Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ingin Berpisah
Langkah kakinya melebar ketika baru sampai bandara, seolah tidak sabar untuk cepat pergi dari sana. Ya, dia adalah Nathan yang baru saja datang dari Belanda setelah beberapa hari lalu mendadak harus pergi bersama mamanya. Dengan celana andalan loose fit jeans berwarna biru telur asin dipadukan dengan kaos polos berwarna putih kesukaannya yang terlihat santai dengan tangannya membawa koper.
Sedari tadi Nathan terus memainkan ponselnya sambil berjalan menuju pintu keluar bandara menghubungi Valerie. Tapi kenapa ponsel Vale selalu saja dalam keadaan sibuk. Apa dirinya begitu sibuk sampai tidak bisa membalas pesan atau mengangkat sebentar saja panggilan masuk darinya.
Barulah sesampainya Nathan di apartemennya, Valerie membalas pesannya. Senyum manis merekah begitu bahagia terlihat jelas di wajah Nathan. Tanpa membuang waktu selesai berganti pakaian, Nathan pergi untuk menemui Valeri. Dia begitu sangat bahagia sampai tidak bisa melukiskan perasaannya, namun siapa sangka malam ini akan menjadi malam kelabu bagi Nathan karena Vale mengakhiri hubungan mereka berdua.
Di sebuah restoran tempat biasa keduanya bertemu, Valerie sudah datang lebih dulu. Baru lima menit yang lalu Valerie sampai dan duduk di pojok belakang dekat dengan jendela. Ya, Valerie sangat menyukai tempat dekat dengan jendela karena dia bisa melihat sesuatu di luar jendela yang tidak akan membuatnya penat. Seperti biasa Vale lebih suka memakai dress dan heels sebagai pakaian ternyaman baginya, sehingga terlihat sangat feminim dan anggun. Ditemani secangkir kopi caramel macchiato dengan sesekali menatap keluar jendela, Valerie menunggu kedatangan Nathan.
Tidak lama kemudian Nathan datang mencari sosok Valerie di dalam sana, tidak butuh waktu lama bagi Nathan untuk menemukannya, senyum simpul terlihat bahagia Nathan berjalan menghampiri Valeri yang tengah melamun sambil menatap keluar jendela. Valerie tidak tahu kedatangan Nathan dan sengaja juga lelaki dengan tinggi 187 cm tidak menyapa Valerie lebih dulu, Nathan masih asik memperhatikan wajah cantik Vale yang sedang melamun.
"Sayang." Suara Nathan menyadarkan Valerie dan spontan menoleh ke arah suara Nathan.
Senyum Nathan menyapa Valerie, wajah tampannya sekilas membuat Valerie terdiam sesaat. Tanpa banyak bicara Nathan segera memeluk Valerie yang masih duduk begitu erat karena merasakan rindu yang tak bisa dibendung lagi olehnya. Vale terdiam sejurus kemudian melepaskan pelukan Nathan dengan sikap dinginnya. Senyum Nathan berubah melihat sikap dingin kekasihnya, Nathan tahu pasti Valerie marah kepadanya.
"Kenapa kamu nggak balas pesanku? Aku minta maaf karena pergi mendadak." Nathan mulai mencairkan suasana yang sedikit kaku di antara mereka sambil duduk di hadapan Vale.
Tatapan Valerie begitu sendu dan lekat menatap Nathan, sekarang juga dia harus membereskan masalahnya dengan Nathan, apapun resikonya.
"Kamu marah banget sama aku, ya?" tanya Nathan lagi melihat Vale sedari tadi terdiam tidak banyak bicara dengan wajah tidak bersahabat.
"Ada yang harus aku sampaikan." Valerie terlihat serius menatap Nathan dengan lekat membuat Nathan merasa terpojokkan.
"Aku tahu kamu marah banget sama aku, tapi waktu itu aku harus segera pergi sama mama. Nanti mama akan datang lagi ke sini minggu depan buat ketemu sama kamu," jelas Nathan tidak memperdulikan ucapan Valerie membuatnya sangat kesal dengan kebiasaan Nathan.
Salah satu kebiasaan yang sangat tidak disukai oleh Valerie adalah, ketika dirinya ingin sekali bicara dan dimengerti oleh Nathan namun sayang Nathan kadang tidak pernah mau tahu dan dengan apa yang akan disampaikan oleh Valerie kepadanya.
"Aku mau nikah dua bulan lagi." Vale memotong pembicaraan Nathan karena merasa kesal.
Deg, Nathan terdiam sesaat menatap Vale. Bisa dilihat wajah Nathan sedikit terkejut karena Valerie tiba-tiba saja membicarakan tentang pernikahan, di sisi lain Nathan senang karena akhirnya Vale mau membahas tentang pernikahan yang sering kali Nathan bicarakan dengannya. Tapi sayangnya Valerie akan menikah bukan dengannya melainkan dengan Jeevan.
