap menangkapku jika aku meledak. "Hanya saja, saya rasa fokus pada 'citra keluarga' yang Anda tawarkan sedikit berlebihan. Bukankah terkadang apa yang tampak sempurna di luar, sebenarnya rapuh di dalam?"

Ruangan itu hening seketika. Pak Hanan berdeham cemas, sementara Bagaskara menatapku dengan bingung. Ayah hanya terdiam, menyipitkan mata sedikit, seolah baru saja menyadari ada nada permusuhan yang tidak pada tempatnya dalam kalimatku.

"Maksud saya," lanjutku dengan tangan yang mengepal kuat di bawah meja hingga kuku-kukuku melukai telapak tangan, "Bisnis harus jujur. Konsumen tidak suka dibohongi oleh bungkus yang terlalu indah."

Farez segera mengambil alih sebelum suasana semakin canggung. "Maksud Ibu Rana adalah tentang transparansi produk, Pak Wira."

Rapat itu berlanjut seperti simulasi neraka bagiku. Aku bertahan dengan cara memandang Farez, bukan Ayah. Aku bertahan dengan membayangkan wajah Ibu yang pagi tadi memberiku nasi goreng penuh cinta. Hingga akhirnya, Pak Hanan menutup rapat tersebut.

"Terima kasih semuanya. Kerja sama ini akan menjadi sejarah besar," ucap Pak Hanan bangga.

Satu per satu orang mulai berdiri. Ayah melangkah mendekat ke arahku, membuatku hampir berhenti bernapas. Dia mengulurkan tangannya.

"Presentasi tim Anda menarik, Nak Rana. Anda mengingatkan saya pada seseorang yang sangat gigih," ucapnya ringan, masih dengan senyum "pahlawan" palsunya.

Aku menatap tangan itu. Tangan yang dulu kugenggam erat saat belajar berjalan, kini terasa sangat kotor. Aku tidak menyambut ulurannya. Aku hanya mengangguk kaku, menyambar tas kerjaku, dan melangkah pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Farez yang menatap Ayah dengan pandangan dingin yang seolah berkata: Kamu tidak tahu siapa yang baru saja kamu hancurkan lagi.

Aku berlari menuju toilet, mengunci pintu, dan membiarkan oksigen akhirnya masuk ke paru-paruku. Di depan cermin, aku melihat wajahku yang pucat. Aku sudah bertahan. Aku tidak meledak. Tapi rasa pahit di lidahku memberitahu satu hal: perang ini baru saja dimula

Air kran mengalir deras, membasahi wajah dan membasuh sisa-sisa gincu yang berantakan. Aku membasuhnya berkali-kali, berharap air dingin itu bisa menghapus jejak tatapan Ayah yang kosong dari ingatanku. Perih mendadak menyengat telapak tanganku saat terkena air. Aku baru sadar, kuku-kukuku telah menembus kulit, meninggalkan bekas bulan sabit yang kemerahan dan mengeluarkan sedikit darah.

Aku menatap telapak tangan yang berdenyut itu di bawah lampu neon toilet yang putih pucat. Rasa perih ini tidak ada apa-apanya. Sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang meremas jantungku saat menyadari kenyataan yang paling pahit: Ayah benar-benar tidak mengenaliku.

Lima tahun. Apakah waktu sebanyak itu cukup untuk menghapus wajah anak kandung sendiri dari memori seorang pria? Ataukah selama ini wajahku memang tidak pernah benar-benar terpatri di hatinya, hanya dianggap sebagai selingan di antara hidupnya yang "asli"?

"Begitu mudahnya kamu melupakan aku, Yah?" bisikku pada pantulan wajah di cermin yang kini tampak asing, bahkan bagi diriku sendiri.

Mungkin bagi pria sehebat Pak Wira, aku hanyalah masa lalu yang sudah ia tutup bukunya rapat-rapat. Dia terlalu sibuk membangun istana untuk Bagaskara sampai lupa bahwa ada pondasi yang ia hancurkan demi membangun gedung itu. Ia memanggilku 'Nak Rana', sebuah panggilan sopan untuk orang asing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!