"Serius? Kamu mau nikah?" Nathan mengulang ucapan Valerie karena masih belum percaya.
Raut wajah Nathan berubah menjadi berseri-seri terlihat sangat bahagia, hatinya berbunga-bunga masih tidak percaya mendengar ucapan Valerie tadi. Valerie sudah menduga reaksi Nathan akan seperti sekarang, Nathan menduga jika Vale akan menerima lamaran dan menikah dengannya.
"Jangankan dua bulan lagi, kalau perlu kita nikah bulan depan atau akhir bulan ini. Walaupun aku sibuk aku akan..." Nathan begitu antusias sekali sehingga tidak memberikan Valerie untuk berbicara menyelesaikan ucapannya.
"Aku mau kita putus!" Valerie memotong ucapan Nathan yang sedari tadi berbicara.
Glek, Nathan yang tadinya hanya bicara dan sangat bahagia kini terdiam bak disambar petir di siang bolong. Ia kaget bukan main mendengar apa yang baru saja Valerie ucapkan, apa mungkin Nathan salah dengar. Tapi jika dilihat dari raut wajah Valerie yang begitu serius tentu saja kekasihnya tidak sedang bercanda.
"Apa? Apa kamu bilang? Putus?" kedua bola mata Nathan membulat sempurna.
"Iya. Aku mau kita putus!"
Deg, Nathan merasakan dadanya sedikit sesak dan sulit untuk menelan ludah. Tidak mungkin jika Valerie tiba-tiba saja meminta putus pada saat hubungan mereka berdua baik-baik saja. Pasti Valerie sedang mengerjainya karena kesal kemarin dirinya pergi tiba-tiba.
"Pasti kamu lagi bercanda, kan? Gimana bisa kamu ngajak nikah tapi minta putus?"
"Aku memang mau nikah tapi buka sama kamu!"
Dunia ini seperti runtuh rasanya ketika Nathan tahu jika dirinya tidak salah mendengar ucapan Valerie. Mimpi pasti hanya mimpi pasti Valerie berbicara seperti ini karena masih kesal kepadanya.
"Hah! Jujur aku nggak ngerti sama ucapanmu, kamu ngerjain aku?"
"Memang kamu pikir aku lagi ngerjain kamu?"
"Kamu mau nikah tapi bukan sama aku? Kalau bukan sama aku, sama siapa?" Nathan mulai kesal dan emosi dengan permainan Valerie yang menurutnya tidak masuk akal.
Ada rasa bersalah di hati Valerie ketika hendak memberitahu Nathan yang sebenarnya, dia tidak tega melihat Nathan yang pasti akan terluka karena ucapannya. Ditatapnya Nathan begitu lekat, wajah tampannya terlihat mulai gusar dan gelisah, ada rasa amarah jelas tersirat yang sedang dipendam oleh Nathan. Valerie menarik napas sejenak menenangkan dirinya, mengumpulkan energi sebelum memberitahu Nathan.
"Sama anaknya teman papaku," jawab Valerie berhasil membuat Nathan tidak bisa berkata-kata lagi.
Tubuhnya membeku, lidahnya kelu, tatapannya sayu menatap Valerie. Dadanya semakin terasa sesak seperti pasokan oksigen di dalam habis, entah kenapa semakin sakit terasa di dalam dadanya. Tapi Nathan masih terus berpikir positif jika semua ucapan Vale hanya gurauan semata.
"Ini nggak mungkin. Kamu pasti bohong sama aku!" Nathan mulai meluapkan amarahnya menolak semua yang sudah didengarnya dan Vale hanya terdiam melihat reaksi Nathan.
"Gimana bisa kamu mau nikah sama anaknya temen papamu sedangkan kamu berpacaran sama aku? Selama ini hubungan kita baik-baik aja dan sekarang kamu bilang mau nikah tapi bukan sama aku? Kamu lagi bercanda kan? Kamu lagi ngerjain aku, kan?" Nathan mulai tidak terkontrol sambil tubuhnya menghadap ke kiri dan ke kanan secara bergantian seakan sedang mencari sesuatu dengan rasa panik dan gelisah.
"Kamu lagi nge-prank aku kan? Pasti kamu lagi bikin konten buat prank aku kan?" tanya Nathan lagi dengan wajah mulai memerah menatap tajam Vale yang duduk tenang di hadapannya seraya kedua tangannya menggenggam kedua telapak tangan Valerie yang sedari tadi berada di atas meja.
Kedua bola mata Valerie mulai berkaca-kaca menatap Nathan, ada rasa sedih di hari Valerie untuk mengatakan semuanya. Tidak ada niat bagi Vale untuk menyakiti Nathan seperti ini, tapi dia juga tidak mau melihat Nathan nantinya lebih sedih dari ini, Vale tidak mampu jika melihat Nathan semakin terpuruk dan terluka lebih dalam. Buliran bening di mata coklat Valerie mendadak memenuhi kelopak matanya, sebisa mungkin Valerie menahan agar tidak tumpah di hadapan Nathan. Ia tidak mau tangisnya pecah di depan Nathan dan sebisa mungkin Valerie harus menyelesaikan masalahnya dengan Nathan.
"Memang kamu pikir aku lagi becanda?" Bentak Valerie dengan suara sedikit bergetar membuat tubuh Nathan kembali lemas.
Deg, tubuh Nathan yang tadinya bisa duduk dengan tegapnya kini mendadak tidak ada tenaga. Tubuhnya tiba-tiba condong ke belakang bersandar pada sofa dengan tatapan kosong menatap Vale dan tangannya yang menggenggam erat telapak tangan Valerie dilepaskan olehnya. Tidak ada tenaga lagi bagi Nathan untuk memegang ataupun memeluk kekasihnya saat ini. Yang ingin Nathan lakukan adalah menenangkan diri dan pikirannya, berharap jika semua ini benar hanya mimpi atau candaan Valerie semata.
"Aku minta maaf sama kamu. Harusnya aku bilang dari kemarin kalau aku mau nikah sama orang lain," kata Valerie mulai bicara dengan nada terdengar parau dan bergetar menahan air matanya.
"Kamu bohong." Suara Nathan terdengar lemas dan tidak ada tenaga baginya untuk duduk tegap lagi, tatapannya kosong entah ke mana menunduk menahan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
Nathan tidak mau Valerie melihatnya dalam keadaan seperti ini, mulutnya bergetar, rahangnya terlihat keras seolah Nathan seperti sedang mengigit giginya. Tatapannya tajam membuat Valerie sedikit ketakutan karena amarah Nathan bisa meledak kapan saja seperti bom waktu.
"Saat ini aku akan melupakan semua ucapanmu, dan anggap aja kalau kamu nggak bicara soal ini. Aku nggak mau bahas soal ini lagi mulai besok!"
Nathan seakan menolak semua yang didengarnya saat ini, meski Nathan tahu semua adalah kenyataan dan dia belum siap kehilangan Valerie saat ini karena sangat mencintainya. Rasanya Nathan ingin menghancurkan isi restoran ini, memecahkan semua meja kaca, melemparkan semua barang-barang yang ada di hadapannya. Kedua tangannya mengepal begitu erat mencoba menahan semua emosi dan amarahnya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Gimana kalau kita nonton atau ke klub?" ajak Nathan mengalihkan pembicaraan membuat Valerie frustasi.
"Nathan..." panggil Vale mencoba menyadarkan Nathan.
Namun belum sempat Valerie berbicara, Nathan dengan cepat memotong pembicaraannya membuat Valerie terpaksa menangis di hadapannya.
"Aku mohon jangan bahas ini lagi sekarang!" suara Nathan mulai terdengar menggema di restoran membuat sebagian pengunjung menoleh ke arahnya, untungnya saja saat itu tidak terlalu ramai pengunjung di sana.
Valerie tersentak kaget melihat Nathan yang sudah mulai tidak bisa terkontrol emosinya. Tangannya mulai gemetaran menahan perasaannya. Tanpa banyak bicara dan pamit, Nathan bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Valerie karena sudah tidak tahan ingin melampiaskan amarahnya.
"Besok aku jemput kamu," kata terakhir Nathan sebelum pergi meninggalkan Valerie yang masih terdiam sendirian.
Dari kejauhan Valerie hanya bisa melihat kepergian Nathan yang lama kelamaan bagian punggungnya yang lebar hilang dari pandangannya. Sepertinya Nathan tidak akan menerima keputusan Valerie secara sepihak. Air mata yang sedari tadi memenuhi pelupuk kedua bola mata akhirnya menetas deras jatuh membasahi pipi Valerie, tangisnya pecah saat ini juga. Ditundukkannya kepala Valerie agar orang sekitar tidak tahu jika dirinya sedang menangis.
Tring, suara pesan masuk. Dibukanya ponsel berwarna hitam dan ada pesan masuk mengirimkan sebuah foto yaitu foto Valerie yang sedang bertemu dengan Nathan tadi. Ternyata Jeevan yang menyuruh seseorang untuk terus mengawasi kemana calon istrinya pergi. Wajahnya muram dan memerah, rasa kesal dirasakan Jeevan. Hatinya terasa terbakar, diremasnya ponsel miliknya dengan tatapan tajam.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